Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan

Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan
Pelangi setelah badai


__ADS_3

Tok ... tok ... tok ...


"Assalamu'alaikum," ucap seorang pemuda sambil membuka pelan pintu sebuah ruang perawatan di suatu rumah sakit.


Gadis yang sejak tadi hanya melamun dengan wajah yang pucat dan bibir kering itupun menoleh sambil memaksakan tersenyum tipis, "wa'alaikum salam," jawabnya lemah. Sorot matanya sayu. Terlihat sekali, banyak beban pikiran yang menggelayuti benaknya.


"Hei, kakak ganggu kah?" ucap pemuda itu sambil berjalan mendekat ke arah ranjang tempat dimana seorang gadis terbaring lemah.


"Nggak kok. Kakak kesini sama siapa?" tanya gadis yang bernama Refani tersebut.


"Emmm ... kakak sendirian sih, ganggu ya?" Ujarnya sambil garuk-garuk tengkuknya salah tingkah.


"Eh, kan Fani udah bilang nggak kak. Fani malah senang liat kakak datang. Soalnya Fani bosan, nggak ada temen ngobrol," ujarnya pada pemuda yang ternyata adalah Luthfi tersebut. Ya, sejak beberapa hari yang lalu, Luthfi mengajak Refani berkenalan. Sejak saat itu, Luthfi kerap menyambangi Refani untuk mengajaknya mengobrol. Luthfi merasa kasihan pada nasib gadis malang itu. Bahkan ia telah memeriksakan kecocokan ginjalnya berharap bisa membantu gadis malang itu agar lekas sembuh. Namun, sayangnya ginjalnya tidaklah cocok. Alhasil, mereka kembali gencar mencari, baik melalui rumah sakit maupun teman-teman. Alvian bahkan berani menawarkan imbalan besar untuk pendonor yang merelakan salah satu ginjalnya untuk Refani.


Mengapa bukan Refano yang menawarkan imbalan?


Bagaimana ia bisa menawarkan, sedangkan keuangannya pun sudah terbatas. Dan pengeluarannya cukup besar, baik untuk biaya pengobatan ayahnya, anaknya, dan Refani.


"Baguslah. Bagaimana keadaanmu hari ini?" tanya Luthfi seraya meletakkan barang bawaannya ke atas nakas. Ia tadi menghampiri toko buah untuk membeli buah anggur dan kelengkeng yang merupakan buah kesukaan Refani.


"Ya beginilah kak. Nggak ada perubahan. Kadang Fani berpikir, kenapa Fani nggak mati aja. Fani ... kasihan sama kak Fano. Dia udah terlalu banyak berkorban untuk Fani. Sejak kecil malah. Kak Fano selalu jadi garda terdepan membela Fani saat mama marahin Fani. Boleh nggak sih kak, Fani berdoa minta mati aja. Fani udah nggak kuat," lirih Refani dengan kristal bening yang mulai berdesakan keluar dari pelupuk matanya.


"Astaghfirullahal adzim, Fani ... kamu kok ngomong gitu sih? Nggak baik tahu nggak," seru Luthfi terkejut mendengar penuturan Refani yang begitu tiba-tiba. " Kalau kamu memang peduli dan sayang sama kakak kamu, bukan begini caranya. Kamu tahu kakak kamu udah banyak berkorban untuk kamu, seharusnya kamu membalasnya dengan tetap kuat dan berusaha untuk sembuh. Bukannya menyerah dan ngawur kayak gini. Kamu justru akan makin membuat kakakmu terpuruk dan terpukul. Kamu lihat, meskipun kamu dinyatakan orang-orang telah meninggal, tapi sebisa mungkin kakak kamu tetap berusaha mencari keberadaan mu. Semuanya itu untuk apa coba? Kamu ingin membuat perjuangannya berakhir sia-sia?" Imbuh Luthfi menggebu-gebu, tetapi tetap dengan nada suara yang lembut. Ia tahu, Refani sedang berada di titik terendahnya. Ia sedang merasa tertekan dengan apa yang ia alami kini.

__ADS_1


"Tapi keberadaan Fani justru makin buat Kak Fano susah kak. Fani sakit parah. Kemungkinan Fani bisa bertahan hidup itu tipis. Bahkan untuk ke kamar mandi sendiri pun Fani nggak mampu. Fani seumur-umur cuma bisa nyusahin aja." Refani mengungkapkan semua uneg-uneg yang menggelayuti benaknya. Dirinya sakit, bukan hanya fisik, tapi juga batin. Ia tertekan. Tertekan karena rasa sakit di tubuhnya pun tak tega melihat keadaan kakaknya yang makin hari makin terlihat kurus. Sorot matanya kosong. Seolah tak ada kebahagiaan sama sekali.


"Kamu salah kalau kamu pikir kesakitan kamu buat kakak susah. Justru keberadaan kamu jadi penyemangat kakak, Fani. Apalagi kini bukan hanya kakak yang mengharapkan kesembuhanmu, tapi kakakmu satu lagi," ucap seseorang yang tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangan itu. Mata Refani terbelalak saat melihat kedatangan kakaknya. Ia sungguh malu. Ia selalu bersikap tegar di depan kakaknya untuk menguatkan kakaknya, tapi kini ia justru tanpa sadar menunjukkan kerapuhannya. Ia tak ingin kakaknya kian kepikiran dengan dirinya. Namun, apa boleh buat, kakaknya sudah terlanjur mendengar curahan isi hatinya.


"Kak ... " Cicit Refani terkejut. "Emmm ... maksudnya kakak satu lagi?" tanya Refani bingung. Apakah dirinya punya kakak yang lain lagi?


"Ya, kakak yang satu lagi. Adik kak Fano, kakak kamu," ucap Refano seraya mempersilahkan Alvian masuk ke dalam ruangan itu. Mata Refani mengerjap bingung. "Perkenalkan, dia Alvian, saudara kita. Berbeda ibu, tapi kita satu ayah." Imbuh Refano membuat Refani kian membulatkan matanya.


"Halo adik manis. Maaf kakak baru sempat ke sini. Mulai sekarang, kamu nggak sendirian lagi. Ada kak Fano, ada kak Al juga. Jadi mulai sekarang kamu harus semangat untuk sembuh ya. Nanti kapan-kapan kakak ajak bunda juga. Bunda udah bilang pingin ketemu kamu, tapi bunda sedang ada urusan jadi belum bisa kemari. Jangan sedih lagi ya, sayang," ucap Alvian sambil menyeka air mata di pipi Refani. Air mata yang tadi sempat berhenti, kini justru mengalir kian deras membuat Alvian dan Refano panik. Namun kepanikan itu seketika berhenti saat Refani memanggil kedua kakaknya untuk memeluknya.


"Kakak ... hiks ... hiks ... hiks ... Maafin Fani. Fani janji, Fani akan jadi gadis yang kuat. Terima kasih udah sayang sama Fani. Kalian memang kakak-kakak yang luar biasa," ucapnya sambil sesenggukan. Ia kini sedang berada dalam rengkuhan kedua kakaknya. Ketiga orang bersaudara itu tak menyangka, mereka bisa bersatu saling menyayangi. Apalagi Alvian, dia benar-benar tak menyangka bisa menerima kedua saudara beda ibunya itu dengan perasaan bahagia.


Sesaat setelah Refani tidur, Refano dan Alvian pun mengobrol berdua.


Mendengar Alvian menyebutnya kakak, membuat perasaan Refano membuncah. Matanya bahkan sampai berkaca-kaca.


"Ck ... nggak usah sok terharu. Biasa aja. Cengeng banget sih," protes Alvian saat melihat mata Refano yang berkaca-kaca. Padahal matanya sendiri pun berkaca-kaca. Alvian memalingkan wajahnya, merasa malu ketahuan ikutan mewek. Namun bukannya berhenti, air mata itu justru jatuh membasahi pipi. "Apaan sih ini ngalir? Asin," omel Alvian saat air matanya masuk ke dalam mulut membuat Refano terkekeh dengan air mata yang ikut menetes. Luthfi yang tadinya hendak menertawakan sang bos justru ikut-ikutan mewek.


'Kok aku ikutan nangis sih? Astaga, kok jadi nangis berjamaah sih?' Monolog Luthfi dalam hati.


"Dih, ngatain orang cengeng, tapi dia duluan yang nangis," cibir Refano sambil tersenyum lebar. Mungkin ini senyum pertamanya setelah sekian tahun tak melebarkan senyum.


"Siapa yang nangis? Nggak ya. Ini aku cuma nguap terus keluar air mata. Maklumlah, semalam habis begadang," kilah Alvian tak mau mengaku kalau dia barusan menangis.

__ADS_1


"Nangis ya nangis aja, nggak dilarang. Pake bohong juga."


"Ih, beneran. Ini juga ih mata, kok jadi melowan gini. Cukup bab siang tadi yang bikin mewek, malam ini jangan dong," gumam Alvian sambil mengusap kasar air matanya membuat Refano dan Luthfi tergelak.


"Tuh, bener kan! Kalo mau nangis ya nangis aja. Nggak ada larangan laki-laki buat nangis. Tapi ngomong-ngomong, tadi kamu suruh kakak ke kantor, emang mau ngapain lagi?" Refano mengalihkan topik. Sudah cukup tangis-tangisnya pikirnya.


"Emang kakak mau jadi pengangguran? Ya kerja lah."


"Kerja?" beo Refano. Semenjak pemindahan kepemimpinan perusahaan YG Group kepada Alvian, sejak itu juga ia tidak pernah pergi ke kantor lagi. Pikirnya, ia sudah tak berhak bekerja di sana. Apalagi saham ayah dan ibunya telah jatuh ke tangan Alvian guna menambah pengeluaran untuk membayar gaji pegawai pabrik dan pemasok bahan produksi.


"Iya, kerja. Jadi CEO di sana. Aku udah terlalu sibuk urusin Alta Corp, masa' masih harus urusin YG Group sih."


"Tapi ... "


"Nggak ada tapi-tapian. No debat. TITIK. NGGAK PAKE KOMA." Tegas Alvian mode CEO seperti dia sedang berada di kantor membuat Refano mendengkus.


"Dasar, adik nggak ada akhlak. Minta tolong kek, malah main perintah-perintah," delik Refano pura-pura kesal. Namun yang diomeli justru tersenyum lebar karena kini mereka sudah lebih dekat selayaknya adik kakak yang tak pernah terpisah.


Melihat Alvian tersenyum, Refano pun tak dapat menutupi kebahagiaannya yang membuncah. Ia pikir, ia benar-benar sendirian sekarang. Namun nyatanya, ia memiliki sumber kebahagiaan yang baru. Sumber semangat baru. Mungkin inilah yang disebut pelangi setelah badai. Ia harap, badai dalam hidupnya segera berlalu.


'Ternyata benar kata bik Minah, serahkan segalanya pada Allah. Yakinlah, percayalah pada-Nya, insya Allah ketenangan dan kebahagiaan menghampirimu,' gumam Refano dalam hati membenarkan nasihat bik Minah. Semenjak mendapatkan nasihat dari bik Minah, ia kembali menjalankan ibadahnya. Menghadap sang pencipta. Berpasrah, bertawakal, dan lihatlah apa yang terjadi kini, adiknya yang baru ia ketahui ternyata bisa menerimanya dengan tangan terbuka. 'Alvian laki-laki yang baik. Kau pasti bahagia bersamanya, Ra. Semoga bahagia selalu menyertaimu dan anak-anak kita. Kini ... aku ikhlas melepasmu. Berbahagialah.' Lirih Refano dalam hati saat teringat sosok mantan istrinya yang telah menjadi istri adiknya sendiri.


...***...

__ADS_1


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2