Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan

Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan
Makan malam


__ADS_3

Malam ini kediaman Bu Ayu tampak riuh. Anak-anak bermain dengan gelak tawa tak lepas dari bibir mereka. Kediaman yang dahulu sepi karena hanya diisi beberapa orang dewasa kini menjadi lebih hidup dan semarak dengan kehadiran ketiga anak-anak menggemaskan Zafira.


"Tante Nova datang," pekik Regina senang saat melihat Nova turun dari dalam mobilnya. Tampak seorang lelaki tampan begitu sigap membantu Nova turun dengan derasnya perutnya yang membukit karena tengah mengandung.


"Hai ponakan-ponakan Tante yang cantik-cantik dan pintar," seru Nova yang segera menghampiri Regina dan Refina.


"Pelan-pelan, sayang. Jangan berlarian!" peringat Amri, suami Nova.


Nova hanya menyengir lebar memamerkan deretan giginya yang putih.


Kemudian ia segera memeluk kedua bocah perempuan itu. Tak lupa ia melabuhkan banyak ciuman di wajah keduanya membuat keduanya terkekeh geli.


"Ayo Nov, masuk. Ajak mas Amri juga," ajak Zafira yang baru saja muncul dari balik pintu.


"Uh, nyonya Altakendra, kayaknya makin cantik deh. Makin chubby juga. Efek bahagia tanpa beban derita kali ya," goda Nova setelah ia bercipika-cipiki dengan Zafira.


Zafira tersenyum mesem-mesem, "iya kah? Aku nggak tahu. Aku gemukan ya, Nov?" bisik Zafira. Diliriknya tubuhnya yang memang sepertinya lebih gemuk dari sebelumnya. Tiba-tiba saja ia merasa insecure, takut pertambahan bobot tubuhnya membuat Alvian ilfil.


Nova terkekeh, kemudian balas berbisik, "jangan-jangan lagi isi."


"Ah, nggak deh kayaknya. Soalnya seminggu yang lalu aku habis dapet meskipun cuma 2 hari. Lagian aku nggak ngerasain apa-apa." Kilah Zafira menolak percaya dengan apa yang barusan Nova sampaikan. Mereka berjalan masuk ke dalam rumah sambil berbisik-bisik.


"Bisik-bisik apa sih? Jangan bilang lagi ghibahin orang ganteng," seloroh Alvian yang muncul tiba-tiba sambil menggendong baby Zafran.


"Orang gendeng kali, bukan orang ganteng," ejek Nova dengan gerakan bibir mencibir.


"Am, bini lu nggak ada berubahnya sama sekali. Masih bar-bar dan nyebelin kayak biasa. Betah banget lu sama tuh orang," cemooh Alvian membuat mata Nova melotot tajam.


Amri terkekeh, "justru itu yang buat rumah tangga gue lebih berwarna, Al. Soalnya sikap dia itu bikin gemes," jawab Amri sambil tersenyum lebar.


"Dasar bucin," ejek Alvian.


"Kayak loe nggak aja," sambar Nova mengejek membuat Zafira terkekeh sambil geleng-geleng kepala.

__ADS_1


"Kalian ini perasaan kayak Tom and Jerry aja, tiap ketemu selalu aja berantem," ucap Zafira membuat Amri terkekeh membenarkan apa yang Zafira ucapkan.


"Udah ah, males banget ngomong sama cunguk satu itu. Mending liat si embul Zafran aja. Ya ampun Ra, makin embul aja baby Zafran. Bikin gemesin deh. Sini Al, gue mau gendong dong!"


"Sayang, kamu itu lagi hamil lho. Baby Zafran itu keliatan berat banget. Aku nggak mau perut kamu tertekan karena gendong. Jangan dulu ya!" ucap Amri lembut membuat Nova mengerucutkan bibirnya.


"Yah mbul, Tante belum boleh gendong. Cium aja deh." Ucapnya lalu segera mencium pipi Zafran membuat bayi gembul itu tersenyum lebar.


"Eh Nova, Amri, udah datang. Yuk, langsung ke meja makan aja!" Ajak Bu Ayu saat melihat keberadaan Nova dan Amri.


"Siap Bun. Kami pasti ke sana. Rugi dong datang jauh-jauh tapi nggak nikmatin masakan bunda," jawab Nova sambil meraih punggung tangan Bu Ayu dan menciumnya.


"Ka ... "


"Assalamu'alaikum," ucap beberapa orang dari depan pintu.


Alvian yang sangat tahu suara siapa itu pun bergegas ke depan untuk menyambut tamu-tamunya. Mata semua orang pun beralih ke arah kedatangan tiga orang yang diundang Alvian.


"Papa ... " teriak Regina dan Refina kompak sambil berlarian menyambut kedatangan Refano. Refano lantas berjongkok untuk menyambut kedua putrinya dalam pelukannya.


"Dia ... Regina kak? Lalu yang lebih kecil?" tanya gadis itu membuat kedua bocah kecil itu mengalihkan perhatian mereka.


"Regi, Refi, perkenalkan, dia Tante Fani, adik papa. Yuk, kenalan!" ucap Refano mengajak anak-anaknya bersalaman dengan Refani. Mereka pun menurut lalu bersalaman tak lupa mencium punggung tangan Refani membuat mata Refani berkaca-kaca.


Refano sebenarnya sudah bercerita kalau ia telah bercerai dengan Zafira. Refani memang mengenal Zafira sebab ia menghilang saat Regina baru berusia beberapa bulan.


Ada rasa haru sekaligus sedih melihat anak-anak kakaknya itu. Namun ia bersyukur, mantan kakak iparnya dan kakak keduanya itu memiliki hati yang lapang untuk memaafkan kesalahan kakaknya dan tetap mengizinkan kakaknya menemui anak-anaknya.


Zafira sedikit terkejut ternyata makan malam kali ini juga dihadiri mantan suaminya dan juga Refani serta Luthfi. Ia pun segera mempersilahkan mereka masuk menuju meja makan.


Bu Ayu yang memang sengaja meminta Alvian turut mengundang ketiga orang itu pun segera menyambut mereka dengan suka cita. Refano dan Refani awalanya sedikit takut dan ragu. Bagaimana bila bu Ayu tidak menyukai kedatangan mereka. Bagaimana pun, mereka adalah putra dan putri dari laki-laki yang menghancurkan hidup Bu Ayu. Namun ternyata ketakutan mereka tidak terbukti. Bu Ayu justru menyambut hangat kedatangan mereka. Bahkan Bu Ayu tanpa ragu memeluk dan mencium pipi kedua orang itu membuat keduanya berkaca-kaca karena terharu dalam kebahagiaan. Mereka yang nyaris tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu seakan baru saja menemukan pelita mereka. Bukan hanya itu, Bu Ayu juga meminta mereka memanggilnya bunda sama seperti Alvian membuat kedua orang itu tak mampu menahan tangis bahagia mereka.


"Bunda," lirih mereka dengan berlinang air mata.

__ADS_1


Bu Ayu mengusap air mata di pipi Refani, bergantian dengan Refano.


"Mulai sekarang, anggap bunda seperti ibu kalian sendiri. Mulai sekarang, kalian berdua adalah anak-anak bunda. Anak-anak bunda harus bahagia. Mulai hari ini, sambutlah kebahagiaan kalian. Jangan pernah merasa sendiri lagi dan mulai sekarang juga, mereka adalah keluarga kalian. Sesama anggota keluarga harus saling menyayangi. Ayo tersenyum, bunda nggak mau liat kalian nangis lagi. Bunda maunya lihat kalian bahagia. Mana senyumnya?" ucap Bu Ayu membuat kedua kakak adik itupun tersenyum sambil mengusap kasar pipi basah mereka.


"Kamu kok ikut nangis?" ucap Bu Ayu saat melihat Luthfi ikut berkaca-kaca. "Eh, eh, eh, kok ada yang aneh di sini ya? Kan kamu Aspri nya Al, kok kamu malah datang sama ... " Bu Ayu menjeda kalimatnya kemudian tersenyum lebar. "Oh bunda tahu, bunda tahu." Ucap Bu Ayu penuh arti membuat Luthfi membelalakkan matanya.


"Bukan gitu Bun ... "


"Selamat malam semuanya," ucap seorang pria paruh baya yang baru saja datang. "Selamat ulang tahun, Yu," sambung laki-laki itu sambil menyerahkan buket bunga mawar yang cukup besar dan sebuah kotak yang entah isinya apa.


Semua orang terbelalak saat baru mengetahui ternyata hari ini adalah hari ulang tahun Bu Ayu. Mereka pikir ini hanya makan malam biasa. Namun ternyata, ini adalah makan malam perayaan ulang tahun Bu Ayu. Bu Ayu memang sengaja tidak memberitahukan hal ini pada yang lain agar mereka tidak perlu membawa kado-kado segala. Namun ternyata rahasianya terbongkar juga karena ulah Afrizal.


"Selamat malam. I-iya, terima kasih. Tapi ... kamu kok ... "


"Tahu hari ini hari ulang tahunmu? Begitu?" sambar Afrizal memotong kata-kata Bu Ayu. "Aku kan sudah tahu sejak lama. Lupa siapa tukang anterin kado setiap kamu ulang tahun dulu?"


Bu Ayu menganga tak percaya. Padahal kejadian itu telah berlalu berpuluh tahun yang lalu, tapi ternyata laki-laki ini masih mengingatnya.


"Ya ampun bunda kok nggak ngomong sih hari ini ulang tahun bunda?" protes Nova.


"Kamu juga bang, kok nggak kasih tau sih?" protes Zafira pada Alvian.


"Itu bunda sendiri yang minta, sayang," jawab Alvian.


"Iya Ra, Nov, ini memang bunda sengaja minta jangan bilang-bilang. Tapi dasar nih orang, ngacauin rencana bunda aja."


"Tanda-tanda itu, Bun. Pasti ada sesuatu. Ciyeeee ... bunda," seloroh Nova menggoda Bu Ayu membuat Bu Ayu mendelik sambil menahan senyumnya. Yang lainnya tertawa melihat ekspresi salah tingkah Bu Ayu.


"Ayo, ayo, mau berdiri di sana sampai kapan? Makanannya keburu dingin lho nanti. Ayo Fira, ajak tamu-tamu kita makan malam sekarang," ucap Bu Mayang menginterupsi perbincangan mereka.


Mereka lantas segera bergerak dan duduk di kursi yang sudah tersedia di sana untuk menikmati makan malam. Makan malam itu berlangsung begitu menyenangkan. Zafira memandangi satu persatu wajah orang-orang yang ada di sana. Semuanya tampak begitu bahagia. Pun Refano dan Refani merasakan kebahagiaan tak terhingga. Untuk pertama kalinya, akhirnya mereka bisa menikmati makan malam bersama layaknya sebuah keluarga bahagia yang penuh kehangatan. Meskipun Refano selama ini selalu menikmati makan malam bersama ayah dan ibunya, tapi tak pernah ada kehangatan seperti yang tengah mereka rasakan saat ini.


Namun kehangatan itu tiba-tiba saja terinterupsi saat Refano baru saja mengangkat panggilan yang ternyata berasal dari rumah sakit itu.

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2