Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan

Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan
Mas hot daddy


__ADS_3

Tok tok tok ...


Klek ...


Tiba-tiba kata-kata Merlyn terpotong bersamaan dengan pintu yang terbuka dan memunculkan sesosok pria tampan nan gagah membuat mata Merlyn terbelalak seketika.


"Masya Allah, apa dia jodohku." Celetuk Merlyn tiba-tiba membuat Alvian dan Zafira saling menoleh dengan tatapan yang ... entahlah.


"Mas Refan ... "


"Kak Refan ... "


Ucap Zafira dan Alvian bersamaan. Refano tersenyum kecil pada kedua orang itu. Bahkan ia tak menyadari ada orang lain di dalam ruangan itu sebab fokusnya memang hanya pada kedua orang itu, Zafira dan Alvian.


Merlyn tampak memandangi Refano dengan mata berbinar-binar. Ibaratnya, bila Merlyn menjadi tokoh kartun, maka di kedua matanya akan nampak emoticon love sakin terpukaunya Merlyn pada sosok Refano.


'Wow, hot Daddy! Eh, tapi kira-kira dia masih single atau udah punya bini nih? Takutnya udah kadung jatuh cinta, taunya dia udah punya bini. Masa' patah hati lagi sih? Please Tuhan, bila dia jodohku dekatkanlah, bila bukan, mohon bantulah kami agar kami makin dekat dan berjodoh.' doa Merlyn dalam hati edisi maksa.


"Hai," sapa Refano pada Zafira dan Alvian dengan suara beratnya membuat pipi Merlyn memerah bak kebanyakan blush on. "Maaf kalau ganggu." Imbuh Refano yang sudah berdiri di dekat sofa.


"Ah, tidak kak. Tidak ganggu kok. Kecuali kalau kami cuma berdua, mungkin akan sedikit mengganggu," ucap Alvian santai membuat Zafira melotot tajam.


Refano tersenyum kecil, paham maksudnya. Meskipun ia tak pernah melakukan itu, tapi sedikit banyak ia mengerti.


"Memangnya kalian ada tamu?" tanya Refano masih tak sadar ada sosok lain di ruangan itu. Bahkan ia duduk begitu dekat dengan Refano sebab posisinya di sofa sebelah kiri laki-laki tersebut. Merlyn sampai mencebikkan bibirnya, 'emangnya aku makhluk nggak kasat mata apa sampai nggak sadar? Atau dia udah katarak?' Omel Merlyn dalam hati.

__ADS_1


Alvian dan Zafira yang mendengar pertanyaan itu pun tak mampu menahan tawanya. Apalagi saat melihat ekspresi kesal Merlyn, Alvian sampai tergelak kencang. Zafira menepuk paha Alvian agar mengontrol tawanya.


"Mas, perkenalkan, dia Merlyn, temen aku dan Al. Lyn, perkenalkan dia ... kakaknya Bang Al." Ucap Zafira memperkenalkan Merlyn pada Refano dan sebaliknya. Hampir saja ia menyebutkan kalau Refano adalah mantan suaminya, tapi ia urungkan. Ia merasa kurang nyaman aja menyebutkan status Refano di depan Merlyn. Apalagi melihat binar mata Merlyn yang menunjukkan ketertarikannya pada Refano. Siapa tahu kan mereka berjodoh.


"Refano." Ucap Refano datar dan dingin tanpa mengulurkan tangannya sama sekali. Kemudian ia pun langsung duduk di seberang Alvian tanpa membutuhkan respon dari Merlyn.


'Ya ampun, ini mah ice man nya melebihi Al nih. Benar-benar hot Daddy. Datar dan dingin. Bikin makin penasaran.' Merlyn tak henti-hentinya mengagumi sosok Refano sambil memasang senyum semanis mungkin.


"Kenapa loe senyam-senyum? Kesurupan loe?" sembur Alvian membuat mata Merlyn mendelik tajam.


"Sirik aja loe," balas Merlyn sengit.


"Ngapain gue sirik sama loe. Jomblo akut juga."


"Dih, mentang udah laku. Bentar lagi gue juga pasti bakal nyusul kok." Ucap Merlyn percaya diri.


"Eh, enak aja. Siapa yang mau sama dia ya! Nehi. Yang pasti calonku ini high quality, nggak kayak si juragan sapi."


Zafira terkekeh geli sambil geleng-geleng kepala melihat perdebatan kedua orang itu. Sebaliknya, Refano justru diam-diam memperhatikan Zafira yang tampak semakin cantik saat tertawa.


'Alangkah bahagianya bila aku yang bisa membuatmu tertawa seperti itu, Ra.' Batin Refano bermonolog. Sibuk berdebat dengan Merlyn, Alvian sampai tak menyadari Refano terus memperhatikan istrinya hingga saat ia menoleh ke arah Refano, barulah ia sadar kalau kakaknya itu tengah memandangi sang istri dengan sarat kerinduan dan cinta.


"Ekhem ... " Alvian sengaja berdeham untuk menyadarkan Refano. "Sayang, bisa tolong ambilkan Abang minum? Tenggorokan Abang mendadak kering gara-gara berdebat dengan si kutil," ucap Alvian sambil mengusap-usap lehernya.


"Heh, sembarangan aja manggil gue si kutil," sentak Merlyn tidak terima panggilan masa kecilnya disebut lagi.

__ADS_1


"Emang kamu si kutil kan?" cibir Alvian.


"Nggak ada, ya. Udah nggak ada lagi. Orang udah cantik gini. Udah ah, lama-lama di sini bisa-bisa kewarasan gue ilang gara-gara loe. Untung aja udah bisa move on, kalau nggak ih amit-amit deh punya laki modelan elu." Merlyn pura-pura bergidik ngeri.


"Eh, siapa juga yang mau sama loe. Btw, loe bilang apa tadi? Untung aja udah move on? Secepat itu? Bukannya tadi ada yang mewek-mewek ya gara-gara gue tinggal kawin?" Sifat Alvian yang hanya ditunjukkannya pada orang-orang terdekat muncul, yaitu usil bin jahil. Tengil juga. Benar-benar bertolak belakang dengan sikapnya di hadapan orang lain.


"Ya iyalah, cepat. Soalnya yang bikin move on nggak kalah cakep. Malah hot. Hot Daddy," ujarnya sambil cekikikan dengan sorot mata melirik ke arah Refano. Alvian dan Zafira pun menyadari sorot mata itu, kecuali Refano yang sejak tadi bergeming di tempatnya. Mungkin ia tak nyaman mengobrol saat ada orang yang tidak dikenalnya. Padahal masih banyak yang ia ingin ketahui dari sosok Refano termasuk apa maksudnya dia adalah kakak dari Alvian. Bukankah setahunya Alvian merupakan anak tunggal? "Ya udah, Al, mbak Fira, Lyn pamit dulu ya. Mau ke studio dulu," ucap Merlyn pamit pada Alvian dan Zafira. Lalu ia menoleh ke arah Refano. Ingin berpamitan tapi ragu. Namun bila ia ragu, bagaimana bisa ia dekat, bukan. "Ekhem ... " Merlyn berdeham tujuannya untuk menarik atensi Refano, tapi laki-laki itu tetap saja bergeming dan lebih memilih fokus pada ponselnya. 'Astaga, ni cowok kok cuek amat? Sebenarnya gue belum mau pulang. Masih pingin tahu banyak tentang dia, tapi ya udahlah dulu kali ya. Semoga aja lain kali ketemu lagi ya mas hot Daddy,' batin Merlyn bermonolog.


"Mas ... " Merlyn menyenggol pundak Refano membuat laki-laki itu menoleh.


"Ya," jawab Refano singkat dan datar.


"Lyn pamit dulu ya! Ekhem ... senang bertemu, mas hot Daddy." Setelah mengucapkan kalimat itu, Merlyn langsung ngacir kabur membuat Alvian tertawa terpingkal.


"Mas hot Daddy? Wah, kalau kalian berjodoh emang keliatan kayak Daddy dan sugar baby-nya," ucap Alvian sambil mengusap perutnya yang keram karena terlalu asik tertawa. Sementara itu, Refano hanya merespon mereka dengan geleng-geleng kepala. "So, kakak mau ngomong apa sampai repot-repot kemari?"


Refano menatap Zafira dan Alvian bergantian kemudian menghela nafasnya, "boleh aku ajak Regi dan Refi menginap di rumahku? Sehari aja, aku mohon? Besok kan libur jadi sekalian aku mau ajak mereka jalan-jalan. Sorenya aku antar mereka pulang kembali. Sudah lama sekali aku ingin sekali merasakan bagaimana bisa menghabiskan waktu bersama mereka, boleh kan?" melas Refano.


Zafira merasa bimbang lalu melirik Alvian yang dari sorot matanya tampak menyerahkan keputusan padanya.


Zafira menghela nafasnya dan berucap, "aku tanya anak-anak dulu ya, mas, mau nggak nya. Aku nggak bisa mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan keputusan mereka."


Zafira sebenarnya ingin segera memberikan izin. Refano pun berhak atas anak-anaknya, tapi ia pun harus bersikap bijak. Ia tak mau mengambil keputusan yang berakibat anak-anaknya merasa tak nyaman. Refano tersenyum maklum. Ia mengerti, ia tidak bisa memaksakan kehendak bila kedua putrinya tidak mau pergi dengannya. Namun dalam hati, Refano tetap berharap anak-anaknya mau ikut dengannya.


...***...

__ADS_1


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2