
Seperti ucapannya saat di rumah sakit, tepat seminggu kemudian, dengan ditemani asistennya, Liliana pun mendatangi kediaman Ayu dan Zafira. Dengan angkuhnya, ia meminta bertemu dengan Zafira.
"Nyonya, ada yang mau bertemu dengan nyonya muda di depan." Ucap asisten rumah tangga Bu Ayu. Bu Ayu dan Zafira yang sedang duduk di ruang tamu sambil berbincang pun lantas mengalihkan atensi mereka kepada asisten rumah tangga bernama Sumi itu.
"Siapa? Dia bilang dia siapa?" tanya Bu Ayu.
"Namanya Li- Lili-, ada Lili-Lilinya gitu, nya. Maaf, Sumi lupa," jawab Sumi yang memang lemah dalam mengingat nama seseorang.
"Maksud kamu, Liliana?" Terka Bu Ayu.
"Nah, iya, Nya. Nyonya benar. Perlu saya persilakan masuk atau bagaimana nyonya?"
Bu Ayu mengalihkan pandangannya pada Zafira yang pias. Ia mempererat pelukannya pada baby Zafran. Entah apa tujuan kedatangannya ke rumah itu, tapi Zafira dapat merasakan kalau kedatangan Liliana tersebut tidaklah bertujuan baik-baik. Pasti ada yang ia inginkan. Rasa khawatir tiba-tiba menyeruak. Bagaimana bila Liliana hendak mengambil baby Zafran dari tangannya?
Tidak. Itu tidak boleh terjadi. Zafira akan melakukan apapun untuk mempertahankan anaknya, putranya, darah dagingnya, buah hatinya yang sangat berharga.
"Persilahkan saja mereka masuk!" titahnya pada Sumi membuat raut wajah Zafira kian pias.
"Kamu tenang, sayang. Bunda tau kekhawatiranmu. Dia takkan bisa melakukan apapun pada kalian. Percaya pada bunda," ucap Bu Ayu berusaha menenangkan perasaan Zafira yang mendadak kacau. "Sinta," panggil Bu Ayu pada Sinta, sang baby sitter.
"Iya, Nya."
"Tolong bawa baby Zafran ke dalam kamar ya dan kunci pintu rapat-rapat! Jangan keluar sebelum saya atau Fira yang meminta pintu dibuka!" titahnya pada Sinta. Sinta pun mengangguk patuh dan segera membawa baby Zafran ke dalam kamar sesuai instruksi Bu Ayu.
...***...
"Whoooa, aku tak menyangka kau akan bertandang gubuk kecilku kakak tiriku sayang," ucap Bu Ayu sarkas sambil berjalan beriringan dengan Zafira menuju ruang tamu dimana Liliana dan asistennya berada. Lalu mereka duduk dengan anggun.
"Tak perlu berbasa-basi. Aku kemari ingin mengambil cucu laki-lakiku. Cepat bawa dia ke sini!" ucapnya angkuh membuat pupil Zafira melebar. Ternyata dugaannya benar. Kedatangan Liliana adalah untuk mengambil baby Zafran dari tangannya. Enak aja pikirannya. Mereka saja tak pernah mengakui anak-anaknya sebagai bagian dari keluarga mereka, lalu kini mereka tiba-tiba datang untuk mengambil bayi yang ia pertahankan dengan seluruh jiwa dan raganya. Bahkan saat baru lahir pun, mereka tak ada keinginan untuk melihatnya sama sekali. Sungguh menggelikan.
"Cucu? Cucu yang mana? Aku tidak merasa mengambil cucumu, nyonya Liliana yang terhormat," ucap Zafira sinis dengan penuh penekanan saat menyebutkan nama Liliana.
"Tak usah banyak bicara kau Zafira!" sentak Liliana. "Cepat bawa bayi itu kemari!" titahnya lagi.
"Heh, kau pikir kau siapa datang-datang meminta cucuku! Bukankah kau sudah memiliki seorang cucu laki-laki dari menantu kesayanganmu itu. Kenapa sekarang tiba-tiba datang untuk mengambil cucuku? Apa kau tak punya malu?" Balas Bu Ayu dengan seringai mencemooh.
"Tak usah ikut campur kau. Ini bukan urusanmu."
"Bagaimana tidak ini urusanku? Zafira sekarang sudah menjadi menantu kesayanganku jadi secara otomatis anak-anaknya pun sudah menjadi cucu-cucuku. Jadi sudah tentu aku pun berhak ikut campur bila ada yang mengusik mereka. Apalagi yang mengusik itu adalah kau, si manusia iblis."
"Tutup mulutmu Ayu. Sebelum Zafira jadi menantumu, dia telah lebih dahulu menjadi menantuku. Dan dia sangat tahu, kami sudah lama menantikan cucu laki-laki. Seharusnya dia memberitahukan kalau bayi yang lahir adalah laki-laki, bukan justru menyembunyikannya. Ah, aku tahu, jangan-jangan ini adalah rencana mu. Kau sengaja meminta Zafira agar menyembunyikan bayi laki-laki itu agar aku tidak bisa mengambilnya, benar bukan!" Ucap Liliana semaunya.
__ADS_1
"Jangan samakan bunda dengan manusia picik sepertimu. Siapa yang menyembunyikan? Bukankah aku sudah menawarkan kalian agar melihat bayinya sebentar saja. Aku memang sengaja tidak mengatakannya langsung agar kalian mengetahuinya sendiri. Aku ingin anakku diterima dengan tulus, bukan karena ia berjenis kelamin laki-laki ataupun perempuan. Tapi apa yang kau lakukan? Kau justru mencegah putramu untuk menghampiri putranya sendiri karena kau pikir dia hanya bayi perempuan yang tidak berguna. Tak sadar kah mau nyonya, kau pun seorang perempuan, kau pun lahir dari rahim seorang perempuan, kenapa kau malah hendak membuang cucumu sendiri hanya karena ia seorang bayi perempuan? Sekarang, terimalah konsekuensi dari segala keputusanmu karena sampai matipun, aku takkan pernah memberikan putraku pada manusia iblis sepertimu," balas Zafira dengan suara meninggi. Bahkan ia sudah berdiri dengan rahang mengeras.
"Perempuan sialan. Kau berani melawanku, hah!" bentak Liliana yang wajahnya sudah merah padam.
"Kau yang perempuan sialan. Pergi dari sini, sebelum aku meminta keamanan menyeretmu keluar!" Sentak Bu Ayu yang juga sudah berdiri.
"Brengsekkk kalian. Dengar, aku pasti akan kembali untuk mengambil cucuku itu."
Setelah mengatakan itu, Liliana pun segera pergi dari rumah itu dengan emosi yang menggebu-gebu.
Sementara itu, di kantor CEO YG Group, tampak Afrizal baru saja masuk ke ruangan itu dengan membawa sebuah berkas yang ditunggu-tunggu Marwan.
"Ini tuan, apa yang Anda minta tempo hari. Saya sudah mendapatkan semua hal yang berkaitan dengan CEO Alta Corp."
"Benarkah? Bagaimana hasilnya? Siapa ibu dari CEO Alta Corp?"
"Tertera di situ, tuan Alvian Altakendra merupakan putra kandung dari nyonya Ayuningtyas. Dan untuk ayahnya, tidak diketahui. Akan tetapi, sebagaimana test DNA yang saya lakukan dengan rambut Anda seminggu yang lalu, hasilnya 99,99% positif."
"Mak-maksudnya?" tanya Marwan dengan bibir bergetar.
"Maksudnya, menurut hasil test itu, tuan Alvian terbukti merupakan anak biologis Anda, tuan."
"A-apa? Di-dia adalah ... adalah putraku?" tanya Marwan lagi memastikan ia tidak salah pendengaran.
Brakkkk ...
"Tuan," pekik Afrizal terkejut melihat Marwan yang tiba-tiba jatuh pingsan.
Melihat tuannya pingsan, Afrizal pun segera membawa Marwan ke rumah sakit dibantu karyawannya. Setelahnya, diam-diam Afrizal menghubungi Alvian untuk mengabarkan apa yang terjadi.
...***...
"Assalamu'alaikum," ucap Alvian saat masuk ke dalam rumah.
"Wa'alaikum salam," jawab Zafira yang segera beranjak mendekati Alvian. Mengulurkan tangan dan mencium punggung tangan Alvian dengan takzim.
"Uh, senangnya pulang kerja ada yang nyambut," ucap Alvian yang langsung menarik Zafira agar mendekat dan mengecup dahinya. "Halo anak papa, kamu kok makin gemesin sih? Papa mandi dulu ya terus kita main sama kak Regi dan kak Refi juga."
"Siap papa. Mandi yang bersih ya, yang wangi juga, biar makin ganteng." Ucap Zafira dengan menirukan suara anak kecil membuat Alvian terkekeh gemas.
"Pasti dong. Suami siapa dulu," seloroh Alvian membuat Zafira tersenyum malu.
__ADS_1
Malam harinya, tampak Bu Ayu, Alvian, dan Zafira sedang berkumpul di ruang tengah, sedangkan anak-anak sudah tidur. Bu Ayu baru saja menceritakan perihal kedatangan Liliana ke rumah mereka siang tadi. Alvian tentu saja merasa marah. Lalu ia pun mengatakan akan menempatkan beberapa bodyguard untuk meningkatkan keamanan di rumah itu. Bukan hanya itu, ia pun akan menugaskan beberapa bodyguard untuk mengawal Zafira kemana pun pergi.
"Tapi apa itu nggak berlebihan, bang?"
"Tak ada yang berlebihan, Ra. Wanita itu tak dapat kita remehkan. Dia benar-benar licik. Bahkan sangat licik. Aku tidak mau terjadi sesuatu pada kalian. Kamu tentu tidak mau kan, mereka mengambil baby Zafran?" Sontak saja, Zafira pun menggeleng dengan cepat.
"Alvian benar, nak. Bunda sangat tahu bagaimana sifatnya. Dia ... bisa berbuat nekat untuk mendapatkan apa yang dia inginkan."
"Baiklah. Aku akan menurut padamu. Aku yakin, apa yang kau putuskan merupakan yang terbaik."
"Baguslah. Ayo kita segera tidur, hari sudah larut malam." Ucapnya sambil tersenyum aneh.
"Kenapa senyumnya gitu? Jangan bilang ... " Bisik Zafira.
"Istriku ternyata sudah makin pintar ya, tau aja mau suaminya." Balasnya yang juga berbisik.
"Bang, nggak bisa apa malam ini istirahat dulu? Masa' seminggu nikah, seminggu full juga diajak asikasik."
"Emang kenapa? Kan kamu juga menikmati. Kamu tahu, kamu jadi makin cantik saat kamu sedang mende sahkan namaku."
"Abang," pekik Zafira lupa kalau di sana masih ada Bu Ayu yang memperhatikan keduanya dengan tersenyum.
"Hmmm ... yang pengantin baru, sibuk bisik-bisik sampai lupa masih ada bunda duduk di sini." Goda Bu Ayu membuat wajah Zafira merah padam.
"Ah, bunda, liat tuh, wajah Fira jadi merah kan. Bunda kalo mau kayak kami, kenapa nggak sama Om Rizal aja. Kayaknya Om Rizal suka deh sama bunda. Tadi Om Rizal juga sempat titip salam buat bunda lho setelah kasi laporan ke aku," goda Alvian membuat Bu Ayu mendelik tajam.
"Udah tua, bunda udah nggak mikir nikah-nikah apalah itu. Mending bunda main sama cucu-cucu bunda, lebih menyenangkan. Lagian laki-laki nggak ada yang bisa dipercaya tau nggak."
"Eh, kok ngomong gitu sih, Bun? Sama aja Bunda nyamain Al dengan mereka dong," sergah Alvian tidak setuju dengan perkataan bundanya yang mengatakan tidak ada laki-laki yang dalam dipercaya.
"Kamu pengecualian, Al. Kalau anak bunda, bunda yakin laki-laki yang bukan hanya setia, tapi sangat bisa dipercaya. Ya udah, ke kamar gih sana. Produksiin bunda cucu yang banyak ya, Al, Fira." Ucap Bu Ayu sebelum melenggang pergi menuju kamarnya sambil tersenyum lebar.
"Yuk yang, kita produksi baby seperti permintaan bunda. Yang banyak ya! Kalau perlu, langsung kembar 5." Ucap Alvian sambil terkekeh.
"Gila. Emangnya aku kucing bisa langsung hamil kembar lima. Aku aja nggak ada gen kembar," jawab Zafira seraya mendelik tajam.
"Ya, kan siapa tau rejeki, Yang. Ya udah daripada banyak omong, mending kita langsung ke kamar yuk!" Lalu tiba-tiba saja Alvian menggendong Zafira ala bridal style menuju kamar mereka untuk melakukan ritual yang seminggu ini rutin mereka lakukan.
"Abang," pekik Zafira terkejut saat tubuhnya sudah melayang di udara membuat Alvian terkekeh lalu melabuhkan banyak ciuman di wajahnya.
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...