Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan

Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan
Kebiasaan baru Alvian


__ADS_3

Seminggu telah berlalu semenjak kenyataan mencengangkan menyentak mental keluarga Refano. Bahkan semenjak itu, Liliana jadi sering sakit-sakitan karena terlalu shock. Ia sempat dirawat beberapa hari di rumah sakit karena serangan jantung ringan. Padahal baru segelintir kenyataan yang mereka ketahui, tapi mental mereka telah begitu terpukul, apalagi saat mereka mengetahui fakta tentang siapa Alvian sebenarnya.


"Mama nggak sarapan?" tanya Refano pada sang ayah yang turun ke meja makan seorang diri.


Marwan menggeleng, "katanya makan aja duluan. Mama makan di kamar aja. Masih belum napsu makan," jawabnya sambil mendudukkan bokongnya di kursi. "Fan," panggil Marwan tiba-tiba membuat Refano yang baru saja hendak menyuapkan roti ke dalam mulutnya menghentikan gerakannya.


"Apa?" jawab Refano datar.


"Kau bisa menghubungi Zafira?" Ucap Marwan tiba-tiba membuat Refano sontak menolehkan kepalanya dengan raut tak terbaca. Pun Saskia sudah mengarahkan pandangannya pada ayah mertuanya dengan tangan terkepal.


"Untuk apa?"


"Papa pikir, tak ada salahnya minta bantuan dia agar Mr. Jay mau berinvestasi dengan perusahaan kita." Ucap Marwan tanpa tahu malu.


"Tidak. Aku tidak setuju." Jawab Refano tegas. Setelah apa yang mereka lakukan selama ini pada mantan istrinya, tentu ia masih memiliki rasa malu untuk meminta bantuan wanita yang bertahun-tahun ia sakiti itu.


"Kenapa tidak setuju? Perusahaan sedang tidak baik-baik saja. Bila tidak segera ditindaklanjuti, bukan tidak mungkin perusahaan kita akan benar-benar bangkrut. Apalagi beberapa pemegang saham sudah menarik saham mereka dari perusahaan kita, kita butuh bantuan Zafira, Fan."


"Apa tidak ada cara lain?"


Marwan menggeleng, "ini jalan satu-satunya."

__ADS_1


Mendengar penuturan tersebut, Refano mendengkus, "Apa papa pernah berpikir, apa mungkin dia mau membantu kita yang telah membuangnya? Salahkan papa dan mama sendiri yang selalu bersikap egois dan selalu memandang rendah dirinya. Aku tahu, aku pun turut andil menyakitinya, karena itu aku merasa malu." Tutur Refano dengan sorot mata tajam. Tak pernah sekalipun seumur hidupnya menentang ataupun menolak perintah orang tuanya. Baru kali ini ia memiliki keberanian menolak perintah ayahnya yang menurutnya tak masuk akal.


"Apa yang mas Refano katakan benar, pa. Apa papa lupa, kita memiliki perjanjian untuk tidak menggangu hidupnya lagi jadi dia pasti ... "


"Tidak usah ikut campur urusan kami. Kalau tidak bisa membantu apa-apa, lebih baik tutup saja mulut tak bergunamu itu!" sentak Marwan pada Saskia membuat wanita hamil itu terhenyak. Baru kali ini ayah mertuanya berbuat kasar seperti itu padanya.


Semenjak tahu mantan menantunya sebenarnya wanita yang luar biasa, penilaiannya pada Saskia sontak berubah. Memang selama mengenalnya, tak ada sumbangsih yang berarti yang bisa perempuan itu lakukan, tidak seperti Zafira yang padahal ia belum lama keluar dari rumah itu dan artinya belum lama juga ia bekerja di perusahaan Alta Corp, tetapi sudah bisa membawa perusahaan itu ke puncak kejayaan. Saskia hanya memiliki kelebihan mampu memberikan mereka keturunan laki-laki, tapi tak ada kelebihan yang lain. Sangat-sangat jauh berbeda dengan Zafira yang ternyata memiliki kemampuan di luar ekspektasi mereka semua.


Selain Zafira yang memang hebat, pemimpinnya pun ternyata sangat hebat. Masih begitu muda tapi sudah mendirikan perusahaan sampai sebesar itu. Setelah mencari tahu, ia baru tahu asal muasal Alta Corp, hanya sebuah pabrik dari usaha kecil yang dirintis kakek dan neneknya, namun berkembang begitu pesat dan berhasil berkembang menjadi sebuah perusahaan di tangan Alvian dalam tempo tak sampai 10 tahun. Tapi sayang, Marwan tidak dapat menemukan identitas orang tuanya. Ia pun sebenarnya penasaran dengan sosok Alvian, apalagi melihat wajahnya yang begitu familiar di matanya.


Sementara meja makan itu diisi dengan perdebatan antara Marwan, Refano, dan Saskia, di kamarnya, Liliana tak henti-hentinya memijit pelipisnya. Kepalanya seperti mau pecah. Rasa malu menyeruak mengingat bagaimana ia memberikan kartu nama Refano pada Zafira yang ternyata mantan menantunya sendiri.


"Bodoh, bodoh, bagaimana aku bisa begitu bodoh tidak mengenali perempuan itu? Aku pikir wajahnya saja yang mirip, tapi nyatanya ia memang benar-benar Zafira. Bagaimana bisa ia sehebat, secantik, dan seanggun itu? Haish, semua orang tampak memuji Zafira, bodohnya aku baru tahu kalau ia ternyata pintar. Aku juga baru tahu, kalau dipoles sedikit saja, ia bisa langsung berubah, dari itik buruk rupa menjadi angsa emas. Apa aku harus mendekatinya kembali ya? Membujuknya agar mau kembali dengan Refano. Tapi bagaimana dengan Saskia? Dia sedang hamil cucu yang selama ini kami idam-idamkan. Aaargh ... aku harus apa?" racaunya sambil memijit pelipisnya.


"Om papa," teriak Regina dan Refina yang langsung berhambur ke pelukan Alvian saat pemuda itu turun dari dalam mobilnya yang baru saja tiba.


"Regi, Refi, jangan lari-larian kayak gitu! Nanti jatuh," tukas Zafira sambil menggendong baby Zafran.


"Halo anak-anak cantiknya Om Papa. Uh, wanginya. Siapa yang mandiin tadi sih?" ucap Alvian sambil menguyel-uyel pipi Regina dan Refina bergantian dengan ujung hidung bangirnya.


"Regi mandi sendiri, Om papa, kalau Refi dibantu mama. Tapi kalau pakai baju sama pakai minyak telonnya, dipakein mama." Jawab Regina sambil menggandeng Alvian, mengajaknya masuk ke dalam rumah, sedangkan Regina telah berada di dalam gendongan Alvian.

__ADS_1


"Ampun deh ini bocah, manja bener sama kamu Al," ucap Zafira sambil geleng-geleng melihat kedekatan kedua putrinya dengan Alvian.


"Itu bagus dong, jadi kalo kita udah resmi jadi suami istri, kami udah nggak canggung lagi. Namanya juga calon papa yang baik. Nggak kayak si Ono yang nggak bisa melihat betapa menggemaskannya anak-anak cantik ini." Jawab Alvian membuat Zafira tersenyum manis. Lalu Alvian mengalihkan pandangannya pada Refina, "sayang, Om papa mau gendong adek Zafran, boleh?" Alvian meminta izin sebab gadis kecil itu masih bergelayut manja di lengan Alvian.


"Lefi mau nonton aja, Om papa." Refina lantas meminta diturunkan di karpet bulu tempat mereka biasa menonton bersama.


Alvian tersenyum dan mendudukkan Refina pelan-pelan di karpet bulu yang dimaksud. Setelahnya, Alvian mengulurkan tangannya untuk menggendong baby Zafran. Karena baby Zafran berada di gendongan Zafira, tanpa sengaja kulit mereka bergesekan, seperti ada arus listrik yang menyengat keduanya membuat kedua insan itu saling bertatapan dengan penuh kekaguman.


"Makin hari kamu terlihat makin cantik, Ra. Aku jadi takut, takut kamu digaet orang lain sebelum aku sempat halalin kamu." Bisiknya membuat Zafira mendelik tajam.


"Memangnya aku semudah itu berpindah hati."


"Maklumlah sayang, apalagi semenjak malam itu kamu makin banyak dikenal banyak pengusaha. Bagaimana kalau mereka nikung kamu duluan. Bisa-bisa aku jadi perjaka tua deh."


Mendengar kata-kata itu, Zafira lantas terkikik. "Bagus dong, jadi kamu bakal nunggu aku lagi."


"Daripada aku ditikung, mending aku buat kamu tekdung duluan biar nggak ada yang mau rebut kamu lagi."


"Heh, mulutnya sembarangan banget ngomongnya!" Zafira lantas menjepit bibir Alvian dengan jari-jarinya membuat mulut itu sudah seperti mulut bebek. Bukannya marah, Alvian malah menarik bibirnya dan dengan cepat mengecup tangan Zafira membuat perempuan itu ternganga dengan pipi bersemu merah.


"Eleh, eleh, ada yang malu tuh, sayang. Mama kalo lagi malu cantik banget ya. Bikin gemes pingin ... ciVok," ucap Alvian dengan kata terakhir ia bisikkan di telinga Zafira sehingga pipi perempuan itu makin memerah saja. Sengaja ia membisikkan kata terakhir itu agar tidak didengar anak-anak. Bisa bahaya bila mereka mendengar dan bertanya apa artinya.

__ADS_1


"Al, ish ... nyebelin banget sih!" Omel Zafira dengan bibir menahan senyum dan pipi yang bersemu merah.


Alvian tergelak melihat ekspresi Zafira yang sangat menggemaskan menurutnya. Beberapa hari ini kebiasaannya telah bertambah, selain menyambangi rumah kontrakan calon istrinya itu, ia juga suka menghitung tanggal di kalender. Berharap hari yang ditunggu-tunggu segera tiba. Setiap menghitungi tanggal, bisa selalu mengomel, 'mengapa 40 hari saja terasa lama banget sih?' omelnya. Seperti itulah waktu, bila sengaja ditunggu, maka akan terasa begitu lama berlalu. Sebaliknya, bila tidak ada yang ditunggu, begitu cepat berlalu.


__ADS_2