
Tiba-tiba suara dering ponsel Refano membuyarkan lamunan ketiga orang itu. Melihat nama yang tertera, Refano pun segera mengangkatnya.
"Halo, pa," ucap Refano.
" ... "
"Apa? Itu ... itu nggak mungkin ... " cicit Refano dengan wajah piasnya.
Liliana dan Saskia yang melihat wajah pias Refano jadi bertanya-tanya, siapakah yang baru saja menghubungi Refano dan apa yang sebenarnya terjadi sehingga wajah Refano sampai tampak pucat pasi seperti itu.
"Ada apa, Fan? Siapa yang menghubungimu barusan?" tanya Liliana khawatir.
"Iya mas, apa yang sebenarnya terjadi?" imbuh Saskia yang juga penasaran.
"Pabrik ... pabrik kita ... pabrik bahan baku produksi yang baru saja dibangun dan baru saja mulai beroperasi seminggu yang lalu mengalami ... kebakaran dan ... semuanya habis tanpa sisa," ucapnya terbata.
Nafas Liliana dan Saskia tiba-tiba tercekat. Ia sudah bisa membayangkan berapa besar kerugian yang akan mereka tanggung. Apalagi Saskia yang pernah menjabat sebagai sekretaris Refano, ia sangat tahu berapa besar uang yang perusahaan mereka gelontorkan untuk pembangunan pabrik baru itu dan kini semuanya habis terbakar beserta isi-isinya. Tentu kerugian sudah bisa diprediksi 2 kali lipat bahkan bisa saja lebih besar karena pabrik itu baru saja beroperasi dan telah diisi dengan bahan baku produksi yang cukup banyak karena memang pabrik tersebut dibangun 5 kali lebih besar dari pabrik sebelumnya agar dapat menampung barang lebih banyak.
"Astaga, bagaimana itu bisa terjadi?" gumam Liliana dengan wajah yang kian pias. Belum hilang rasa terkejutnya tadi saat melihat kembali sosok wanita yang pernah ia singkirkan dengan cara yang kejam, lalu kini ia kembali dikejutkan dengan pabrik baru mereka yang hangus terbakar sehingga mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit.
"Papa juga belum tahu pasti. Tapi menurut investigasi sementara kebakaran ini terjadi karena adanya hubungan arus pendek," ungkap Refano sambil memijit pelipisnya yang tiba-tiba pening. Begitupula Liliana dan Saskia, mereka pun mendadak khawatir sebab kerugian kali ini tidaklah main-main.
...***...
Seminggu telah berlalu dan sejak 2 hari yang lalu Zafira telah pulang ke rumah kontrakan mereka. Tepat di hari ke-tujuh setelah bayi Zafira dilahirkan, Zafira pun mengadakan aqiqah kecil-kecilan di rumah mereka. Mereka mengundang para tetangga, beberapa kenalan dekat, dan juga keluarga Alvian. Mereka tidak memasak sendiri menu untuk aqiqah hari itu, melainkan langsung meminta rumah pemotongan kambing yang juga menawarkan untuk memasakkan langsung kambingnya sesuai keinginan pembeli.
__ADS_1
Bayi laki-laki Zafira diberi nama Muhammad Zafran Altakendra. Nama tersebut diberikan oleh Alvian. Zafira sendiri yang menawarkan Alvian untuk memberikan nama sebab ia merasa banyak berjasa dari mulai mengantar hingga mendampingi dirinya selama proses persalinan.
Alvian pun dengan senang hati memberikan nama pada putra Zafira tersebut. Tak lupa ia menyematkan namanya sebab ia telah menganggap bayi mungil itu seperti putranya sendiri.
'Jadi apa kamu sudah menyiapkan nama untuk bayi ini, nak?" tanya Bu Ayu lagi pada Zafira. Tapi Zafira menggeleng. Ia memang belum menyiapkan nama anak laki-laki sebab ia justru menyiapkan nama anak perempuan menyesuaikan dengan hasil USG pertamanya. Ia benar-benar tidak terpikirkan kalau anak yang lahir ini merupakan anak laki-laki. Pantas saja ia merasakan banyak perbedaan pada kehamilan ketiganya ini. Mulai dari lebih mudah lelah dari kehamilan pertama dan kedua, lebih sering mudah lapar dan sangat menyukai makanan yang berbahan dasar daging, sering merasa sakit kepala, dan banyak lagi yang lainnya. Dan yang paling ia rasakan yaitu saat kontraksi berlangsung. Rasa nyerinya berkali-kali lipat dari kontraksi hamil Regina dan Refina.
'Belum Bu,' jawab Zafira sambil tersenyum malu.
'Kok masih ibu sih? Meskipun kamu belum resmi dikhitbah Alvian, tapi bunda udah anggap kamu sebagai calon menantu bunda , jadi bunda harap mulai hari ini kamu membiasakan memanggil bunda sama seperti Alvian. Jadi, coba panggil bunda juga sama kayak Alvian?' tegas Bu Ayu dengan wajah serius.
'Bu-bunda,' cicit Zafira malu-malu.
Bu Ayu tersenyum cerah. Ia bahagia bukan main.
'Bagus. Jadi ... bagaimana dengan nama si kecil? Kasihan lho dedeknya belum ada nama.'
Zafira menggeleng, pikirannya benar-benar blank saat ini. Terlalu banyak hal yang mengejutkannya membuat kinerja otaknya tidak bisa berfungsi secara maksimal.
'Al, apa kau punya sebuah nama yang bagus untuknya?' tanya Zafira yang sudah mengalihkan pandangannya pada Alvian.
Alvian tersenyum lebar, 'sebenarnya sejak tadi aku sudah terpikirkan satu nama yang bagus.'
'Apa itu?' tanya Zafira penasaran.
'Muhammad Zafran Altakendra. Muhammad seperti yang kita tahu merupakan nama dari Baginda Rasulullah. Dan Zafran ini diambil dari bahasa Arab yang artinya adalah bunga yang berwarna keemasan. Beberapa pendapat lainnya menyatakan, nama Zafran mempunyai makna seorang pemenang maupun seseorang yang beruntung. Selain itu, Zafran juga merupakan ... akronim dari nama kita,' ujar Alvian malu-malu karena memang awal ia kepikiran nama itu karena menggabungkan nama Zafira dan dirinya, Zafran, Zafira dan Alvian. 'Sedangkan Altakendra adalah nama belakangku yang juga berasal dari nama belakang kakekku. Jadi bagaimana? Apa kau ... menyukainya?' tanya Alvian antara ragu, malu, dan was-was.
__ADS_1
Senyum merekah di bibir Zafira, Bu Ayu, dan Bu Mayang. Apalagi Zafira, ia tidak menyangka Alvian sampai membuat nama yang merupakan gabungan nama mereka untuk nama bayinya. Hal itu tentu saja membuatnya terharu sekaligus mendebarkan jantungnya. Perlahan hatinya meyakini, kalau Alvian memang memiliki perasaan khusus padanya.
Zafira mengangguk seraya tersenyum lebar, 'nama yang indah. Aku menyukainya.'
'Ibu juga setuju. Nama yang bagus dan memiliki arti yang indah,' sahut Bu Mayang.
'Ternyata anak bunda memang sudah benar-benar siap menjadi seorang ayah. Sebuah nama yang penuh makna. Bunda pun suka. Semoga doa dan harapan kalian dikabulkan Allah SWT, menjadikannya anak yang beruntung. Bukan hanya Zafran yang beruntung, tapi kalian juga karena kelahiran Zafran membuka peluang besar untuk kalian bersatu,' ungkap Bu Ayu yang diaamiinkan Zafira dan Alvian dalam hati.
Acara aqiqah baby Zafran selesai tepat pukul 1 siang. Setelah semuanya usai, para tamu pun berangsur pulang ke rumah masing-masing.
"Om papa, Om papa, besok bisa anterin Regi ke sekolah nggak?" tanya Regina yang saat itu sedang duduk bertiga dengan Refina dan Alvian. Setelah tahu Alvian akan menjadi papanya, Regina dan Refina pun kompak memanggil Alvian dengan panggilan Om papa.
Zafira yang baru saja keluar dari kamar setelah menidurkan baby Zafran lantas ikut bergabung dengan ketiga orang itu.
"Emangnya kenapa Regi mau Om papa anterin ke sekolah? Kan kasihan Om papa, sayang. Om papa jadi harus bolak-balik. Jadi ngerepotin Om papa, dong. Perginya kayak biasa aja ya, sama mama," sergah Zafira merasa tak enak hati merepotkan Alvian.
"Aku nggak papa kok, Ra. Aku malah seneng Regi minta anterin aku. Aku jadi ngerasa berguna untuk mereka dan membuat mereka makin dekat denganku juga. Aku kan calon papa mereka jadi mulai saat ini mereka akan jadi tanggung jawabku. Kamu nggak usah khawatir aku merasa direpotkan. Sebaliknya, aku merasa sangat senang kalian mulai bergantung padaku," ucap Alvian yang membuat Zafira lagi-lagi terharu. Perhatian kecil Alvian lagi-lagi membuatnya terpesona. Lalu bagaimana bisa ia menolak laki-laki itu bila ia saja bukan hanya mampu mengambil hati dirinya, tapi juga anak-anaknya. "Baiklah princess Regina, besok pagi Om papa jemput. Om papa pasti akan anterin Regina ke sekolah," ucap Alvian membuat Regina bersorak kegirangan.
"Om papa, kalau Lefi udah sekolah, Om papa juga antelin Lefi kan?"
"Tentu dong. Refi juga akan Om papa anterin. Bahkan Refi mau kemana pun, Om papa pasti anterin. Tapi itu kalau Om papa nggak sibuk ya." Ucap Alvian lagi membuat senyum Regina dan Refina merekah ceria. Pemandangan yang tak pernah ia lihat saat di rumah Refano, kini justru ia lihat di sini, bersama laki-laki lain yang bukan ayah kandungnya. Dalam hati, Zafira bersyukur pada yang maha kuasa karena telah mengirimkan laki-laki seperti Alvian yang bukan hanya mau menerima dirinya, tapi juga ketiga anaknya. 'Semoga kita benar-benar berjodoh,' gumam Zafira dalam hati.
...***...
Maaf othor baru sempat update, tadi othor benar-benar sibuk. Ini aja belum mandi soalnya baru pulang dari rumah mertua. 😁
__ADS_1
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...