
Brakkk ...
Refano membanting pintu dengan keras. Wajahnya tampak begitu kusut sampai-sampai tak sadar di ruangannya telah ada seseorang yang menunggunya dengan wajah penuh kekesalan.
"Mas," teriak Saskia kesal yang sudah berdiri sambil berkacak pinggang. "Kau dari mana, hah?" teriak Saskia lagi membuat Refano yang memang sedang kesal lantas menatap Saskia tajam dengan rahang mengeras.
"Bukan urusanmu," ketus Refano kesal sambil menghempaskan bokongnya di kursi kebesarannya.
"Bukan urusanku kau bilang? Mas, kau lupa, aku ini sekarang istrimu. Sudah sewajarnya aku mengetahui kemanapun kau pergi," sentak Saskia dengan tatapan nyalang. Kelembutan yang selalu ia pasang di hadapan semua orang seketika hilang berganti sifat kasar dan ketus.
"Istri kau bilang? Apa aku pernah mengatakan ingin menikahimu? Tidak, bukan. Kalau bukan karena kau menjebakku malam itu hingga meniduri mu lalu tiba-tiba kau mengaku hamil di hadapan kedua orang tuaku, sampai kapanpun aku takkan menikahimu. Bukankah aku sudah mengatakannya berkali-kali kalau aku hanya menganggapmu tak lebih dari seorang sahabat. Tapi kau justru menyalahgunakan kepercayaanku dengan menjeratku dalam pernikahan ini!" sentak Refano mengeluarkan kekesalan yang selama ini ia pendam.
Ya, hari dimana Saskia ingin datang ke rumah Refano yang kemudian malam harinya Liliana memintanya mengantar Saskia pulang, Saskia menawarkannya mampir sebentar ke apartemen perempuan itu. Entah apa yang Saskia campurkan ke dalam minumannya hingga ia tak sadar telah menghabiskan malam dengan Saskia.
3 Minggu berselang dari hari itu, tiba-tiba Saskia menghubungi dirinya dan kedua orang tuanya untuk bertemu. Dalam pertemuan itu, Saskia mengaku telah hamil anaknya sehingga mau tidak mau ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Apalagi Saskia merupakan menantu yang ibunya inginkan. Alhasil, ia pun terpaksa menikahi Saskia dan mengusir Zafira yang orang tuanya anggap sudah tak berguna lagi. Refano yang merasa tidak memiliki perasaan apa-apa dengan Zafira pun menurut saja. Tapi nyatanya, sejak kepergian Zafira dan kedua putrinya, hidup Refano tidak pernah tenang. Meskipun Saskia selalu mendampinginya, tapi hal itu tak lantas membuatnya mampu mengusir bayang-bayang Zafira yang kian menyiksa relung jiwanya.
Bukan hanya itu, bayang kedua bocah perempuan yang merupakan darah dagingnya pun kerap selalu membayang. Apalagi setelah video Regina yang sedang bernyanyi viral dan video Refina yang juga mendapatkan penghargaan karena memenangkan lomba menggambar, membuat Refano kian sulit melupakan bayang-bayang mereka. Anak yang kerap ia hina tidak berguna ternyata memiliki bakat luar biasa. Refano jadi ingat masa kecilnya, ia sangat hobi bernyanyi sambil bermain alat musik. Ia juga suka melukis seperti sang kakek dari ibunya, tapi kedua orang tuanya ternyata tidak menyukai hobinya tersebut. Mereka selalu menekan dirinya agar belajar, belajar, dan terus belajar, agar bisa menjadi pewaris satu-satunya perusahaan YG Group. Sehingga dengan terpaksa Refano mengubur semua kegemaran termasuk impiannya menjadi seorang pelukis seperti sang kakek. Menurut mereka, melukis merupakan kegiatan yang tak berguna serta membuang-buang waktu. Refano yang dididik keras dan harus selalu patuh akan perintah orang tua membuatnya tak bisa menolak segala titah tersebut.
__ADS_1
"Tapi mau tak mau aku telah menjadi istrimu. Istri sahmu baik secara agama maupun negara, dan semua orang pun sudah mengetahui hal itu jadi kau tak dapat menolak kenyataan itu. Lagipula aku melakukan itu karena aku mencintaimu, Fan. Mengapa kau tidak mau membuka pintu hatimu sedikit saja untukku, Fan? Aku hanya menginginkanmu, cintamu. Aku bahkan rela mengandung buah hatimu, anak yang selalu kamu dan orang tuamu idam-idamkan. Anak laki-laki yang sehat dan cerdas. Tidak bisakah kau buka sedikit saja hatimu untukku, Fan? Aku mohon!" lirih Saskia dengan wajah memelas. Penuh damba, penuh harapan, berharap Refano dapat sedikit saja membuka hatinya untuk dirinya.
"Sudahlah Saskia, jangan terlalu banyak berharap padaku. Kau tahu kan, aku tak semudah itu untuk jatuh hati pada seseorang, termasuk itu kau." Ucap Refano datar. Ia sudah sedikit mengontrol emosinya. Saskia sedang hamil dan kehamilannya berisiko, ia tak mau karena kecerobohannya terjadi sesuatu pada kehamilan Saskia.
Jantung Saskia bagaikan ditikam sembilu. Benar-benar sakit. Padahal ia sudah sering mendengar kalimat penolakan itu, tapi kenapa hatinya masih saja sakit setiap mendengarnya?
"Lalu bagaimana dengan Zafira? Apa jangan-jangan kau sebenarnya mencintainya?" tanya Saskia tiba-tiba membuat Refano terdiam. Ia pun tidak tahu dengan perasaannya sendiri. Ia tidak yakin mencintai Zafira. Tapi saat perempuan itu menghilang dari pandangannya, ia merasakan kekosongan. Hidupnya yang hampa jadi kian hambar. Gairah hidupnya berkurang. Termasuk gairah bercintanya. Percintaannya dengan Saskia tak lebih dari penuntasan hasrat biologis. Itupun terjadi karena permintaan Saskia. Berbeda saat ia bersama Zafira. Bahkan melihat Zafira tertidur dengan mulut sedikit menganga saja sudah membangkitkan hasratnya. Apakah mungkin dirinya sebenarnya mencintai Zafira? Hati Refano seketika gelisah. Bagaimana jika itu benar?
"Kenapa kau diam, mas? Jangan-jangan benar dugaanku? Apa kau berniat untuk kembali padanya, hah?" teriak Saskia murka.
Melihat Refano yang sudah kembali sibuk dengan pekerjaannya, Saskia pun segera meninggalkan kantor suaminya dengan langkah menghentak.
"Seperti anak kecil," cetusnya sambil menghela nafas. "Sangat berbeda dengan Zafira." Seketika Refano kembali terbayang-bayang wajah Zafira, senyum teduhnya, tutur katanya yang lembut, perlakuannya yang hangat.
"Sial! Kenapa aku selalu terbayang wajahnya? Apa benar aku sebenarnya mencintai Zafira?" gumam Refano sambil mengusap kasar wajahnya.
Sementara itu, di rumah mungil tempat dimana keluarga kecil Zafira tunggal, tampak 2 orang anak kecil yang sedang bercengkrama sambil menggambar di buku masing-masing.
__ADS_1
"Dek, tadi papa datang ke sekolah kakak lho!" ujar Regina membuka pembicaraan.
"Papa?" beo Refina sambil mengerut-ngerutkan dahi seolah sedang berusaha mengingat.
"Iya, papa."
"Memang kita punya papa, kak?" tanya bocah yang sudah hampir 4 tahun itu. Wajar bila Refina tidak tahu sebab ia tak pernah sekalipun berinteraksi dengan Refano. Jangankan berinteraksi, bertegur sapa pun tak pernah. Ia selalu menatap datar Refano sama seperti menatap orang asing yang tak dikenalinya. Meskipun sejak kecil mereka berada di bawah satu atap yang sama, Refano yang tak pernah memposisikan diri sebagai seorang ayah pun Refina yang enggan berdekatan dengan orang yang dianggapnya asing membuatnya benar-benar merasa asing dengan ayahnya sendiri. Padahal Zafira kerap mencoba mendekatkannya, tapi melihat wajah datar Refano, pun sikapnya yang acuh tak acuh membuatnya begitu enggan mendekat meskipun sedikit saja.
"Ada kan kita dulu tinggal di rumah papa, Oma, dan Opa," Sahut Regina menjelaskan pada adiknya yang memang tidak mengerti.
Mata bulat itupun mengerjap polos, "kalau itu lumah papa kenapa kita diusil, kak? Telus Om-Om itu emangnya benelan papa kita ya? Tapi kok nggak sayang malah malahin mama telus? Lefi nggak mau punya papa kayak gitu. Lefi maunya Om Al aja yang jadi papa Lefi. Om Al kan baik, sayang Lefi sama kak Legi juga. Sayang mama juga. Sayang nenek juga. Kak Legi mau kan punya papa Om Al?" tanyanya dengan senyum merekah sempurna.
"Kak Regi juga mau. Om Al baik banget. Nggak pernah marah. Suka kasi mainan. Suka ajak jalan-jalan juga. Suka peluk cium kita juga. Suka ketawa-ketawa sama mama juga," sahut Regina tak kalah antusias dengan bola mata berbinar. Keduanya sepertinya telah benar-benar jatuh hati pada kebaikan Alvian pada mereka.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...
__ADS_1