Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan

Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan
Karena kau memang pantas mendapatkannya


__ADS_3

Jalanan siang ini tampak padat merayap membuat Refano yang hendak menuju ke suatu tempat tampak kesulitan. Berkali-kali ia melihat jarum jam di pergelangan tangannya membuatnya menghela nafas hingga berkali-kali.


Refano lantas mengeluarkan ponselnya, mencari jalan alternatif melalui google map. Setelah menemukannya, ia pun segera membelokkan mobilnya menuju ke jalan yang menurutnya dapat mempersingkat waktunya menuju ke tempat tujuannya. Namun sayang, keberuntungan sedang tidak berpihak padanya. Tiba-tiba saja di pertengahan jalan, ban mobilnya tiba-tiba saja pecah membuatnya nyaris saja tergelincir apalagi tidak mengerem tepat waktu.


"Astaga, kenapa ban nya harus pecah sekarang sih?" gerutu Refano sambil memukul stir mobilnya.


Tiba-tiba ponselnya berdering, diliriknya, nama adiknya lah yang terpampang saat ini. Refano pun segera mengangkat panggilan itu.


"Assalamu'alaikum," ucap Refano.


"Wa'alaikum salam. Kak, kakak dimana sih? Kok belum sampai? Yang lain udah pada nungguin nih," omel Refani dari ruang perawatannya.


"Maaf Fan, kakak kayaknya agak telat soalnya tadi jalanan macet parah. Pas kakak lewat jalan alternatif, ban mobil kakak malah pecah," ucap Refano jujur.


Refani berdecak hingga ada suara seorang lelaki mencoba menenangkannya terdengar dari seberang telepon.


"Emang posisi kakak dimana sekarang?" tanya Refani.


"Emmm ... kakak nggak tau pasti sih, soalnya ini jalan alternatif. Kayak jalan tikus gitu," ucap Refano.


"Perlu kami jemput?" tawar seorang lelaki yang Refano tahu sekali siapa itu. Laki-laki yang sebentar lagi akan menyandang status sebagai suami adiknya. Siapa lagi kalau bukan Luthfi.


Ya, semenjak malam lamaran itu diterima, Luthfi langsung meminta izin Refano untuk segera menikahi Refani. Alasannya agar ia memiliki hak dan kewajiban untuk menjaga, merawat, dan melindungi Refani dengan baik tanpa penghalang maupun batasan. Bila sebelumnya ia hanya bisa sekedar mengunjungi, tapi ia ingin berperan lebih. Dan hanya dengan menjadi mahramnya saja ia bisa melakukan itu semua.


Refano tentu saja menyambut baik niat baik itu. Tentunya setelah terlebih dahulu menanyakan pendapat sang adik. Mendengar kesediaan sang adik, ia pun menyetujui permintaan itu dan hanya dalam 2 hari segala persiapan pernikahan antara Luthfi dan Refani pun akan segera dilangsungkan.


Tidak ada pesta. Hanya ada akad nikah uang dihadiri keluarga dan orang-orang terdekat saja. Mereka baru akan melakukan resepsi saat Refani benar-benar pulih.


"Kalau tidak me-, eh sebentar. Ada mobil lewat. Saya coba tanya dulu, siapa tahu dia bersedia membantu mengantarkan ke rumah sakit," tukas Refano saat melihat sebuah mobil Honda jazz berwarna merah hendak menuju ke arahnya. Refano pun segera melambaikan tangannya berharap mobil itu segera menepi menghampirinya.


Refano tanpa sadar tersenyum saat melihat mobil tersebut menepi. Namun senyum itu tak bertahan lama saat pemiliknya menurunkan kaca mobilnya.

__ADS_1


"Eh mamas hot daddy. Kayaknya kita beneran berjodoh ya bisa ketemu lagi," seloroh pemilik mobil yang tiada lain adalah Merlyn.


Refano menghela nafasnya. Sebenarnya ia malas sekali bertemu dengan gadis itu, tapi ia tak punya cara lain selain meminta bantuan gadis itu untuk segera mengantarkannya ke rumah sakit.


"Emmm ... ban mobilku pecah. Bisa tolong antarkan aku ke rumah sakit Cinta Medika?" ucap Refano datar tapi sukses membuat Merlyn tersenyum lebar.


"Sebenarnya sih aku sedang sibuk mamas hot daddy, tapi untukmu gunung ku daki, laut pun kan ku seberangi," ucapnya setengah bercanda sambil mengucapkan salah satu lirik lagu dari Mizta D feat Rizal Armada yang berjudul Untuk yang Tersayang.


Refano ingin berdecak, tapi ia urung melakukannya. Bagaimana pun saat ini ia membutuhkan bantuan gadis itu.


Merlyn pun membuka kunci mobilnya dan mempersilahkan Refano masuk. Lalu Refano pun segera masuk ke dalam mobil itu. Setelah memastikan Refano telah memakai sabuk pengamannya, Merlyn pun mulai menjalankan kendaraannya.


Merlyn menjalankan mobilnya dengan santai agar bisa bisa berlama-lama dengan Refano. Sesekali ia melirik Refano yang tampak gusar sambil memandang jam di pergelangan tangannya.


"Mamas hot daddy buru-buru ya?" tanya Merlyn akhirnya saat keduanya sejak tadi hanya saling terdiam.


"Hmmm ... " Hanya suara dehaman yang terdengar dari bibir Refano.


Kesal hanya mendapatkan dehaman, Merlyn lantas menaikkan kecepatan mobilnya. Bahkan Refano sampai berpegangan erat pada pegangan pintu mobil.


"Kau mau bunuh diri?" geram Refano dengan nafas tersengal.


"Nggak. Rugi dong kalau aku mati sekarang. Entar mamas hot daddy malah digaet orang dong. Aku nggak mau jadi hantu penasaran gara-gara mamas hot daddy nikah sama orang lain," jawab Merlyn asal membuat Refano menganga tak percaya dengan jawaban aneh Merlyn. "Tapi kalau kita mati berdua, nggak masalah. Siapa tau kita berjodoh di akhirat," imbuhnya membuat Refano mendengkus.


Malas menanggapi ucapan absurd Merlyn, Refano lantas segera melepaskan sabuk pengaman dan membuka pintu mobil. Tak lupa ia mengucapkan terima kasih sebelum benar-benar menghilang dari hadapan Merlyn.


"Mamas hot daddy, kalau kita ketemu sekali lagi, kamu mau kan jadi pacar aku? Atau langsung nikah juga boleh," pekik Merlyn yang diabaikan Refano. Merlyn mengerucutkan bibirnya. Setelahnya ia menyunggingkan senyum lebarnya.


"Kebetulan macam apa ini? Berapa kali kita udah ketemu tanpa sengaja kayak gini. Semoga aja ini sinyal jodoh." Gumamnya sambil tersenyum.


Setelahnya, Merlyn pun langsung melajukan mobilnya membelah jalanan kota menuju ke gedung Star TV.

__ADS_1


Sementara itu, Refano yang telah berada di dalam lift menuju lantai dimana ruangan Refani berada menghela nafas panjang. Ia tak habis pikir, bagaimana ia lagi-lagi dipertemukan dengan Merlyn. Sikapnya benar-benar absurd, tapi tanpa sadar cukup menghibur hingga tanpa sadar Refano tersenyum saat mengingat kata-kata Merlyn yang benar-benar di luar dugaan.


"Dasar bocah sableng," gumamnya sambil menyunggingkan seulas senyum yang sangat tipis nyaris tak terlihat.


...***...


"SAH."


"SAH."


"SAH."


Seruan kata sah terdengar dari bibir para tamu undangan yang menjadi saksi pernikahan antara Refani dan Luthfi. Refani yang didudukkan di sofa bersebelahan dengan Luthfi tampak tersenyum penuh haru saat kata sah itu terdengar. Meskipun hanya acara ijab Kabul saja, tapi kesakralannya begitu terasa hingga tanpa sadar setetes embun mengalir dari pelupuk matanya.


Refani kini sudah saling berhadapan dengan Luthfi. Luthfi mengulurkan tangannya yang disambut Refani dengan mencium punggung tangan laki-laki yang telah menyandang status sebagai suaminya itu. Setelahnya, Luthfi mengecup dahi Refani dengan lembut dan dalam. Rasa hangat menyeruak di dada Luthfi. Ia tak menyangka, ia bisa jatuh cinta pada pandangan pertama dengan gadis di hadapannya ini. Bahkan kini gadis itu telah menyandang status sebagai istrinya.


Satu persatu anggota keluarga memberikan selamat pada pasangan pengantin baru tersebut. Tampak orang tua Luthfi pun memeluk tubuh menantunya dengan sayang. Apalagi setelah mengetahui perjalanan hidup Refani yang tak mudah membuat mereka berjanji akan menjadi orang tua yang baik untuk menantunya tersebut. Mereka akan menganggap Refani seperti putrinya sendiri. Refano tak henti-hentinya mengucapkan syukur sebab akhirnya adiknya bisa menemukan orang yang mencintainya dan mau menerimanya dengan tulus.


"Mas," tegur Zafira saat melihat Refano tampak berkaca-kaca.


"Ah, kamu Ra. Ya, ada apa?" tanya Refano gugup. Bahkan setelah mereka berpisah pun, debaran itu masih saja ada.


"Mas, semua telah menemukan kebahagiaannya. Sekarang, giliranmu menemukan kebahagiaanmu. Kau pantas untuk berbahagia, mas."


"Apa aku pantas merasakan kebahagiaan itu, Ra? Setelah apa yang aku lakukan pada kalian, aku merasa .... tak pantas untuk berbahagia," cicit Refano merasa nelangsa. Jiwanya seolah terkurung dalam rasa bersalah dan penyesalan yang tak berkesudahan.


"Jangan mengurung diri pada masa lalu, mas. Kau pantas bahkan sangat pantas untuk berbahagia. Cobalah buka hatimu, aku yakin, kau akan menemukan seseorang yang mampu mencintai dan menerimamu apa adanya. Kuncinya ada pada dirimu sendiri, mas. Temukanlah kebahagiaanmu, mas. Kami akan selalu mendoakanmu," ucap Zafira tulus.


"Semoga ... Semoga doa dan harapanmu terkabul, Ra. Terima kasih, terima kasih, bahkan setelah apa yang aku lakukan, kau masih mau mendoakan kebaikan dan kebahagiaanku. Mungkinkah aku bisa menemukan perempuan lain seperti dirimu, Ra? Semoga saja." Ucap Refano yang dilanjutkannya dalam hati.


"Itu karena kau memang pantas mendapatkannya, mas." pungkas Zafira sebelum kembali ke sisi Alvian yang wajahnya telah ditekuk masam.

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2