
Baru saja Zafira meletakkan bawaannya ke atas meja, sepasang lengan kekar telah merengkuhnya lebih dahulu dari belakang. Dagu pria itu ia tumpukan di pundak kanan Zafira membuat perempuan itu menjengit kaget.
"Bang," pekik Zafira terkejut. Padahal ia telah menikah beberapa Minggu dan Alvian memang kerap memperlakukannya seperti ini, tapi ia masih saja sering terkejut. Pernikahan keduanya ini benar-benar terasa beda dari pernikahan pertamanya. Namun bukan ia tak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Ia pernah, saat awal-awal menikah. Namun di di saat bersamaan Liliana memergokinya. Ia memandang tak suka lalu memanggil Refano mengikutinya dan semenjak itu, Refano tak pernah lagi melakukan hal seperti itu. Entah apa yang Liliana katakan sampai-sampai senyum pun tak pernah terbit sekalipun di bibir mantan suaminya itu.
"Apa sayang?"
"Lepasin. Fira mau cuci tangan terus siapin makan siang. Emangnya Abang nggak laper?"
"Laper. Laper banget malah."
"Ya udah, singkirin tangannya biar Fira bisa segera nyiapin makan siangnya," ucap Zafira seraya berusaha melepaskan tangan Alvian yang memeluknya erat dari belakang. Namun bukannya terlepas, pelukan itu justru kian erat. Zafira sampai memejamkan matanya saat bibir Alvian mendarat di leher indahnya.
"Aku memang lapar. Tapi nggak pingin makan nasi," bisik Alvian sensual membuat Zafira merinding.
"Te-terus Abang mau ma-makan apa?" Zafira gelagapan sendiri karena Alvian telah menghisap kulit lehernya. Dapat ia pastikan hisapan itu akan meninggalkan jejak di sana.
"Makan kamu. Aku mau makan kamu, sayang. Mau ya?"
"Bang," pekik Zafira seraya mendesis geli-geli nikmat.
"Mau ya?"
"No, ini kan kantor, bang. Masa' ... Ck ... aku nggak mau. Bagaimana kalau ada yang masuk?" lirih Zafira seraya mencoba menjauhkan lehernya dari serangan singa jantan di belakangnya. Namun namanya juga singa jantan, kalau udah bertemu dengan mangsanya, pantang untuk melepaskan.
"Tenang aja. Pintu udah ku kunci. Lagipula nggak akan ada yang berani masuk sesukanya ke mari. Jangankan masuk, mengetuk pintu pun tak berani sebelum aku yang suruh atau melalui Luthfi. Tapi Luthfi pun sedang nggak ada. Jadi ... nggak masalah kan," bisiknya nakal dengan tangan yang sudah bergerak nakal masuk ke dalam pakaian Zafira melalui bagian bawahnya.
__ADS_1
"Emang Luthfi kemana, bang?"
"Ck ... lagi gini masih mau nanyain Luthfi sih? Senjata aku udah tegang gini, masih nanyain yang lain." Rajuk Alvian yang langsung membalikkan badan Zafira sehingga berhadapan dengannya. Lalu tanpa basa-basi lagi, ia menyergap bibir merah Zafira dengan penuh gairah. Semenjak menikah, ada-ada saja fantasinya akan hubungan suami istri. Salah satunya ya ini, melakukannya di kantor. Mungkin kalau hanya karyawan biasa hanya bisa sekedar berfantasi alias halu saja, tapi dia kan bos. Suka-suka bos lah. Asal ruangan tertutup, semua akan aman terkendali, ya kan! Hahahaha ...
Dasar, otak mesyum!
Mesyum sama istri sendiri boleh lah ya! Asal bukan sama perempuan lain apalagi istri orang. BAHAYA!!!
Zafira tidak bisa lagi berkata tidak. Bukankah ini salah satu cara mempertahankan keutuhan rumah tangganya. Laki-laki memiliki kebutuhan biologis. Bila kebutuhannya tidak tercukupi dengan baik, bisa-bisa dia ditikung si bibit pelakor. Sebelum itu terjadi untuk yang kedua kalinya, Zafira harus mengambil tindakan. Apalagi kalau bukan membantu suaminya mewujudkan keinginannya yang sedikit mesyum. Maka dengan senang hati, Zafira pun akan mewujudkannya.
Kini kedua pasangan suami istri itu sedang terengah. Sorot mata mereka berdua telah berkabut gairah. Saling mendamba, saling memuja, saling melepaskan dahaga, tak ada yang mereka inginkan saat ini selain saling memuaskan satu sama lain. Mencapai puncak, menuju nirwana. Ruangan kerja Alvian akhirnya ikut menjadi saksi, pendakian laki-laki itu menuju puncak tertinggi dalam bercinta.
...***...
"Huh, padahal masih kangen. Tapi ya udah deh. Demi putraku tercinta, papa yang ganteng ini harus mengalah," selorohnya membuat Zafira tergelak.
"Kangen? Idih. Baru juga pisah berapa jam, bang. Kayak udah tahunan nggak ketemu aja."
"Ya mau gimana lagi, sedetik rasanya sebulan, semenit rasanya setahun, satu jam rasanya sewindu, apalagi sehari, rasanya udah kayak seabad."
"Halah, gombalanmu, bang." Zafira tersenyum geli. Namun tak dapat dipungkiri bunga-bunga di hatinya kian bermekaran setiap harinya. Bagaimana tidak bila hampir setiap hari ia disirami dengan perhatian, kasih sayang, juga kata-kata manis penuh pemujaan dan rasa cinta. Terkadang Zafira merasa bersalah sebab hingga hari ini ia belum pernah menyatakan perasaannya apalagi mengungkapkan isi hatinya. Namun bersyukur, Alvian tak pernah merecokinya dengan pertanyaan sudah cintaku dirinya padanya.
"Ya ampun, Yang, kapan sih aku itu nggak dikira gombal? Aku tuh serius tahu, bukan Aquarius apalagi Sagitarius. Benar-benar serius." Ucap Alvian yang membuat Zafira tak bisa menahan tawanya. Lantas ia melingkarkan tangannya di leher Alvian membuat laki-laki itu tersenyum lebar.
"Mau lagi ya? Awww ... kok dicubit sih Yang?"
__ADS_1
"Habisnya, pikirannya nggak jauh dari sana."
"Maklumlah Yang, sekian tahun menjaga diri, saat ketemu sarangnya spontan aja jadi candu. Candu banget malah. Sehari nggak asikasik rasanya kayak ada yang kurang. Kepalaku mendadak sakit nyut-nyutan gitu. Bukan kepala atas aja, tapi yang bawah juga. Awww ... ya ampun, nyubit terus. Aku ciVok sampai lemes baru tau rasa."
Plak ...
"Udah ah, mending Fira pulang. Kalau nggak bisa-bisa ada asikasik season 2 di sini," ujar Zafira sambil bersungut-sungut membuat Alvian tergelak kencang. Senang sekali rasanya menggoda istri cantiknya itu.
Baru saja Zafira hendak berpamitan, bersamaan dengan ponsel Alvian yang ada di atas meja berdering nyaring. Dahi Zafira mengernyit saat sempat melihat nama penelpon yang tampil di layar ponsel suaminya. Namun Alvian segera meraih ponselnya dan menekan riject panggilan itu membuat batin Zafira dipenuhi tanda tanya.
"Kok diriject? Emang siapa?" tanya Zafira seolah-olah belum sempat melihat siapa yang menelpon suaminya itu.
"Oh, bukan siapa-siapa kok. Nggak penting. Ya udah, aku anter sampai ke lobby yuk!" ajak Alvian sambil merengkuh pinggang Zafira dan mengeratkan rangkulannya.
"Oh," lirih Zafira sedikit merasa kecewa kenapa Alvian sampai menutupi hal tersebut.
'Sebenarnya apa yang bang Al sembunyikan dariku? Semoga itu bukan hal yang buruk. '
Tiba-tiba Zafira mengingat kata-kata Liliana saat mereka terakhir bertemu.
' ... Kau pikir kau dinikahi karena dia benar-benar mencintaimu? Hahaha ... Mau salah Fira. Mereka tidak benar-benar menyayangimu. Sebaliknya, kau hanya dimanfaatkan oleh mereka untuk membalas dendam. Kau tahu ... ibu mertuamu itu adalah adik tiriku. Adik tiri yang terbuang. Hahaha ... Dan mereka memanfaatkanmu untuk membalas dendam terhadapku. ... '
'Tidak. Aku yakin bang Al maupun bunda tidak melakukan itu. Aku yakin perasaan mereka tulus padaku maupun anak-anak. Aku yakin, ibu mas Refano hanya ingin mengadu domba kami saja.' Zafira membatin, mencoba meyakinkan dirinya untuk percaya pada Alvian maupun Bu Ayu kalau mereka benar-benar tulus padanya.
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...
__ADS_1