Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan

Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan
Masa lalu Ayu (1)


__ADS_3

Afrizal dan Bu Ayu kini sedang duduk di sebuah cafe setelah mengantarkan Zafira terlebih dahulu. Keduanya terdiam cukup lama. Mereka sedang sibuk dengan pikiran masing-masing. Mereka benar-benar tak menyangka akan kembali dipertemukan setelah sekian tahun tidak bertemu.


"Yu, apa kabarmu?" tanya Afrizal yang mulai membuka suaranya.


"Seperti yang kau lihat, aku jauh lebih baik sekarang. Bahkan sangat-sangat baik." Jawab Bu Ayu sambil tersenyum tipis. Afrizal yang semasa muda menaruh rasa pada mantan kekasih atasannya pun tertunduk dengan jantung yang berdebar kencang. Ia tak menyangka, setelah sekian tahun tidak bertemu, perasaan itupun masih ada. "Bagaimana kabarmu? Apa kau masih bekerja dengan orang itu?"


Afrizal mengangkat wajahnya lalu mengangguk, "ya, aku pun baik-baik. Dan ya ... aku masih bekerja dengannya. Yu, kalau boleh aku tahu, kemana kau selama ini? Mengapa kau tiba-tiba saja menghilang? Lalu apa kau sudah menikah sekarang? Ah, maaf, bila pertanyaanku terlalu banyak," ujar Afrizal sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Bu Ayu tersenyum tipis, dengan tatapan menerawang membuat Afrizal kebingungan melihat respon Bu Ayu. Mengingat masa lalu, sama saja seperti membuka luka lama Bu Ayu. Luka yang tak pernah bisa sembuh meskipun tahun terus berganti. Terpatri kuat dalam relung hati dan jiwanya. Begitu membekas sehingga membuatnya begitu membenci sepasang manusia durjana itu.


"Aku bukannya menghilang, tapi ada orang yang ingin membunuhku."


Sontak saja mata Afrizal membulat dengan apa yang barusan Bu Ayu katakan.


Flashback on


Ayu adalah seorang gadis cantik dari keluarga yang cukup terpandang. Ibunya meninggal saat usianya 15 tahun. Hingga saat usianya 17ntahun, ayahnya menikah kembali dengan seorang janda beranak satu bernama Lastri.


Singkat cerita, gadis bernama Ayuningtyas itu memiliki seorang kekasih yang merupakan seniornya di kampus. Kekasihnya yang bernama Marwan Prayogo itu juga merupakan seorang manajer operasional di perusahaan YG Group. Marwan merupakan pria yang tampan dan juga romantis. Tak jarang ia meminta bawahannya, Afrizal untuk mengantar jemput, terkadang mengiriminya bunga dan hadiah-hadiah kecil membuatnya kian mencintai kekasihnya itu.


Hingga tepat satu tahun hubungan mereka, Ayu pun mengajak Marwan ke rumah untuk diperkenalkan dengan orang tuanya. Dengan wajah penuh binar bahagia, Ayu pun memperkenalkan Marwan dengan ayah dan ibu tirinya. Tak lupa dengan kakak tirinya. Tanpa ia sangka, hari itu akan menjadi awal segala bencana dalam hidupnya. Niat baik memperkenalkan kekasih dengan keluarganya justru berakhir dengan perselingkuhan antara sang kekasih dengan sang kakak tiri.


Di hadapannya, mereka tampak bersikap biasa saja, tapi siapa sangka, di belakangnya, Marwan dan Liliana menjalin hubungan terlarang. Semua baru terkuak saat Liliana ketahuan hamil lalu Liliana mengakui kalau ayah dari anak dalam kandungannya adalah Marwan.


Hati Ayu hancur sehancur-hancurnya. Ia sakit hati dan kecewa, tak menyangka kalau kekasihnya telah berselingkuh dengan kakak tirinya. Ia pun tak menyangka, perempuan yang kerap bersikap manis dihadapannya justru menusuknya dari belakang.


Tak ingin makin sakit hati melihat kebersamaan Marwan dan Liliana yang akhirnya menikah, Ayu pun memilih pergi dari rumahnya sendiri. Awalnya ayahnya menolaknya, tapi atas desakan Lastri yang mengatakan apa yang Ayu lakukan mungkin yang terbaik, akhirnya ayahnya pun merelakan kepergian putri tunggalnya tersebut.


Hingga 3 tahun berlalu, merasa hatinya sudah lebih baik, pun Ayu yang sudah sangat merindukan sang ayah pun akhirnya kembali. Tanpa ia sadari, kepulangannya kali ini justru akan menjadi sumber bencana terbesar dalam hidupnya. Rasa sakit hatinya yang sempat meredam justru kian menjadi dan berkobar menjadi kebencian dan juga dendam.


"Hai Yu, apa kabarmu?" tanya Marwan saat ia melihat keberadaan Ayu di rumah mertuanya. Saat itu semua orang sedang pergi, hanya ada Ayu dan asisten rumah tangganya yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.


Ayu memutar bola matanya jengah, "seperti yang kau lihat, aku baik. Bahkan sangat baik," ketus Ayu saat itu.

__ADS_1


"Kau masih marah padaku, Yu?"


"Menurutmu?"


"Maafkan aku, Yu. Sungguh, aku sebenarnya tidak berniat selingkuh tapi Liliana yang selalu menemuiku dan memberikan perhatian membuatku terhanyut hingga melakukan kesalahan itu. Jujur, sampai saat ini aku masih sangat mencintaimu, sayang."


"Berhenti membual. Aku sudah tak peduli lagi dengan apa yang kau katakan."


"Tapi Yu, aku sungguh-sungguh. Aku masih sangat-sangat mencintaimu dan aku berniat kembali padamu. Kau mau kan kembali padaku? Aku yakin kau masih mencintaiku kan!"


"Mencintaimu? Setelah apa yang kau lakukan di belakangku? Kau pikir, aku bodoh masih mau mencintai laki-laki brengsekkk seperti dirimu?"


"Ayu, bagaimana kalau kita menikah diam-diam?" Marwan masih kekeh dengan keinginannya.


"Apa kau sudah gila? Kau pikir aku mau?" sentak Ayu yang mulai jengah berbicara dengan Marwan.


Mendengar jawaban ketus tersebut, Marwan pun sontak berdiri sambil berkacak pinggang, "ya aku sudah gila. Aku gila karena masih mencintaimu, tapi kau malah memilih pergi begitu saja tanpa mau mendengarkan penjelasanku!" sentak Marwan murka.


"Penjelasan apa lagi, hah? Apa lagi yang ingin kau jelaskan? Semuanya sudah jelas, kau berselingkuh di belakangku, kau pikir aku masih mau dengan pria yang sudah jelas-jelas mengkhianati kepercayaanku?" sentak Ayu yang juga sudah berkacak pinggang.


...***...


"Mama, papa ... " terdengar teriakan menggema membuat Ayu yang tengah bergelung dalam selimut menggeliat pelan. Merasakan sesuatu yang hangat tengah mendekapnya hingga rasanya begitu terasa di kulitnya membuat mata Ayu pun mengerjap.


Sontak ia membulatkan matanya saat melihat siapa yang tengah berbaring di sampingnya membuat Ayu sampai terlonjak dari tempat tidurnya.


"Kak ... Marwan ... Kenapa ... " gumam Ayu dengan wajah penuh kebingungan.


"Ayu, Marwan, apa yang sudah kalian lakukan, hah?" bentak suara menggelegar membuat Ayu membulatkan matanya dengan jantung yang berdebar. Baru saja Ayu ingin turun dari ranjang, seketika matanya terbelalak saat menyadari dirinya tidak mengenakan sehelai benang pun. Matanya pun langsung menatap tajam Marwan yang juga berusaha turun dari ranjang dengan hanya mengenakan celana boksernya saja. Jantungnya kian berdegup saat merasakan sesuatu yang tak biasa di area intinya.


"Ayu, mbak tahu mbak salah karena telah merebut mas Marwan darimu, tapi bukan begini caranya untuk membalas sakit hatimu. Kenapa kau jahat, Yu, kau tega. Tidakkah kau berpikir bagaimana dengan nasib keponakanmu yang masih kecil? Bukankah aku sudah meminta maaf, tapi mengapa? Mengapa kau malah melakukan ini? Aku yakin, kau telah menjebak mas Marwan kan. Padahal mas Marwan datang ke sini untuk meminta maaf padamu secara baik-baik, tapi begini rupanya caramu membalas kami. Kau sungguh keterlaluan, Yu. Hiks ... hiks ... hiks ... " Liliana menangis di dalam pelukan Lastri.


"Ayu, mama tahu, kesalahan Liliana itu cukup fatal, tapi haruskah kau membalas sakit hatimu sedang menjebak suami kakakmu sendiri?" lirih Lastri seraya terisak.

__ADS_1


"Ma, pa, aku tidak pernah menjebak kak Marwan. Justru sebaliknya, akulah yang dijebak. Jangan salah paham!" sergah Ayu mencoba memberikan penjelasan.


"Tidak ma, pa, sayang, aku tidak pernah melakukan itu. Aku kemari murni ingin meminta maaf, tapi entah apa yang sudah dimasukkan Ayu ke dalam minumanku, tiba-tiba saja aku kehilangan kendali dan ... dan ... akhirnya aku tanpa sadar ... Maafkan aku ma, pa, sayang, aku tidak pernah berniat melakukan hal ini. Bagaimana pun aku sadar, kita telah memiliki Refano, mana mungkin aku mengkhianatimu setelah kau melahirkan anakku," kilah Marwan membuat api amarah memenuhi rongga dada Ayu.


"Tutup mulutmu, brengsekkk! Aku tidak pernah sama sekali memasukkan apapun ke dalam minumanmu." Sentak Ayu dengan tatapan nyalangnya.


"Tutup mulutmu anak sialan. Jadi ini tujuanmu pulang ke mari? Kau ingin membalas dendam dengan kakakmu sendiri."


"Pa, papa tidak percaya pada Ayu? Ayu ... Ayu nggak bohong, Pa. Ayu ... "


"Pa, karena aku sudah terlanjur melakukan hal terlarang dengan Ayu, izinkanlah aku bertanggung jawab dengan menikahinya," sergah Marwan membuat semua yang ada di sana membulatkan matanya.


"TIDAK!" Sentak Ayu dan Liliana bersamaan.


"Aku tidak mau menikah dengan bajingaan sepertimu!" sentak Ayu murka.


"Aku pun tidak akan mengizinkan kau menikahi Ayu, mas. Apa kata orang nanti kalau kau menikahi adikku," lirih Liliana dengan sesegukan.


"Liana, kita tidak ada cara lain, nak. Tidak mungkin kita membiarkan Ayu begitu saja setelah apa yang mereka lakukan."


"Tapi pa ... "


"Aku tidak mau menikah dengan kak Marwan, pa. Pokoknya sekali tidak, tetap tidak." Raung Ayu dengan wajah merah padam.


"Ayu, mau tidak mau mau harus menurut kata papa! Atau kalau tidak ... silahkan kau angkat kaki dari rumah ini untuk selamanya!" Bentak ayah Ayu tak kalah murka.


"Jadi ... papa lebih memilih membuang ku, begitu? Baiklah. Aku akan pergi. Lebih baik aku pergi dari pada harus menjadi istri laki-laki bajingaan seperti dia!" desis Ayu yang segera beringsut dari sana untuk masuk ke dalam kamar mandi. Meskipun harus bersusah payah, ia tetap berusaha melangkahkan kakinya meninggalkan keempat orang yang telah menorehkan luka mendalam dalam hatinya.


...***...


**Flashbacknya belum kelar ya! Masih sedikit lagi, gpp kan kak?


...***...

__ADS_1


...HAPPY READING 🥰🥰🥰**...


__ADS_2