Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan

Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan
Sore Pertama


__ADS_3

Tampak Alvian sedang duduk di tepi ranjang. Tangannya sibuk menggulir layar persegi panjang yang ada di tangannya dengan santai. Terdengar gemericik air dari dalam kamar mandi membuat Alvian tersenyum-senyum sendiri. Diletakkannya tablet yang tadi dipegangnya di atas nakas sambil melirik ke arah pintu kamar mandi.


"Astaga, jantungku ... kayaknya kalian sedang ber'euforia, hah! Jedag-jedug nggak sabaran nih ye!" gumamnya seraya terkekeh.


Alvian menggelengkan kepalanya. Ia sudah seperti pria kurang se'ons karena sibuk mengoceh sendiri.


Saat gemericik air sudah tak terdengar, ia pun segera melangkahkan kakinya menuju ke sajadah yang telah ia rentangkan sambil memakai kopiahnya.


Tak lama kemudian, Zafira pun keluar. Ternyata ia telah mengenakan pakaian ganti. Dengan wajah yang masih basah karena air wudhu, Zafira mendekat lalu mulai mengenakan mukenanya. Wajah cantik Zafira kian cantik saat air wudhu terlihat membasahi wajahnya. Alvian yang terpesona lantas segera berdeham untuk mengendalikan pikirannya yang hendak berkelana.


Setelah melihat Zafira telah siap dengan mukenanya, Alvian pun memulai ibadah pertama mereka di hari itu dengan khusyuk. Setelahnya, tak lupa Alvian menengadahkan tangannya dan berdoa kepada sang pencipta untuk meminta segala kebaikan baik di dunia maupun di akhirat bagi dirinya maupun keluarga dan orang-orang terkasihnya.


"Aamiin ya rabbal alamin." Alvian menutup doa-doanya kemudian membalikkan badannya menatap netra teduh sang kekasih halalnya. Zafira lantas mengulurkan tangannya dan mencium punggung tangan Alvian dengan takzim. Ada gelenyar hangat yang menyeruak memenuhi rongga dadanya. Hari pertama, ibadah bersama pertama, sungguh luar biasa indahnya. Ini merupakan pengalaman pertamanya diimami seorang laki-laki selain ayahnya. Bahagia, itu yang Zafira rasakan. Setiap wanita pasti akan merasa bahagia bila bisa melakukan sholat dengan diimami sang suami, bukan? Begitu pula yang dirasakan Zafira, sebab pengalaman ini tak pernah ia dapat di pernikahan sebelumnya.


"Cantik," puji Alvian saat Zafira melepaskan tangannya dari tangan Alvian. Zafira menunduk, menyembunyikan rona merah di pipinya. Alvian yang gemas lantas mengangkat wajah Zafira dengan menyentuh dagunya hingga mata mereka pun saling bersirobok.


"Kamu ... sudah siap, sayang," tanya Alvian tanpa mengalihkan sedikit pun pandangannya pada wajah cantik di depannya.


Zafira menggigit bibir bawahnya lalu mengangguk malu-malu.


"Gemesin banget deh. Kayak anak perawan aja. Perawan anak tiga," seloroh Alvian membuat sedikit memicingkan mata, tapi tersenyum geli di sudut bibirnya.


Zafira tidak bisa berkilah. Memang seperti itulah dirinya saat ini. Zafira benar-benar malu. Padahal anaknya sudah 3, tapi ia sudah seperti anak perawan saja.


Sebenarnya ada rasa insecure saat ini Zafira rasakan. Bagaimana tidak, Alvian adalah seorang perjaka, tetapi dirinya merupakan janda beranak 3. Ia khawatir ia tidak bisa memberikan kepuasan dan kenikmatan pada Alvian.

__ADS_1


Dirinya memang telah menjalani berbagai macam perawatan. Bukan hanya perawatan tubuh, tapi juga organ intimnya. Apalagi 2 Minggu sebelum ia dikhitbah, ia sudah membeli berbagai macam produk perawatan kulit dan wajah. Ia juga mendatangi klinik kecantikan agar fisiknya terlihat sempurna di mata Alvian. Belum cukup, ia juga menjalani treatment di klinik perawatan **** * agar organ intimnya kembali sempit, kesat, dan harum. Namun, rasa kurang percaya diri itu tetap saja ada. Zafira benar-benar khawatir, Alvian tidak puas hingga perlahan meninggalkannya untuk mencari yang lain, yang bisa memberikannya kepuasan dalam bercinta.


"Tapi bang," cicit Zafira dengan wajah tertunduk khawatir.


"Kenapa?" tanya Alvian lembut sambil berdiri dan melepaskan peci dan sarungnya kemudian melipatnya dan meletakkannya di tempatnya semula. Setelahnya ia kembali menghampiri Zafira yang masih terduduk dan wajah menunduk. Diraihnya pundak Zafira agar berdiri menghadapnya. "Kenapa sayang? Apa yang kamu pikirkan, hm? Katakan saja. Jangan diam sebab aku tidak bisa membaca pikiranmu." Tutur Alvian lembut.


Zafira lantas mengangkat wajahnya. Ditatapnya Alvian dengan pandangan rumit.


"Bang ... bagaimana ... bagaimana kalau aku ... tak bisa menyenangkan mu nanti. Maksudku ... saat kita ... melakukan itu Kau tahu kan, aku ... aku ini seorang janda beranak 3. Pastinya aku ... aku tak senikmat para gadis khususnya yang masih perawan," ujarnya dengan mencicit di ujung kalimat membuat Alvian terkekeh.


Lantas ia pun segera membantu Zafira melepaskan mukenanya dan membawa istrinya itu untuk duduk di tepi ranjang.


"Ra, pernikahan adalah ibadah terpanjang seorang manusia dan tidak semua laki-laki mengagungkan hubungan s eks, termasuk aku. Kamu tak perlu merasa insecure dengan statusmu terdahulu. Siapa yang janda? Memangnya kamu masih seorang janda, hm? Bukan kan. Ingat, kamu itu sekarang bukanlah seorang janda, melainkan istri dari Alvian Altakendra. Dan aku tidak mempermasalahkan masalalumu. Kata siapa kamu tak senikmat gadis, hm? Aku yakin, kau bahkan lebih nikmat dan menggairahkan dari seorang gadis. Jadi, sore ini ... bisa kan kita?" Alvian mengulum senyum sambil mengerlingkan sebelah matanya.


"Tapi ... tapi ... bagaimana kalau Baby Zafran nangis mau ... "


Hangatnya nafas Alvian yang menyentuh lehernya, ditambah kecupan demi kecupan basah yang dilakukan Alvian di sisi sensitif tubuhnya, tak pelak membuat Zafira merinding. Lalu Alvian mengangkat wajahnya dari ceruk leher Zafira dan mengalihkannya ke bibir merah Zafira. Zafira yang mendapatkan serangan dadakan itu tentu saja membulatkan matanya. Alvian mengecup-ngecup bibir bawah dan atas Zafira. Cumbuan itu terasa kaku, membuat Zafira ingin tersenyum karenanya.


Zafira lantas memejamkan matanya sambil mengalungkan tangannya di leher Alvian. Ia pun membalas ciuman itu dengan lembut dan mesra sembari mengajari bagaimana caranya berciuman yang baik dan benar. Perlahan, Alvian pun meniru apa yang dilakukan Zafira. Bahkan dengan berani Zafira menyusupkan lidahnya ke dalam mulut Alvian membuat laki-laki itu cukup terkejut. Namun perlahan ia pun mengikuti apa yang dilakukan Zafira. Zafira sudah menjelma bak seorang mentor berciuman. Sungguh sangat menggelikan. Mau bagaimana lagi, Zafira jelas lebih berpengalaman dari si mantan Jodi yang untungnya tidak jomblo lagi itu. Zafira telah memiliki jam terbang cukup tinggi, sedangkan Alvian merupakan seorang amatir. Tentu sudah sepatutnya Zafira membimbing dan mengajari apa yang harus mereka lakukan di sore pertama itu.


Zafira meraih tangan Alvian dan meletakkannya di atas bongkahan kenyal miliknya membuat Alvian menegang sampai-sampai melepaskan cumbuannya. Ia bagaikan tersengat listrik ribuan voltase membuat kinerja jantungnya meningkat berkali-kali lipat. Untung saja ia telah paham mengapa bisa sampai seperti itu, kalau tidak, mungkin ia akan segera menemui dokter lagi untuk memeriksakan jantungnya seperti sebelumnya.


Zafira tersenyum kecil melihat tingkah polos suaminya. Zafira makin yakin, ini memang yang pertama untuk suaminya itu.


"Kenapa tegang? Bukannya tadi Abang Al yang paling semangat?" goda Zafira dengan tangan yang sudah bermain di dada Alvian. Jemari itu bergerak nakal membuat jantung Alvian seakan berlompatan. Bahkan ia bisa merasakan, sesuatu di bawah sana yang sudah ikut menegang sampai-sampai terlihat mencuat dari balik celana pendeknya.

__ADS_1


"I-ini ... harus bagaimana?" tanyanya polos membuat Zafira tak mampu menahan tawanya.


"Perlu mentor?" tanya Zafira lalu Alvian mengangguk polos. "Baiklah, untuk sore ini, sekretarismu yang cantik ini akan mengajari, tapi setelahnya harus bekerja sendiri oke!" ucap Zafira seraya tersenyum menggoda. Entah kemana rasa insecurenya tadi menghilang. Dalam hatinya, ia meyakinkan diri, Alvian berbeda dengan laki-laki lainnya. Ia laki-laki yang dapat dipercaya. Ia yakin, perasannya tulus pada dirinya maupun anak-anaknya. Ia yakin, suaminya ini laki-laki yang setia, jadi ia harus menepis segala rasa insecurenya. Oleh karena itu, ia akan berusaha memberikan servis terbaik agar sang suami tidak menyesal menikahi janda seperti dirinya.


Zafira lantas meletakkan telapak tangannya di atas telapak tangan Alvian yang masih merangkum salah satu daging kenyalnya. Lalu ia menuntun tangan Alvian agar melakukan gerakan mere mas. Alvian pun mengikuti sang mentor. Merasakan salah satu aset sensitifnya dire mas membuat Zafira meremang. Melihat ekspresi sang istri, tentu saja membuat gairah Alvian kian berkobar. Zafira mendekatkan wajahnya lalu kembali menempelkan bibirnya di atas bibir Alvian. Dipagutnya bibir itu dengan lebih liar dari sebelumnya sehingga terjadilah luma tan yang super dahsyat.


Alvian yang telah kian terbakar pun bergerak secara naluriah. Kedua tangannya kini kian berani menjamah apa saja yang bisa dicapainya. Bibirnya pun tak tinggal diam, ia mulai menjelajahi setiap inci kulit Zafira hingga berlabuh di aset kembar sang istri. Disesapnya aset kembar itu secara bergantian bagai bayi yang kehausan.


"Ini ... nggak papa kan sayang kalau tertelan?" tanya Alvian polos sambil mengarahkan pandangannya aset kembar sang istri yang ternyata telah terisi penuh dengan nutrisi sang bayi. Ia belum tahu boleh atau tidak ikut meminum susu milik baby Zafran itu.


Dengan nafas terengah, Zafira terkekeh kecil. Ia lantas mengangguk tanpa ragu.


"Nggak masalah kok. Silahkan aja," jawab Zafira sambil mengalihkan pandangannya dengan wajah yang sudah kian memerah.


Mendapatkan lampu hijau, ia pun kembali meraup aset kembar nan kenyal itu ke dalam mulutnya dengan penuh semangat. Bahkan kini tanpa sadar, mereka telah saling melepaskan segala yang menempel di tubuh mereka. Sadar mereka sudah tanpa sehelai benang pun, Alvian lantas menarik selimut dan menutup tubuh keduanya. Alvian yang kembali ragu untuk melangkah ke step selanjutnya lantas menatap netra Zafira yang sudah sama berkabutnya dengan miliknya. Kemudian, tanpa ragu Zafira meraih tongkat sakti Alvian dan menempelkannya di depan pintu masuk gua kenikmatannya membuat keduanya makin tak mampu menahan diri lagi. Lalu dengan perlahan Zafira membimbing sang tongkat sakti untuk menerobos gua kenikmatannya membuat keduanya menge rang bersamaan saat rasa yang luar biasa itu menyentak keduanya.


"Sem-pit sekali, sayang. Benar-benar nikmat. Ahhh ... " Alvian tak menyangka, masuk ke dalam gua kenikmatan memang benar-benar nikmat. Padahal Zafira telah memiliki anak 3, tapi rasanya masih sangat sempit dan mencengkram membuatnya benar-benar mabuk kepayang.


Mendengar pujian itu, Zafira merasa bahagia. Tidak percuma dirinya melakukan perawatan rutin beberapa waktu ini. Akhirnya, ibadah sore pertama pengantin baru itupun mencapai puncak. Keduanya meneriakkan nama masing-masing dengan de sah kenikmatan. Mereka puas. Mereka bahagia. Akhirnya, mereka telah benar-benar saling memiliki satu sama lain.


Alvian yang merasa sangat puas dan bahagia lantas segera memeluk tubuh Zafira yang masih tersengal-sengal. Dikecupnya dahi Zafira dengan penuh cinta.


"Terima kasih, sayang. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu."


...***...

__ADS_1


Semoga lulus. Semoga lulus. Agak trauma, takut ditolak lagi kayak yang cerita Benalu dalam Rumah Tanggaku. Padahal nggak hot-hot amat. Masih banyak yang lebih hot dan vul-vul dari ini, tapi malah nggak lulus. Semoga luluuuusssss. 😄😄😄


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2