
Zafira memandang penuh haru pada ketiga orang di depan sana yang sedang saling berpelukan. Sungguh, pemandangan seperti ini sudah sangat lama ia impikan. Namun lucunya, hal ini justru terjadi saat mereka telah berpisah. Namun mereka hanya bisa menerima. Ini sudah menjadi suratan takdir mereka. Mereka hanya bisa menjalani dengan hati yang sabar.
Mata Zafira ikut berkaca-kaca melihat bagaimana anak-anaknya menumpahkan kesedihan, kerinduan, dan kebahagiaan mereka dalam dekapan sang ayah. Meskipun saat itu Zafira begitu marah dan sakit hati juga kecewa bahkan membenci Refano, tapi ia tak pernah sekalipun mengajarkan anak-anaknya untuk membenci sosok ayahnya. Sudah cukup mereka merasakan kecewa karena diabaikan ayahnya sendiri, ia tak mau memupuk kebencian sehingga membuat hati anak-anaknya menjadi menghitam. Ia tak ingin menanamkan kebencian yang bisa jadi menjadi momok menakutkan di kemudian hari. Tak jarang, perpisahan orang tua membuat anak-anak menjadi trauma pada sebuah hubungan seperti pernikahan. Akibatnya pun bermacam-macam, ada yang enggan menjalin hubungan, ada yang enggan menjalin hubungan serius, ada yang jadi suka mempermainkan sebuah hubungan, dan masih banyak lagi. Betapa ia akan menyesali perbuatannya bila ia melakukan itu. Apalagi setelah tahu latar belakang yang membuat sang mantan suami memperlakukan dirinya dan anak-anaknya seperti itu.
Hati Zafira bak ditikam sembilu. Apalagi saat Refano mengalihkan tatapannya padanya. Sorot mata itu benar-benar mengiris kalbu. Kerinduan yang mungkin seluas samudera membuat laki-laki itu sampai menangis sesegukan. Zafira sampai tak habis pikir, betapa tega mantan mertuanya dahulu memperlakukan anaknya hingga seperti ini. Membuat sang anak harus menelan pil pahit dengan perpisahan. Tak dapat Zafira bayangkan, betapa hancur dan sakitnya hati Refano selama ini harus memendam rasa seorang diri tanpa ada tempat berbagi.
Jantung Zafira selama diremas oleh tangan-tangan tak kasat mata. Sangat sakit. Sesak. Sampai menarik nafas pun Zafira merasa kesulitan.
Melihat sang istri ikut terbawa suasana, Alvian lantas merengkuh pundak Zafira dan membenamkan wajahnya di dada bidangnya. Ia yang laki-laki saja sampai menitikkan air mata karena ikut terharu melihat adegan melepas rindu antara ayah dan anak di hadapannya. Alvian yakin, siapapun yang melihat adegan di hadapannya ini akan ikut meneteskan air mata. Bagaimana tidak, mereka harus saling memendam rindu selama bertahun-tahun dan baru bisa menumpahkannya hari ini. Satu atap tapi pura-pura tak peduli itu lebih menyakitkan daripada benar-benar terpisah. Namun ia bersyukur, perlahan tapi pasti permasalahan mulai terurai. Kerinduan yang terpendam kini tak perlu ditutupi lagi. Mungkin inilah arti istilah, semua akan indah pada waktunya. Dan mungkin inilah saatnya Refano dan anak-anaknya akan memetik keindahan itu.
"Papa, ayo liat adek. Adek lucu banget lho, pa. Adek udah bisa belajar tengkurap juga. Tapi masih harus dibantu mama," seru Regina sambil menarik tangan Refano untuk mendekat ke stroller dimana baby Zafran berada. Refano tersenyum geli melihat mata kedua putrinya membengkak karena lama menangis. Hidung mereka berdua pun jadi sangat merah, tapi tetap tak mengurangi kecantikan putri-putrinya itu.
"Iya papa, liat adek Zaplan yok, pa. Papa belum pelnah gendong adek kan?" timpal Refina yang ikut menarik tangan sang ayah agar melihat adik mereka.
Refano melirik ke arah Zafira terlebih dahulu, seolah meminta izin melalui sorot mata. Zafira mengangguk sambil menyeka air matanya. Sungguh, melihat mantan istrinya menangis seperti itu membuat hatinya seakan dicubit.
Namun, perasaan itu berganti kelegaan saat melihat anggukan dari Zafira. Dengan perasaan yang kian membuncah, ia pun segera menuju stroller sang anak. Ternyata baby Zafran baru saja bangun dari tidurnya. Baby Zafran tersenyum manis dengan mata mengerjap-ngerjap membuat rasa haru menyeruak dan lagi-lagi membuat bulir-bulir kristal bening berdesakan keluar dari pelupuk matanya. Dengan tangan sedikit bergetar, Refano menggendong buah hatinya.
Air matanya benar-benar tumpah saat baby Zafran telah benar-benar berada dalam gendongannya.
"Anakku ... anak papa. Sayangnya papa, maafin papa ya, nak baru melihatmu sekarang. Zafran ... anak papa. Sayangku ... " Refano menumpahkan tangisnya sambil menciumi wajah Baby Zafran. Ditumpahkan kasih sayang dan kerinduannya melalui ciuman bertubi di pipi, mata, dahi, dan ubun-ubunnya.
Sungguh, sudah lama ia menantikan momen ini. Sudah lama ia berharap bisa menyentuh, menggendong, dan mencium buah hatinya itu. Bila dulu saat Regina dan Refina lahir, ia bisa curi-curi kesempatan untuk melakukan itu, tapi tidak pada baby Zafran. Bukan hanya karena ia telah bercerai dengan Zafira, tapi juga karena mereka tinggal terpisah dan mereka pula tidak memiliki komunikasi yang baik bahkan nyaris tak pernah sama sekali berkomunikasi. Tak akan ia sia-siakan kesempatan ini. Akan ia luapkan segenap kerinduannya pada bayi mungilnya yang begitu tampan.
__ADS_1
Setelah melepas rindu dengan baby Zafran, Alvian pun mempersilahkan Zafira berbicara berdua dengan Refano. Ia yakin, banyak hal yang ingin disampaikan kakaknya itu pada istrinya. Alvian juga meminta Caca dan Sinta mengajak anak-anaknya ke taman yang ada di samping gedung perusahaan itu agar Zafira bisa berbicara dengan Refano tanpa terganggu oleh anak-anaknya.
Apakah ia tidak takut Zafira tiba-tiba ingin kembali pada mantan suaminya?
Tentu saja ia takut. Namun, ia harus menepis egonya. Sebab ia tahu, tidak mudah untuk menjadi kedua orang itu. Melewati hari-hari bersama yang tidak sebentar lalu tiba-tiba harus berpisah karena suatu hal, Alvian tak bisa membayangkan betapa hancurnya perasaan mereka sebenarnya harus dipisahkan secara paksa.
Lalu, apakah ia tidak cemburu?
Sebagai seorang laki-laki yang begitu mencintai istrinya, tentu saja Alvian merasa cemburu. Dan lagi-lagi ia harus menepis egonya. Sebab ia yakin dan percaya, istrinya akan selalu menjaga marwahnya sebagai seorang istri.
...***...
"Fira ... " gumam Refano saat mereka ditinggal berdua saja di ruang kerja Alvian. Alvian memilih duduk di kursi tempat dimana Zafira masih bekerja dulu. Memberikan kesempatan untuk keduanya mengurai benang-benang kusut masa lalu.
Brukkk ...
Tiba-tiba Refano menjatuhkan lututnya di hadapan Zafira membuat wanita itu terlonjak dari tempat duduknya dan berdiri dengan jantung bergemuruh.
"Mas, kamu ... kamu kenapa begitu?"
"Maafin mas, Fira Maafin salah dan dosa mas selama ini. Mas ... sungguh seorang suami dan ayah yang buruk. Mas sadar, mas tak pantas meminta apalagi mendapatkan maaf dari mu, tapi ... tapi mas tetap memohon maaf. Maafkan mas Fira yang tidak bisa menjaga dan melindungi kalian. Maafkan mas atas rasa sakit yang telah mas torehkan selama ini. Maafkan mas, maafkan mas, mas mohon maaf ... maaf ... maaf ... " ujar Refano sambil tergugu dengan nafas tercekat. Berkali-kali ia menyeka air mata yang berderai membasahi pipi.
Sebenarnya Zafira masih merasakan sakit atas perbuatan Refano selama ini. Namun, Zafira yang sudah tahu alasan atas sikapnya itu hanya bisa mencoba untuk memaafkan. Ia yakin, Refano benar-benar sedang terpuruk saat ini. Permasalahan demi permasalahan menghantam dirinya bertubi-tubi. Bila itu orang lain, Zafira tak yakin masih bisa bertahan seperti mantan suaminya itu. Ia tak mau ikut menjadi beban dalam kehidupan Refano yang sudah sangat sulit. Tidak mudah untuk menjadi Refano. Doanya, semoga Refano bisa segera bangkit dan menjalani hidupnya dengan tenang serta meraih kebahagiaannya.
__ADS_1
Melihat Refano tergugu sambil bersimpuh membuat batin Zafira ikut tersiksa. Ia pun beranjak dan memegang pundak Refano lantas memintanya untuk segera berdiri.
"Mas, sudah, jangan begini. Ayo, berdiri!" ajak Zafira. Refano mendongak, netra mereka beradu. Refano menatap Zafira dengan binar rindu, cinta, dan juga penyesalan. Zafira sampai terpaku dibuatnya. Zafira lantas mengalihkan pandangannya agar tidak bersirobok dengan netra hitam pekat Refano. Ia takut tiba-tiba terhanyut dalam pusara cinta yang belum padam seutuhnya dari dalam hatinya.
"Mas, bangunlah. Aku ... aku sudah memaafkanmu. Aku memang marah dan benci padamu. Tapi setelah mengetahui alasan kau bersikap demikian, perlahan rasa benci itu memudar. Meskipun belum sepenuhnya hilang, tapi aku sudah ingin berdamai dengan masa lalu. Kau memiliki alasan yang kuat melakukan itu. Aku tidak membenarkan apa yang kau lakukan, tapi semua telah terlanjur terjadi. Masa lalu tak bisa diputar ulang kembali. Kita hanya bisa mencoba memperbaiki apa yang kita bisa perbaiki di masa depan, termasuk belajar berdamai dengan masa lalu. Aku sudah memaafkanmu, mas," ujar Zafira panjang lebar membuat Refano makin terisak mendengarnya. Akhir-akhir ini, ia menjadi laki-laki yang cengeng. Entah sudah berapa kali ia menangis dalam Minggu ini. Apalagi saat ia mengerjakan shalat malam, di saat itulah ia tumpahkan segala laranya pada sang Pencipta. Berharap mendapatkan obat yang mujarab atas segala rasa sakit yang ia rasa. Dan salah satu obat itu adalah kata maaf dari wanita yang pernah ia sakiti ini. Ia benar-benar bersyukur, Zafira masih mau memaafkannya. Bahkan Zafira mau mempertemukannya dengan anak-anaknya. Ia yakin, sebelum kemari, Zafira telah menasihati anak-anaknya agar mau memaafkan dan menerimanya sebagai seorang ayah. Sungguh mulai hati mantan istrinya ini. Ia merasa begitu bodoh telah melepaskannya. Namun, apa mau dikata, ini takdir mereka. Mereka hanya bisa menjalani dan Allah lah yang maha menentukan segalanya.
"Terima kasih, Fira. Terima kasih atas maaf yang mau beri. Terima kasih atas kesempatan yang kau berikan untukku bertemu dan melepas rindu dengan anak-anak. Kau memang wanita yang luar biasa. Terima kasih," ucap Refano tulus.
"Berterima kasihlah pada Allah dan Alvain karena Allah lah yang telah membuka pintu hatiku untuk memaafkanmu melalui perantara Bang Al. Dia menceritakan segalanya dan menasihatiku agar mau memaafkanmu."
Refano tersenyum tulus. Adiknya itu juga benar-benar luar biasa pikirnya. Bahkan ia dengan mudahnya mempersilahkan mereka bicara berdua.
"Tentu saja. Mas pun sangat bersyukur pada Allah atas anugerah-Nya telah membuka pintu maaf mu untuk mas. Mas juga akan berterima kasih pada Alvian sebab tanpa perantaranya mungkin mas akan kesulitan meminta maaf padamu." Ucap Refano membuat Zafira mengangguk. "Ra, boleh aku mengatakan sesuatu padamu?"
"Apa?"
"Mungkin kau akan terkejut dengan apa yang akan mas katakan, tapi mungkin ini juga merupakan kesempatan sekali seumur hidup untuk mas. Zafira, jujur, sebenarnya sejak awal pertemuan kita, mas telah jatuh cinta padamu. Bahkan hingga hari ini, rasa itu masih bertahta dalam hati. Namun, sayang, keadaan memaksa mas untuk menutupinya. Bahkan semesta pun tak merestui kita untuk selalu bersama. Maaf, bila mas membuatmu tak nyaman. Mas tidak memaksamu untuk menjawab. Setidaknya sekali saja, mas ingin mengungkapkannya agar perasaan mas terasa lebih lega. Terima kasih sudah terus bertahan selama 7 tahun ini. Mas tahu, pasti berat bagimu untuk melewatinya. Dan terima kasih juga sudah mau mendengarkan ungkapan isi hati, mas. Semoga kamu bahagia, Ra. Mas akan selalu mendoakan kebahagiaan mu dan anak-anak."
Setelah mengucapkan itu, Refano segera berdiri. Ditatapnya lekat wajah cantik Zafira. Direkamnya wajah itu dalam memorinya. Setelahnya, Refano pun segera pergi dari ruangan itu meninggalkan Zafira yang masih bergeming di tempatnya.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...
__ADS_1