Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan

Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan
Lamaran


__ADS_3

"Tidaaak ... rahimku tidak mungkin diangkat. Kalian pasti bohong kan! Kalian semua pembohong. Tidak mungkin rahimku diangkat. Aku pasti masih bisa hamil kan!" teriak Saskia dari dalam kamar rawat inapnya.


Seminggu telah berlalu, Saskia sebenarnya telah sadarkan diri sejak 6 hari yang lalu, tapi pihak dokter maupun orang tua Saskia baru memberitahukan kenyataan kalau rahimnya telah diangkat pada hari ini. Mereka hendak memastikan kesehatan mental Saskia terlebih dahulu. Mereka tak ingin gegabah memberitahukan fakta menyakitkan itu.


Namun, meskipun mereka telah mewanti-wanti sebelumnya, yang namanya fakta mengejutkan tetap saja memberikan shock terapi pada Saskia. Ia begitu terpukul dan tidak terima atas fakta mengejutkan itu. Dirinya seorang perempuan, tentu memiliki keinginan untuk bisa hamil seperti perempuan lainnya. Ia ingin bisa memberikan keturunan pada suaminya. Meskipun ia telah berhasil melahirkan seorang putra, tapi tetap saja hal ini menyakitkan dan Saskia tidak mampu menerimanya.


"Tenang Saja, tenangkan dirimu. Mama minta kamu tenang." Bu Merry mencoba menenangkan Saskia seraya terisak tapi Saskia tetap saja memberontak.


"Tenang kata mama? Bagaimana aku bisa tenang, ma? Bagaimana aku bisa tenang sementara rahimku sudah diangkat? Bagaimana aku bisa tenang sementara kini aku sudah menjadi perempuan cacat? Bagaimana, ma? Bagaimana?" Teriak Saskia.


Emosi yang membara, membuatnya lupa kalau luka bekas operasinya masih basah dan belum benar-benar pulih. Namun ia mengabaikannya sebab ia sedang benar-benar terpukul saat ini.


"Tapi mau bagaimana lagi, nak? Kalau tidak diangkat pun tetap kau akan kesulitan hamil. Dan lebih bahayanya, penyakit itu bisa berkembang menjadi ganas yang membahayakan jiwamu. Bagaimana mama dan papa bisa diam saja? Tidak mungkin mama dan papa membiarkan begitu saja penyakit itu tumbuh kembang di dalam tubuhmu. Tidak mungkin. Kamu lebih baik tidak bisa hamil lagi, dari pada kamu menderita karena penyakit yang lambat lain menggerogoti tubuhmu." Jelas Bu Merry mengungkapkan alasan mereka memilih mengangkat rahim putrinya itu.


"Tapi ma ... tapi bagaimana kalau mas Refano tiba-tiba menceraikan ku karena kondisiku? Bagaimana, ma? Aku ... aku nggak mau cerai dengan mas Refano, ma. Mama tahu kan kalau aku sejak dulu mencintainya dan aku takkan bisa kehilangan dia." Lirih Saskia dengan berderai air mata. Saat ini Liliana dan Refano sedang tidak berada di sana. Semenjak beberapa hari ini, kondisi kesehatan Liliana pun sedang kurang bagus, alhasil ia pun sedang mendapatkan perawatan di rumah sakit yang sama.


"Bukankah kamu sudah melahirkan anak laki-laki seperti keinginan mereka? Jadi kau tidak perlu khawatir lagi. Kau sudah memenuhi keinginan mereka, tinggal mereka yang memenuhi keinginanmu. Jadikan anakmu senjata untuk terus bertahan di dalam keluarga itu. Kamu memang tidak bisa hamil lagi, tapi kau punya anak laki-laki, jadi tenang lah," ucap Bu Merry berusaha memprovokasi Saskia agar tenang dan kembali bersemangat untuk mempertahankan rumah tangganya.


"Mama benar. Aku bisa menjadikan anak itu sebagai senjata. Tapi ... bukankah kata mama anakku lahir dengan keadaan Asfiksia, bagaimana kalau hal itu berpengaruh pada tumbuh kembangnya?" Saskia telah mengetahui bagaimana keadaan anaknya saat ini sebab saat pertama kali sadarkan diri, yang dicarinya adalah bayinya. Ia khawatir bayinya tidak dapat diselamatkan. Tapi beruntung, bayi kecil itu masih dapat diselamatkan. Namun, saat tahu kondisi sang buah hati, timbul rasa was-was dalam diri Saskia. Apalagi setelah ia membaca beberapa artikel dampak kelahiran Asfiksia pada bayi ke depannya.


"Kamu tenang saja, bayimu akan baik-baik saja. Kau harus yakin itu." Bu Merry terus memotivasi Saskia agar tidak berpikir macam-macam lagi.


Setelah ditenangkan sang ibu, akhirnya Saskia pun lebih tenang sekarang. Tak masalah pikirnya tak bisa hamil lagi, tapi yang penting ia sudah memiliki senjata untuk mempertahankan posisinya, apalagi kalau bukan anak laki-lakinya. Satu sudut bibir Saskia terangkat, ia merasa menang dari Zafira sekarang.


...***...


Hari ini Alvian dan Zafira memiliki jadwal untuk fitting gaun pengantin. Untuk itu, tepat pukul 12 siang, Alvian telah tiba di rumah Zafira untuk menjemputnya ke butik sesuai yang ditunjukkan sang bunda. Tapi sebelum itu, Alvian berniat mengajak Zafira makan siang berdua terlebih dahulu.


"Om papa pinjam mamanya dulu nggak papa kan?" tanya Alvian hati-hati pada Refina yang sudah mengerucutkan bibirnya sebab akan ditinggal hanya dengan sang nenek dan adiknya saja. Dimana Regina? Ia sedang diundang ke sebuah stasiun radio. Ia ditemani oleh salah seorang sepupu Nova yang memang dipekerjakan Alvian untuk mengawal dan menemani Regina kemanapun pergi. Tapi tentu saja itu semua atas persetujuan Zafira terlebih dahulu. Ia tak mau anaknya diforsir untuk melakukan segala hal. Bagaimana pun, Regina masih anak-anak, ia tidak boleh terlalu banyak kegiatan yang bisa membuatnya lelah apalagi kehilangan masa kanak-kanaknya. Ia mengizinkan bila itu memang diinginkan anaknya dan tentunya tidak terlalu menguras tenaga, bila tidak, maka Zafira akan melarang. Masa kanak-kanak itu hanya sebentar, Zafira tak ingin kehilangan momen bersama anak-anaknya dengan membuat anaknya terlalu larut dalam kesibukan yang melelahkan.

__ADS_1


"Tapi janji, mama ya Om papa balikkin lagi ya?" Refina mengulurkan jari kelingkingnya membuat Alvian gemas dan membalas dengan mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Refina.


"Janji," ucap Alvian seraya mengulum senyum.


"Telus ... "


"Eh, masih ada? Terus apa?"


"Telus Om papa jangan lupa bawain Lefi ayam ciken," ujar Refina polos membuat Alvian mengerjap bingung kemudian mengalihkan tatapannya pada Zafira yang sedang menahan tawa.


"Ayam ciken?" beo Alvian sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"Om papa masa' nggak tau ayam ciken sih? Itu lho yang ayamnya digoleng kiyuk-kiyuk gitu. Kalau kak Legi nyebutnya ayam kepci," ucap Refina membuat Zafira meledakkan tawanya, pun Alvian yang sudah terkekeh geli saat baru mengetahui apa yang calon putri sambungnya itu maksud.


"Oh, ayam goreng itu! Oke deh, emang Refi mau berapa banyak?" tanya Alvian lalu Refina mengangkat ke sepuluh jarinya membuat mata Alvian membulat.


"Banyak banget, emang buat siapa saja?" tanya Alvian gemas.


"Lho, emang adek Zafran udah bisa makan?"


"Eh iya ya Om papa, Lefi lupa. Ya udah, 2 nya buat Om papa aja deh." Ucap Refina yang makin membuat Alvian gemas hingga tak tahan untuk mencium pipi gembulnya.


Setelah berpamitan dengan Refina dan Bu Mayang, Alvian pun membawa Zafira ke salah satu restoran mewah yang ada tak jauh dari butik tujuan mereka. Mereka menduduki salah satu kursi yang terletak di sudut ruangan dekat dengan jendela kaca. Dari sana, mereka dapat melihat taman yang dipenuhi aneka bunga warna-warni membuat Zafira merasa takjub.


Setelah menyelesaikan memakan menu utama, kini tibalah mereka akan menyantap menu penutup atau dessert. Dessert kali ini, Alvian memesan manggo cheese cake.



Dengan perasaan bahagia, Zafira pun menyantap manggo cheese cake tersebut sambil tersenyum. Lalu tiba-tiba ia menemukan sesuatu di dalam manggo cheese cake tersebut. Sebuah benda berbentuk melingkar berwarna keemasan. Dengan perlahan, Zafira mengangkat benda tersebut menggunakan sendok. Mata Zafira membelalak dengan mulut menganga saat melihat benda berwarna kuning keemasan dengan bagian tengah terdapat sebuah permata berwarna merah muda.

__ADS_1


"Al ... ini ... "


Zafira tak mampu mengungkapkan kata-kata lagi. ia merasa speechless dengan kejutan yang barusan Alvian berikan.


Lalu Alvian berdiri dan mengambil benda melingkar yang merupakan cincin emas bertahtakan berlian itu. Ia bersihkan bekas manggo cheese cake yang melekat di sekelilingnya menggunakan kain yang telah disediakan di sana. Kemudian Alvian melipat sebelah kakinya hingga menyentuh lantai, sedangkan sebelah lagi ia tekuk untuk menopang tubuhnya. Ia condongkan tubuhnya menghadap Zafira yang matanya telah berkaca-kaca.


"Zafira, aku tak tahu aku bukanlah pria yang romantis. Bahkan aku menyatakan ingin mengkhitbah mu pun saat berada di rumah sakit dan aku belum benar-benar melamarmu. Oleh karena itu, di kesempatan ini, izinkan laki-laki tidak romantis ini untuk melamarmu. Zafira Febriantika, tahu kah kamu, kehadiranmu sungguh sangat berarti bagiku. Kau memberikan warna dalam hidupku. Kau menghiasi hari-hari sepiku dengan senyum dan canda tawa. Kau membuat hidupku jadi lebih bergairah. Kau membuat laki-laki bodoh ini akhirnya merasakan indahnya jatuh cinta. Zafira Febriantika, maukah kau menikah denganku? Menjadi pendamping hidupku? Menjadi ibu dari anak-anakku? Menemaniku hingga ujung usiaku?" ucap Alvian dengan penuh kesungguhan dan tatapan penuh cinta.


Dengan mata berkaca-kaca, Zafira pun menjawab, "emangnya aku masih bisa dan punya alasan untuk menolak?" goda Zafira dengan senyuman manisnya.


"Oh tentu saja tidak. Kamu udah taken by me, Alvian Altakendra." Ucapnya jumawa. Suasana romantis seketika menjadi menggelikan.


"So ... "


"Ah, susah-susah membuat suasana romantis, seketika ambyar. Sini, tanganmu." Mata Lagian memicing, tapi bibirnya malah menyunggingkan senyum simpul. Lalu Alvian meraih tangan kiri Zafira dan menyematkan cincin tersebut ke jari manisnya. Setelah cincin itu terpasang sempurna, Alvian segera mengecup jari yang dilingkari cincin tersebut membuat pipi Zafira bersemu merah.


"Belum bisa cium orangnya, cium jari juga nggak papa. Eh, tapi ini kan tangan cebok ya? Dicuci pakai sabun nggak tadi?"


Plakkk ...


Zafira menepuk keras pundak Alvian membuat laki-laki itu tergelak melihat wajah cemberut Zafira.


"Baru aja hati berbunga-bunga karena aksi romantis, eh malah dibuat ambyar. Dasar calon suami aneh," omel Zafira yang kini sudah kembali menyantap manggo cheese cake nya.


Alvian yang melihat itu lantas terkekeh dan segera berdiri. Sebelum ia kembali ke kursinya, Alvian menyempatkan mengecup pelipis Zafira secara tiba-tiba membuat perempuan itu seketika mematung dengan wajah yang memerah. Jantungnya pun telah jedag-jedug.


"I love you," bisik Alvian sebelum kembali ke kursinya.


Pasangan itu terlihat sangat romantis. Restoran siang itu tidak begitu ramai, jadi aksi tersebut tidak terlalu menjadi bahan perhatian. Namun nyatanya masih ada yang melihatnya. Dari meja yang tak begitu jauh dari sana, ada sepasang mata yang menatap nanar aksi romantis tersebut. Ia pikir, kata-kata Alvian saat acara penghargaan malam itu hanya sekedar candaan saja. Namun, saat melihat bagaimana Alvian memperlakukan Zafira dengan begitu lembut, perhatian, dan romantis, ia meyakini kalau kedua orang itu memang pasangan sebenarnya. Bukan sekedar candaan apalagi kebohongan. Ia hanya bisa menatap nanar dengan dadanya yang terasa terbakar. Sungguh, melihat itu membuat dadanya bergejolak. Sesuatu yang selama ini ditutupinya akhirnya menyeruak. Ia pikir, ia bisa mengendalikan rasa sakit itu. Tapi nyatanya, semua sia-sia belaka.

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2