Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan

Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan
107


__ADS_3

"Gimana Fan? Udah ada jawaban untuk lamaranku?" tanya Luthfi yang sambil menggenggam tangan Refani.


Refani menundukkan wajahnya. Ia bingung dan takut dalam mengambil keputusan. Ia takut salah langkah. Ia ingin menikah sekali seumur hidup. Ia tidak ingin ada perceraian. Ia ingin menua bersama pasangannya hingga ajal lah yang memisahkan.


"Kenapa kakak mengajakku menikah? Apa karena kakak kasihan padaku?" tanya Refani setelah berpikir sesaat. Refani mengangkat wajahnya untuk menatap netra Luthfi yang memang begitu rajin bahkan setiap hari menyambangi dirinya tanpa lelah.


"Kasihan?" beo Luthfi sambil terkekeh. "Kalau kasihan, cukup beri support saja, udah. Nggak perlu diajak nikah segala kali. Emangnya pernikahan itu ajang berkasih-kasihan. Kalau ajang berkasih sayang, baru bener," seloroh Luthfi sambil terkekeh. Refani mencubit pipi Luthfi gemas yang dibalas Luthfi dengan elusan sayang di kepalanya. "Apa kamu nggak bisa merasakan perasaan kakak ke kamu, Fan? Perhatian kakak ke kamu, apa kamu nggak merasa ada sesuatu yang tak biasa antara kakak ke kamu? Kakak ingin menikah denganmu ya satu agar kakak bisa menjadi penjagamu, kedua agar bisa jadi pelindungmu, tapi yang harus kamu tahu yang paling utama adalah karena kakak mencintai kamu. Jadi Refani Putri Prayoga, Will you marry me?" ucap Luthfi penuh kesungguhan sambil menyodorkan sebuah kotak berwarna merah hati ke hadapan Refani.


Entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja Luthfi telah menggenggam kotak beludru yang saat terbuka memamerkan isinya yang berupa cincin bertahtakan berlian kecil. Terlihat sederhana tapi cantik dan memesona. Mata Refani sampai berkaca-kaca. Bohong bila ia bilang ia tidak memiliki rasa pada laki-laki itu. Apalagi setelah apa yang ia lakukan selama ini. Semenjak pertemuan pertama mereka, yaitu saat Luthfi dan Refano menemukan dirinya di klinik terpencil, sejak itu pula Luthfi hampir setiap hari mengunjunginya. Memberikan support, hiburan, semangat, tanpa kenal lelah. Namun tak semudah itu ia menerima Luthfi sebab kadangkala ia masih dibayangi rasa bersalah pada mantan kekasihnya dahulu. Ia meregang nyawa karena tak kuasa menahan kesedihan atas kepergian dirinya.


Mereka pernah berjanji akan melangkah ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu pernikahan. Namun hal tak terduga terjadi. Mereka dipaksa berpisah. Ia dipaksa menikah dengan laki-laki lain. Refani yang kecewa dengan kedua orang tuanya lantas memilih bunuh diri. Ia pikir, ia telah mati, nyatanya ia berhasil diselamatkan orang-orang Liliana. Namun, ia justru disekap di dalam sebuah kamar rumah sakit tanpa sepengetahuan siapapun. Ia diperlakukan bak orang sakit dengan dipasangi infus. Ia juga diberikan obat tidur dosis tinggi secara berkala. Sengaja diberi dosis tinggi agar tidak merepotkan mereka yang sedikit-sedikit harus memeriksa keadaannya dan kembali memberikan obat tidur. Jadi sekalian saja menggunakan dosis tinggi pikir mereka.


Ternyata kabar kematiannya membuat sang kekasih depresi hingga memilih jalan mengakhiri hidupnya sendiri. Refani mengetahui hal tersebut dari bibir Liliana sendiri. Karena itulah, Refani sempat kehilangan semangat hidup. Ia pasrah menerima segala perlakuan Liliana padanya termasuk menjadikannya seperti seorang pesakitan di ranjang pasien.


"Kak ... aku ... "


Ceklek ...


Tiba-tiba pintu kamar rawat Refani terbuka. Lalu masuklah Afrizal dan Refano membuat mata Refani terbelalak.


"Om Rizal, kak Fano ... " cicit Refani gugup. Luthfi memang sedikit terkejut, tapi ia tetap bersikap tenang menantikan jawaban dari bibir gadis yang memikat hatinya itu.


"Kenapa belum jawab?" tanya Refano membuat Refani melirik Afrizal.


"Kenapa memandangi, Om? Om tahu, kamu pasti ragu melangkah ke depan karena merasa bersalah padanya, bukan?" celetuk Afrizal yang diangguki Refani.


"Kamu tak perlu merasa bersalah, ingat maut, rejeki, jodoh itu di tangan Allah. Mungkin kalian memang tidak berjodoh. Cukup yakinkan perasaanmu, jangan sampai salah langkah. Om harap apapun keputusanmi merupakan yang terbaik untuk ke depannya," nasihat Afrizal panjang lebar.

__ADS_1


"Om Rizal benar, dek. Jadi bagaimana? "


"Bagaimana apanya?" beo Refano datar.


"Jawabanmu, Faniii ... Apa nggak kasihan liat Luthfi dari tadi menunggu jawabanmu di situ? Kakak yakin tangannya pasti udah pegel banget itu," ucap Refano sambil tersenyum geli ke arah Luthfi yang sedang menunggu harap-harap cemas.


Refani menghela nafasnya, kemudian berujar, " yes, i do. Aku ... bersedia menikah denganmu," jawab Refani akhirnya sambil menunduk malu.


Mendengar jawaban tersebut, sontak saja Luthfi berseru bahagia.


Sementara itu, di tempat lain, tampak seorang perempuan sedang meringkuk di sudut sebuah ruangan sambil mendesis. Teman-teman satu selnya tampak duduk di sudut yang lain sambil menutup hidung.


"Kapan matinya sih ni orang? Nggak tahu apa kita udah kebauan," omel salah satu dari mereka sambil menutup hidungnya dengan kedua tangan.


Huek ... huek ... huek ...


Tak tahan dengan aroma yang kian tak sedap membuat mereka muntah-muntah.


"Pak, orang itu bau sekali. Apa bapak tidak tercium baunya. Busuk banget udah kayak bau bangkai aja," ucap Markonah sambil menutup hidungnya.


Petugas itupun mencium aroma tidak sedap dari balik jeruji besi itu. Ia lantas meminta rekannya memeriksa keadaan orang yang dimaksud.


"Bagaimana?"


"Sepertinya kakinya mengalami infeksi sehingga mengalami pembusukan." ucap rekan sipir penjara itu membuat orang-orang yang mendengarnya bergidik ngeri.


"Iii ... ada belatungnya. Ish menjijikkan," seru Saodah yang langsung berlari menjauh setelah memastikan kebenaran yang diucapkan petugas tersebut.

__ADS_1


"Apa? Belatung? Yang benar saja, padahal dia belum mati tapi udah ulatan. Ih ... benar-benar menjijikan." Seru Markonah yang merasa jijik. Merasa dirinya sedang diperbincangkan, Liliana lantas menarik tubuhnya hingga kian menyudut. Tak pernah terpikirkan Liliana dirinya akan berakhir seperti ini. Bahkan putra satu-satunya pun sudah tak mau melihatnya lagi. Jadi apa artinya dirinya hidup?


...***...


Di rumah besar Bu Ayu, tampak Alvian makan dengan begitu lahapnya. Semakin hari, napsu makan Alvian kian meningkat membuat Zafira geleng-geleng kepala.


"Sayang, setelah makan ini, tolong buatin rujak ya pake jambu dan mangga yang tadi Abang beli."


"Bang, ini aja Abang belum sudah makan kok udah minta buatin makanan yang lain sih?"


Dengan mulut penuh, Alvian menjawab, "Abang juga bingung dek. Taunya Abang pingin banget makan rujak. Tapi cukup pakai kedua jenis buah itu, nggak usah campur yang lain, bisa ya, sayang? Please ... " melas Alvian. Bagaimana Zafira tak luluh saat melihat ekspresi memelas suaminya?


"Ya, udah, ditunggu ya, bang." Setelah menyelesaikan makannya, Zafira pun bergegas bangkit dari mejanya menuju dapur untuk menyiapkan rujak sang suami.


Zafira menggeleng kepala sendiri melihat bagaimana Alvian begitu lahap memakan rujaknya. Zafira sampai menelan ludahnya sendiri melihat Alvian menyantap rujak itu dengan begitu nikmat.


"Enak ya, bang?" tanya Zafira. Ia yang hamil saja merasa ngilu saat mendengar suara buah mentah nan asam itu dikunyah Alvian.


"Enak banget, sayang. Kamu mau cicip?" Alvian menyodorkan potongan mangga mentah yang telah dicolek bumbu ke depan mulut Zafira. Zafira sedikit ragu, tapi tak pelak membuka mulutnya karena tergiur. "Gimana? Enakkan?"


"Asem kecut ... tapi lumayan sih." Alvian terkekeh melihat ekspresi Zafira saat mengunyah mangga mentah tersebut.


"Lucu ya, Yang, kamu yang hamil, aku yang ngidam. Tapi aku malah merasa bangga Aku jadi ngerasa seperti memiliki ikatan batin yang kuat pada calon buah hati kita."


"Abang kan emang seorang suami dan ayah idaman.," puji Zafira membuat Alvian merasa bahagia mendengarnya.


...***...

__ADS_1


"Kok aku kebayang mamas hot daddy terus ya? Duh, jadi penasaran banget, apa dia mantan suaminya mbak Fira ya? Apa gue telepon mbak Fira terus langsung nanya aja ke dia ya? Eh, tapi, ah jangan-jangan, nggak enak. Duh, mamas hot daddy, kau membuatku penasaran. Apa aku datang ke kantornya Al aja ya? Dia pasti tau segala hal tentang mamas hot daddy. Aku juga masih penasaran, kok Al memperkenalkan mamas hot daddy sebagai kakaknya. Kok bisa? Ya, sepertinya aku harus ke sana deh," gumam Merlyn sambil menatap langit-langit kamarnya.


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2