Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan

Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan
Otw ...


__ADS_3

Waktu begitu cepat berlalu, tanpa terasa sudah hampir 2 bulan berlalu semenjak Zafira melahirkan. Acara khitbah terpaksa ditunda karena kesibukan Alvian dengan projek barunya dan Zafira yang sibuk mengawal Regina yang kini kerap diundang ke berbagai acara. Bahkan Regina kini tidak demam panggung lagi karena telah terlalu sering diundang untuk memeriahkan berbagai macam acara di televisi. Regina bahkan sampai didapuk sebagai penyanyi cilik pendatang baru. Sudah berbagai label musik menawarkan kontrak kerja sama untuk mengorbitkan Regina dan membuatkannya album khusus, tapi Zafira masih mempertimbangkannya.


Kini kediaman Zafira tampak sedikit lebih sibuk dari hari biasanya. Beberapa orang tetangga Zafira tampak membantu Bu Mayang untuk menyiapkan beberapa makanan yang sudah dipesankan Zafira terlebih dahulu dari tetangganya yang memang pandai memasak. Sedangkan Zafira kini sedang berada di kamar, sedang didandani oleh anak tetangga Zafira yang memang memiliki bakat merias.


Tak lama kemudian, terdengar deru suara mobil di luar rumah. Zafira pun segera mematut penampilannya sekali lagi dengan senyuman sumringah. Setelahnya, ia pun pun bergegas keluar dari dalam kamar untuk menyambut tamu yang sejak tadi ia tunggu dengan jantung yang berdebar.


"Assalamu'alaikum," ucap para tamu itu dengan wajah-wajah bersinar.


"Wa'alaikum salam. Silahkan masuk Bu Ayu, Nak Alvian, dan ... tuan ... "


"Ini Afrizal, mbak. Dia ini ... anggap aja Om nya Al," ujar Bu Ayu yang bingung mau memperkenalkan Afrizal sebagai apa sebab mereka sebenarnya hanya sekedar kenalan. Tetapi semenjak bertemu kembali, Afrizal jadi sering menyambangi kediaman mereka.


"Oh iya, tuan Afrizal, silahkan duduk," ujar Bu Mayang mencoba beramah-tamah dengan calon besan dan menantunya. Lalu Zafira pun ikut bergabung dan menyalami tamunya satu persatu. Setelah itu, ia kembali ke dapur untuk membawa beberapa hidangan juga minuman untuk para tamu istimewanya hari itu.


Kemudian, tanpa basa-basi, Alvian pun menyampaikan niatnya ingin mengkhitbah Zafira. Zafira yang merasa tersanjung sebab Alvian ternyata benar-benar serius dengan perkataannya. Tak ada alasan untuk menolak lamaran itu. Terlebih dengan segala yang telah Alvian lakukan dan berikan kepadanya dan juga anak-anak serta ibunya, membuatnya tersanjung dan perlahan patah hatinya justru berganti menjadi bunga-bunga yang bermekaran.


"Bagaimana nak, kamu bersedia dikhitbah nak Alvian?" tanya Bu Mayang meminta kepastian agar lebih melegakan dan jelas bagi semua orang.


Dengan wajah bersemu malu-malu, Zafira pun mengangguk, "iya Bu, Fira bersedia," jawab Zafira tegas dan lugas.


Semua orang pun berseru Alhamdulillah sambil tersenyum sumringah.

__ADS_1


Kemudian mereka pun kembali menyepakati kapan hari pernikahan akan dilangsungkan.


"Kalau Minggu depan aja gimana, Bun, Bu, Ra?" tanya Alvian yang sudah tak sabar lagi ingin menjadikan Zafira menjadi pendamping hidupnya.


Sontak saja semua orang yang ada di sana terbelalak. Pun beberapa ibu-ibu yang tadi membantu-bantu Bu Mayang dan tampak masih duduk-duduk di dalam sana. Mereka tersenyum geli mendengar penuturan yang menunjukkan rasa ketidak sabaran Alvian untuk menikahi Zafira. Mereka maklum, mungkin karena terlalu lama membujang, Alvian sampai tidak sabar ingin menyesap manisnya berumah tangga dengan pujaan hati tercinta.


"Astaga Al, nggak sabar banget. Itu mepet banget lho waktunya. Nikah itu bukan perkara ijab kabul doang, tapi banyak yang mesti diurus dari menyiapkan undangan, mencari EO, mencari lokasi pesta, emangnya pesan gedung itu sehari langsung ada. Biasanya nyewa gedung itu harus jauh-jauh, nggak bisa sekali bilang, besoknya langsung bisa dipake. Terus mau fitting baju pengantin, dan masih banyak lagi." Omel Bu Ayu membuat Alvian mengerucutkan bibirnya.


Zafira terkekeh sambil menutup mulutnya, merasa geli sendiri melihat tingkah Alvian yang benar-benar sudah tak sabaran menikahinya.


"Apa kata bundamu benar, nak. Nggak semudah itu. Semuanya perlu direncanakan dengan matang," imbuh Bu Mayang menimpali.


"Tapi Bun, Bu, Al ... duh ... kenapa mesti ribet banget sih!" gumamnya sambil menggaruk pelipisnya membuat tawa semua orang pecah.


Mau bagaimana lagi, ibaratnya, ia sudah benar-benar kebelet nikah dan kawin. Wajar kan, dia laki-laki normal yang sudah cukup umur. Yang umurnya masih bau kencur aja zaman sekarang kebanyakan sampai jebol gawang sebelum kata sah mengumandang, tapi Alvian bersyukur ia mampu menjaga diri dari perilaku yang zaman sekarang sudah dianggap lazim oleh segelintir orang. Ia benar-benar menjaga dirinya hanya untuk wanita yang memang memiliki hak atas dirinya, yaitu perempuan yang bergelar sebagai istrinya.


"Sudah, sudah, begini saja, kalau mau bersabar sedikit lagi, saya bisa mempersiapkan segalanya dalam 2 Minggu, apa kamu bersedia menunggu selama 2 Minggu Al?" Merasa iba dengan Alvian yang sudah kebelet nikah dan kawin, Afrizal pun mengutarakan niat untuk membantunya. Mungkin bagi orang biasa waktu 2 Minggu terlalu singkat untuk mempersiapkan segala te tek bengek urusan pernikahan, tapi bagi Afrizal itu tak masalah. Ia memiliki banyak kenalan dan koneksi yang ia yakini akan bersedia untuk membantunya.


Mendengar kata-kata tersebut, wajah Alvian sontak sumringah. Matanya berbinar-binar bagai kejatuhan uang sekarung dari langit.


"Beneran, Om? Bun, Bu, Ra, bagaimana? Kalian setuju kan?" seru Alvian meminta persetujuan ketiga perempuan yang duduk di sana.

__ADS_1


Bu Ayu dan Bu Mayang saling menoleh, kemudian mereka mengalihkan pandangannya pada Zafira. Tahu ibu dan calon ibu mertuanya meminta pendapatnya, Zafira lantas mengangguk setuju.


"Mana baiknya aja, Bu, Bun, bukankah katanya niat baik harus disegerakan jadi Zafira setuju aja." Ucap Zafira mantap yang artinya Zafira setuju dengan permintaan Alvian.


Tanpa rasa malu, Alvian bersorak kemudian mengucapkan Alhamdulillah dengan lantang membuat semua orang terkekeh melihat tingkah absurd laki-laki itu.


Sementara Zafira sedang berkumpul bahagia dengan keluarga dan calon suami serta calon mertuanya, di sebuah rumah sakit tampak seorang perempuan sedang berjuang menahan sakit di area perutnya. Darah mengalir deras dari area diantara kedua pahanya membuat tim dokter terlihat begitu sibuk untuk menanganinya. Perempuan itu tampak terus meringis menahan sakit sampai nafasnya terengah-engah. Ketersediaan oksigen seakan menipis membuatnya begitu kesulitan menarik nafas.


"Sa-kit," pekik tertahan Saskia sambil mencengkram erat seprai tempatnya berbaring. Ia baru saja sadarkan diri beberapa menit yang lalu.


"Tenang ya, Bu. Kami akan segera melakukan tindakan C-section untuk menyelamatkan buah hati Anda." Ujar dokter yang bertugas menangani Saskia.


Siang tadi, tiba-tiba saja Saskia merasakan perutnya terasa begitu kram sampai-sampai ia tak sanggup beranjak. Saat itu, tak ada siapa-siapa di rumah. Ingin menghubungi Refano ataupun Liliana, tapi ponselnya tertinggal di meja ruang tamu membuat Saskia kian tersiksa kesakitan. Kemudian Saskia pun memaksakan diri untuk mengambil ponselnya, namun saat ia baru saja hendak menurunkan kakinya dari atas ranjang, tiba-tiba saja Saskia terjerembap ke atas lantai karena kakinya yang lemas mengakibatkan ia pendarahan. Hingga 30 menit kemudian ia baru ditemukan asisten rumah tangganya dalam kondisi sudah tak sadarkan diri oleh asisten rumah tangganya. Bik Minah pun segera menghubungi Liliana dan dibantu penjaga rumah, mereka pun membawa Saskia ke rumah sakit.


"Bagaimana keadaan Saskia, ma?" tanya Refano yang baru saja tiba di rumah sakit.


"Dia pendarahan jadi harus menjalani operasi Caesar," ucap Liliana gelisah.


Refano meraup wajahnya frustasi. Tiba-tiba ia mengingat bagaimana Zafira melahirkan ketiga anaknya dan tak ada satupun ia ikut andil dalam menemani mantan istrinya itu melahirkan buah zuriatnya ke dunia ini. Ada rasa sesal yang mencengkram erat jantungnya.


...***...

__ADS_1


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2