Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan

Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan
Jawaban Zafira


__ADS_3

"Ibu tenang saja, aku akan selalu menjaga mereka dengan segenap kemampuanku." Ucap Alvian penuh keyakinan membuat Bu Mayang dan Zafira terkesima. "Oleh karena itu, karena hari ini Zafira telah resmi berpisah, bolehkan aku mengkhitbah Zafira setelah ia selesai masa nifasnya?" tanya Alvian straight to the point membuat Zafira dan Bu Mayang tercengang dengan mulut ternganga.


"Al ... kamu ... "


"Kamu serius nak Al? Ibu ... ibu nggak salah dengar kan barusan?" ucap Bu Mayang memastikan ia tidak salah pendengaran.


"Al, jangan bercanda! Nggak lucu tau," sergah Zafira memasang wajah bersungut-sungut. Padahal dalam hati reaksinya berbeda. Jantungnya bertalu-talu, seperti ada genderang yang ditabuh secara bersamaan. Si brondong ternyata sat set sat set juga ya gaes. hihihi ...


"Aku tidak bercanda, Ra, Bu. Aku serius. Aku benar-benar serius dengan apa yang barusan aku katakan. Aku ingin meminangmu menjadi pendamping hidupku. Aku harap kau dapat melihat kesungguhanku yang benar-benar mengharapkan kesedihanmu mendampingiku hingga akhir hayat hidupku," ucap Alvian lagi dengan sorot mata penuh kesungguhan. Tak ada keraguan yang tersirat di netranya karena Alvian memang bersungguh-sungguh ingin mempersunting Zafira menjadi istrinya. Ia tak mau menunda waktu lagi. Ia sudah cukup dewasa untuk menentukan pilihan dan mengambil keputusan.


"Tapi Al ... aku ... aku tak pantas untukmu. Pertama, strata sosial kita berbeda, kedua, aku ini janda, Al, janda. Anak 3 lagi, sedangkan kau ... seorang bujangan yang memiliki segalanya, bahkan nyaris tanpa celah, kita nggak sepadan, Al. Kita ibarat langit dan bumi. Kau pantas mendapatkan perempuan lain yang lebih sempurna dari aku dan yang lebih penting lagi seorang gadis, bukan janda seperti diriku," ujar Zafira melirih. Kepalanya tertunduk sambil memandang sendu bayinya yang tampak menggeliat, tapi matanya tetap terpejam erat. Ya, bayi yang baru lahir memang durasi tidurnya lebih panjang. Terkadang kalau tidak sengaja kita bangunkan untuk menyusu, maka ia akan tetap tidur, seakan merasa masih berada dalam kandungan sang bunda. Berbeda dengan bayi yang usianya di atas 3 bulan yang akan lebih sering bangun sampai-sampai sang ibu kurang tidur.


"Yang membedakan antara manusia satu dengan yang lainnya hanyalah iman dan takwanya. Apalah artinya perbedaan strata dan status, dibanding kebahagiaan yang akan aku dapat saat bisa menjadikanmu pendamping hidupku. Lagipula Ra, untuk apa mencari yang gadis, kalau itu hanya status saja. Bilangnya gadis, tapi kenyataannya, mereka lebih dari janda," ucap Alvian ambigu membuat Zafira dan ibunya mengernyit bingung. Alvian mengulum senyum melihat wajah kebingungan Zafira dan Bu Mayang.


"Kamu bisa mengatakan itu tak masalah, tapi bagaimana dengan orang tuamu, nak Al? Ibu nggak mau Zafira lagi-lagi harus mengakhiri rumah tangganya karena ada campur tangan orang tua yang tidak menyukai dirinya. Cukup satu kali anak ibu mengalami kegagalan dalam berumah tangga dan ibu sangat berharap, hal tersebut tidak akan terjadi lagi. Ibu sangat berharap, Zafira dapat merengkuh kebahagiaannya dengan pasangannya kelak. Tak peduli siapapun yang jadi pasangannya, asal bisa menerima Zafira beserta anak-anaknya dengan tulus dan mencintainya dengan sepenuh hati, ibu akan dengan senang hati memberikan anak ibu untuk ia bahagiakan," tukas Bu Mayang dengan sorot mata penuh harapan.


"Kenapa aku harus mempermasalahkan bila yang akan dipersunting Alvian adalah wanita berhati seluas samudera seperti Zafira?" ucap seorang wanita paruh baya tiba-tiba yang baru saja masuk setelah seorang perempuan membukakan pintu untuknya. Zafira dan Bu Mayang terkejut bukan main melihat kedatangan wanita itu. "Aku justru merasa sangat bahagia, bukan hanya karena akan mendapatkan menantu yang cantik, baik, dan pintar, tapi juga akan mendapatkan cucu-cucu yang cantik dan tampan. Ah, ini impianku sejak lama. Semoga calon menantu bunda yang cantik ini mau menerima khitbah anak bunda yang cukup tampan ini," imbuhnya membuat Alvian mendelik.


"Kenapa bunda mujinya tanggung-tanggung sih? Bilang aja anak bunda yang tampan, kenapa? Kenapa harus ada kata cukup diantaranya?" protes Alvian membuat Zafira dan Bu Mayang tersenyum geli. Bu Mayang baru mengerti ternyata wanita itu adalah ibu dari Alvian.


"Sebab ada yang lebih tampan dari kamu sekarang."


"Siapa?" tanya Alvian heran.

__ADS_1


"Cucu bunda lah, siapa lagi?" tukas Bu Ayu yang segera menghampiri bayi Zafira yang sedang tersenyum dengan mata yang masih terpejam. "Uh, Masya Allah, tampannya. Udah dikasih nama belum baby nya?" tanya Bu Ayu tiba-tiba membuat Zafira tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya. Bu Ayu mengangguk lalu mengalihkan pandangannya pada Bu Mayang. "Aduh, jadi lupa, maaf ya jeng, karena terlalu terhipnotis dengan si bayi mungil tampan ini, kita jadi belum berkenalan, perkenalkan, saya Ayuningtyas, ibu Alvian, sekaligus calon besan Anda," ujar Bu Ayu sumringah membuat Bu Mayang terperangah tak percaya. Ia tak menyangka, wanita berkelas seperti ibu Alvian justru dengan tangan terbuka mau menerima putrinya sebagai calon menantu.


"Saya ... Mayang," ucap Bu Mayang sedikit terbata. Maklumlah, melihat gaya Bu Ayu yang anggun dan berkelas, serta masih terlihat cantik meskipun sudah memiliki anak sedewasa Alvian. Bu Mayang jadi insecure sendiri dengan penampilannya yang sangat sederhana.


"Apa yang aku sampaikan tadi serius lho jeng, aku justru sudah nggak sabar jadiin Zafira menantuku dan anak-anaknya menjadi cucu-cucuku. Jeng bisa percaya Alvian. Kalau dia sampai macam-macam, saya sendiri sebagai ibunya yang akan menghukumnya. Jeng jangan khawatir," tukas Bu Ayu sambil menggenggam tangan Bu Mayang.


Lalu Zafira menoleh ke arah sang ibu yang di saat bersamaan juga menoleh padanya dengan sorot mata seolah meminta pendapat.


"Kalau saya sih, terserah dengan Zafira. Kalau memang ini yang terbaik, kenapa nggak. Toh sejujurnya saya juga menyukai anak Anda yang begitu perhatian bukan hanya pada Zafira, tapi juga anak-anaknya." Ujar Bu Mayang memberikan jawabannya. Bu Ayu lantas mengalihkan atensinya pada Regina dan Refina yang tampak diam, menyimak pembicaraan orang-orang yang ada di sana.


"Kalau princess-princessnya Oma, bagaimana? Maksudnya, setuju nggak kalau Om Alvina jadi papa kalian? Kalian mau?" tanya Bu Ayu membuat Zafira terperangah karena kedua anaknya pun turut dilibatkan untuk mencari dukungan.


"Om Al mau jadi papa kak Legi sama Lefi? Benelan Om? Om mau jadi papa Lefi sama kak Legi sama adek bayi juga?" tanya Refina antusias.


"Mau ... mau, Lefi mau, Om, ya kak Legi ya? Kak Legi juga mau kan?"


Regina pun mengangguk antusias, "Regi mau, ma. Regi mau Om Al jadi papa kami. Mama juga mau kan?" seru Regina antusias.


Zafira terdiam. Ia bungkam. Menarik nafas perlahan, lalu menghembuskannya. Entah keputusan ini tepat atau tidak, ia serahkan pada sang pemilik kehidupan. Semoga pilihannya kali ini tidak salah.


"Bismillahirrahmanirrahim, ya, saya bersedia." Ucap Zafira tenang namun mampu menggetarkan jiwa dan raga Alvian.


"Bersedia? Bersedia apa? Bilang yang jelas dong!" seru Nova yang entah kapan datangnya, tahu-tahu sudah berdiri di ambang pintu.

__ADS_1


"Nova?"


"Ya, kenapa? Terkejut ? Wajar sih. Tapi jawab dulu yang jelas, kamu bersedia apa, hm? Bersedia dikhitbah jadi calon istri atau ... " Nova mengerlingkan sebelah matanya membuat Zafira mencebik karena kesal dengan keusilan sahabatnya itu.


"Iya, aku bersedia dikhitbah setelah selesai masa nifasku," ucap Zafira lantang membuat semua orang berseru bahagia dan penuh syukur atas jawaban Zafira yang begitu memuaskan.


"Alhamdulillah."


Sementara di ruangan yang didominasi warna putih dan biru muda itu semua orang tampak berbahagia karena jawaban Zafira yang melegakan, maka di mobil yang dikendarai sopir keluarga Refano, Liliana tampak begitu gelisah. Namun hanya Saskia yang tahu. Sedangkan Refano tampak terdiam dengan pikiran yang berkecamuk.


Wajah Liliana masih tampak memucat, kedua tangannya saling meremas dengan keringat dingin bercucuran padahal pendingin udara di mobil itu menyala seperti biasanya. Bayangan perempuan yang pernah menjadi adik tirinya itu berkelebat di dalam benaknya. Liliana makin penasaran dengan sosok itu.


'Itu tidak mungkin Ayu kan? Lagipula kejadiannya sudah hampir 28 tahun yang lalu. Pasti Ayu sudah mati. Ya, seperti yang dikatakan orang suruhanku, Ayu sudah mati masuk ke jurang. Itu pasti bukan Ayu. Dari gayanya saja sangat berbeda. Gaya wanita itu sangat elegan, pasti itu bukan Ayu. Ya, aku yakin,' monolog Liliana mencoba meyakinkan diri.


Tiba-tiba suara dering ponsel Refano membuyarkan lamunan ketiga orang itu. Melihat nama yang tertera, Refano pun segera mengangkatnya.


"Halo, pa," ucap Refano.


".... "


"Apa? Itu ... itu nggak mungkin ... " cicit Refano dengan wajah piasnya.


...***...

__ADS_1


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2