Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan

Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan
Perasaan Refano


__ADS_3

Undangan pernikahan Alvian dan Zafira telah sampai di tangan Refano dan Marwan. Refano menghela nafas kasar, menahan gemuruh hatinya, menepis sesak yang kian mencengkram erat relung jiwanya. Usahanya selama 7 tahun untuk mempertahankan Zafira di sisinya ternyata berakhir sia-sia karena jebakan Saskia. Dahulu, meskipun Liliana mati-matian memaksanya menceraikan Zafira, ia selalu mencoba mempertahankan walaupun ia harus terpaksa bersikap tak layak karena harus menuruti perintah Liliana yang melarangnya menjalin hubungan menggunakan hati.


Namun, apa mungkin seseorang bisa menjalin hubungan selama itu tanpa melibatkan hati?


Ia laki-laki normal. Apalagi dengan sikap dan ketulusan Zafira, membuatnya tak mampu untuk mencegah hatinya jatuh pada pesona seorang Zafira.


Akan tetapi, sayangnya ia tidak bisa menunjukkan rasa kasih sayangnya itu. Bila ia sampai melakukannya, maka nyawa seseorang yang akan menjadi taruhannya.


Mengapa ia tidak membicarakannya dengan Marwan, ayahnya sendiri? Ia sudah mencoba, tapi sayang, setiap langkahnya selalu diketahui Liliana. Dengan tanpa perasaan, wanita yang merupakan ibu kandungnya itu memerintahkan orang-orangnya mencabut alat penopang kehidupan adiknya hanya melalui sambungan video. Lantas, bagaimana ia bisa menunjukkan perasaannya, sedangkan untuk bernafas lega dan bergerak bebas saja ia sulit. Namun, dari segala rasa ketakutan itu, satu hal yang paling ia takuti bila menunjukkan rasa cintanya, ibunya merupakan wanita yang tega dan kejam, bagaimana bila ia menyakiti Zafira dan anak-anaknya?


Tidak. Itu tidak boleh terjadi. Oleh sebab itu, meski berat, Refano pun memilih melepaskan Zafira dan anak-anaknya, demi kebahagiaan dan keselamatan mereka. Sudah cukup ia memberikan rasa sakit pada Zafira dan anak-anaknya. Kini, yang ia harapkan hanya satu, mereka ... orang-orang yang ia kasihi segera mendapatkan kebahagiaannya.


Perlahan, bulir-bulir bening itu jatuh berderai. Ditatapnya nanar undangan tersebut.


"Semoga dia dapat membahagiakanmu dan anak-anak," lirihnya dengan dada bergemuruh dan tenggorokan tercekat.


Sementara itu, di ruang kerjanya, tampak Marwan tercengang saat mendapatkan undangan pernikahan Alvian dan mantan menantunya. Ia pikir mana mungkin pengusaha muda dan berbakat seperti Alvian mau menikahi janda beranak 3 seperti mantan menantunya itu. Ia pikir, laki-laki itu pasti hanya ingin bermain-main saja dengan Zafira, tapi ternyata mereka serius.


"Nggak, ini nggak boleh terjadi," gumamnya frustasi. "Tapi bagaimana caranya menghentikan pernikahan mereka?"


Marwan bingung sendiri. Sebenarnya ia ingin mencoba menemui Zafira dan membuatnya kembali pada Refano, tapi ia sama sekali tidak memiliki koneksi untuk bisa menghubunginya. Apalagi untuk menemuinya. Zafira telah memutus akses komunikasinya dengan keluarga mereka.


...***...


"Regina," panggil Refano lirih pada Regina yang baru tengah berjalan menuju mini bus jemputan mereka.


Regina yang melihat keberadaan Refano, hanya melengos tanpa ada keinginan untuk melihat maupun merespon panggilan itu.


"Nak, papa mohon, izinkan papa bicara sebentar saja," pinta Refano seraya memelas. Ia bahkan telah berdiri di hadapan Regina yang memandangnya dingin. Hari Refano sakit melihat tatapan itu. Tak ada lagi tatapan penuh binar bahagia di mata itu untuknya. Hanya ada tatapan ketidaksukaan. Sungguh, Refano merindukan tatapan penuh kerinduan sang putri. Dibanding Refina, ia lebih condong ke Regina. Bukan bermaksud pilih kasih, tapi Refina seolah memberi jarak. Refina tak pernah sekalipun mendekat padanya. Hanya Regina, yang meskipun selalu ia abaikan, tapi tetap mau menyambut kepulangannya dengan tersenyum. Meskipun ia tak pernah mempedulikannya, tapi ia selalu memberikan tatapan penuh kasih sayang.


Namun sayang, semua telah hilang. Tak ada lagi senyuman. Tak ada lagi tatapan penuh kasih. Yang ada hanyalah tatapan kekecewaan. Refano tidak menyalahkan Zafira maupun anak-anaknya karena yang bersalah adalah dirinya, bukan mereka. Refano hanya berharap, kelak bila masih ada kesempatan, mereka mau memaafkan kesalahannya.

__ADS_1


"Om mau bicara apa? Sebentar lagi busnya berangkat. Entar Regi malah ditinggalin," ucap Regina. Meskipun datar, tapi kata-katanya cenderung sopan dan lembut. Persis dengan cara bicara mantan istrinya.


"Nggak usah khawatir, pak Rahman udah bilang sama sopirnya biar bis nya nunggu sebentar. Sebentar aja, nggak lama kok." Refano berusaha mengulas senyum, berharap Regina mau membalas senyumannya. Namun wajah Regina tetap saja datar dan dingin. Persis dengan tatapannya selama ini. Hal tersebut tentu menambah daftar hitam dirinya di mata anak-anaknya.


"Emang Om mau bilang apa? Regi nggak bisa lama-lama, entar mama nyariin."


"Hmmm ... sebentar aja. Papa ... papa cuma mau minta maaf ke Regi. Papa ... papa emang salah selama ini udah buat mama, Regi, dan Refi sedih. Tapi asal Regi tahu, papa ... papa sebenarnya sayang sama kalian. Maaf, maafkan papa ya, nak. Papa jahat. Papa kejam. Papa terpaksa, sayang. Papa titip mama ya, nak. Jaga mama dan adek-adek. Jangan buat mama sedih seperti papa yang buat mama sedih. Kalau ada apa-apa, hubungi papa ya, nak. Ini ... kartu nama papa. Kamu simpan siapa tahu suatu hari nanti, kamu membutuhkannya."


Regina tampak tak bergeming. Ia masih kebingungan dengan sikap papanya yang tak biasanya seperti ini. Hingga tiba-tiba sepasang lengan kekar itu terbentang kemudian menarik Regina ke dalam pelukannya. Sudah lama ia menantikan bisa memeluk Regina seperti ini. Dulu, ia selalu memeluk dan mencium Regina dan Refina diam-diam saat sedang tertidur. Itupun saat usia mereka masih begitu kecil. Itupun saat mereka masih tidur satu kamar. Setelah pisah kamar, Refano benar-benar tak pernah lagi mendekati. Ia tak mau ibunya sadar kalau ia sebenarnya menyayangi anak-anaknya. Biarlah ia dibenci Zafira dan anak-anaknya, asalkan mereka aman dan selamat. Terdengar aneh memang, tapi mau bagaimana lagi, Zafira dan anak-anaknya adalah kelemahannya. Pun Refani yang entah disembunyikan dimana.


Perlahan, Refano tergugu sambil memeluk Regina. Air matanya tumpah begitu saja membuat Regina si gadis kecil polos dan berhati lembut itu ikut terisak. Ia tak tahu mengapa ia ikut menangis. Padahal ia marah pada ayahnya yang tak pernah mempedulikannya, tapi ... melihat ayahnya menangis sambil memeluknya membuatnya tak bisa menahan tangis. Tangisnya pun pecah. Beberapa pasang mata sampai memperhatikan mereka. Untung saja ada peraturan tidak boleh mengambil gambar maupun video di dalam lingkungan sekolah. Bila tidak, aksi keduanya pasti akan viral. Bukan tanpa alasan, kini Regina sudah menjelma menjadi idola cilik. Semua pergerakannya kini menjadi bahan sorotan. Membuatnya tidak bisa bergerak bebas seperti dahulu lagi.


Setelah puas menumpahkan tangisannya, Refano pun mengurai pelukannya. Disekanya air mata yang membasahi pipi Regina sambil tersenyum.


"Ingat pesan papa, jaga diri, jaga mama, jaga adek-adek. Papa sayang kalian." Ucapnya sebelum akhirnya Regina masuk ke dalam mini bus sekolah tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


...***...


Melihat wajah murung Regina, batin Zafira bertanya-tanya, sebenarnya apa yang sudah terjadi dengan putri sulungnya itu? Apakah ia telah mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan di sekolah?


Zafira sebenarnya tidak sabar lagi bertanya, namun ia masih menyusui baby Zafran. Ia tidak bisa bertanya sekarang. Ia membutuhkan waktu untuk berdua saja tanpa gangguan.


30 menit kemudian, akhirnya baby Zafran selesai menyusu. Baru saja Zafira berniat berbicara dengan Regina, tapi sayang, Regina justru telah tertidur duluan. Sikap murung Regina ternyata berlangsung hingga malam hari. Zafira sudah mencoba bertanya, tapi Regina mengatakan tidak terjadi apa-apa padanya. Zafira pun mengira mungkin Regina hanya sedang kelelahan. Beruntung, malam harinya Alvian datang dan mengajak anak-anaknya ke sebuah pasar malam yang ada tak jauh dari rumahnya. Awalnya Regina masih tampak murung, tapi dengan sikap tengil Alvian, akhirnya Regina dapat kembali ceria.


"Makasih ya, bang."


"Makasih? Bang?" beo Alvian dengan memasang wajah sok polos membuat Zafira mendengkus. Namun ia tetap tak bisa menahan geli melihat ekspresi itu. Kini mereka sedang duduk berdua di sebuah bangku sambil memperhatikan kedua putri kecil itu bermain pancingan. Baby Zafran mereka tinggal. Angin malam tak bagus buat bayi sekecil Zafran.


"Makasih udah berusaha membahagiakan anak-anak." Ucap Zafira tulus.


"Lalu bang?"

__ADS_1


"Kamu kan keturunan orang Sumatera jadi bagusnya dipanggil abang kan? Atau mau Bambang?" seloroh Zafira membuat Alvian menyeringai.


"Wah, udah punya panggilan sayang nih! Tapi lebih bagus lagi kalo dipanggil sayang atau ayang beb kayak bocil-bocil zaman sekarang gitu," goda Alvian membuat Zafira mencubit pahanya sebal.


"Iya ayang beb alias ayang bebek, mau?"


"Jangan dong, masa' ganteng-ganteng gini disamain sama unggas," tolak Alvian sambil mengerucutkan bibirnya.


...***...


Marwan tampak duduk di ruang kerjanya dengan tatapan kosong. Ingatan beralih ke siang tadi saat makan siang dengan temannya. Tujuannya tentu saja berharap mendapatkan suntikan dana untuk kelangsungan perusahaannya yang kian terperosok. Beberapa pabrik produksi terpaksa ditutup akibat kekurangan modal. Oleh sebab itu, ia pun mencoba menghubungi teman-temannya satu persatu berharap mendapatkan suntikan dana segar sesegera mungkin.


Namun saat baru saja tiba di restoran tempat ia membuat janji dengan temannya, ia justru kembali melihat sosok yang sangat mirip dengan Ayu. Bahkan tatapan mereka sempat saling bersirobok. Namun tatapan itu sangat datar dan dingin, tidak seperti tatapan Ayu yang hangat dan penuh cinta. Lalu matanya kembali beralih ke undangan yang tergeletak di hadapannya.


"Mengapa wajah laki-laki itu sangat mirip dengan Ayu? Lalu wajah perempuan tadi sangat-sangat mirip dengan Ayu. Apa hubungan mereka sebenarnya? Tidak mungkin kan perempuan itu saudara kembar Ayu. Setahuku Ayu merupakan anak tunggal. Ia tidak memiliki saudara sama sekali. Lantas, siapa perempuan itu sebenarnya? Lalu Alvian? Mengapa wajah mereka sangat mirip?" gumam Marwan yang benar-benar penasaran.


Sementara Marwan sibuk berkutat dengan rasa penasarannya, lain halnya dengan Liliana. Ia kini justru sedang dilanda ketakutan. Lagi-lagi pesan bernada ancaman masuk ke dalam ponselnya, tapi dari nomor berbeda. Ya, pesan-pesan itu masuk setiap hari, tapi menggunakan nomor yang berbeda.


[HARI KEHANCURANMU AKAN SEGERA TIBA. TUNGGU SAJA TANGGAL MAINNYA.]


brakkk ....


Ponsel Liliana meluncur begitu saja di lantai. Ia terlalu terkejut dengan pesan Tubuhnya bergetar. Lalu ia mengambil kembali ponselnya untuk menghubungi seseorang.


"Bagaimana? Kau sudah tahu siapa orang yang mengirimkan pesan-pesan itu?" tanya Liliana sambil berjalan mondar-mandir di kamarnya. Ia benar-benar panik sekarang.


"Maaf nyonya, nomor-nomor itu tidak terdaftar. Kartu yang digunakan merupakan kartu sekali pakai. Jadi kami tidak bisa melacaknya."


"Bagaimana tidak bisa? Mencari tahu siapa pengirim pesan itu saja tidak mampu. Saya tidak membayar kalian mahal-mahal untuk bermalas-malasan, ingat itu! Segera temukan identitas orang yang berani mengancam ku itu. Setelah mendapatkannya, segera saja habis tanpa sisa, kalian mengerti!" Sentak Liliana dengan gigi bergemeluk dan mata melotot tajam. Setelah memberikan perintah, ia pun segera memutus panggilan itu dengan perasaan yang kian kacau.


...***...

__ADS_1


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2