
"Kartika ... buka pintu sialan!"
Brakkk ... braaakkk ... braakkk ...
"Kartika ... jangan bersembunyi. Keluar kau brengsekkk. Kembalikan uangku jalaang sialan!"
Dugh ... brakkk ... brukkk ...
"Kartika ... "
Raung Liliana dengan suara menggelegar, rahang mengeras, sorot mata tajam dan nyalang. Ia tak henti-hentinya berteriak di depan sebuah rumah yang cukup besar dan mewah. Sudah hampir 1 jam ia di sana, berteriak, menggedor-gedor pintu, mengumpat, mencaci maki, mengeluarkan segala sumpah serapahnya, tapi sang pemilik rumah tak kunjung keluar. Namun Liliana pantang menyerah. Ia tetap menggedor-gedor pintu sambil berteriak berharap sang penghuni rumah segera keluar.
"Heh, jalaang sialan! Keluar sekarang atau aku habisi nyawamu! Kartika sialan. Jangan bersembunyi kau! Keluar dan kembalikan uangku sebelum ku bakar habis rumahmu!" Raung Liliana dengan nafas yang sudah putus-putus karena terlalu lama berteriak. Bahkan tangannya telah memerah karena tak henti-hentinya menggedor pintu rumah yang penghuninya entah masih ada atau tidak ada di sana lagi itu.
"Maaf Bu, Anda mencari pemilik rumah ini?" Tiba-tiba seseorang berpakaian keamanan yang bertugas menjaga komplek tersebut datang menghampiri. Setelah ada beberapa orang melihat apa yang Liliana lakukan di rumah itu, mereka pun melaporkannya pada petugas keamanan. Apalagi saat mendengar kalimat akan membakar rumah itu, khawatir Liliana benar-benar melakukan apa yang ia ucapkan.
Liliana membalikkan badannya dan membalas tatapan petugas tersebut dengan angkuh.
"Iya. Cepat panggil pemilik rumah ini segera!" titahnya sambil berkacak pinggang.
Petugas yang sudah biasa menghadapi orang-orang seperti Liliana pun menjawab dengan tenang dan sopan.
"Maaf Bu, pemilik rumah ini sudah hampir setahun yang lalu pindah. Dan rumah baru sebulan yang lalu dijual, tapi pemilik barunya belum menempatinya." Ujar petugas keamanan itu membuat mata Liliana terbelalak.
"Ap-apa? Pindah? Kemana?" tanya Liliana dengan wajah yang kian pucat. Wajahnya yang memang sudah pucat karena kurang istirahat akibat stres masalah berlian palsu, lalu kini bertambah pucat karena berita mengejutkan itu.
__ADS_1
"Maaf Bu, untuk pindah kemananya, saya kurang tahu," ucap petugas itu jujur.
"Apa? Masa' kau tidak tahu pemiliknya pindah kemana? Ohz atau kau sudah bekerja sama dengan Kartika untuk menipuku, hah? Dia pasti ada di dalam kan! Aku tidak percaya ucapanmu," sentak Liliana dengan wajah merah padam. Lantas Liliana melihat pentungan yang tergantung di pinggang petugas itu. Petugas itu menatap heran saat Liliana berjalan mendekat. Ia pikir Liliana ingin menyerangnya, tapi ternyata Liliana merebut pentungan itu dengan kasar kemudian ia kembali lagi ke teras rumah itu dan memukulkan pentungan itu ke kaca rumah. Dalam sekejap kaca jendela itu pecah seribu. Serpihannya pun berhamburan sampai terinjak-injak Liliana. Namun Liliana yang sedang dikuasai emosi, tidak menyadari kakinya yang telah terluka. Ia justru makin menggila. Petugas tersebut berusaha menghentikannya, tapi petugas tersebut yang justru menjadi sasaran. Petugas keamanan itu ingin sekali membalas memukul, tapi ia tahu, berurusan dengan orang kaya sama saja cari mati. Dia ingin mencari nafkah, bukan berurusan dengan orang kaya yang sudah seperti orang gila tersebut. Ya, petugas itu mengira Liliana gila. Setelah puas menghancurkan segala yang bisa ia jangkau, Liliana segera masuk ke dalam mobilnya. Ia pun melajukan mobilnya meninggalkan rumah itu dengan perasaan makin kacau.
"Sialan kau Kartika. Berani-beraninya kau menipuku. Awas kau, aku pasti akan memberikan kau pelajaran! Aaargh ... "
Tiba di lampu merah, mata Liliana menangkap tiga orang yang keluar berbarengan dari sebuah cafe yang tak jauh dari lampu merah. Mata Liliana terbelalak saat melihat ketiga orang tersebut. Ayu, Maghdalena, dan Kartika, mereka keluar dari dalam cafe setelah itu saling bercipika-cipiki. Setelahnya, mereka masuk ke mobil masing-masing.
Dada Liliana rasa terbakar. Amarahnya kian membuncah. Kini ia baru sadar kalau dirinya telah dipermainkan ketiga orang itu.
"Sialan. Brengsekkk. Ini pasti ulahmu kan, Yu. Aku pastikan akan membalasmu. Tapi sebelum itu, aku harus mengejar si brengsekkk itu dulu dan meminta kembali uangku." Liliana menggebrak kemudinya kasar. Dadanya naik turun karena emosi.
Saat lampu hijau menyala, dengan tak sabaran Liliana memacu mobilnya. Karena arah yang diambil Kartika berlawanan, Liliana segera mencari jalan untuk berputar. Saat ia menemukannya, tanpa pikir panjang dan melihat sekeliling, Liliana langsung saja menekan pedal dan memutar kemudi sehingga mobil berputar kencang hingga menimbulkan bunyi berdecit yang cukup keras. Tanpa ia sadari, ada mobil dari arah berlawanan yang juga melaju dengan kencang hingga akhirnya mobil Liliana tertabrak kemudian terdorong hingga lebih dari 10 meter lalu menabrak beberapa kendaraan lainnya.
Dugh ...
Bruakkk* ...
...***...
Refani kini sudah dibawa ke rumah sakit kota yang lebih besar dan tentunya peralatannya lebih lengkap dari pada rumah sakit daerah. Tentu saja itu atas rekomendasi dari Afrizal. Refano tak menyangka, asisten pribadi papanya itu ternyata telah lebih dahulu bergabung dengan Alvian untuk menghancurkan kesombongan orang tuanya. Bila orang lain pasti akan lebih membela orang tuanya, maka kali ini Refano memilih menjadi anak durhaka. Sudah cukup perbuatan tidak terpuji yang orang tuanya lakukan. Meskipun dalam hal ini ibunya lah yang lebih banyak bersalah, tapi semuanya pun tanpa sadar ada andil ayahnya. Apalagi karena keserakahan ayahnya mengakibatkan dua perempuan dan dua orang anak harus hidup menderita. Mungkin setelah ini keluarganya akan hancur lebur dan jatuh miskin termasuk dirinya. Namun biarlah. Mungkin saja setelah ini kedua orang tuanya menyadari kesalahan mereka dan bertobat.
"Bagaimana keadaan Fani, Fan?" tanya Afrizal yang baru saja tiba di rumah sakit Cinta Medika.
"Buruk, Om. Kedua ginjalnya rusak jadi Fani harus sering cuci darah. Tubuh Fani terlihat sangat kurus tapi kakinya mulai membengkak. Fano benar-benar nggak nyangka mama sangat tega seperti itu. Namun Fano sudah meminta dokter mencari info donor ginjal. Fano juga meminta tolong Luthfi dan Kiandra. Siapa tahu mereka bisa menemukan pendonor. Seandainya ginjal Fano cocok, Fano pasti sudah mendonorkan ginjal Fano, Om." Tutur Refano dengan wajah yang lesu.
__ADS_1
"Kamu yang sabar, ya. Om juga pasti akan bantu kamu. Kamu belum coba cerita masalah ini ke pak Marwan?"
"Apa papa masih peduli, Om? Selama ini aja papa acuh tak acuh."
"Jangan langsung menarik kesimpulan negatif. Siapa tahu ginjal papamu cocok dan dia mau mendonorkannya. Siapa yang tahu isi hati seseorang kan."
"Hmmm ... nanti Fano coba cerita ke papa. Papa juga harus tau kebusukan mama selama ini."
"Iya, dia memang harus tau. Oh ya, kamu sudah mencoba bicara dengan Zafira?" Afrizal telah tahu kisah Refano selama ini. Ia pun turut iba dan tak menyangka atasannya benar-benar tega dan anak-anaknya sendiri sampai bersikap diktator tanpa memedulikan perasaan anaknya.
"Fano nggak berani, Om. Nggak enak juga sama Al."
"Nanti coba saja bicara. Bagaimana pun. Zafira harus tahu kalau apa yang kamu lakukan selama ini bukan karena inginmu. Persoalan Zafira mau memaafkan mu atau tidak, itu urusan nanti. Selesaikan urusanmu satu persatu. Semoga setelah ini, kamu bisa menjemput bahagiamu." Ucap Afrizal tulus membuat mata Refano berkaca-kaca. Afrizal menempatkan dirinya seperti seorang ayah. Sungguh, ingin sekali rasanya ia mendapatkan perhatian dan kata-kata bijak seperti ini dari ayahnya. Namun ayahnya tak pernah peduli dengan dirinya. Yang ia pedulikan hanyalah perusahaan dan nama besarnya saja.
"Om ... makasih. Makasih banyak," ucapnya dengan ekor mata yang mulai berembun.
Afrizal dapat melihat kerapuhan di netra Refano. Ia pun menarik pundak Refano dan memeluknya erat. Memberikan kesempatan untuk Refano menumpahkan kesedihannya. Ia tidak memiliki tempat untuk menumpahkan isi hati dan kesedihannya. Sama seperti dirinya. Karena itu ia bisa merasakan kesedihan yang Refano rasakan saat ini.
Setelah beberapa saat, Refano sudah kembali tenang. Ia menyusut air matanya dengan punggung tangannya. Perasaannya kini sudah sedikit lega. Baru saja ia hendak membuka mulut untuk kembali berbincara dengan Afrizal, tiba-tiba ponselnya berdering nyaring. Diliriknya nama ayahnya lah yang terpampang di layar ponselnya. Refano pun bergegas mengangkat panggilan itu. Matanya seketika membulat saat mendengar apa yang baru saja ayahnya sampaikan.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...
"
__ADS_1