
2 bulan kemudian,
Tepat pukul 1 dini hari, Zafira merasa perutnya tidak nyaman. Lantas ia berdiri dan berjalan mondar-mandir untuk meringankan rasa tak nyaman itu. HPL nya memang tak lama lagi, tak kurang dari 2 Minggu lagi, tapi ia sangat paham akan arti rasa itu. Rasa ingin segera melahirkan. Namun ia masih mencoba untuk bersabar. Tak mau gegabah membuat semua orang pontang-panting karena panik. Apalagi rasa itu baru muncul satu jam yang lalu.
Namun rasa itu kian menjalar. Zafira pun meringis sambil mencengkram erat pinggiran dinding akibat rasa sakit yang kian menjalar-jalar itu.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Alvian khawatir sambil mengucek matanya agar yang masih setengah sadar. Melihat ekspresi tak biasa istrinya, membuat Alvian bergegas berdiri. "Sayang ... "
"Bang, kayaknya aku sebentar lagi lahiran deh," cicit Zafira sambil meringis membuat Alvian memekik kaget.
"Apa?" pekiknya dengan mata membuat membuat kesadarannya on 100%. "Kenapa kamu nggak bangunin Abang? Ah, ya sudahlah. Abang cuci muka sebentar ya!" ucap Alvian. Tanpa menunggu jawaban, ia langsung menuju kamar mandi dan mencuci muka seadanya. Yang penting, ia tidak mengantuk lagi. Setelahnya, ia mengambil jaket sang istri dan memakaikannya pada tubuh Zafira agar istrinya itu tidak kedinginan. Tak lupa ia juga memakai jaket miliknya. Kemudian Alvian meraih tas yang berisi perlengkapan persalinan yang telah Zafira siapkan jauh-jauh hari. Setelahnya, ia pun bergegas menuntun Zafira keluar dari kamar menuju mobilnya yang telah stand by di depan rumah. Ia tadi sempat menghubungi Baron agar menyiapkan mobil dengan segera. Untung saja pada saat itu Baron masih menonton bola bersama pak Sukri, keamanan rumahnya jadi hanya dengan sekali panggilan saja, Baron langsung mengangkatnya.
"Tolong antar kami ke rumah sakit, Ron." Seru Alvian saat Zafira telah masuk ke dalam mobil. "Pak Sukri, kalau bunda cari Al, bilang aja Al sama Fira pergi ke rumah sakit. Fira sudah mau melahirkan," ucapnya yang tanpa membutuhkan jawaban langsung masuk ke dalam mobil menyusul sang istri. Setelahnya, Baron pun segera melarikan mobil itu ke rumah sakit.
__ADS_1
...***...
"Bu Zafira sudah pembukaan 7. Kami akan segera bersiap. Ibu Zafira jangan mengejan dulu ya. Ditahan dulu. Saya akan segera memanggil dokternya," ucap perawat yang baru saja memeriksa keadaan Zafira. Zafira hanya mengangguk dengan nafas tersengal-sengal. Ia tak kuasa untuk berbicara lagi sebab rasa sakit itu benar-benar menyiksa. Namun ia tetap bersabar. Ini harus terus berjuang demi buah hatinya yang tak sabar lagi melihat dunia.
Di sampingnya, tampak Alvian dengan setia menggenggam tangan Zafira. Ia juga terus mengecup dahi dan ubun-ubunnya untuk memberikan semangat dan keyakinan kalau ia akan selalu ada di sisinya.
Hal ini mengingatkan Zafira pada saat ia melahirkan Baby Zafran 1,5 tahun yang lalu. Padahal saat itu Alvian bukan siapa-siapanya. Hanya sebatas atasan dan bawahan, tapi Alvian selalu setia mendampingi dirinya dan memberikan dukungan padanya. Ia juga yang mengadzani putranya itu. Ia tak menyangka, kini mereka kembali ke masa yang hampir sama. Tapi dengan status yang berbeda. Laki-laki itu kini telah resmi menjadi suaminya. Bahkan anak yang ia kandung pun merupakan buah cinta dirinya dan laki-laki itu. Tak tergambarkan rasa bahagia Zafira saat ini. Ia bersyukur telah dipertemukan dengan laki-laki yang sangat baik, dewasa, dan penyayang seperti Alvian.
...***...
Tangis haru memenuhi ruangan serba putih itu. Bukan hanya Zafira yang menangis, tapi juga Alvian. Ia tak menyangka, buah cintanya dengan sang istri telah lahir dengan sempurna ke dunia. Sepasang bayi laki-laki dan perempuan. Sungguh anugerah yang luar biasa dari yang maha kuasa untuknya.
"Terima kasih sayang. Terima kasih atas hadiah terindah dan terbaik ini. Abang benar-benar mencintaimu. Sangat mencintaimu." Bisik Alvian sambil mengecup dahi Zafira dalam. Air matanya menetes jatuh tepat di pipi Zafira. Zafira pun tak kuasa menahan haru. Memiliki seseorang yang sangat mencintaimu itu merupakan sebuah anugerah. Bila awalnya ia menikah karena kasih sayang Alvian yang begitu besar dan belum mampu ia balas, tapi kini, ia telah berhasil meyakinkan diri kalau ia telah benar-benar jatuh hati pada suaminya yang usianya lebih muda darinya itu. Usia muda bukan tolok ukur kedewasaan seseorang. Banyak di luar sana orang-orang yang usianya lebih muda justru lebih dewasa dan bijak sama seperti suaminya.
__ADS_1
Zafira tersenyum lembut, diraihnya wajah sang suami lalu dilabuhkannya sebuah kecupan tepat di bibir Alvian.
"Bukan hanya Abang, Fira pun sangat mencintai Abang. Sangat-sangat mencintai. Terima kasih atas cinta yang begitu besar dan murni ini, bang. Terima kasih telah bersabar menunggu balasan cintaku. Memilikimu adalah sebuah anugrah luar biasa. Aku bahagia bisa menjadi bagian dalam hidupmu. Aku mencintaimu, bang. Sangat mencintaimu."
Akhirnya, setelah hampir satu tahun merajut asa dalam sebuah biduk rumah tangga, Zafira pun berhasil mengungkapkan perasaannya. Mungkin terdengar begitu lama, tapi mau bagaimana lagi, tidak mudah bagi Zafira untuk meyakinkan dirinya. Ia butuh waktu untuk memantapkan diri. Luka hati yang pernah ia rasa membuat hatinya sulit untuk mengungkapkan rasa. Rasa ragu, bimbang, dan khawatir sering membayangi benaknya. Bersyukurnya, Alvian tak pernah mempermasalahkannya. Ia justru selalu berupaya meyakinkan Zafira kalau cintanya bukan sekedar di mulut, tapi benar-murni dari hati yang terdalam.
Alvian makin tergugu setelah mendengar ungkapan itu. Ia bahagia, akhirnya cintanya bersambut. Meskipun ia tahu selama ini Zafira melayaninya dengan tulus dan penuh kasih sayang, tapi sama seperti perempuan yang membutuhkan kepastian, dia pun telah lama menunggu kepastian perasaan ini.
Alvian tak dapat menyembunyikan buncahan kebahagiaan yang telah memenuhi relung jiwanya. Ia tersenyum dengan air mata menggenang. Hari ini merupakan hari paling bersejarah baginya. Bukan hanya karena hari ini merupakan hari kelahiran kedua putra dan putrinya, tapi karena hari ini juga ia bisa mendengarkan secara langsung ungkapan isi hati sang istri yang juga sangat mencintainya.
"Terima kasih, sayang. Terima kasih karena telah membalas cintaku. Terima kasih, cintaku. Terima kasih, sayangku. Aku bahagia. Sangat-sangat bahagia," lirih Alvian dengan derai air mata. Bukan air mata kesedihan, tapi sebaliknya, ini merupakan air mata kebahagiaan.
Dokter dan perawat yang masih berada di dalam ruangan itu hanya bisa tersenyum. Mereka pun ikut terhanyut dalam keharuan yang telah diciptakan kedua anak manusia yang saling mencintai itu. Mereka dapat melihat betapa besar cinta antara kedua insan itu. Beginilah seharusnya pasangan suami-isteri, saling menyayangi, mencintai, saling mendukung, dan menguatkan. Dalam hati mereka berdoa, semoga pasangan itu selalu harmonis selamanya.
__ADS_1
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...