
Hari sudah menunjukkan pukul setengah 10 malam, tapi Alvian masih tampak sibuk di ruang kerjanya. Semenjak Alvian didaulat sebagai pengusaha muda terbaik tahun ini, makin banyak pengusaha maupun investor dari berbagai daerah yang mengajaknya bekerja sama. Tentu itu merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa. Apalagi setelah peluncuran produk terbaru perusahaan mereka, membuat nama perusahaan Alta Corp kian bersinar. Bahkan hingga ke mancanegara.
Setelah Mr. Jay yang bergabung menjadi investor terbesar perusahaan mereka, kini sang putra pun ikut bergabung menanamkan modalnya di perusahaan yang bergerak di bidang good and beverage itu. Tentu saja Alvian menyambut baik tawaran itu. Namun ada satu hal yang membuatnya tak suka, apalagi kalau bukan karena ia mengetahui ketertarikan Ray Adams pada istrinya. Meskipun ia sudah tahu Zafira telah menikah dengannya, tapi tak jarang di setiap pertemuan, Ray Adams selalu menanyakan sosok Zafira membuat Alvian kesal bukan kepalang.
Hari kian larut, tapi mata Zafira masih terjaga. Mungkin karena telah terbiasa tidur di dalam pelukan Alvian membuatnya tak mampu memejamkan mata walau sejenak. Rasanya seperti ada yang kurang. Tak nyaman. Zafira jadi kesal sendiri karena Alvian belum juga menyusulnya atau mengeceknya sudah tidur atau belum.
"Ck ... bang Al mana sih? Nggak tau apa aku nggak bisa tidur kalau nggak dipeluk," gerutu Zafira yang langsung melemparkan selimutnya begitu saja ke lantai. Lantas ia membuka jendela balkon dan berdiri di dekat pembatas sambil memandangi langit yang tampak indah karena bintang-bintang bertaburan.
Zafira mengulurkan tangannya ke atas seolah-olah ingin memetik bintang.
"Kok belum tidur sih, sayang?" tanya seseorang sambil melingkarkan tangannya di perut Zafira. Sadar siapa yang memeluknya dari belakang, membuat Zafira menurunkan tangannya sambil mencebikkan bibirnya. Bahkan Zafira tak ingin menoleh sedikit saja.
Sadar sang istri tampaknya sedang kesal dengannya, Alvian lantas memutar badan sang istri agar mereka bisa saling berhadapan. Namun bukannya mereka saling menatap, Zafira justru melengos. Seolah enggan saling bertatapan dengan dirinya.
"Kamu kenapa sih, sayang? Kamu marah sama Abang?" bisiknya sambil mendusel telinga Zafira dengan ujung hidungnya. Terang saja, Zafira merasa kegelian. Apalagi saat hangat nafas Alvian menerpa daun telinganya membuat Zafira seketika meremang.
Namun Zafira tetap bergeming. Enggan merespon sama sekali. Meskipun ia harus bersusah payah menahan gejolak di bawah sana karena tangan Alvian yang mulai bergerak nakal menelusup masuk ke balik piyamanya. Mere mas sesuatu yang kenyal di balik sana membuat Zafira menutup matanya sambil menggigit bibir bawahnya.
"Jangan gigit bibirnya, sayang. Hanya aku saja yang boleh," ucap Alvian sambil mengecup bibir Zafira singkat.
Entah kenapa hanya karena Alvian lebih lama berada di ruang kerjanya membuat mood Zafira buruk seketika. Padahal biasanya ia tak masalah.
Zafira lantas mendorong dada Alvian hingga tubuhnya sedikit terdorong ke belakang. Mata Zafira mendelik tajam membuat Alvian mengerutkan keningnya.
"Kamu kenapa? Kamu marah sama Abang? Emang Abang salah apa sih, sayang? Kalau abang ada salah, bilang dong. Jangan diam-diam kayak gini. Abang bukan cenayang yang bisa tahu apa isi hati dan pikiranmu," ucap Alvian seraya mengusap pipi Zafira.
Bibir Zafira mengerucut, "lama banget sih. Nggak tau apa Fira nggak bisa tidur kalau ... kalau ... "
__ADS_1
"Kalau apa?" bisik Alvian seraya tersenyum geli. Alvian bisa menebak apa kata selanjutnya, tapi ia lebih menunggu Zafira sendiri yang mengucapkannya.
"Abang ih, nggak usah pura-pura oon deh!" protes Zafira membuat Alvian terkekeh.
"Ya udah, masuk yuk! Kita asikasik dulu baru deh tidur sambil peluk-pelukan biar tidurnya lebih nyenyak dan menyenangkan," seloroh Alvian sambil mengerlingkan sebelah matanya.
"Ish, katanya tadi pusing. Udah tau pusing, bukannya istirahat malah kerja. Sekarang malah mau asikasik, bukannya istirahat biar pusingnya reda. Abang sehat?" omel Zafira yang sudah melangkahkan kakinya ke dalam kamar. Ia heran sendiri, mengapa ia sekarang suka sekali ngomel. Padahal ia tak pernah seperti ini sebelumnya. Bahkan saat bersama Refano ia merupakan istri yang amat sangat penurut.
Alvian terkekeh lalu ikut masuk ke dalam kamar mereka setelah sebelumnya menutup pintu balkon berikut menarik gordennya.
Setelah beres, Alvian segera menghempaskan tubuhnya ke atas kasur dan segera mengungkung sang istri.
"Abang juga heran, akhir-akhir ini sering sakit kepala. Tapi rasa sakitnya langsung mereda saat kamu peluk, menghidu aroma tubuhmu, apalagi setelah asikasik. Capek, lemah, letih, lesu, lunglai, langsung berganti semangat dan sehat wal Afiat. Kayaknya abang udah kecanduan sama kamu deh, Yang." Ucap Alvian.
"Emang Fira itu zat adiktif yang bisa bikin kecanduan," ketus Zafira membuat Alvian terkekeh kemudian langsung merengkuh tubuh Zafira ke dalam dekapannya. "Bang, makasih ya." Ucap Zafira tiba-tiba.
"Makasih udah gerak cepat menyelamatkan kami. Andai Abang nggak gerak cepat, entah apa yang terjadi sama kami." Ucap Zafira tulus.
"Nggak perlu berterima kasih. Sudah kewajiban Abang melindungi kalian. Apalagi kalian adalah orang-orang tercinta dan terkasih Abang. Selain itu, Abang dan yang lainnya hanyalah perantara saja sebab yang melindungi kalian sebenarnya adalah Allah. Tanpa bantuan Allah, semua usaha Abang tak akan ada artinya."
"Abang benar. Alhamdulillah dan terima kasih, sayang udah selalu ada untuk kami. So, sebagai ucapan terima kasih, yuk making love?"
Sontak saja mendengar ajakan tiba-tiba tersebut membuat Alvian melongo, tapi itu tak berlangsung lama. Setelahnya, mata Alvian berbinar cerah. Siapa coba tak senang diajakin asikasik sama istri tercinta.
"Ayooo!" seru Alvian dengan semangat.
Benar yang Alvian katakan tadi, sakit kepalanya langsung saja hilang setelah mendapatkan servis tak terduga dari istrinya. Hahahah ...
__ADS_1
...***...
Sementara itu, di balik bilik jeruji besi, tampak seorang wanita duduk merenung. Penampilannya benar-benar kacau. Rambutnya benar-benar berantakan. Wajahnya kusam. Baru beberapa hari saja ia berada di dalam sana, tubuhnya sudah kurus kering. Tak ada makanan enak apalagi bergizi. Itupun ia makan dengan terpaksa karena tak selera. Dipandanginya kakinya yang hanya menyisakan tungkai atas berbalut perban. Entah mengapa ia merasa sakit di sana. Padahal bekas operasinya saat itu sudah hampir sembuh, tapi kini ia sering melihat perbannya terlihat lembab. Bahkan bauntak sedap mulai menguat dari sana. Dia pun segera teringat kata-kata terakhir Ayu sebelum pergi meninggalkannya.
'Sebaiknya kau renungkan kata-kataku tadi. Bertobatlah sebelum semuanya benar-benar terlambat.'
"Bertobat?" Liliana terkekeh sendiri saat mengucapkannya. "Kenapa aku harus bertobat? Dia yang salah. Dia ... Dia yang menghancurkan hidupku. Dia ... Ya, dia." Racaunya seorang diri.
'Apa yang kau katakan barusan? Aku puas menghancurkan mu? Aku puas membuatmu menderita? Begitu? Sekarang aku tanya, apa salahku sebenarnya padamu? Saat ayahku membawamu ke rumahku, apa aku tidak setuju? Apa aku menolakmu? Apa aku membencimu? TIDAK. Aku justru menerima kalian dengan tangan terbuka. Tapi apa yang kau lakukan, hah? Kau merebut kekasihku. Apa aku marah? Ya, aku marah, tapi aku diam dan memilih mengalah. Namun apa balasanmu? Kaubteris menghancurkanku. Kau membuat aku terusir dari rumahku sendiri. Kau bahkan mencoba membunuhku dan calon anakku. Lalu apa yang kau lakukan kemarin? Kau lagi-lagi ingin membunuhku beserta mantan menantu dan cucu-cucumu sendiri. Bahkan setelah kau menyakiti mereka pun mereka tak pernah sekalipun mencoba membalas perbuatanmu, tapi apa yang kau lakukan, hah? KAU INGIN MEMBUNUH MEREKA. DARAH DAGINGMU SENDIRI. JADI SIAPA DISINI YANG MEMBUATMU MENDERITA, HAH? ITU DIRIMU SENDIRI. KAU SENDIRI YANG MENGHANCURKAN HIDUPMU. BUKAN ORANG LAIN. KAU SENDIRILAH BAJINGAAN ITU, KAU TAHU! JADI TERIMALAH KONSEKUENSI DARI SEGALA PERBUATANMU.'
Kata-kata Ayu selalu terngiang-ngiang di kepalanya. Liliana menjambak rambutnya kemudian memukul-mukul kepalanya agar suara-suara itu segera pergi. Namun suara itu justru kian terngiang. Seolah-olah Ayu mengucapkannya tepat di hadapannya.
Liliana menjerit membuat ketiga orang yang satu sel dengannya terbangun dari tidur mereka.
"Heh, diam kau perempuan cacat? Apa kau sudah gila hah teriak-teriak seorang diri?" sentak Markonah. Namun, Liliana tak memperdulikan omelan Markonah. Ia seolah tenggelam dalam pikirannya sendiri membuat Markonah dan Saodah kesal bukan main. Lantas Markonah menjambak rambut Liliana dan membenturkan kepalanya di dinding karena kesal.
"Aku bilang diam!" bentak Markonah.
"Kau ... kau yang sudah menghancurkan hidupku. Kau ... dasar kau wanita sialan." Di mata Liliana, ia justru melihat Markonah sebagai sosok Ayu. Ia menggeram marah sambil menunjuk-nunjuk wajah Markonah yang dikiranya Ayu.
"Perempuan sarap. Jangan-jangan dia udah beneran gila."
"Udah Odah, sumpal aja lagi mulutnya dengan kaos kaki bau mu itu. Aku mau tidur. Ngantuk."
"Kau benar." Lalu Saodah pun mengambil kaos kakinya siang tadi dan menyumpalkannya ke mulut Liliana. Liliana ingin menjerit tapi suaranya tertahan oleh kaos kaki. Tak lama kemudian, Liliana menangis dan meraung membuat ketiga orang itu kesal bukan kepalang.
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...