
Entah untuk keberapa kalinya, lagi-lagi Refano dipertemukan dengan si gadis unik, Merlyn. Kali ini mereka tanpa sengaja bertemu di sebuah cafe. Siang itu Merlyn memang ada janji makan siang bareng dengan produser yang juga merupakan temannya, sedangkan Refano datang ke cafe itu hanya sekedar untuk merilekskan pikiran.
Merlyn baru saja keluar dari toilet dan hendak kembali ke mejanya. Di saat bersamaan, ada seorang pramusaji yang lewat sambil membawa nampan berisi secangkir kopi dan sepotong cheese cake. Tiba-tiba terdengar notifikasi pesan masuk di hp Merlyn. Karena terlalu fokus membaca pesan di ponselnya, Merlyn pun tanpa sengaja menabrak pramusaji itu hingga kopinya tumpah tepat mengenai seorang pelanggan.
Pelanggan itu pun sontak berdiri seraya mengibaskan tangannya karena tumpahan kopi itu tepat mengenai lengannya.
Brakkk ...
Prang ...
Byurrr ...
"Aaaagkh ... " pekik Refano reflek saat kopi panas itu tumpah mengenai lengannya.
"Maaf, maaf, tuan. Saya ... saya ... "
"Maafkan saya, tuan. Maaf, dia tidak bersalah. Sayalah yang salah sudah menabraknya. Maaf, saya mohon maafkan saya," potong Merlyn saat pramusaji yang menumpahkan kopi tersebut meminta maaf dengan raut wajah cemas. Merlyn bukanlah gadis yang tak berperasaan. Ia pun memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi dan tidak tegaan.
Merlyn lantas mengambil tisu dari dalam tasnya kemudian segera mengelap tumpahan kopi itu tanpa melihat lagi siapa laki-laki yang tengah memandangnya dengan terkejut.
Barulah saat laki-laki itu mendesis sakit, Merlyn mengangkat wajahnya. Mata Merlyn seketika terbelalak saat netra mereka saling bersirobok.
"Mamas hot daddy? Masya Allah, kita ketemu lagi. Fix, mamas pasti jodoh aku," ucapnya ngelantur tanpa peduli situasi dan kondisinya dulu.
__ADS_1
Refano mengangkat alisnya sebelah tak mempedulikan ocehan Merlyn yang dianggapnya sekedar angin lalu.
"Mamas kok diem aja? Ih, pasti mikirin aku ya? Kok bisa ketemu lagi gitu? Udah dibilang jodoh. Mamas apa nggak mikir, udah berapa kali kita dipertemukan tanpa sengaja, berarti kan kita jodoh," ucapnya yang kembali fokus pada lengan baju Refano. Diusapnya lengan baju Refano menggunakan tisu dengan hati-hati dan pelan-pelan. Tentu saja tujuannya agar bisa berlama-lama berdekatan dengan Refano. Dasar modus.
Hampir saja Merlyn lupa dengan pramusaji yang tadi sedang ketakutan karena tak sengaja menumpahkan kopi itu di lengan baju Refano.
"Nggak kok papa, mbak. Mbak nggak usah khawatir, di sini murni aku yang salah jadi mbak kembali aja. Tolong bawakan pesanan yang baru ya. Biar urusan di sini jadi tanggung jawab saya," ucap Merlyn lembut. Ya, Merlyn meskipun sedikit absurd dan bar-bar, tapi sebenarnya dia gadis yang lembut dan baik hati.
"Terima kasih, mbak. Maafkan kecerobohan saya, tuan," ucap pramusaji. "Permisi," imbuhnya sebelum berlalu dari hadapan Merlyn dan Refano untuk mengambilkan pesanan yang baru.
"Udah, cukup, saya bisa bersihkan sendiri," sergah Refano datar.
"Mamas hot daddy, nggak usah malu-malu gitu," goda Merlyn sambil tersenyum semanis mungkin.
"Eh, James, ini mamas Refano. Gue tadi nggak sengaja nabrak pramusaji sampai kopinya tumpah di lengan bajunya," ucap Merlyn.
"Oh iya, mamas, kita periksa dulu lengannya, jangan-jangan melepuh karena kopi tadi." Tanpa meminta izin Merlyn ingin melipat lengan baju Refano, tapi langsung dicegah laki-laki itu.
"Tidak usah. Saya tidak apa-apa." Ucapnya dingin yang segera berdiri untuk berlalu dari sana. Tak lupa ia meletakkan 2 lembar uang seratus ribuan di atas meja. Kemudian tanpa basa-basi lagi, ia pun langsung meninggalkan Merlyn yang terbengong-bengong karena sikap acuh tak acuh Refano.
"Astaga, tuh mamas hot daddy kok cuek banget sih? Ih, aku yakin tangannya pasti melepuh. Duh, jadi nggak enak deh," keluh Merlyn yang tak berpaling memandangi kepergian Refano. Ia tidak berusaha mengejar. Ia yakin, kalau mereka jodoh, pasti mereka akan dipertemukan lagi tanpa harus ia mengejar-ngejar.
Tiba-tiba Merlyn menepuk dahinya.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya James heran.
"Ah, nggak, ya udah, kita balik ke meja kita lagi," ucap Merlyn. Namun berbanding terbalik dengan otaknya yang baru saja mengingat kalimat terakhir yang ia ucapkan saat di rumah sakit.
'Yah, kok jadi lupa sih? Coba tadi ingat, siapa tau bisa jadian beneran,' ucap Merlyn terkekeh dalam hati.
"Kayaknya kamu kenal banget sama dia?" tanya James penuh selidik.
"Oh, tidak terlalu kok, James. Hanya kebetulan saja. Kebetulan yang berulang seolah memberikan sinyal kalau dialah jodohku."
"Ingat Lyn, kau itu calon tunanganku jadi kau harus menjaga jarak dengan laki-laki lain." Ucap James membuat Merlyn memberengut.
"Baru calon, belum beneran. Apalagi nikah, masih jauh. Udahlah James, aku lebih suka kita jadi temen kayak gini. Kamu kan tahu, aku cuma anggap kamu sahabat, kakak, nggak lebih. Please, sudah cukup aku selalu diatur-atur keluarga ku. Aku pun ingin menentukan pilihan ku sendiri. Kebahagiaanku. Aku mohon," ucap Merlyn. Setelahnya, ia segera berdiri dan pergi meninggalkan James yang menunduk lesu.
Sementara itu, di dalam mobil, Refano mendesis sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Refano lantas segera melipat lengan bajunya. Dan seperti dugaan Merlyn, kulit lengan Refano melepuh karena terkena tumpahan kopi panas itu.
"Hah, sialan. Maksud hati ingin bersantai sejenak, ujung-ujungnya berakhir seperti ini. Huh, panas sekali," gerutu Refano yang langsung mengemudikan mobilnya menuju apotek terdekat untuk membeli salep bakar. "Perempuan itu ... " Geram Refano. "Kenapa akhir-akhir ini aku selalu dipertemukan dengan dirinya? Apa katanya tadi? Kami berjodoh? Hah, mana mungkin. Berjodoh dengan gadis aneh seperti itu, sangat jauh dari kriteriaku." Lalu Refano mengalihkan tatapannya pada foto Zafira dan kedua putrinya. Di sampingnya juga sudah ada foto baby Zafran yang ia ambil saat bayi laki-laki itu tengah tengkurap. Sangat lucu dan menggemaskan. "Bagaimana aku bisa mendapatkan penggantimu, Ra? Sedangkan perempuan yang ku temui, tak ada satupun yang seperti dirimu. Kau terlalu sempurna, Ra. Seandainya bisa, ingin sekali aku merebutmu dari Alvian, tapi sayangnya aku tidak bisa melakukan itu. Apalagi kalian telah bahagia dengannya. Egois sekali bila aku berusaha merebutmu darinya. Setelah apa yang aku lakukan dulu pada kalian, aku tak ingin kembali memupuk luka itu. Aku tak sanggup bila kalian kembali membenci dan menjaga jarak denganku. Ya Tuhan, aku pun ingin bahagia. Aku mohon, kirimkan lah seseorang yang mampu menjadi pelipur laraku. Pengobat hatiku. Pemberi semangat hidupku. Aku tak mungkin terus memupuk rasa cintaku padanya yang telah menjadi milik orang lain. Dia ... terlalu sempurna untukku yang bajingaan ini," gumamnya dengan mata memerah.
Brakkk ...
Aaargh ...
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...