
Ruang tamu kediaman Alvian tampak riuh setelah kepulangan Zafira dan kedua bayi kembarnya dari rumah sakit. Mereka disambut dengan penuh suka cita. Semua wajah tampak bersinar bahagia apalagi saat melihat kedua bayi mungil yang diberi nama Alif Zaidan Altakendra dan Alifah Zahrana Altakendra.
Keadaan rumah itu benar-benar ramai. Ada Nova dan bayinya yang baru berusia 3 bulan serta suaminya. Ada Luthfi dan Refani yang tengah hamil 1 bulan. Mereka begitu akrab layaknya keluarga sendiri. Tak lama kemudian, sebuah mobil Pajero sports berwarna hitam masuk ke pekarangan rumah Alvian. Karena semua orang sedang bercengkrama di taman yang ada di depan rumah, mereka bisa langsung melihat dua orang turun dari dalam mobil itu. Mereka adalah Refano dan Merlyn. Tampak Merlyn sedang menggendong baby Reza dengan senyum merekah. Ia bertransformasi menjadi sosok yang keibuan setelah mengenal baby Reza. Saskia tidak melarang saat Refano ingin mengajak putranya itu pergi dengan Merlyn. Apalagi setelah mengenal Merlyn, ia tahu Merlyn sosok yang baik dan hangat. Ia hanya berharap, Merlyn bisa menyembuhkan luka hati mantan suaminya itu.
"Hai, semua. Apa kami terlambat?" ucap Refano ramah. Ia akan berubah menjadi ramah dan hangat bila bergabung dengan Alvian dan keluarganya.
"Ya, kau sangat terlambat, kak. Karena kak Refan terlambat, bagian kak Refan lah yang mencuci piring," seloroh Luthfi yang membuat Refano mendelik tajam.
"Heh, adik ipar kurang ajar! Kau mau adikku kuambil lagi, hah?"
"Emangnya bisa? Emangnya kamu mau sayang pulang sama kakakmu itu?"
"Ogah ah. Entar Fani nggak bisa bobok gimana?" ucap Refani manja sambil memeluk tubuh Luthfi dari samping. Semenjak kehamilannya, Refani memang menjadi lebih manja. Apalagi dengan sikap Luthfi yang begitu lembut dan penuh perhatian membuat Refani yang memang haus akan kasih sayang menjadi begitu manja dan bergantung padanya. Terang saja, Luthfi tersenyum penuh kemenangan membuat Refano mendengkus. Namun setelahnya ia tersenyum lebar. Ia merasa tenang, karena akhirnya adiknya menemukan kebahagiaannya.7 "Dari pada kakak ajak aku pulang, mending kakak buruan halalin mbak Lyn, ya nggak kak Al?" Refani melontarkan pertanyaan dengan Alvian yang sedang sibuk mengupaskan buah jeruk untuk sang istri.
"Eh, apa? Apa katamu tadi, Fan? Kakak nggak dengar," jawab Alvian sambil mengalihkan pandangannya pada Refani yang telah cemberut.
"Kak Al ih, kupingnya budek kali ya padahal Fani jaraknya nggak terlalu jauh tapi malah nggak dengar," protes Refani kesal.
"Sayang," tegur Luthfi saat kata-kata yang Refani lontarkan kurang bagus didengar.
"Iya, maaf."
"Makan siang siap. Ayo semuanya, kita segera ke meja makan," seru Bu Ayu mengajak mereka makan bersama di taman halaman depan rumah. Halaman depan rumah itu telah disulap sedemikian rupa sehingga mereka bisa makan bersama. Semua tampak antusias mendengar suara keibuan dari bu Ayu.
"Baik, bunda," seru mereka bersamaan.
Mereka lantas segera makan bersama sambil berbagi cerita. Refano dan Refani merasa sangat bersyukur dipertemukan dengan Bu Ayu. Bu Ayu memberikan mereka kasih sayang seorang ibu yang tak pernah mereka rasakan selama ini.
Saat mereka baru saja selesai santap siang, tiba-tiba Afrizal menginterupsi obrolan mereka. Mereka saling tatap satu sama lain, merasa penasaran apa yang ingin disampaikan Afrizal pada mereka semua.
__ADS_1
"Mohon dengar semuanya. Mungkin kabar ini akan sedikit mengejutkan kalian semua, tapi om harap kalian mau mendukung kabar baik ini." Afrizal terdiam. Lalu ia mengarahkan pandangannya pada Bu Ayu yang telah menunduk dengan senyum terkulum.
"Ekhem ... sepertinya ada kabar baik nih? Kira-kira apa ya?" goda Nova sambil mengerling ke arah Zafira yang sudah tersenyum geli.
"Rencananya, satu Minggu lagi om akan menikahi bunda kalian. Jadi ... bagaimana pendapat kalian? Kalian setuju kan?"
Sontak saja Alvian yang tak tahu apa-apa menyemburkan air yang baru saja ditenggaknya.
"Bunda ... apa benar yang Om Rizal katakan?" Alvian menatap wajah sang ibu dengan raut penasaran.
Bu Ayu mengangguk malu-malu, "kamu setuju kan, Al?" tanya Bu Ayu khawatir.
Alvian jelas saja tersenyum. Ia tentu saja setuju. Baginya, Afrizal sudah seperti ayahnya sendiri. Bila ini untuk kebahagiaan sang bunda, tentu ia sangat mendukung. Apalagi seumur hidup ibunya selama ini hanya didedikasikan untuk dirinya hingga tak pernah mengenyam indahnya berumah tangga. Kini sudah saatnya ibunya menjemput bahagianya. Ia harap, Afrizal memang tulus mencintai sang ibu dan akan membahagiakannya.
"Tentu saja. Apapun untuk kebahagiaan bunda, Al setuju. Tapi Om harus janji, nggak akan pernah menyakiti bunda."
"Tenang saja. Menikah dengan bundamu adalah impian om sejak lama. Tentu Om takkan menyia-nyiakan kesempatan ini. Om janji, akan berusaha memberikan kebahagiaan pada bunda. Om juga akan selalu mencintai dan menyayangi bunda sepenuh hati Om," ucap Afrizal penuh kesungguhan. Tampak sekali binar cinta begitu besar di netra Afrizal untuk Bu Ayu.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Alvian saat melihat netra Zafira berkaca-kaca.
"Aku hanya sedang ingat ibu, bang. Seandainya ibu masih ada, pasti kebahagiaan ini akan makin sempurna," lirih Zafira.
Ya, sejak dimana Bu Mayang mengungkapkan kebahagiaannya melihat putrinya tercinta akhirnya menemukan kebahagiaannya, kondisi kesehatan Bu Mayang kian menurun. Hingga suatu pagi, saat Zafira hendak memeriksa keadaan ibunya, ternyata tubuh Bu Mayang telah dingin dan kaku.
Zafira sempat histeris karena ibunya pergi tanpa berkata apa-apa. Namun Alvian terus meyakinkan, ini merupakan takdir Allah. Allah begitu menyayangi Bu Mayang sehingga Ia menjemputnya lebih dulu. Alvian pula meyakinkan dengan memperlihatkan raut wajah Bu Mayang yang terlihat bahagia. Meskipun nyawanya telah meninggalkan raga, tapi Bu Mayang pergi dengan senyum manis tersungging di bibirnya. Bu Mayang pergi dengan Husnul khatimah jadi tak ada yang mesti disesali sebab kematian memang sesuatu yang tak mungkin tuk dihindari.
"Ibu memang telah tiada. Tapi kasih sayangnya akan selalu abadi sepanjang masa. Al Fatihah untuk ibu yang telah melahirkan bidadari surga seperti dirimu," ucap Alvian dengan sorot mata penuh cinta. Zafira tersipu mendengar kata-kata indah dari bibir suaminya. Suaminya memang selalu saja bisa membuat hatinya berbunga-bunga.
Selang satu bulan kemudian, Refano akhirnya memantapkan diri untuk menikahi Merlyn. Kedua orang tua Merlyn pun menyambut antusias keinginan Refano itu. Meski awalnya mereka meragukan niat baiknya, khawatir kejadian James kembali terulang. Namun, Refano berhasil meyakinkan kedua orang tua Merlyn kalau ia menerima Merlyn termasuk masa lalunya. Ia berjanji takkan pernah mempermasalahkan masa lalu itu sebab baginya yang terpenting adalah masa depan.
__ADS_1
Dan kini, di sinilah mereka. Di sebuah ballroom hotel yang cukup megah, akhirnya Refano dan Merlyn pun melangsungkan pernikahan mereka. Pesta pernikahan itu cukup meriah sebab kedua orang tua Merlyn ingin memberikan yang terbaik untuk putrinya itu. Anggap saja itu merupakan ungkapan rasa syukur akhirnya putrinya bisa berdamai dengan masa lalu. Itu semua tak lepas dari dukungan Refano. Mereka tak mempermasalahkan status Refano yang merupakan duda dua kali. Namun mereka tetap mengungkapkan keinginan mereka agar Refano dapat menjaga putri mereka dengan baik. Refano pun menyanggupinya karena memang ia ingin menjadikan pernikahan kali ini pernikahan terakhirnya hingga hanya maut yang dapat memisahkan mereka berdua.
Satu persatu para tamu undangan memberikan ucapan selamat. Saat sedang asik bercengkrama dengan tamu undangan, naiklah seorang pria dengan postur tubuh cukup gagah. Namun berbanding terbalik dengan raut wajahnya yang sendu. Gurat penyesalan terlihat jelas di netranya yang hitam kecoklatan.
Laki-laki itu berkali menghela nafas. Ada rasa malu sekaligus sesak melihat wajah perempuan yang ia cintai akhirnya bersanding dengan laki-laki lain. Seandainya ia tidak. gegabah dan menayangkan terlebih dahulu apa maksud kedua orang tua perempuan itu, sudah pasti yang akan bersanding dengannya di pelaminan adalah dirinya, bukan laki-laki itu. Laki-laki itu merutuki kebodohannya sendiri. Kini, hanya penyesalan yang ia dapatkan. Semuanya takkan bisa ia putar ulang kembali.
"Lyn," panggil laki-laki itu seraya tersenyum sendu. Merlyn membulatkan matanya saat melihat sosok laki-laki yang telah menuduhnya sembarangan hanya karena mendengar sepenggal cerita masa lalunya dari orang tuanya.
"Oh, kau ... datang," lirih Merlyn mencoba untuk bersikap tenang meskipun dalam hati masih ada rasa sakit karena tuduhan laki-laki itu atas dirinya. Melihat sikap Merlyn yang tiba-tiba tegang dan cenderung tak nyaman, membuat Refano memicingkan mata. Ia lantas merengkuh pinggang Merlyn posesif untuk menunjukkan kepemilikannya atas perempuan itu. Merlyn tak masalah. Justru ia bisa lebih tenang berkat rengkuhan itu.
"Maafkan aku." Ucap laki-laki itu sambil menundukkan kepalanya.
"Maaf? Untuk apa?" beo Merlyn datar.
"Maaf atas kesalahan pahamanku. Aku ... sudah mendengar cerita lengkapnya dari orang tuamu. Maafkan aku atas kebodohanku yang tak mau mencari tau dahulu maupun mendengarkan penjelasanmu. Maafkan aku juga karena telah menuduhmu yang tidak-tidak. Aku ... sangat menyesal. Maafkan aku," lirihnya. Ia tetap menunduk, tak mau mengangkat wajahnya meskipun sedikit. Sebab bila ia mengangkat wajahnya, ia sangsi bisa mencegah air matanya jatuh.
Sungguh, hatinya sakit melihat perempuan yang ia cintai justru bersanding dengan laki-laki lain. Padahal, bila ia memang benar-benar mencintai perempuan itu, sudah seharusnya ia bisa menerima segala kekurangan pun masa lalunya. Tapi ... menyesal pun percuma. Semuanya telah terjadi. Yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah mendoakan yang terbaik untuk keduanya. Semoga mereka bisa menjadi pasangan yang sakinah, mawadah, dan warahmah.
"Sudahlah James. Tak perlu kau ungkit lagi. Aku sudah memaafkanmu."
"Terima kasih. Terima kasih telah memaafkanku. Semoga kalian bahagia." Ucap James tulus.
"Doa yang sama untukmu." Balas Merlyn sambil mengulas senyum.
Selepas James memberikan selamat, kini giliran Saskia yang memberikan ucapan selamat. Setelah pesta hampir berakhir, Zafira pun naik ke atas pelaminan. Sama seperti para tamu lainnya, ia pun mengucapkan selamat dan mendoakan kebaikan dan kebahagiaan untuk pasangan pengantin baru tersebut. Tak lupa, mereka saling berfoto sebagai kenangan-kenangan dengan raut wajah penuh suka cita dan cinta.
...***...
...THE END...
__ADS_1
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...