
Zafira tampak pergi berbelanja di swalayan yang ada di sebuah mall terbesar di kota mereka. Tak pergi sendiri, karena Zafira sekalian ingin mencuci mata alias jalan-jalan, Zafira juga mengajak Refina dan baby Zafran juga sang baby sitter, Sinta.
Baby Zafran diletakkan di dalam sebuah stroller dan Zafira sendiri yang mendorongnya, sedangkan Refina digandeng Sinta sambil berjalan bersisian dengan Zafira. Regina tidak ikut serta sebab ia diajak gurunya untuk mengisi sebuah acara yang dihadiri para guru. Zafira mempersilahkannya sebab ia gurunya pasti akan menjaga Regina dengan baik. Apalagi ia mengikutsertakan Caca untuk menemaninya dan mengurus segala hal yang menyangkut keperluan Regina.
"Mama, Lefi boleh naik itu?" tanya Refina yang menunjuk sebuah troli setelah melihat ada seorang ibu-ibu yang juga mendudukkan anaknya di dalam troli. Zafira pun mengangguk seraya tersenyum.
"Sin, bisa tolong dudukkan Refi di troli itu?" pinta Zafira pada Sinta yang usianya memang baru sekitar 20 tahunan. Ia merupakan keponakan salah satu art Bu Ayu yang dipekerjakan Alvian untuk menjadi pengasuh Baby Zafran.
"Baik, Bu," sahut Sinta sopan. Lalu ia mengajak Refina ke salah satu troli dan mendudukkannya di dalamnya. Mereka pun mulai berbelanja kebutuhan pribadi dan susu untuk Regina dan Refina. Zafira juga mampir ke salah satu store pakaian khusus bayi dan anak-anak untuk membelikan beberapa pakaian untuk anak-anaknya. Selesai berbelanja, Zafira mengajak Sinta untuk mampir ke salah satu gerai ayam goreng kesukaan Refina. Refina tampak begitu senang diajak makan di sana. Apalagi di dalam gerai tersebut ada arena bermain anak-anak sederhana yang bisa digunakan anak-anak untuk bermain sambil makan.
Di dalam gerai tersebut, Zafira memilih kursi yang sedikit di pojok. Sembari menunggu pesanannya datang, Zafira bisa memberi baby Zafran ASI yang sudah Zafira persiapkan di dalam cooler bagnya.
Setelah selesai makan, mereka pun bergegas keluar dari dalam gerai. Belanjaan Zafira telah diambil salah satu bodyguard yang memang diutus Alvian untuk selalu menemani Zafira kemanapun ia pergi sebelum masuk ke gerai ayam goreng itu. Jadi mereka pun bisa melenggang pulang tanpa perlu berepot-repot membawa belanjaan lagi.
Saat mereka sedang berjalan keluar dari mall tersebut, tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya dengan gaya glamornya sudah berdiri di depan stroller yang didorong Zafira. Sontak saja Zafira terbelalak saat netranya menubruk netra wanita paruh baya tersebut.
"Wah, kebetulan sekali kita bertemu di sini! Jadi aku tidak perlu repot-repot mendatangi rumah kalian untuk mengambil cucuku," ucapnya dengan nada angkuh membuat Zafira mendadak cemas sambil melirik baby Zafran dari dalam stroller.
Perasaannya kian was-was saat melihat Liliana sudah mencondongkan tubuhnya untuk melihat baby Zafran yang ternyata sudah terbangun. Tampak bayi gembul itu sedang menggigit ibu jarinya sambil mengerjap polos membuat Liliana terpesona dengan rupanya yang sangat tampan. Benar-benar menggemaskan.
Saat Liliana hendak mengulurkan tangannya untuk menggendong, baby Zafran, dengan cepat Zafira menepis tangan Liliana. Tak peduli ia akan marah yang terpenting ia ingin mengamankan buah hatinya. Liliana sontak saja marah dengan apa yang Zafira lakukan.
"Apa yang kau lakukan perempuan sialan?" sentak Liliana garang membuat beberapa pasang mata mengalihkan perhatian mereka ke arah sumber suara.
"Kau yang apa-apaan nyonya tua? Seenaknya mengakui anakku sebagai cucumu. Apa kau sudah kehilangan kewarasanmu?" balas Zafira tak kalah garang.
__ADS_1
"Kurang ajar. Ternyata kau sudah mulai berani melawanku, hah. Baru dinikahi laki-laki seperti itu sudah membuatmu menjadi wanita yang congkak. Dasar tak tahu diri. Kau pikir kau dinikahi karena dia benar-benar mencintaimu? Hahaha ... Mau salah Fira. Mereka tidak benar-benar menyayangimu. Sebaliknya, kau hanya dimanfaatkan oleh mereka untuk membalas dendam. Kau tahu ... ibu mertuamu itu adalah adik tiriku. Adik tiri yang terbuang. Hahaha ... Dan mereka memanfaatkanmu untuk membalas dendam terhadapku. Mereka pikir mereka bisa melakukannya? Tidak. Katakan pada mereka, aku tidak akan takut pada mereka," seru Liliana dengan seringai mengejek.
Jelas saja Zafira tercengang mendengar kata-kata yang Liliana lontarkan. Alvian memang pernah mengatakan, ibu mertuanya itu pernah memiliki masalah dengan keluarga mantan suaminya dan hingga sekarang permasalahan itu belum kunjung usai. Entah permasalahan apa itu, Zafira belum tahu. Namun, mendengar apa yang barusan mantan mertuanya itu ucapkan cukup mengguncang jiwanya. Bagaimana bila semua itu benar? Ia hanya dimanfaatkan sebagai media perantara untuk membalas dendam.
"Tidak. Itu tidak mungkin. Jangan mengada-ada, nyonya. Aku tahu persis, mereka tidak seperti itu. Mereka bukan dirimu nyonya yang dengan piciknya mempermainkan hidup orang lain. Mereka tidak sama seperti dirimu manusia picik. Bahkan kau pun bisa dengan tega menjerat leher putramu sendiri dengan tali kekang layaknya seekor anjing agar selalu tunduk dan patuh terhadapmu. Kau memang seorang ibu yang mengerikan," balas Zafira dengan nada mencemooh. Ia memang sedikit terpengaruh dengan ucapan Liliana, tapi bukan berarti ia akan menerima informasi itu begitu saja tanpa menyaringnya terlebih dahulu. Apalagi ia tahu, Liliana merupakan wanita licik. Ia ibarat ular berbisa yang sangat berbahaya.
"Kurang ajar. Tutup mulutmu sialan!" bentak Liliana yang murka dihina secara terang-terangan di muka umum seperti ini.
"Kau yang titip mulutmu! Ingat, kau bukan siapa-siapaku lagi jadi kau tak berhak memerintahku."
Hek ... hek ... hek ...
Terdengar suara rengekan dari Baby Zafran yang masih berada di dalam stroller membuat kedua perempuan beda generasi itu mengalihkan pandangannya. Sinta sang baby sitter tidak bisa membantu sebab ia sedang menggendong Refina khawatir ia menangis.
Zafira pun hendak mengangkat baby Zafran tapi kini giliran Liliana yang menepis tangan Zafira membuat Zafira tersentak.
"Dia bukan cucumu, nyonya. Apa buktinya kalau dia cucumu, hah!" kesal Zafira yang kembali mengulurkan tangannya untuk menggendong Baby Zafran.
Liliana terdiam, memang ia tidak memiliki bukti apa-apa.
"Bahkan di akta kelahiran pun jelas-jelas tertulis nama ayahnya Alvian Altakendra, jadi darimana kau bisa menyimpulkan bayi ini adalah cucumu? Dasar aneh," cibir Zafira yang sudah tersenyum remeh. Bukan maksud hati ingin membuat nama ayahnya Alvian Altakendra. Ia tidak sejahat itu tidak mau mengakui Refano sebagai ayah kandung anak-anaknya. Namun mau bagaimana lagi, salah satu syarat untuk membuat akta kelahiran dan mencantumkan nama sang anak di kartu keluarga adalah adanya buku nikah, sedangkan pernikahan dirinya dan Refano saja hanya secara siri jadi bagaimana mungkin ia bisa memiliki buku nikah. Alhasil, ia pun terpaksa membuat akta kelahiran anak-anaknya dengan nama ayah Alvian Altakendra. Namun ia berjanji, suatu hari ia pasti akan menjelaskannya. Bagaimana pun Refano tetaplah ayahnya. Saat dewasa kelak pun, bila Regina dan Refina akan menikah, mereka membutuhkan Refano sebagai wali nikah mereka. Ini hanya untuk keperluan administrasi saja agar nama anak-anaknya terdaftar di negara dan diakui secara hukum di Indonesia.
Kesal tak mampu menjawab, Liliana pun kembali bergerak untuk merebut baby Zafran. Namun tiba-tiba datang dua orang yang menahan lengan Liliana di sebelah kanan dan kirinya. Mereka adalah kedua bodyguard Zafira yang baru saja kembali setelah menyimpan belanjaan Zafira di dalam mobil.
Liliana marah dan mencoba memberontak tetapi tidak bisa karena sepasang pria dan wanita yang mengenakan pakaian santai berwarna hitam itu menahan tangannya dengan cukup kuat.
__ADS_1
"Lepaskan aku sialan!" sentaknya, tapi kedua orang itu mengabaikan.
"Jangan pernah mengusikku dan anak-anakku lagi. Bila dulu aku diam karena masih menghormatimu sebagai mertuaku, tapi tidak kali ini. Aku takkan lagi diam. Seekor kucing jinak bisa menjadi macan betina yang garang bila anak-anaknya diusik, ingat itu!" desis Zafira sebelum berlalu dari hadapan Liliana. Melihat majikannya pergi, kedua bodyguard Zafira pun segera melepaskan Liliana dengan sedikit kasar membuat wanita tua itu hampir saja terjengkang bila saja ia tidak dapat mengontrol keseimbangan tubuhnya.
"Sial. Awas saja kau Zafira, aku pastikan akan merebut cucuku dari tanganmu," desis Liliana yang segera hendak berlalu dari sana. Melihat beberapa orang yang masih menontonnya, Liliana pun membentak mereka dengan wajah garang. "Apa kalian lihat-lihat! Awas saja bila ada yang berani menyebarkan video perdebatanku tadi. Aku pastikan akan memberikan pelajaran pada kalian?" ancamnya sebelum berlalu dari sana.
Setelahnya, Liliana pun meneruskan langkahnya sesuai dengan tujuannya semula, yaitu pusat jual beli perhiasan bernilai tinggi. Namun ia tak bertujuan ingin menjualnya, melainkan untuk menggadaikannya saja. Baru saja ia tiba di lantai yang ia tuju, ia berpapasan dengan seseorang yang ia kenal sebagai seorang kolektor perhiasan bernilai tinggi.
"Nyonya Mayra?" tegur Liliana.
"Ya, Anda ... siapa?" tanya wanita paruh baya dengan setelan glamournya.
"Saya Liliana,.nyonya. Istri Marwan dari YG Group," ujar Liliana bangga.
"Oh, istri pak Marwan. Maaf, saya lupa. Padahal saat ulang tahun perusahaan suami saya, kita pernah berkenalan ya." Ujarnya ramah. "Oh ya, Anda mau kemana?"
Liliana tersenyum lebar, mungkin ia bisa menawarkan pink star miliknya pada nyonya Mayra. Daripada repot-repot ke pusat jual beli perhiasan.
"Oh itu, saya mau menawarkan pink star milikku ke pusat jual beli perhiasan mewah. Suami saya sedang butuh tambahan modal untuk memperluas usahanya jadi saya berniat menggadaikan berlian pink star di sana."
"Anda punya Pink star? Serius? Wah, bagaimana kalau saya liat dulu! Bila harganya cocok, saya bersedia membantu Anda."
Mendengar penawaran tersebut, Liliana tak akan berpikir dua kali, ia pun langsung menerima penawaran tersebut. Lantas mereka segera menuju ke sebuah cafe untuk melakukan negosiasi.
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...