Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan

Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan
Shock


__ADS_3

"Refano, kau dimana, hah? Kau tahu, perusahaan kita sedang kacau, lalu kau justru tidak ada di kantor sekarang," pekik Marwan saat sambung teleponnya diangkat Refano.


Refano menghela nafas panjang sebelum menjawab, "pa, mama hari ini pulang ke rumah. Jadi aku jemput mama dulu." Ujar Refano menjelaskan secara singkat.


"Kau bisa suruh sopir menjemput mamamu. Cepat segera kesini sebelum karyawan pabrik sialan itu menyerbu ke mari. Bukankah kau kemarin bilang kau telah menemukan investor, tapi kenapa belum bergerak juga? Perusahaan kita sudah benar-benar terancam tumbang, kau tahu itu."


"Mama tidak mau dijemput sopir. Baiklah, sesudah aku menjemput mama, aku akan langsung ke sana. Ada yang harus aku sampaikan pada papa," ucapnya setelah itu langsung menutup panggilan begitu saja.


Setelahnya, ia membalikkan badannya menatap sang mama yang entah sedang memikirkan apa. Tatapannya kosong. Seperti kehilangan semangat hidupnya.


"Perusahaan kita akan bangkrut?" tanya Liliana tiba-tiba.


"Ya," jawab Refano singkat sambil membereskan barang-barang sang ibu.


Wajah Liliana tampak kuyu. Seolah semangat hidupnya telah dicabut tuntas dari raganya.


'Mengapa ini semua terjadi padaku? Perempuan itu pasti akan tertawa bahagia melihat penderitaanku.' Tangan Liliana terkepal erat. Bara kebencian makin menyala dalam benaknya. Saat itu dengki telah mendarah daging,


Setelah membereskan barang-barang sang ibu, Refano lantas segera menyelesaikan urusan administrasi kemudian mengajak Liliana pulang. Liliana ia dudukkan di kursi roda. Kedua kakinya tidak dapat diselamatkan jadi kedua kakinya pun terpaksa diamputasi. Setibanya di rumah, Refano segera menurunkan ibunya ke kursi roda dan membawanya ke dalam kamar. Karena Refano yang harus kembali lagi ke kantor, ia pun menitipkan ibunya pada bik Minah.


"Bik, saya titip mama ya! Jangan lupa bantu minum obat setelah makan siangnya. Makan siangnya, antarkan saja ke kamar." Pesan Refano pada bik Minah sebelum meninggalkan sang ibu.

__ADS_1


"Baik, den," sahut bik Minah.


"Ma, Refano ke kantor dulu ya. Banyak hal yang harus diurus," ucap Refano. Liliana pun mengangguk tanpa membalas tatapan ataupun menjawab. Ia tetap menatap lurus ke depan, tak bergeming.


Saat melewati ruang tamu, tampak Saskia sedang duduk seorang diri. Sebelum benar-benar menghilang di balik pintu, Saskia tiba-tiba mengatakan sesuatu yang cukup mengejutkan membuat Refano menghentikan langkahnya.


"Mas ... ayo kita bercerai!" ucapnya cukup mengejutkan Refano. Ia tak menyangka, akhirnya Saskia menyerah juga.


"Baiklah. Nanti kita bicarakan lagi. Aku harus segera pergi ke kantor sekarang," ucapnya datar kemudian segera berlalu dari sana meninggalkan Saskia yang terdiam sambil menundukkan kepalanya. Tak lama kemudian, ia terisak.


"Semoga ini yang terbaik untuk kita, mas. Maaf, karena kehadiranku membuatmu harus terpisah dari orang-orang yang kau sayangi. Terima kasih atas kebersamaan singkat ini," lirih Saskia yang kini isakannya makin menjadi. Ia tulus mencintai Refano, tapi cintanya tak pernah berbalas sama sekali. Ia akui, ini kesalahannya. Ia telah terlalu memaksakan dirinya tanpa memikirkan perasaan orang lain. Bahkan ia pun kini menyadari apa yang menimpanya kini adalah hukuman atas perbuatannya yang telah menghancurkan rumah tangga seorang perempuan dan membuat anak-anak terpisah dari ayahnya. Ia bahkan dengan tega menghina anak-anak tak berdosa itu. Kini, bukan hanya ia sendiri yang menanggung kesalahannya, tapi juga anaknya. Ia benar-benar menyesal. Amat sangat menyesal.


...***...


Berselang tak lama kemudian, sosok yang begitu familiar di perusahaan itupun ikut datang. Ia mengulurkan tangannya untuk bersalaman kemudian membawanya menuju ruangan CEO mereka, yaitu Marwan Prayoga.


"Apa CEO Alta Corp akan bekerja sama dengan perusahaan kita?" Ucap salah seorang pegawai saat melihat CEO Alta Corp, siapa lagi kalau bukan Alvian Altakendra.


"Wah, kalau benar, kemungkinan perusahaan ini akan terselamatkan. Aku nggak tahu harus melamar kerja kemana lagi kalau perusahaan ini sampai gulung tikar," ucap salah seorang pegawai YG Group.


"Bukan itu saja, kita bisa sering cuci mata dong. Pak Refan ada saingan nih," seloroh mereka sambil bisik-bisik kemudian terkekeh.

__ADS_1


Sementara itu, akhirnya Alvian dan Luthfi serta beberapa anggota dewan direksi telah tiba di depan ruangan CEO YG Group. Tampak Afrizal telah berdiri di depan pintu yang sepertinya telah menunggu kedatangan Alvian.


Ceklek ...


Refano membuka pintu ruangan sang ayah tanpa meminta izin membuat Marwan yang sedang berkutat mengangkat wajahnya dan dalam hitungan detik terbelalak.


"Fan, mereka ... " Marwan segera menegakkan tubuhnya. Melihat kedatangan Alvian, ada rasa bahagia tak terkira sebab ia tak menyangka telah memiliki seorang putra dari wanita yang dicintainya.


"Selamat siang pak Marwan. Maaf kalau kedatangan kami begitu tiba-tiba." Ujar Alvian membuka suara. Wajah Marwan berbinar cerah. Ia pikir Alvian ingin menawarkan kerja sama dengan dirinya.


"Ah, selamat siang. Tidak, tidak apa-apa. Saya justru sangat senang melihat kedatangan Anda. Tapi ... kenapa Anda datang dengan ... " Marwan menatap dewan direksi perusahaannya dengan sorot mata heran.


"Tuan Marwan, kami to the point saja. Perusahaan Anda mulai hari ini akan diakuisisi oleh CEO Alta Corp, tuan Alvian Altakendra. Sekarang pemegang saham tertinggi perusahaan ini adalah tuan Alvian. Jadi mulai saat ini posisi CEO perusahaan ini adalah Alvian Altakendra," ujar salah satu dewan direksi membuat mata Marwan terbelalak.


"Ap-apa? Itu ... tidak mungkin. Kalian pasti bercanda kan? Perusahaan ini milikku dan aku lah CEO nya. Bagaimana bisa perusahaan ini jatuh ke tangannya?" seru Marwan yang sudah berdiri. Ia benar-benar terkejut sekaligus tak percaya perusahaan milik keluarganya turun-temurun bisa jatuh ke tangan Alvian. Alvian memang putranya, tapi ia tidak tahu Alvian sudah mengetahui fakta itu atau belum. "Aku dan istriku masih memiliki saham sebesar 30% ditambah milik Refano 20%, nilainya seimbang. Jadi kalian tidak bisa langsung memutuskan dia sebagai CEO perusahaan ini." Marwan menolak mentah-mentah kenyataan yang baru saja disampaikan oleh salah seorang dewan direksi.


"Tapi kenyataannya memang begitu. Saham milik putra Anda juga sudah berpindah kepemilikan karena itulah kami kemari untuk menjelaskannya pada Anda," ujarnya lagi sambil menyerahkan map berisi berkas-berkas kepemilikan saham.


Marwan yang melihatnya seketika lunglai dan jatuh ke atas kursinya. Wajahnya pucat pasi. Usaha yang telah dipertahankan dan dibesarkannya selama puluhan tahun kini jatuh ke tangan orang lain. Ditatapnya wajah laki-laki yang sangat mirip dengan mantan kekasihnya tersebut. Tampak di sana, Alvian pun menatap dirinya. Namun Marwan dapat melihat ada seringai di bibir Alvian membuat nafas Marwan seketika tercekat. Dadanya mendadak sesak dan penglihatannya pun perlahan mengabur. Lalu semuanya perlahan menggelap dan benar-benar hilang.


...***...

__ADS_1


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


"It


__ADS_2