
Tepat pukul 1 dini hari, Alvian tiba-tiba saja terjaga dari tidurnya. Diliriknya sang istri yang tampak begitu pulas lalu ia memijit pelipisnya sambil menghela nafas panjang.
"Lapar," gumamnya yang kini sudah mengusap perut. Aneh, tadi ia bermimpi makan sate kambing. Padahal Alvian sangat tidak menyukai segala olahan berasal dari daging kambing. Baginya, bau daging kambing itu sangat tidak enak. Apalagi saat masuk ke dalam mulutnya, ia bisa tiba-tiba muntah. Namun kini, gara-gara mimpi tersebut, Alvian jadi begitu menginginkannya. Ditambah acar dan bawang goreng yang banyak, rasanya pasti begitu nikmat. Jakun Alvian sampai naik turun karena menelan ludahnya sendiri.
"Sate kambing? Yang benar saja. Aku kan nggak suka daging kambing, tapi kok tiba-tiba mimpiin makan sate kambing sih?" Gumamnya lalu menjilati lidahnya sendiri membuatnya teringat saat menjilati bumbu sate yang tertinggal di bibirnya. "Astaga, tapi aku pingin banget! Mana udah jam segini, mau cari sate kambing dimana? Masa' mau nyari sate kambing jam segini sih?" gerutunya sambil mengusap-usap perutnya yang tidak tertutup apapun sebab sebelum tidur tadi mereka baru saja melakukan sikasik. Karena terlalu lelah, mereka pun tidur hanya dengan berbalut selimut. Ahai ...
Tak mampu lagi menahan dahaganya yang ingin dipuaskan dengan daging yang dibaluri bumbu kacang plus kecap itu, Alvian pun segera turun dari ranjang dengan perlahan. Ia masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka kemudian bersiap. Tak tega rasanya membangunkan sang istri, ia pun berniat pergi seorang diri mencari penjual sate yang kalau-kalau saja masih ada yang mangkal di jam dini hari itu. Baru saja Alvian memutar handle pintu, mata Zafira mengerjap dan memanggil sosok Alvian membuat laki-laki itu berjengit kaget. Ia sudah seperti maling yang tepergok sang tuan rumah.
"Abang mau kemana?" Zafira menatap heran Alvian yang sudah mengenakan jaket Levis'nya dan celana selutut. Dari outfitnya, Zafira bisa menebak kalau Alvian hendak pergi ke luar, tapi kemana? Zafira tak tahu. Dan ... mengapa Alvian pergi diam-diam seperti itu? Seperti takut ketahuan dirinya.
"Eh, sayang. Maaf ya, kamu jadi kebangun gara-gara Abang,* ucap Alvian yang segera membalikkan badannya mendekati Zafira.
"Abang mau kemana?" tanyanya lagi mengabaikan permintaan maaf suaminya tersebut. Lalu Zafira melirik jarum jam, "udah hampir jam 2, Abang mau kemana jam segini? Tumben-tumbennya pergi jam segini. Mana perginya diam-diam kayak maling lagi," ucap Zafira dengan tatapan menyelidik. Ia merasa aneh dengan sikap suaminya. Istri mana sih tak curiga bila suaminya tiba-tiba bangun di dini hari dan telah rapi hendak bersiap pergi. Tanpa pamit pula. Seperti seorang suami yang hendak menemui selingkuhannya.
"Oh, itu, sebenarnya Abang laper ... "
"Laper ya makan. Di kulkas kan masih ada stok lauk yang tinggal dipanasin. Ini kok malah rapi kayak gini. Kamu pergi kemana sih?" Potong Zafira dengan tatapan memicing.
"Iya, Abang serius laper, sayang. Tapi Abang pinginnya makan sate kambing, makanya Abang siap-siap mau cari kalo aja masih ada yang jual."
Sontak saja Zafira melongo mendengarnya. Ia sudah tahu suaminya itu anti dengan daging kambing. Pada saat aqiqah baby Zafran saja, ia tak mau menyentuh menu kari kambing yang terhidang. Lalu kini ... tiba-tiba saja dia ingin makan sate kambing, apa nggak aneh?
"Bang, Abang kan nggak suka segala macam olahan kambing, kok tiba-tiba pingin makan sate kambing? Abang nggak lagi ngigau kan ini? Atau jangan-jangan Abang lagi mimpi?"
"Nah makanya itu, Abang pun aneh. Tadi abang mimpi makan sate kambing. Terus pas kebangun tiba-tiba aja laper terus pinginnya malah makan sate kambing. Kamu aja heran, apalagi Abang yang ngerasain," ucap Alvian sambil menghela nafasnya.
"Ya udah, Fira temenin deh. Fira cuci muka dulu, oke!" Ucap Zafira yang lebih ke pernyataan yang tak bisa ditolak. Zafira lantas turun dari kasur sambil memeluk selimut untuk menutupi tubuh telan jangnya. Alvian pun mengangguk kemudian menunggu sang istri.
Tak butuh waktu lama, Zafira pun telah mengenakan baju kaos l3ngan panjang dan celana kulotnya. Baru saja ia hendak membuka pintu untuk meminta Sinta menemani baby Zafran sebentar, tiba-tiba bayi mungil itu justru terbangun dan menangis kencang. Ternyata baby Zafran terbangun karena haus. Alhasil, ia pun membiarkan Alvian pergi mencari penjual sate seorang diri.
2 jam kemudian, Alvian pun kembali sambil menenteng kantong berisi 2 bungkus sate dengan wajah sumringah.
"Abang kok lama banget sih?" tanya Zafira dengan tatapan curiga.
"Banyak penjual sate yang udah pulang, sayang. Jadi Abang tadi keliling dulu. Untung aja ketemu, kalo nggak duh, Abang bisa ileran. Dah kepengen banget soalnya. Mana laper banget juga," jawab Alvian sambil meletakkan bungkusan sate di atas meja makan. Setelah menidurkan baby Zafran, memang Zafira langsung menunggu Alvian di ruang tamu. Jadi sepulangnya Alvian, ia pun langsung membantu menyiapkan piring dan sendok serta tak lupa air putih. Karena sudah kelaparan, Alvian pun langsung menyantap sate itu hingga tandas. Bahkan Alvian menghabisi sisa Zafira yang masih separuh. Zafira sampai melongo dibuatnya.
Setelah makan, menggosok gigi, mereka pun kembali tidur dengan nyenyak.
__ADS_1
Keesokan paginya,
Hoek ... Hoek ... Hoek ...
Zafira yang baru saja kembali dari dapur setelah membantu asisten rumah tangga di sana menyiapkan sarapan, mengernyitkan dahinya saat mendengar suara seseorang yang sedang muntah-muntah di kamar mandi kamarnya. Zafira yang panik pun bergegas masuk ke kamar mandi. Betapa terkejutnya ia melihat sang suami tengah bersusah payah memuntahkan isi perutnya hingga membuat wajahnya tampak pucat pasi.
"Abang kenapa?" tanya Zafira panik.
"Abang nggak tahu. Tiba-tiba aja mual terus muntah-muntah pas bangun tidur tadi. Duh, mana kepala pusing banget. Kayaknya masuk angin deh." Keluh Alvian sambil memijit pelipisnya setelah berkumur dan mencuci muka.
"Abang sih, pake beli sate jam 2 malam, jadi masuk angin kan." Omel Zafira sambil memapah Alvian menuju ranjang. "Fira kerokin mau?" tawar Zafira membuat Alvian bergidik ngeri. Alvian itu penggeli jadi setiap dikerok pasti dia nggak bisa diam karena kegelian.
"Tapi ... "
"Biar cepat sembuh. Pokoknya harus mau." Tegas Zafira membuat Alvian mau tak mau mengangguk meskipun dengan setengah hati.
"Aaaa ... aduh, aduh, duh, duh, duh, geli Ra. Aduh Yang, geli. Aduh ... Awwww ... Ssshhhh ... Ampun Ra, aduh, ampun. Duh, geli Ra, ya ya ya di situ. Aduh, jangan disitu, Ra. Awww ... "
Pekik Alvian saat Zafira mengeroki punggungnya membuat semua orang tergelak mendengarnya. Pun para art yang bekerja di rumah itu. Regina dan Refina pun tak mampu menahan geli karena tingkah lucu ayah sambungnya itu.
"Dikerok aja heboh bener, Al. Udah kayak cewek melepas pera- eh hampir keceplosan," seloroh Bu Ayu membuat Alvian memasang muka masam.
"Emangnya Regi pernah dikerokin?" tanya Alvian sambil mendesis menahan geli.
"Pernah dong, tapi nggak pake koin. Mama keroknya paket bawang merah biar anget." Jawabnya.
"Iya, Lefi juga, papa."
"Yang, kenapa aku nggak dikerok paket bawang merah juga?" tanya Alvian sambil menolehkan kepalanya ke samping.
"Emangnya kamu bayi?" cetus Bu Ayu membuat Bu Mayang yang duduk di sampingnya terkekeh.
"Ah, bunda. Yang ditanyain siapa, yang jawab siapa. Udah kayak jubir aja," omel Alvian membuat Zafira terkekeh mendengarnya.
...***...
"Bang, kamu kan lagi nggak enak badan, kenapa nggak libur aja barang satu hari." Ucap Zafira sambil membantu memasangkan dasi Alvian. "Lagian ini udah kesiangan juga."
__ADS_1
"Emang siapa bos di sana?"
"Ya Abang lah."
"Nah, tuh tahu."
"Ya, tahu lah. Makanya Fira bilang nggak usah kerja 1 hari aja. Nggak masalah kan."
"Iya, sih nggak masalah kalau hari ini nggak ada klien penting yang datang berkunjung. Tapi hari ini fans besar kamu mau datang. Masa' dia dah jauh-jauh datang kemari, eh aku nya nggak temuin, nggak sopan kan!"
"Fans besar aku? Siapa? Emang Fira itu artis sampai punya fans segala."
"Nggak perlu jadi artis biar punya fans. Jadi perempuan yang mengagumkan pun bisa memiliki fans. Kayak istri Abang ini, udahlah cantik, pintar, mandiri, berwawasan, memiliki attitude yang baik, keibuan, paket komplit lah pokoknya, jadi wajar aja ada yang mengidolakan."
"Idih, lebay. Emang siapa sih?" Fira makin penasaran.
"Ray Adams. Dia yang mau datang," ucap Alvian ketus. Sebal sekali dia dengan nama itu. Andai ia tak membutuhkan kerja sama itu, mana mungkin ia mau bertemu dengannya. Apalagi ujung-ujungnya nanti Ray Adams pasti akan menanyakan istrinya.
Melihat raut wajah masam Alvian setelah menyebutkan nama Ray Adams sontak saja membuat Zafira terkekeh.
"Cemburu, hm?"
"Kamu nanya?" Tidak seperti video yang viral saat ini. Alvian justru mengucapkan kalimat itu dengan datar membuatnya jadi aneh.
Plakkk ...
Zafira memukul pundak Alvian geram, tapi tetap saja bibirnya menyunggingkan senyum.
Perdebatan seperti ini sebenarnya sangat menyenangkan. Zafira sampai heran sendiri. Di luar Alvian sangatlah kaku dan dingin, tapi saat dengannya, ia sungguh menyebalkan. Namun, sikap inilah yang membuatnya tak urung sering tersenyum. Ada kebahagiaan sendiri setiap ia berinteraksi dengan suaminya itu.
Selepas kepergian Alvian, Zafira segera masuk ke dalam kamar. Tujuannya adalah ingin melihat kalender. Tanpa terasa, pernikahan Zafira dan Alvian telah memasuki bulan ketiga. 2 Minggu yang lalu ia memang sempat datang bulan, tapi hanya sedikit saja.
Menilik sikap Alvian akhir-akhir ini membuat Zafira curiga akan sesuatu. Namun ia masih memendamnya. Ia perlu memastikan terlebih dahulu. Apalagi ia tidak mengalami tanda-tanda kehamilan sama sekali. Bisa saja kan Alvian mengalami couvade syndrome atau lebih dikenal dengan sebutan kehamilan simpatik sama seperti tokoh-tokoh di novel favoritnya.
'Ya, semoga saja.'
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...