
Setelah kepergian Refano, Liliana, dan Saskia, perlahan air mata yang sejak tadi Zafira tahan pun merebak membanjiri pipi kanan dan kirinya. Bibirnya bergetar, ia tumpahkan kesedihannya melalui tangisan yang memilukan.
Bukannya Zafira menyesali perpisahan ini. Bukan. Tapi yang ia sesalkan, mengapa rumah tangganya harus kandas dengan jalan seperti ini. Rumah tangga yang ia pertahankan mati-matian meski harus memendam duka lara seorang diri, mengapa harus kandas dengan cara tak terduga seperti ini? Ia rela, ia merelakan kepergian Refano dari hidupnya, tapi ... tidakkah ada rasa sedikit saja di dalam hatinya, rasa sayang melihat anak-anaknya yang harus tumbuh besar tanpa kasih sayang sang ayah sama sekali? Tidakkah ia ingin menyentuh anaknya sekali saja seumur hidupnya? Ayah kandungnya, membuang anak-anaknya tanpa perasaan. Sungguh kejam dan sangat keterlaluan.
Belum hilang rasa sakit sehabis melahirkan, tapi ia sudah ditalak dengan tanpa perasaan. Tidakkah mereka tahu berdosa menalak saat baru saja melahirkan. Menalak sehabis melahirkan memang sah-sah saja, tapi itu merupakan perbuatan dosa besar. Tapi biarlah, biar mereka tanggung dosa mereka sendiri.
Biarlah, biarlah ia tumpahkan segala kecamuk dalam hatinya hari ini dengan sebuah tangisan. Biarkan ia menangisi laki-laki itu untuk terakhir kali. Biarkan ia menangisi perpisahan dan kandasnya rumah tangganya. Biarkan ia menangisi laki-laki yang pernah bernaung dalam relung hati dan hidupnya, biarkanlah. Untuk terakhir kali, biarkan ia menangisi kepahitan dalam hidupnya sebab setelah ini ia berjanji akan menjadi wanita yang lebih tegar dan tangguh. Takkan ia biarkan ada yang kembali mengusik hidup dan kebahagiaannya.
Bu Mayang yang melihat anaknya menangis pun tak mampu menahan kesedihannya. Ia pun ikut hancur melihat kehancuran putrinya. Pun Regina dan Refina yang melihat ibunya menangis, tak mampu menahan air matanya. Tangis mereka pun meledak bersamaan. Bersyukur bayi mungil itu tidak merasa terganggu dengan suara tangisan mereka. Bayi mungil itu tampak tidur dengan tenang.
Alvian yang sejak tadi telah masuk ke dalam ruang perawatan Zafira pun tak mampu menahan sesak di dada. Matanya memerah. Ia pun dapat merasakan kesakitan yang Zafira rasa. Alvian merasa iba dengan anak-anak Zafira. Ternyata nasib mereka tak jauh berbeda. Mereka sama-sama tidak mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah. Tapi yang membedakan adalah mereka saling mengetahui keberadaan masing-masing. Refano mengetahui anak-anaknya, anak-anaknya pun tahu kalau Refano ayahnya, kecuali bayi mungil yang baru semalam Zafira lahirkan. Sedangkan dirinya, saat kecil ia tidak tahu sama sekali mengenai sosok ayahnya, begitu pula ayahnya tidak pernah tahu mengenai keberadaannya. Alvian baru mengetahui sosok ayahnya saat ia menjelang dewasa. Setelah yakin putranya siap untuk mengetahui segalanya, Ayu pun menceritakan segalanya tanpa ada yang ditutupi.
Sejak saat itulah, ia bertekad menjadi orang sukses untuk menunjukkan dirinya sekaligus membalas perbuatan orang-orang yang telah mendzalimi sang ibu. Dan kini tekad itu makin kuat saat mengetahui wanita yang ia cintai pun telah menjadi korban kekejian dan kesombongan dari orang yang sama yang telah menghancurkan hidup ibunya dan membuat dirinya harus terlahir di luar nikah tanpa seorang ayah. Selain itu, peristiwa di masa lalu itu ternyata memberikan sebuah trauma pada sang ibu sehingga sang ibu tak pernah bisa mempercayai laki-laki apalagi membina rumah tangga.
Merasa sudah terlalu lama keempat orang itu menangis, Alvian pun memberanikan diri mendekati mereka. Lalu ia merengkuh kedua bocah yang menangis sambil memeluk satu sama lain itu. Sedangkan Bu Mayang tampak masih mencoba menenangkan Zafira sambil menepuk punggungnya. Bu Mayang ternyata lebih tegar. Bahkan ia telah menyeka air matanya, tak ingin terlihat rapuh di hadapan sang putri.
"Om Al," cicit Refina saat mendongakkan wajahnya dan melihat Alvian lah yang memeluk tubuhnya.
"Udah dong nangisnya. Entar princess cantik-cantiknya Om jadi jelek. Nih, lihat, hidung merah, ada ingusnya, iii ... jorok. Jadi jelek kan!" goda Alvian sambil meraih tisu lalu mengusap air mata dan ingus Refina dan Regina secara bergantian tanpa merasa jijik. Bila orang lain mungkin akan merasa jijik saat membersihkan ingus anak orang lain, tapi tidak dengan Alvian. Ia justru merasa geli sendiri melihat gadis-gadis cilik itu berlelehan air mata dengan ingus yang menggantung.
__ADS_1
Regina dan Refina merasa malu tapi mereka tersenyum melihat senyum mengejek Alvian pada mereka. Senyuman itu seakan menular pada kedua bocah perempuan itu.
"Tuh, udah cantik lagi. Ayo, kita hibur mama biar nggak sedih lagi. Terus kita lihat dedek bayinya. Dedek bayi Regi dan Refi ganteng lho, tapi masih gantengan Om Al sih," seloroh Alvian mencoba menghibur Regina dan Refina.
"Ganteng? Jadi adik kita cowok Om?" seru Regina penasaran.
Alvian mengangguk, "iya, cowok. Yuk ... " Ajaknya sambil menggendong Refina lalu meraih tangan Regina.
"Mama, mama, mama jangan nangis lagi. Kata Om Al kalo nangis telus bisa jadi jelek," ujar Refina yang sudah di dudukkan Alvian di samping Zafira.
Zafira yang mendengar suara Refina pun mendongak dan membulatkan matanya saat melihat Alvian yang tampak menatapnya horor. Seketika ia reflek mengusap wajahnya dengan telapak tangan membuat kedua putrinya berseru.
Zafira tersipu mendapatkan perlakuan manis itu.
"Mama, Regi boleh gendong adek bayi?" tanya Regina yang sudah kadung penasaran dengan sang adik.
Zafira lantas menoleh dan tersenyum, "maaf ya, mama malah nangis dari tadi sampai lupa kalau putri-putri cantik mama ada di sini. Untuk sekarang nggak boleh, sayang. Adek masih kecil banget," 7jar Zafira lembut sambil mengambil sapu tangan di tangan Alvian dan mengelap sisa-sisa air matanya.
"Ma, kata Om Al, dedek bayinya cowok ya?" tanya Refina membuat mata Bu Mayang membulat.
__ADS_1
"Benarkah? Jadi ... bayi ini laki-laki?" tanya Bu Mayang dengan mata yang masih terbelalak lebar.
Zafira tersenyum lebar, "iya, Bu. Bayinya laki-laki," ucap Zafira bahagia.
"Masya Allah, Alhamdulillah. Tapi kenapa kamu nggak bilang dengan mereka tadi? Biar mereka shock."
"Nggak perlu, Bu. Fira kan udah kasi kesempatan mereka supaya bisa melihat sendiri, tapi mereka sendiri yang menyia-nyiakan kesempatan itu. Jadi jangan salahkan Fira. Lagipula mungkin ini yang terbaik, Bu. Fira takut saat mereka tahu, mereka malah mengambil anak Fira. Bayi ini hanya milik Fira dan selamanya akan seperti itu." Ujar Zafira menjelaskan alasannya.
"Kamu benar, Ra. Biarkan waktu yang memberi tahu mereka. Aku yakin, suatu hari nanti mereka akan menyesali keputusan mereka hari ini." Timpal Alvian.
"Tapi seperti kata kamu tadi nak, bagaimana kalau mereka tahu dan berniat mengambilnya darimu? Kalian memang sudah membuat surat perjanjian, tapi siapa tahu di hari nanti mereka akan melanggar perjanjian itu. Kamu tahu sendiri, sifat mereka itu licik. Mereka orang kaya, mereka bisa melakukan apapun semau mereka. Dengan harta yang mereka miliki, segalanya bisa saja mereka lakukan bahkan melakukan hal keji sekalipun mereka mampu. Ibu hanya khawatir kalau ... " Bu Mayang menggantung kata-katanya. Ia menghela nafas penuh kekhawatiran.
"Ibu tenang saja, aku akan selalu menjaga mereka dengan segenap kemampuanku." Ucap Alvian penuh keyakinan membuat Bu Mayang dan Zafira terkesima. "Oleh karena itu, karena hari ini Zafira telah resmi berpisah, bolehkan aku mengkhitbah Zafira setelah ia selesai masa nifasnya?" tanya Alvian straight to the point membuat mulut Zafira dan Bu Mayang ternganga.
...***...
...Makasih like, komen, vote, dan semua supportnya Kak. Semoga suka part ini. ❤️❤️❤️...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...
__ADS_1