
Setelah melalui serangkaian pemeriksaan, akhirnya hasil kecocokan ginjal milik pak Marwan dan Refani pun keluar. Hasil pemeriksaan menunjukkan kecocokan. Karena kondisi kesehatan pak Marwan kian menurun dan para dokter pun telah mendiagnosa angka harapan hidupnya sudah sangat kecil, dokter pun segera mempersiapkan ruang operasi untuk melakukan proses transplantasi ginjal pada Refani.
Sebelum proses operasi dilakukan, Refano terlebih dahulu menemui ayahnya yang sudah kehilangan kesadarannya sejak terakhir berbicara dengan Alvian kemarin. Baru saja melihat tubuh ringkih ayahnya yang dipenuhi selang, air mata Refano langsung luruh. Dadanya berdenyut nyeri. Dipandanginya wajah ayahnya yang sepertinya ini merupakan detik-detik terakhir ia bisa melihat sang ayah dengan nafas yang masih berhembus. Refano membekap mulutnya untuk meredam suara tangisannya.
"Papa, terima kasih telah membuatku hadir di dunia ini. Sungguh, meskipun Refan sering merasa sakit, sedih, terluka, dan kecewa dengan sikapmu, tapi Refan tak pernah membenci papa. Refan sayang papa. Semoga pengorbanan papa ini bisa menjadi penghapus dosa-dosa yang pernah papa lakukan. Terima kasih, terima kasih. Kami sayang papa," ucap Refano lirih sambil menggenggam sebelah tangan sang ayah. Air matanya tak berhenti mengalir. Hati anak mana yang tak sakit saat melihat sosok ayahnya terbaring lemah. Apalagi ini merupakan detik-detik terakhir sebelum ayahnya benar-benar pergi untuk selamanya.
"Kamu kuat, nak. Jangan terus bersedih. Ingat, ada Refani yang membutuhkan dukunganmu. Jangan sampai dia merasa bersalah saat mengetahui ayahnya meninggal setelah mendonorkan kedua ginjalnya." Ucap seseorang yang telah berdiri di belakang Refano. Refano menoleh. Air mata yang baru saja ia seka kini kembali berdesakan keluar dari pelupuk matanya. Melihat ada sosok yang mencoba menguatkannya membuat Refano benar-benar merasa terharu. Ia lantas memeluk sosok itu untuk menumpahkan kesedihannya.
"Bunda," lirih Refano. "Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih sudah mau menganggap Refan seperti putra bunda sendiri. Terima kasih sudah mau mendukung Refan di saat-saat terendah Refan. Terima kasih," ucapnya sambil sesenggukan. Bu Ayu mengusap punggung Refano. Setelah Refano sedikit tenang, ia meminta waktu sebentar untuk berbicara dengan Marwan. Entah Marwan akan mendengarnya atau tidak, terserah. Ia hanya ingin mengeluarkan apa yang mengganjal di dalam hatinya.
"Kak, kau masih mengingat suaraku kan? Atau perlu aku ingatkan lagi? Karena waktuku tak banyak, aku to the point saja ya. Kak, ini aku, Ayu. Terus terang aku masih sangat membencimu, tapi tak mungkin juga aku terus bergelut dengan dendam masa lalu bukan. Aku telah memaafkanmu, kak. Jadi, pergilah dengan tenang. Aku dan putramu, Alvian, telah memaafkanmu," ucap Bu Ayu tenang. Ia menghela nafas panjang, kemudian menghembuskannya. Setelah mengatakan itu, perasaannya kini terasa benar-benar plong.
Tanpa Bu Ayu sadari, setelah kepergiannya dari ruangan serba putih itu, setetes air mata jatuh dari sudut mata Marwan yang tertutup rapat.
'Terima kasih, Yu. Setidaknya, setelah ini aku bisa pergi dengan tenang.'
...***...
__ADS_1
Proses operasi telah berlangsung lebih dari 3 jam, tapi lampu tanda operasi tengah berlangsung masih tetap menyala. Pertanda kalau proses operasi belum juga selesai.
Tampak Refano ditemani Alvian dan Luthfi duduk dengan gelisah di depan ruangan yang tertutup rapat tersebut. Saat kumandang adzan Dzuhur menggema dari masjid yang terletak di sebelah rumah sakit, Refano dan Alvian pun serempak berdiri. Mereka hendak menunaikan kewajiban mereka sekaligus berdoa memohon kelancaran proses operasi Refani.
"Kalian sholat duluan aja. Biar aku yang jaga di sini," ucap Luthfi saat Refano dan Alvian tampak bingung bagaimana kalau tiba-tiba operasi selesai dan tidak ada orang yang menunggui di sini. Namun, setelah mendengar perkataan Luthfi, Refano menghela nafas lega. Lantas mereka pun segera pergi ke mushola yang ada di rumah sakit itu untuk menunaikan kewajibannya. Tak lupa mereka berdoa untuk orang-orang yang dikasihinya termasuk kesuksesan proses operasi Refani.
Sekembalinya dari musholla, Alvian dan Refano tidak mendapati Luthfi di depan ruang operasi. Melihat lampu tanda operasi sedang berlangsung telah padam, membuat mereka berpikir kalau operasi telah usai. Namun mereka kebingungan karena tak tahu Refina di bawa ke ruangan mana. Nomor ponsel Luthfi juga tak dapat dihubungi membuat kedua kakak adik itu gelisah.
"Sus, pasien yang tadi menjalani operasi di ruangan ini dibawa ke mana ya?" tanya Alvian saat melihat seorang perasa
"Oh, itu, pasien telah dibawa ke ruangan pemulihan. Bapak bisa ikuti jalan ini lalu belok ke kanan. Anda bisa mencari pasien di sana," ujar perawat itu sambil menunjukkan arah ruang pemulihan.
"Luthfi, bagaimana keadaan Fani? Operasinya berhasil kan?" cecar Refano tak sabaran, sedangkan Alvian hanya diam menyimak.
Luthfi mengangguk tersenyum, membuat Refano dan Alvian berseru Alhamdulillah. Namun kelegaan itu tak berlangsung lama, sebab mereka tiba-tiba ingat dengan keadaan Marwan. Lantas mereka pun kembali menitipkan Refani pada Luthfi, kemudian bergegas berlari untuk melihat sang ayah. Setelah menemukan keberadaannya, tangis Refano pecah saat melihat tubuh kaku sang ayah yang tertutup selembar kain putih. Dibukanya kain yang menutupi wajah, wajah itu kini telah memucat dengan bagian bibir membiru karena tak ada aliran darah. Refano lantas memeluk tubuh sang ayah yang mungkin ini akan jadi pelukan terakhirnya. Ia menumpahkan kesedihannya mengapa keluarganya harus berakhir seperti ini. Namun ia tahu, tak ada yang mesti disesali. Apalagi ayahnya berkorban untuk menyelamatkan nyawa putrinya. Mungkin ini sudah jalan takdir mereka jadi Refano hanya bisa menerima dengan ikhlas dan tabah.
Alvian mematung saat melihat sosok Marwan yang telah menghembuskan nyawanya untuk selamanya. Alvian memejamkan matanya untuk menetralkan degup jantungnya yang tak beraturan. Melihat sang kakak yang tergugu dalam tangisnya, Alvian lantas menepuk pundaknya membuat Refano menoleh dan segera berhambur memeluk tubuh sang adik. Mereka lantas menangis bersama sambil berpelukan.
__ADS_1
...***...
Kini jenazah Marwan telah dibersihkan dan dibawa pulang Refano dengan mobil ambulance. Satu persatu pelayat datang menyatakan berbela sungkawa. Sore harinya, jenazah Marwan pun dimakamkan dengan disaksikan Refano dan orang-orang terdekatnya.
"Ikhlaskan papa kamu, Fan. Insya Allah, dia udah tenang di alam sana," ucap Bu Ayu lembut. Refano sudah tak menangis lagi. Namun kesedihan masih begitu kentara di wajahnya. Refano berterima kasih pada Bu Ayu yang bersedia menguatkannya.
Di sisi lain, ada seorang perempuan yang sedang menelpon seseorang sambil duduk di atas kursi rodanya. Ia tidak sendirian di sana. Ada seorang perempuan berpakaian serba putih yang menemani sambil melihat ke sekelilingnya.
"Apa? Dia ... meninggal?"
" .... "
Tangan perempuan itu mengepal penuh amarah dan kebencian.
"Lakukan rencana awal kita! Lakukan dengan bersih, jangan sampai ada yang melihat. Kau mengerti!"
" .... "
__ADS_1
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...