Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan

Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan
Sehari bersama Regina dan Refina


__ADS_3

Untuk pertama kalinya, Refano benar-benar terjaga hingga sepanjang malam. Bukan tanpa alasan, untuk pertama kalinya, ia bisa menghabiskan malam bersama kedua putrinya membuatnya tak mampu membendung rasa bahagianya. Refano sampai tak mampu memejamkan mata meski sejenak. Baginya, ini merupakan sebuah anugerah untuknya. Takkan ia sia-siakan kesempatan untuk menikmati kebersamaannya dengan anak-anaknya.


Sepanjang malam, mata Refano terjaga. Sepanjang malam juga ia hanya sibuk memperhatikan kedua buah hatinya yang sedang terlelap. Mereka tampak tidur di sisi kiri dan kanan Refano. Mereka tidur saling berpelukan satu sama lain. Mungkin kebahagiaannya akan lebih sempurna saat baby Zafran bisa ikut bergabung. Namun sayang, hal itu tak mungkin terjadi sebab baby Zafran masih terlalu kecil.


Regina dan Refina tampak tidur dengan begitu nyenyak. Rambut mereka pun tampak berantakan dan hampir menutupi sebagian wajah keduanya. Refano terkekeh geli melihat kedua putrinya yang sedikit mendengkur. Namun mereka tetap terlihat imut dimatanya.


Tiba-tiba wajah Refano berubah muram. Begitu banyak waktunya yang terlewat begitu saja. Begitu banyak waktu yang seharusnya mereka habiskan bersama justru terlewatkan begitu saja. Seandainya ia dapat memutar waktu, ingin sekali ia kembali ke masa di mana awal pertemuannya dengan Zafira. Ingin ia manfaatkan waktu itu sebaik mungkin untuk mengukir kebahagiaan dalam kebersamaan. Namun, waktu tak mungkin diputar kembali. Kalaupun bisa, mungkinkah ia bisa memperbaikinya? Sedangkan takdir telah Allah tuliskan di Lauhul Mahfudz. Manusia hanya bisa menjalani dan Allah yang menentukan.


Terdengar kumandang adzan subuh, menyentak Refano dari lamunannya. Melihat kedua putrinya masih begitu pulas, ia lantas menciuminya sambil menggesek-gesekkan hidungnya di pipi Regina dan Refina secara bergantian. Bulu-bulu halus yang tumbuh di bawah hidungnya membuat keduanya menggeliat kegelian. Refano terkekeh saat kedua putrinya tampak kegelian karena ulahnya.


"Papa, geli," rengek Refina sambil mendorong wajah Refano. Lalu Refano beralih ke wajah Regina yang juga merespon sama.


"Papa, kumis papa mau tumbuh lagi ya? Geli tau, pa," gumam Regina sambil mengucek kedua matanya.


Refano terkekeh, "ayo, bangun! Udah adzan subuh. Kita sholat bareng, mau?" ucap Refano lembut membuat Regina dan Refina membulatkan matanya.


"Papa sholat?" beo mereka kompak.


Refano lantas mengacak rambut keduanya bergantian, "kok bengong kayak gitu?" Refano akui, mungkin keduanya benar-benar terkejut. Seumur hidup mereka saat mereka masih tinggal satu atap, tak pernah sekalipun mereka melihat dirinya mengerjakan ibadah wajib itu.


"Yuk, kita cuci muka terus ambil wudhu terus kita sholat bareng, mau kan!"


"Mau ... " seru keduanya bahagia. Bagaimana mereka tak bahagia, untuk pertama kalinya, ayah kandung mereka ingin mengajak mereka melaksanakan sholat subuh bersama.


"Tapi pa ... " Tiba-tiba Regina membalikkan badannya saat mengingat sesuatu.

__ADS_1


"Apa?"


"Regi sama Refi nggak bawa mukena jadi gimana?"


Refano tersenyum lebar lalu ia berjalan menuju lemari pakaiannya dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya.


"Papa sudah siapkan," ucap Refano sambil mengangkat 2 buah mukena plus sajadah khusus anak-anak. Regina dan Refina memekik girang apalagi warna mukenanya sesuai warna kesukaan mereka.


...***...


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh," ucap Refano yang diikuti kedua putrinya. Setelah itu, Refano memanjatkan doa dan ungkapan syukurnya atas apa yang telah dianugerahkan kepadanya. Setelah selesai, Refano membalikkan badannya menghadap Regina dan Refina sambil mengulurkan tangannya yang langsung disambut kedua bocah itu secara bergantian dengan sebuah ciuman di punggung tangan.


"Sayang, papa sebenarnya pingin banget masak bereng kalian berdua, tapi sayangnya papa nggak bisa masak," ujar Refano sambil terkekeh. Ya, Refano membayangkan dirinya dan anak-anaknya memasak bersama di dapur. Pasti sangat seru dan menyenangkan. Melihat wajah anak-anaknya yang belepotan tepung, mendengar canda tawa karena salah memasukkan bahan, menikmati hasil masakan mereka yang tidak sesuai ekspektasi, ah membayangkan itu Refano sampai tersenyum-senyum sendiri. Apalagi bila ada ibu dari anak-anaknya, pasti akan lebih menyenangkan.


Dulu, setiap melihat Zafira memasak di dapur, terkadang ingin rasanya ia berhambur memeluk Zafira dari belakang. Menciumi pipinya, mengganggu aktivitasnya, menggodanya hingga wajahnya bersemu merah, tapi sayang, semua tinggallah angan. Harapan yang tak kesampaian. Malang sekali dirinya. Mungkinkah ia bisa mendapatkan pengganti istrinya itu kelak? Yang mampu membuat hatinya bergetar. Yang mampu membuat jantungnya berdebar. Yang mampu menerimanya meskipun sikapnya sangat jauh dari tipe suami idaman.


"Eh, apa sayang? Kamu tadi bilang bisa apa?"


"Ih papa, kupingnya ****** dibelsihin ya? Kata kak Legi, kak Legi bisa goleng telul. Lefi mau makan sama telul kak," sambar Refina yang tiba-tiba ingin makan telur goreng buatan kakaknya.


"Wah, kak Regi udah bisa masak ya? Papa mau juga makan sama telur. Regi mau kan masakin telur buat papa?"


"Siap, papa. Let's go!" seru Regina sambil menarik tangan sang papa menuju dapur. Refina bersorak girang bisa bersenang-senang dengan kakak dan ayahnya.


Siang harinya, Refano mengajak kedua putrinya jalan-jalan di mall. Serba pengalaman pertama membuat Refano sedikit kaku. Ya, ini pertama kalinya ia masuk ke arena bermain yang ada di sebuah mall. Ada rasa bingung bagaimana cara agar anak-anaknya bisa bermain di sana. Mau bagaimana lagi, sepanjang hidupnya, ia hanya sibuk berkutat dengan buku. Setelah dewasa, ia beralih berkutat dengan dokumen. Definisi masa kecil kurang bahagia ya dirinya.

__ADS_1


"Papa kenapa?" tanya Regina bingung melihat papanya garuk-garuk kepala.


"Itu ... cara mainnya gimana?" tanya Refano saat melihat sebuah mesin capit boneka di depannya. Maksud hati ingin mengajak kedua putrinya bermain capit boneka, tapi ia tak mengerti bagaimana caranya. Regina dan Refina terkekeh lalu mengajarkan ayahnya itu. Menggelikan memang. Biasanya orang tua yang mengajarkan anak, tapi ini justru sebaliknya.


Mereka lantas bermain di mall itu sepuasnya. Mencoba berbagai macam permainan dengan senyum dan tawa yang tak pernah lepas dari bibir mereka. Saat mereka sedang bersenang-senang, ada sepasang mata yang tak sengaja melihat kebersamaan ayah dan anak-anaknya tersebut. Seulas senyum pun tersungging di bibirnya.


"Benar-benar hot daddy. Mas hot daddy," gumamnya.


"Mbak Lyn, kok malah nangkring di sini? Udah ditunggu produser di atas. Buruan." Ucap salah anggota tim yang akan membuat reality show di mall tersebut.


"Eh, iya. Sorry. Yuk!" Ajak Merlyn sambil melangkahkan kakinya menuju lift yang ada di tak jauh dari arena permainan. Di saat bersamaan, Refano menoleh ke arah luar. Entah mengapa ia merasa seperti ada yang memperhatikannya. Dilihatnya tak ada yang dikenalnya, Refano pun mengedikkan bahu.


"Mungkin perasaanku saja." Gumamnya.


...***...


"Kalian seneng nggak tidur sama papa terus jalan-jalan kayak gini sama papa?" tanya Refano yang kini sudah berada di dalam mobil untuk mengantarkan kedua putrinya pulang ke rumah.


"Seneng, papa. Coba dali dulu papa kayak gini, Lefi pasti seneeeeng banget," ucap Refina dengan raut wajah kentara bahagia.


"Iya papa. Regi dulu sedih banget, papa nggak pernah mau main sama kita. Nggak mau peluk. Nggak mau bicara. Padahal kan Regi pingin kayak temen-temen Regi yang bisa jalan-jalan sama papanya. Dianterin sama papanya. Disayangi sama papanya." Regina mengeluarkan uneg-unegnya yang selama ini mengganjal di hati. "Coba aja papa dulu kayak gini pasti kita bisa bahagia," imbuhnya membuat raut wajah Refano berubah sendu. Refano lantas menepikan mobilnya di tempat yang cukup sepi lalu melepaskan seat beltnya dan merengkuh Regina yang matanya telah memerah. Kemudian mereka pun terisak bersamaan. Refina yang melihat kakaknya menangis pun ikut menitikkan air mata.


"Maafkan papa ya sayang. Papa terlalu lemah sampai tidak bisa memperjuangkan kalian. Maafkan papa yang tidak bisa menjadi papa kalian yang baik. Yang selalu ada untuk kalian. Meskipun papa tidak bisa selalu di sisi kalian, percayalah, papa amat sangat mencintai kalian. Kalau kalian butuh papa, hubungi aja papa, papa pasti akan segera datang untuk kalian. Lagipula sekarang kalian sudah punya papa Al yang sangat sayang dengan kalian. Jangan bersedih ya. Papa sangat-sangat sayang kalian." Ucap Refano sambil mengusap punggung kedua putrinya bergantian agar berhenti menangis.


...***...

__ADS_1


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2