
Selepas magrib, Refano pun bergegas pergi menuju kediaman Alvian dan Zafira. Sepulang ke rumah siang tadi, ternyata Zafira langsung menyampaikan keinginan dirinya untuk mengajak Regina dan Refina menginap di rumahnya dan Refano sangat bersyukur karena kedua putrinya mau ikut dengannya. Sungguh ia sangat bahagia. Dulu ia pikir anak-anaknya akan begitu membenci dirinya karena sikapnya selama ini. Namun nyatanya, baik Regina maupun Refina mau memaafkannya. Bahkan mereka mau menerima kehadirannya dan tidak membencinya. Ia yakin, ini semua berkat Zafira. Sifat baik dan pemaafnya ternyata ia turunkan kepada anak-anaknya. Ia sangat bersyukur memiliki anak-anak yang baik dan berhati mulia seperti Regina dan Refina.
Saat melajukan mobilnya, matanya melihat sebuah mobil yang dihadang beberapa pengendara bermotor. Mereka bahkan menggedor-gedor kaca mobil dengan kasar. Jalanan itu cukup sepi membuat tak ada orang yang melihat aksi mereka. Refano pun menepikan mobilnya untuk memperhatikan dari jauh. Entah siapa pengendara bermotor yang penampilannya seperti preman itu. Apakah mereka debt colector atau ... rampok alias begal? Dan ... mata Refano terbelalak saat melihat sosok yang turun dari dalam mobil tersebut.
...***...
Merlyn baru saja keluar dari gedung Star TV. Ia bekerja di Star TV sebagai program director. 2 tahun yang lalu ia mengajukan cuti panjang untuk melanjutkan pendidikannya dan hari ini ia mengurus segala hal berkenan dengan dirinya yang akan mulai aktif lagi bekerja.
Hari sudah beranjak malam, bahkan sudah akan masuk jadwal isya, tapi ia masih dalam perjalanan pulang sebab jarak antara rumahnya dan kantor Star TV cukup jauh. Sebenarnya ia memiliki apartemen di dekat kantor Star TV, tapi karena sudah lama ditinggal, ia yakin apartemennya dalam keadaan berdebu. Meskipun sesekali adiknya mampir untuk membersihkannya, tapi tak mungkin pula ia langsung menginap di sana apalagi ia baru tiba di Indonesia beberapa hari yang lalu.
Untuk menghemat waktu perjalanan, Merlyn memilih jalan yang cukup sepi. Ia sudah sering melewati jalan itu dulu dan ia rasa tak masalah lewat sana lagi.
Namun baru saja beberapa meter mobilnya melewati jalan itu, ia melihat ada 3 buah motor yang mengikutinya. Mereka membawa motor sambil berboncengan dengan temannya. Merasa gelagat aneh pada pengendara motor tersebut, Merlyn pun memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Sadar targetnya menyadari keberadaan mereka, mereka pun ikut menaikkan kecepatan motornya hingga terjadilah aksi kejar-kejaran.
"Sial. Ngapain sih mereka? Kayaknya mereka mau cari masalah sama gue!" geram Merlyn sambil mengawasi ketiga motor di belakangnya dari kaca spion.
Merlyn pun segera mengambil earphone dan mengenakannya. Kemudian mengambil ponsel dan menghubungkannya ke earphone tadi dengan tangan kirinya. Setelahnya, ia mendial salah satu nomor temannya untuk meminta bantuan.
"Halo ... " ucap seseorang dari seberang sana.
"Res, gue butuh bantuan loe sekarang! Ada 3 motor yang buntutin gue. Entar gue share lokasinya. Buruan datang ya!"
"Apa? Oh, oke, oke! Buruan kirim. Gue segera nyusul ke sana dengan bala bantuan." Ucap pria bernama Restu yang merupakan salah seorang teman Merlyn.
Setelah itu, ia menutup teleponnya dan segera mengirimkan lokasinya. Karena terlalu fokus dengan ponselnya, Merlyn tak sadar ketiga motor tersebut telah menyusul dirinya. Bahkan sudah berada di depan mobilnya.
__ADS_1
Merlyn menghela nafas kasar.
"Kalian mau main-main? Oke. Siapa takut." Gumam Merlyn sambil menepikan mobilnya.
Melihat mobil target mereka berhenti, ketiga motor itupun ikut berhenti dan memarkir kendaraan mereka serampangan. Setelahnya, mereka mengetuk kaca mobil Merlyn agar segera keluar dari dalam sana.
Dengan santai, Merlyn turun dari dalam mobil dan menegur keenam pria berpakaian serba hitam tersebut.
"Ada apa ya kak? Kok kakak tadi kejar-kejar mobil Lyn sih? Terus sekarang menghadang mobil Lyn? Apa Lyn ada salah sama kakak-kakak semua?" tanya Merlyn sopan sambil memasang wajah polos.
"Wah, adik manis, kamu kok cantik banget sih? Adek manis nggak salah kok," ujar salah seorang dari mereka sambil tersenyum genit.
"Kalau Lyn nggak salah, terus kenapa kakak-kakak menghadang mobil Lyn? Lyn kan mau pulang? Gimana kalau ayah ibu Lyn khawatir, kan kasihan," Merlyn tetap berusaha bersikap sesopan mungkin. Siapa tahu mereka luluh dan tak jadi melaksanakan niat mereka padanya.
"Adek manis emang nggak salah, tapi kakak-kakak ini mau ambil mobil dan barang-barang adek, ayo serahin semuanya sebelum kami bertindak macam-macam sama kamu," ucapnya sambil mendekat ke arah Merlyn.
"Yaz seperti itulah."
"Sudah basa-basinya. Cepat serahkan kunci mobil, hp, dan tas loe sekarang sebelum kami habisi nyawa loe!" bentak salah satu dari mereka yang memang berwajah lebih sangar dibandingkan yang lainnya.
Merlyn menghela nafasnya kemudian berujar, "sebentar."
Setelah mengucapkan itu, Merlyn kembali ke dalam mobilnya. Mereka pikir Merlyn akan mengambil kunci mobil, hp, dan tasnya, tapi ternyata bukan. Merlyn justru mengambil celana berwarna jingga dengan list kuning di bagian bawahnya. (Celana silat perguruan tapak suci putera Muhammadiyah.) Yang membuat mereka makin melongo adalah Merlyn justru mengenakan celana itu tepat di hadapan mereka semua. Merlyn saat itu hanya mengenakan dress selutut entah apa tujuannya tiba-tiba mengenakan celana itu, bukannya menyerahkan apa yang mereka pinta.
"Nih anak udah gila kali ya? Atau jangan-jangan dia baru kabur dari RSJ?" celetuk salah seorang dari mereka.
Pimpinan mereka yang berwajah sangar itupun kebingungan. Sejak keluar dari dalam mobil, Merlyn memang tidak menunjukkan ekspresi ketakutan ataupun cemas sedikit pun. Ia tetap bersikap tenang.
__ADS_1
"Cepat, singkirkan tikus kecil ini dan bawa pergi mobil itu!" titahnya pada rekan-rekannya.
"Maafkan kami cantik, kami harus segera menyingkirkanmu sekarang juga," ucap rekannya sambil menyeringai. Ia pun bergerak maju hendak membekuk Merlyn, tapi dengan sigap Merlyn menghindari laki-laki itu hingga ia telah berdiri tepat di belakang laki-laki itu kemudian menendangnya dari belakang hingga ia tersungkur.
"Brengsekkk!" umpat laki-laki itu marah.
"Oops, om kok tiduran di situ sih? Makanya kalau ngantuk itu pulang ke rumah, bukannya ngebegal kayak gini," ejek Merlyn membuat yang lainnya ikut geram.
"Kalian kenapa diam saja bodoh! Cepat tangkap jalaang kecil itu. Kalau perlu, habisi segera." Pekik pemimpinnya membuat Merlyn menyeringai.
"Kalian mau keroyokan? Ayo! Siapa takut." Seru Merlyn santai.
Kemudian gerombolan begal itu pun mulai bergerak ingin membekuk Merlyn. Namun Merlyn mampu menghadapi mereka semua dengan gesit hingga membuat mereka cukup kelabakan.
Kemudian pemimpin gerombolan begal itu mengeluarkan senjata tajam yang ada di balik pinggangnya. Pemimpin mereka ternyata mampu mengimbangi gerakannya. Bahkan kini tanpa Merlyn sadari, lengan kanannya telah terkena sabetan senjata tajam itu hingga membuat darah mengucur deras. Akibatnya, gerakan Merlyn sedikit terhambat, tidak segesit tadi.
"Sial! Restu kemana sih? Kenapa lama sekali?" gumam Merlyn sambil mendesis. Bagaimana pun ia memiliki kemampuan bela, ia tetaplah seorang perempuan. Apalagi ia diserang bukan hanya oleh satu orang, tapi 6 orang.
Karena terlalu fokus menghadapi pemimpin gerombolan begal itu, tanpa ia sadari salah satu rekan mereka hendak memukul Merlyn dari belakang dengan balok kayu. Hingga ...
"Awaaaas ... "
Brakkkk ....
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...
__ADS_1