
Tampak Liliana, Refano, dan kedua orang tua Saskia menunggu di depan ruangan operasi dengan perasaan was-was. Sudah satu jam berlalu, tapi belum juga ada tanda-tanda proses operasi akan selesai. Gurat kekhawatiran lebih jelas terdapat di wajah kedua orang pasangan suami istri yang merupakan orang tua dari Saskia. Mereka khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada putri keduanya tersebut.
"Bagaimana dengan keadaan anak kita, pak? Bagaimana ... bagaimana kalau terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan pada Saskia?" gumam Bu Merry sambil tergugu di tempatnya.
"Sudah, ma. Jangan khawatir, Saskia pasti baik-baik saja. Papa yakin itu," ujar Pas Dirman mencoba menenangkan istrinya. Sebenarnya hatinya pun tidak tenang, merasa khawatir dengan keadaan putrinya. Tapi ia tidak mungkin menunjukkan kekhawatirannya sebab hal itu justru akan membuat istrinya makin tak tenang.
Liliana dan Refano hanya mendengarkan tanpa mau ikut menimpali. Mereka pun tengah dilanda gundah gulana dengan berbagai permasalahan yang sedang mereka hadapi. Liliana dengan pesan-pesan bernada ancaman yang kian sering masuk ke dalam telepon genggamnya. Belum lagi sosok yang sangat mirip dengan Ayu yang beberapa kali ia lihat, benar-benar membuat kepalanya rasa mau pecah. Sedangkan Refano, isi kepalanya berkutat dengan sosok orang-orang yang ternyata berarti dalam hidupnya, masalah perusahaan yang belum menemukan solusinya, masalah orang yang tengah dicari keberadaannya tapi tak kunjung ia temukan, lalu kini ditambah permasalahan Saskia yang tengah tidak baik-baik saja di dalam ruang operasi. Belum lagi sosok yang menyatakan diri sebagai calon suami mantan istrinya, ternyata cukup membuatnya frustasi.
Krieetttt ...
Pintu ruangan operasi terbuka, lantas Liliana, Refano, dan kedua orang tua Saskia pun segera berdiri dan mendekati dokter yang menangani operasi Caesar Saskia.
"Bagaimana keadaan anak saya dok? Dia tidak apa-apa kan?"
"Bagaimana keadaan cucu saya, dok? Dia sudah dilahirkan kan? Eh, tapi sejak tadi kami tidak mendengarkan suara tangis bayi? Apa operasinya belum selesai?" cecar Liliana yang merasa cemas bercampur heran karena sudah lebih dari satu jam tapi mereka belum mendengar suara tangis bayi dari dalam ruangan operasi tersebut.
Dokter itu tampak menghela nafas panjang. Di wajahnya terlihat gurat kelelahan.
"Cucu Anda telah berhasil dilahirkan," ucap dokter itu pelan.
"Cucu saya laki-laki kan dok?" Tembak Liliana langsung.
"Benar, cucu Anda laki-laki, ta-," belum sempat dokter menyelesaikan kata-katanya, Liliana langsung bersorak girang dan memeluk Merry dengan wajah cerianya.
__ADS_1
"Ternyata apa yang kamu ucapkan benar, jeng. Anakmu memang bisa memberikan kami cucu laki-laki. Tidak percuma kami menikahkan putra kami dengan putrimu," seru Liliana merasa bahagia.
"Akhirnya, kau bisa mewujudkan impianmu juga jeng Lili," ucap Merry tak kalah bahagia.
"Maaf ibu-ibu, tapi saya belum menyelesaikan kata-kata saya," potong dokter itu agar Liliana dan Merry menghentikan euforianya sejenak sebab ada hal yang lebih penting yang harus segera ia sampaikan.
"Ada apa lagi, dok? Operasinya berhasil kan. Silahkan lanjutkan saja urusan Anda." Tukas Liliana tak suka melihat dokter itu menghentikan kesenangannya.
"Belum Bu, semuanya belum selesai. Masih ada hal yang sangat-sangat penting yang harus kalian ketahui."
"Apa itu?" Refano dengan wajah datar.
"Bayinya lahir dalam keadaan tidak baik-baik saja. Bayi laki-laki itu lahir tanpa menangis. Kami sudah mengusahakan agar bayi itu menangis, namun tetap saja ia tidak mengeluarkan suaranya. Menurut hasil pemeriksaan, anak Anda mengalami Asfiksia. Saluran pernafasannya tersumbat lendir. Selain itu, karena terlambatnya penanganan, cairan ketuban pun ikut menyumbat saluran pernafasan. Inilah yang menyebabkan bayi menjadi sulit bernapas sehingga tidak bisa memberikan respons dengan menangis, yang disebut Asfiksia."
"Untuk selanjutnya, masih dibutuhkan observasi. Apalagi bayi juga dilahirkan secara prematur. Dan ada satu lagi permasalahan yang lebih penting mengenai ibu Saskia."
"Ap-apa yang terjadi dengan putri saya, dok?" tanya Merry dan Dirman kompak.
"Di rahim putri Anda ditemukan miom yang banyak dan berukuran besar. Untuk prosedur selanjutnya kami sarankan ibu Saskia menjalani histerektomi.
Histerektomi merupakan prosedur operasi besar karena dilakukan pengangkatan rahim secara keseluruhan. Operasi ini merupakan pilihan terakhir yang dilakukan bila jumlah miom sangat banyak atau ukuran miom sangat besar," ucap dokter itu membuat tungkai Merry dan Dirman lemas seketika. Pun Refano dan Liliana yang membelalakkan matanya. Lalu dokter tersebut mengalihkan pandangannya pada Refano, "bila Anda setuju dengan prosedur selanjutnya, silakan menuju bagian administrasi untuk menyelesaikan segala macam prosedurnya." Tukasnya sebelum benar-benar beranjak dari hadapan keempat orang itu.
"Nggak, nggak mungkin. Kalau rahimnya diangkat, bagaimana Saskia bisa hamil lagi? Belum lagi bayinya kini sedang bermasalah. Nggak, Saskia nggak boleh dioperasi," gumam Merry yang benar-benar mencemaskan masa depan putrinya yang tanpa rahim. Apalagi ia tahu, pengangkatan rahim bukan hanya membuat perempuan tidak memiliki kesempatan hamil lagi, tapi juga akan membuatnya mengalami menopause dini.
__ADS_1
Miom sebenarnya termasuk tumor jinak, tapi bila ukuran sudah terlalu banyak atau besar, lama-lama bisa berkembang menjadi ganas untuk itulah butuh pengangkatan beserta jaringan rahim.
"Pa, Saskia tidak boleh dioperasi. Pokoknya tidak boleh. Refano, jangan coba-coba membiarkan dokter mengoperasi Saskia." Tegas Merry. Ia pun sebenarnya khawatir bagaimana bila Refano tiba-tiba meninggalkan Saskia karena kekurangannya tersebut. Apalagi ia tahu bagaimana sosok besannya itu. Ia merupakan sosok yang perfeksionis dan tidak menyukai kekurangan. Ia yakin, setelah ini, putrinya akan segera dibuang.
"Tapi ma, kita tidak punya jalan lain. Kita sebaiknya menuruti saran dokter." Ucap Dirman.
"Tapi pa ... "
"Nak Refano, silahkan urus prosedur selanjutnya." pungkas Dirman yang tidak memiliki solusi lainnya.
...***...
"Sayang, kamu mau model undangan yang kayak gimana?" tanya Alvian sambil memperhatikan beberapa contoh undangan yang baru saja dikirimkan oleh Afrizal.
"Yang terlihat sederhana aja, Al. Nggak perlu yang tampak mewah banget gitu soalnya kan setelahnya undangannya akan dibuang. Tapi biarpun sederhana, harus terlihat bagus." Ucap Zafira sambil memilih contoh undangan.
"Terserah kamu aja deh, sayang. Tapi untuk gedung, aku maunya di ballroom hotel yang mewah. Biar semua tahu, seorang Alvian Altakendra sudah sold out dengan seorang janda anak 3 yang super cantik ini," ujarnya sambil terkekeh.
"Yeh, mau pamer? Yang mestinya dipamerin itu kalau berhasil menikahi gadis cantik putri konglomerat, atau putri presiden, model ngetop, artis terkenal, lah ini malah mau mamerin janda anak 3, miskin pula, yang ada malah diketawain," omel Zafira merasa aneh dengan tingkah Alvian yang sangat berbeda dengan lelaki lainnya. Bila yang lain merasa malu memamerkan calon istrinya yang merupakan janda apalagi anaknya sudah ada 3, tapi Alvian justru berbeda. Ia justru merasa bangga dan menganggap menikahi janda anak 3 seperti sebuah prestasi.
"Siapa yang ketawa? Kalau ada yang berani ngetawain kayak gitu, akan aku kasi pelajaran. Jadi orang kok julid banget. Emang mereka tahu apa tentang kebahagiaanku? Orang-orang yang hanya bisa berkomentar buruk itu tak lebih dari seseorang yang iri. Mereka nggak tahu aja seiistimewa apa calon istriku ini. Kamu itu istimewa, Ra. Dan kamu adalah sumber kebahagiaanku. Jangan pedulikan komentar miring tentangmu karena kau memang tercipta untukku." Ucap Alvian penuh kesungguhan membuat hati Zafira kian berbunga-bunga.
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...