Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan

Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan
Sikap Alvian


__ADS_3

Tak terasa waktu berganti begitu cepat, Regina pun telah pulih seperti sedia kala. Semakin hari pula sikap Alvian kian perhatian dengan Zafira dan anak-anaknya. Bahkan kini hampir setiap hari Alvian mengantarkan Zafira pulang bekerja. Berkali Zafira menolak, tapi berkali-kali juga Alvian membujuknya dengan berbagai macam alasan.


Bukan hanya itu, hampir di setiap hari libur, Alvian akan muncul di rumah kontrakan Zafira dengan berbagai macam alasan. Seperti saat ini, pagi-pagi sekali Alvian datang ke kontrakan Zafira dengan alasan telah berjanji dengan Regina dan Refina untuk mengajak mereka ke taman safari. Awalnya Zafira hendak menolak, tapi melihat antusiasme anak-anaknya justru membuatnya tak tega. Apalagi Refina yang sangat ingin melihat aneka satwa yang ada di taman safari. Kegemarannya menggambar membuatnya kerap menggambar aneka satwa tapi sayang, satwa-satwa itu hanya tergambar di dalam imajinasinya saja. Ia hanya mengenali satwa-satwa itu melalui gambar di poster, televisi, dan video-video yang ia tonton di ponsel sang nenek, tanpa melihat secara langsung.


"Kamu kok pagi-pagi sudah ada di sini, Al?" tanya Zafira pada Alvian. Ya, kini saat berada di luar kantor, Zafira memilih memanggil Alvian dengan namanya. Itupun atas paksaan Alvian yang jengah selalu dipanggil pak oleh wanita pujaan hatinya itu. Malas berdebat, akhirnya Zafira menuruti permintaan Alvian dan mulai memanggilnya hanya dengan namanya saja.


"Aku udah ada janji sama Regina dan Refina," tukasnya sambil menghenyakkan bokongnya di kursi plastik yang ada di teras rumah kontrakan Zafira.


"Janji? Janji apa?" tanya Zafira yang memang tidak tahu apa-apa.


"Om Al ... " Pekik Regina dan Refina girang. Regina pun langsung duduk di paha kanan Alvian dan Refina di paha kirinya. Lalu Alvian mengecup puncak kepala Regina dan Refina dengan sayang membuat Zafira tak kuasa menahan haru. Seumur hidup tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ayah, membuat putrinya tampak begitu bahagia saat ada sesosok laki-laki dewasa yang memberikan perhatian dan kasih sayang layaknya seorang ayah.


Kasih sayang yang seharusnya mereka dapatkan dari Refano, justru mereka dapatkan dari laki-laki yang bukan siapa-siapa mereka. Terkadang Zafira merasa resah, bagaimanapun, Alvian bukan siapa-siapa mereka. Zafira khawatir kelak mereka terlalu bergantung pada Alvian. Bagaimana bila suatu hari nanti Alvian menikah, istrinya pasti tidak menyukai kedekatan Alvian dan putri-putrinya. Dan bagaimana perasaan putrinya kelak bila mereka terpaksa dijauhkan. Sungguh, belum apa-apa Zafira telah merasa resah. Begitulah kaum perempuan, terkadang berpikirnya terlalu jauh. Berpikir ke depan memang bagus, tapi terkadang pikiran-pikiran itulah yang membuat hidup menjadi tidak tenang. Terlalu banyak kekhawatiran yang sebenarnya belum tentu terjadi.


"Wah, princess-princessnya Om udah cantik-cantik dan wangi." Puji Alvian membuat Regina dan Refina tersenyum malu-malu.


"Om juga wangi dan ganteng. Cocok sama mama yang wangi dan cantik," ucap Regina polos membuat Alvian melirik Zafira mesem-mesem. Tapi sayang, yang dilirik justru sedang melamun.

__ADS_1


"Kita jadi kan Om pelgi ke taman safali hali ini?" tanya Refina polos tak sabaran.


"Jadi dong. Karena itu Om pagi-pagi udah datang sampai-sampai Om nggak sempat sarapan."


"Pelut Om lapel dong." Celetuk Refina yang diangguki Alvian. Refina pun lantas turun dari pangkuan Alvian dan menarik-narik lengan Zafira membuat perempuan cantik itu tersentak dari lamunannya.


"Mama, Om Al lapal, belum salapan. Kita salapan baleng boleh?" ujar Refina.


"Eh, iya, apa sayang?" Belum sempat Zafira paham dengan situasi, ternyata Regina dan Refina telah lebih dahulu menyeret Alvian masuk ke dalam rumah dan mengajaknya duduk bersama di meja makan di dalamnya. Zafira sampai mengerjapkan matanya karena tingkah sang putri yang sepertinya telah benar-benar menyukai sosok Alvian.


Bu Mayang tersenyum melihat betapa antusiasnya kedua cucunya atas kedatangan Alvian. Ia pun lantas meminta Zafira mengambilkan sarapan untuk Alvian yang telah duduk anteng di kursi dengan diapit oleh kedua cucunya.


"Kita mau pelgi ke taman safali, ma, ya kan nek? Om Al udah janji sama Lefi mau ajak jalan-jalan kesana. Mama juga boleh ikut kok. Nanti kita disana bisa liat jelapah, ma, ada lusa juga, ada zebla, ada ... ada singa juga, ma," seru Refina girang membuat Zafira tersedak seketika karena terkejut.


Alvian yang melihat Zafira yang terbatuk-batuk lantas mengulurkan air minum kemudian menepuk-nepuk punggungnya sampai batuknya reda.


"Terima kasih," ucapnya pada Alvian saat batuknya telah reda. Lalu ia mengalihkan pandangannya pada sang ibu, "kok ibu nggak ngomong? Kamu juga Al, kok nggak kasi tau aku lagi sih. Kalian ya, kalian udah sekongkol, hm?" mata Zafira mendelik tajam membuat kedua bocah kecil itu merasa takut kemudian memeluk lengan kanan dan kiri Alvian seolah mencari perlindungan.

__ADS_1


Melihat hal itu, membuat hati Zafira terenyuh. Dirinya yang memang tidak tegaan pada kedua putrinya ditambah pengaruh hormon kehamilan membuatnya begitu sensitif. Sikap Alvian yang kebapakan ternyata mampu mengisi kekosongan hati mereka yang haus akan kasih sayang seorang ayah. Haruskah ia bersyukur atas kehadiran Alvian dalam kehidupan mereka atau haruskah ia khawatir sebab mereka tidak pernah tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Akhirnya, dengan setengah hati, Zafira menuruti keinginan putrinya. Apapun akan ia lakukan demi kebahagiaan putrinya.


Sementara itu, di ruang keluarga tampak Refano terus melamun. Ia masih terngiang-ngiang suara merdu Regina yang tengah bernyanyi di atas panggung. Sorak sorai bergemuruh menyoraki penuh kekaguman dan apresiasi atas kemampuan menyanyi Regina yang sudah pantas disejajarkan para artis. Ada selaksa kerinduan yang menyeruak memenuhi rongga dadanya tanpa ia sadari. Apalagi saat mengingat canda tawa dan wajah ceria Regina saat menyambut kepulangannya, sungguh ia merindukan momen itu. Ia tidak menyangka, gadis kecil yang sering diabaikannya itu mampu membuat dirinya terus terbayang sampai seperti ini.


"Kamu ngelamunin apa sih, Fan?" tanya Liliana tiba-tiba yang telah duduk di sampingnya.


"Regina," ucapnya tiba-tiba membuat Liliana terkejut bukan main. Pun Saskia yang baru saja hendak menghampirinya.


"Regina? Ngapain kamu mikirin anak nggak guna kayak gitu?" ketus Liliana.


"Aku ingin mengambilnya dari Zafira, ma. Aku ingin dia tinggal di sini bersama kita." Ucapnya tanpa basa-basi membuat kedua perempuan itu terkejut bukan main.


"Tidak. Untuk apa kamu membawanya, hah? Ingat, kau pun sudah akan memiliki anak laki-laki yang selama ini kita inginkan dari Saskia. Lagipula apa kau lupa dengan perjanjian itu, mana mungkin Zafira akan memberikan anaknya untuk kita. Mama nggak mau dia menertawakan kita karena menelan ludah sendiri," ketus Liliana kemudian segera membuang wajahnya. Melihat penampilan Regina di panggung tempo hari sebenarnya juga membuat Liliana jadi menginginkan Regina. Tapi ia sadar, itu tidak mungkin mengingat perjanjian mereka tempo hari. Ia tak mau menjilat ludahnya sendiri karena melanggar perjanjian.


"Aku juga tidak setuju, mas. Pokoknya, aku tidak setuju. Hanya anak yang ada dalam kandunganku yang berhak menyandang status sebagai anakmu, penerusmu, bukan anak perempuan udik itu. Pokoknya aku nggak mau dia kamu bawa kemari," pekik Saskia membuat Refano berdecak kesal kemudian segera berlalu dari sana. Ia pun bergegas keluar dari rumahnya. Pikiran Refano tengah kacau saat ini. Ada sudut hatinya menginginkan kehadiran Zafira dan anak-anaknya kembali ke rumah itu, tapi di sisi lain ia pun harus menuruti perintah orang tuanya. Ia juga tidak bisa mengabaikan kata-kata Saskia, bagaimana pun ia sedang mengandung anak laki-laki yang selama ini mereka nantikan.


...***...

__ADS_1


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2