Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan

Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan
Kritis


__ADS_3

"Ada apa Fan?" tanya Bu Ayu saat melihat wajah pias Refano. Refano menelan ludah kasar. Perasaannya sudah tidak menentu saat ini.


"Itu Tan eh Bun, itu tadi ... telepon dari rumah sakit. Katanya ... kondisi papa makin menurun. Jadi Refan harus segera ke rumah sakit sekarang. Maaf, makan malamnya jadi terganggu. Kami pamit dulu," ucap Refano cepat sambil berdiri dan membantu mendorong kursi roda sang adik. Ia belum bercerita apapun pada papanya tentang ia telah menemukan sang adik. Ia takut tidak memiliki waktu yang banyak lagi. Jadi ia pun bergegas menuju ke mobilnya.


"Kak, papa ... "


"Ssst ... kamu jangan khawatir. Papa pasti baik-baik saja. Apalagi bila papa bertemu denganmu, pasti papa akan lekas pulih," ucap Refano menenangkan pikiran sang adik. Sebenarnya kata-kata itu juga ditujukan untuk dirinya sendiri yang mulai khawatir. Meskipun ada amarah dalam dadanya atas perbuatan sang papa baik pada diri dan adiknya, maupun pada Bu Ayu. Namun, mau bagaimana pun Marwan tetaplah ayahnya. Darahnya mengalir di dalam tubuhnya. Tak mungkin ia bisa acuh tak acuh dengan kondisi sang papa.


"Biar aku yang menyetir," ucap Luthfi yang sudah berdiri di dekat mereka. Awalnya Refano ingin menolak, tapi ia pun sadar, tidak bagus menyetir dalam keadaan kalut. Ia pun akhirnya menerima bantuan dari Luthfi. Setelah Refano dan Refani masuk ke dalam mobil, Luthfi pun segera melajukan mobil itu menuju ke rumah sakit.


Sementara itu, di dalam rumah Bu Ayu, semua orang tampak melanjutkan makan malam mereka. Namun tidak ada keceriaan seperti tadi.


"Pa, opa kenapa?" tanya Regina tiba-tiba. Ia tahu yang disebut Refano papa tidak lain adalah Marwan, sang kakek.


"Opa sakit, sayang." Jawab Alvian sambil mengusap kepalanya.


"Al, kamu nggak mau liat dia? Bagaimana pun dia kan ... " Bu Ayu menggantung kata-katanya dan menghela nafas panjang.


Alvian mengerti apa yang dimaksud ibunya. Saat kecil ia memang sangat ingin merasakan kasih sayang seorang ayah, tapi setiap menyebut kata ayah, mimik wajah ibunya selalu berubah menjadi sendu membuatnya enggan bertanya lagi siapa dan dimana ayahnya. Barulah saat ia dewasa baru mengetahui tentang ayahnya. Hingga suatu hari karena terlampau penasaran, ia mencari tau siapa itu Marwan Prayoga. Dan setelah mengetahuinya, bara amarah dan kebenciannya makin berkobar. Sebab dari informasi yang ia dapat, Marwan hidup bahagia dengan anak dan istrinya.


Namun, mengetahui apa yang terjadi dengan Marwan saat ini, hatinya rasa tergelitik. Ada rasa tak nyaman. Rasa yang telah ia kubur lama, tiba-tiba menyeruak begitu saja.


Zafira yang melihat Alvian duduk dengan tak nyaman, menyadari suaminya sebenarnya ingin sekali melihat mantan mertuanya itu, tapi ia masih ragu. Zafira lantas menggenggam tangan tangan Alvian membuat laki-laki itu menoleh. Ia mengulas senyum seolah memberikan keyakinan agar tak ragu lagi. Apalagi mengetahui kondisi pak Marwan telah menurun, ia hanya tak ingin Alvian menyesal karena tidak menemuinya untuk terakhir kali.


"Al, pergilah. Temuilah dirinya," ucap Bu Ayu akhirnya. Mendengar kata-kata itu, Alvian pun bergegas beranjak. Sebelum pergi, ia memeluk ibunya. Ia merasa begitu kagum atas kebesaran hati sang ibu. Setelahnya, ia pun menghampiri Zafira.


"Kau mau ikut?" tanya Alvian. Zafira awalnya ragu, hingga mendengar celetukan Regina membuatnya bersedia ikut suaminya ke rumah sakit.


"Mama, Regi mau liat Opa, boleh?"

__ADS_1


"Lefi juga mama," timpal Refina. Zafira lantas mengangguk. Tak mungkin ia menghalangi anak-anaknya untuk bertemu dengan kakeknya. Ia harap pertemuan ini bisa menghapuskan kenangan buruk tentang kakek dan nenek mereka di dalam ingatan mereka. Ia hanya ingin anak-anaknya hanya mengenang memori indah, menghapuskan memori buruk. Semua tentu saja demi tumbuh kembang mereka yang lebih baik. Memori buruk pada masa kanak-kanak terkadang tanpa sadar berdampak pada psikis mereka dan itulah yang hendak Zafira hindari saat ini. Biarkan mereka hanya mengenang hal-hal indah agar mereka bisa tumbuh menjadi pribadi yang ceria nantinya.


...***...


"Papa saya kenapa dokter?" tanya Refano setibanya di depan ruang sang ayah.


"Kondisi ayah Anda tiba-tiba drop. Tadi ayah Anda sempat sadarkan diri dan dia memanggil-manggil nama Refano, Refani, Ayu, putraku, dan ... iya Zafira. Namun sekarang telah tertidur lagi setelah mendapatkan suntikan. Kalau bisa, tolong datangkan orang-orang itu ke mari. Mungkin saja dengan kedatangan mereka bisa membuat pasien kembali bersemangat untuk sembuh," ujar dokter itu membuat Refano gusar.


Refani memang ikut dengannya, tapi bagaimana mungkin ia bisa mengajak Bu Ayu dan Zafira ke sana.


'Putraku? Apa yang papa maksud itu Alvian? Lalu l, kenapa papa bisa menyebut nama Fani? Apa papa sudah tahu aku sudah menemukan Fani? Tapi siapa yang memberitahukannya?' gumam Refano dalam hati.


Dengan mengenakan pakaian khusus, Refano pun masuk ke dalam ruangan sang ayah sambil mendorong kursi roda Refani. Refani membekap mulutnya untuk meredam suara tangisannya yang memilukan.


"Kak, papa ... "


"Jangan menangis, Fan! Kita doakan saja supaya papa bisa segera sembuh."


"Fan," cicit Marwan pelan membuat Refano yang tadi melamun seketika tersentak.


"Papa ... Refan panggilkan dokter dulu ya!" Ujar Refano. Baru saja ia hendak beranjak, Marwan menahannya sambil menggeleng membuat Refano kembali duduk.


"Fan, maafin papa. Maafin keegoisan dan keserakahan papa. Bukannya memberikan kalian kebahagiaan, tapi sebaliknya, papa justru membuat kalian terluka dan kecewa. Papa minta maaf."


"Pa, udah. Bicaranya nanti saja. Papa harus beristirahat agar lekas pulih," tutur Refano lembut. Marwan menggeleng, banyak yang perlu ia sampaikan. Ia takut ia tak cukup banyak waktu untuk berbicara dengan anaknya.


"Fan, apa benar kamu sudah menemukan Fani?"


Refano mengangguk cepat, "iya pa. Berkat bantuan Alvian, Refano akhirnya bisa menemukan Fani."

__ADS_1


"Syukurlah kalau benar. Maaf, papa benar-benar tidak tahu kalau mamamu bisa berbuat kejam seperti itu. Dan apa kamu tahu Alvian adalah adikmu?"


Lagi-lagi Refano mengangguk, membuat Marwan makin merasa jadi ayah yang sangat buruk karena terlambat mengetahui semuanya.


"Maafkan papa." Lagi-lagi Marwan hanya bisa mengatakan maaf atas segala yang telah ia lakukan selama ini. "Fan, papa dengar, akibat perbuatan mama kamu, ginjal Fani rusak?" Refano terbelalak saat tahu ternyata papanya telah mengetahui fakta tersebut. "Nak, papa tahu, umur papa sudah tak lama lagi. Untuk itu, papa ingin mendonorkan ginjal papa untuk Fani. Papa sadar, seumur hidup, papa tak pernah melakukan sesuatu yang membuat kalian bahagia. Maka dari itu, tolong bantu Fani agar ia bisa sembuh. Kasihan dia. Umurnya masih panjang. Semoga setelah ini, kalian bisa menjemput bahagia kalian."


"Pa ... "


"Fan," cicit Marwan dengan nafas yang mulai tak beraturan. "Fan, papa ingin sekali bicara dengan Alvian dan ibunya juga Zafira dan cucu-cucu papa, tapi ... " Marwan sadar, mana mungkin mereka mau bicara dengannya. Diantara sesak yang kian melanda, pak Marwan meneteskan air mata. Ia menyesali, mengapa ia baru merasakan penyesalan saat usianya sudah hampir mencapai batasnya. Jangankan untuk memperoleh maaf, untuk bertemu pun rasanya tak mungkin.


Klek.


Pintu terbuka. Lalu dari luar muncul Alvian, Zafira, Regina, dan Refina membuat mata Refano dan Marwan terbelalak. Baby Zafran tidak diajak karena rumah sakit tidak bagus untuk bayi.


Alvian mendekat, tapi lidahnya terlalu kelu untuk mengeluarkan sepatah katapun. Berbeda dengan Regina dan Refina yang langsung berhambur mendekat ranjang Marwan. Mereka menangis terisak membuat pak Marwan ikut menangis haru. Ia tak menyangka, cucu-cucunya masih mau menemuinya setelah apa yang ia lakukan di masa lalu.


"Cucuku ... maafkan Opa ya! Opa ... opa udah jahat sama kalian. Sama mama juga. Maafkan Opa. Semoga kalian selalu bahagia ya, nak."


"Opa ... " Raung kedua bocah perempuan itu.


"Pa." Itu suara Zafira yang menyapa mantan ayah mertuanya.


"Fira, maafin papa, nak. Maafkan papa. Papa sudah terlalu banyak salah dan dosa sama kamu. Maafkan papa," ucapnya lirih. "Dan ... " Marwan melirik Alvian, "nak, maafkan papa yang baru tahu tentang keberadaanmu. Maafkan papa yang sudah membuatmu tumbuh tanpa kasih sayang orang tua yang lengkap. Papa sadar, papa tak pantas mendapatkan maaf darimu dan juga ibumu. Di sisa nafas papa, sekali lagi ... papa mohon ... maafkan papa," lirihnya dengan dada yang kian sesak membuat semua orang yang ada di dalam ruangan itu seketika panik.


Refano pun bergegas memanggil dokter. Menepis ego, Alvian lantas berdiri di samping pak Marwan dan menggenggam tangannya, "Al sudah memaafkan papa. La yakin, bunda pun juga. Bertahanlah, pa."


Tak lama kemudian, dokter pun datang untuk memeriksa keadaan Marwan. Pak Marwan dinyatakan kritis. Tak lupa Refano menyampaikan pada dokter pesan Marwan yang ingin mendonorkan ginjalnya untuk Refani. Dokter pun segera bertindak untuk mengecek kecocokan ginjalnya mengingat kondisi Marwan yang kian melemah.


Entah harus bersedih atau bersyukur, Refano benar-benar tak tahu. Di satu sisi ia bahagia adiknya bisa diselamatkan bila ginjal ayahnya memiliki kecocokan, tapi juga sedih melihat kondisi sang ayah yang menurut prediksi dokter sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Ia hanya bisa berdoa, semoga apapun yang terjadi merupakan yang terbaik untuk semuanya.

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2