
"Bunda dan Abang kuat banget sih? Fira nggak nyangka, perjalanan hidup bunda dan Abang segetir ini," ucap Zafira saat isakannya mulai mereda.
"Bukan hanya Abang yang kuat, ada seseorang tak terduga yang tak kalah kuat. Seseorang yang dikira orang hidupnya bergelimang harta dan kasih sayang, namun ternyata semua hanyalah semu. Bahkan ia terpaksa bersikap acuh tak acuh seakan tak peduli dengan anak dan istrinya demi keamanan dan keselamatan mereka. Pun demi adiknya yang disembunyikan sang ibu." Ucap Alvian membuat dahi Zafira mengernyit. Siapa yang dimaksud suaminya itu? Dan apa hubungannya dengan dirinya sampai-sampai ia harus menceritakan hal tersebut padanya?
"Maksudnya? Fira nggak ngerti. Abang sedang ingin menceritakan siapa?" cecar Zafira merasa heran dengan ucapan suaminya barusan.
"Sayang," panggil Alvian sambil menggenggam tangannya erat. Sebenarnya ada rasa tak nyaman ingin menceritakan hal ini, terlebih yang akan ia bahas adalah mantan suami istrinya yang ia ketahui adalah kakaknya sendiri. Refano bukanlah kakak tiri sebab mereka berasal dari satu ayah yang sama.
Selain itu, ada rasa khawatir menyusup di dalam relung jiwanya. Bagaimana bila Zafira mendadak menyesal meninggalkan Refano dan menikah dengannya? Tentu hal tersebut akan sangat menyakitkan. Meskipun hingga sekarang Zafira tak kunjung menyatakan isi hati dan perasaannya, tapi tetap saja ia perlu menguraikan permasalahan ini pada sang istri. Tak mungkin Refano akan menceritakannya. Ia dapat melihat, Refano orang yang terlalu berhati-hati dan memiliki tingkat ketakutan yang tinggi. Tadi saat Refano berbicara dengan Afrizal sebenarnya ia berada di sana. Ia mendengarkan curahan isi hati kakaknya tersebut. Termasuk ketidak beraniannya menceritakan perihal alasan sikapnya selama ini pada sang istri. Pun ia merasa tak enak hati dengan dirinya. Dan disinilah tugasnya sekarang, mengurai benang-benang kusut antara sang istri dan kakak satu ayahnya tersebut. Apapun yang terjadi kelak, Alvian hanya bisa memasrahkannya pada yang Maha Kuasa. Alvian yakin, apapun yang terjadi ke depannya adalah yang terbaik baik untuk dirinya, istrinya, maupun kakaknya.
"Ya," sahut Zafira masih tetap memusatkan pandangannya pada sang suami yang tampak menghela nafasnya.
"Sayang, mungkin kamu akan terkejut dengan apa yang akan aku sampaikan. Namun hal ini tetap harus aku sampaikan dan ceritakan. Ini ... tentang mantan suamimu. Tentang seseorang yang ternyata adalah kakakku. Ya, ini tentang Refano," ucap Alvian sengaja menjeda ucapannya. Ia ingin melihat netra Zafira yang tiba-tiba berubah menjadi sendu. Ternyata luka itu masih ada. Masih tampak nyata. Bahkan mungkin sebenarnya istrinya itu masih mencintainya. Namun ia mencoba untuk menyangkal karena luka yang ditorehkan mantan suaminya itu masih begitu menganga dan basah. Alvian paham. Mereka belum lama berpisah, pastilah luka itu belum benar-benar mengering. Dan rasa cinta itu tak semudah itu untuk dilupakan dan diganti dengan yang baru. Apalagi kebersamaan mereka telah menghabiskan waktu bersama selama 7 tahun. Waktu yang tidak singkat.
"Kenapa Abang tiba-tiba bahas dia sih?" Zafira tampak enggan dan memalingkan wajahnya saat Alvian menyebutkan nama Refano.
"Ada yang perlu Abang sampaikan tentang dia. Tentang dirinya yang sebenarnya terpaksa mengabaikanmu. Tentang dirinya yang terpaksa bersikap acuh tak acuh padamu dan anak-anak kalian. Tentang dirinya yang ... terpaksa mencintaimu dalam diam." Alvian merasa dadanya sesak saat mengatakan kalimat terakhir itu. Namun ia bukanlah pria egois yang bisa berpura-pura acuh tak acuh dan abai akan sebuah kebenaran.
__ADS_1
Zafira membulatkan matanya. Merasa tak yakin juga mustahil hingga akhirnya ia terkekeh dengan apa yang barusan Alvian ucapkan.
"Bang, nggak usah ngawur. Mana mungkin seperti itu. Sebenarnya ada apa? Apa yang sebenarnya sedang kalian rencanakan? Atau kalian sedang bekerja sama dan menjadikanku sebagai bahan taruhan?" cecar Zafira menggebu-gebu. Nafasnya sesak, matanya memerah. Mana mungkin ia bisa mempercayai apa yang barusan suaminya katakan.
"Ra, dengar. Dengarkan Abang bicara! Abang nggak bercanda. Apa yang Abang sampaikan ini sebuah kebenaran. Dan Abang serta kak Refano tidak memiliki rencana apapun padamu. Abang hanya ingin mengungkapkan yang memang seharusnya kamu tahu. Sebelum semuanya makin terlambat dan kamu disesaki rasa penyesalan karena terlambat mengetahui kenyataan," ucap Alvian yang sudah meremas pundaknya pelan.
Setelah mengatakan itu, Alvian pun memulai menceritakan segala yang ia ketahui. Bagaimana Refano selama ini di bawah ancaman dan tekanan. Bagaimana Refano selama ini berusaha bersikap tak acuh dan abai. Bagaimana sebenarnya Refano menutupi rasa sayangnya pada mereka, istri dan anaknya. Tak ada yang Alvian tutupi. Semuanya ia ungkapkan dengan jujur.
Zafira terperangah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Antara percaya dan tak percaya, Zafira benar-benar dalam kebingungan. Ia hanya bisa terdiam membisu dengan dada yang bergemuruh. Tak tahu harus merespon apa. Tak tahu harus mengatakan apa. Kebimbangan sedang mendera hati dan pikirannya.
Melihat istrinya yang hanya diam membisu dengan derai air mata yang berlomba-lomba membanjiri pipinya, Alvian hanya bisa diam memaku. Ia tahu, istrinya butuh waktu untuk mencerna semuanya. Semuanya terasa menyakitkan sekaligus mengejutkan. Alvian lantas membiarkan saja saat istrinya membisu. Bahkan saat tidur pun, untuk pertama kalinya, Zafira membelakangi dirinya. Tak mudah memang jadi Zafira. Apalagi saat mengetahui kenyataan yang berbanding terbalik dengan apa yang ia ketahui selama ini.
Selama ini ia selalu menampik dugaan kalau Refano memiliki perasaan cinta padanya. Sebab dari sikap maupun kata-kata, tak pernah ada yang menggambarkan isi hatinya padanya. Hanya sorot mata. Ya, hanya sorot mata.
Lalu apakah saat itu seharusnya ia mencoba bertahan dan memahami?
Haruskah ia menyesali keputusannya menerima perpisahan itu?
__ADS_1
Namun satu yang harus ia ingat, menyesal pun sudah tiada guna. Semua takkan kembali seperti semula. Apalagi mereka kini sudah memiliki status masing-masing.
'Mas Refan, seandainya saat itu kau mau sedikit saja terbuka padaku, mungkin semua takkan menjadi seperti ini. Sekarang kita sudah berada di jalan masing-masing. Satu doaku, semoga kelak kau dapat menemukan bahagiamu. Jujur, hingga saat ini masih ada rasa yang tertinggal dalam hatiku. Sekuat tenaga aku mencoba membencimu, tapi sepertinya rasa itu lebih besar dari rasa benci. Namun, aku harus benar-benar memusnahkan rasa itu. Bagaimana pun, aku telah menikah dengan Alvian yang ternyata adikmu sendiri. Aku harap, suatu hari nanti aku bisa benar-benar mencintainya. Dia terlalu baik dan tak pantas untuk disakiti. Meskipun kau pun sebenarnya baik, tapi kita sudah tak mungkin bisa bersama lagi. Terima kasih telah mencintaiku meski hanya dalam diam mu. Semoga suatu hari nanti, kau pun akan menemukan seseorang yang bisa mencintai dan juga dicintai olehmu.'
...***...
"Mas, kamu mau kemana lagi sih? Baru juga pulang," protes Saskia saat melihat Refano sudah tampak kembali bersiap untuk pergi.
"Aku mau kembali ke rumah sakit," jawab Refano datar, malas berbasa-basi.
"Mas, kenapa sih kamu nggak bisa sedikit aja balas perasaanku? Apa karena kamu masih mencintai mantanmu itu?" ketus Saskia kesal karena Refano selalu saja bersikap datar padanya. Padahal ia ingin sekali suaminya itu bersikap sedikit manis padanya, memanjakannya. Tapi jangankan bersikap manis, berbicara sedikit ramah saja tak pernah.
"Kalau sudah tahu jawabnya, mengapa masih harus bertanya?" jawab Refano acuh tak acuh.
"Mas, dia udah nikah sama laki-laki lain. Dia udah jadi istri orang, nggak pantas untuk mencintai istri orang lain, mas tahu itu kan!"
"Lantas bagaimana denganmu dulu? Kau tahu dengan jelas, aku sudah memiliki istri. Aku pun seringkali menegaskan padamu, aku tak bisa membuka hati untukmu, tapi apa yang kau lakukan, hah? Kau justru menjebakku dalam pernikahan ini. Kau ... kau yang membuatku terpaksa melepaskan satu-satunya wanita yang pernah aku cintai. Kau bukan hanya membuatku kehilangan Zafira, tapi juga anak-anakku. Jadi terima saja konsekuensinya kalau sampai akhir hayat mu pun aku takkan pernah bisa mencintaimu." Tegas Refano membuat Saskia merasa begitu tertohok dengan kenyataan yang baru saja disampaikan suaminya. Ia tak menyangka, di balik sikap dingin suaminya pada Zafira kala itu, terpendam cinta yang begitu besar. Mungkin inilah yang dikatakan mencintai dalam diam.
__ADS_1
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...