
"Aku akan membantumu mencari adikmu itu, asal ... "
"Asal apa?" tanya Refano penasaran.
"Jual semua sahammu padaku, maka aku akan membantumu mencari adikmu itu." Ucap Alvian membuat Refano terhenyak.
"Apa yang akan kau lakukan dengan saham-saham itu?"
Alvian lantas mencondongkan tubuhnya ke arah Refano lalu mengucapkan sesuatu yang membuat Refano makin terhenyak dengan mata terbelalak.
"Aku akan menggunakannya untuk menghancurkan kesombongan kedua orang tuamu." Ucap Alvian sambil menyeringai.
"Mak-maksudmu? Kau bukannya mau menghancurkan perusahaan kami kan? Bukan aku takut kehilangan harta, hanya saja ... bagaimana dengan nasib para karyawan kami bila kau menghancurkan perusahaan kami," ucap Refano yang berpikir Alvian berniat menghancurkan perusahaannya. Refano memang marah dengan kedua orang tuanya yang kerap egois dan diktator. Khususnya pada sang ibu yang terlampau kejam dalam bertindak. Namun tak pernah terbesit di dalam benaknya untuk menghancurkan kedua orang tuanya.
Alvian menaikkan sebelah alisnya sambil mengulum senyum. Ternyata kakak satu ayah beda ibunya ini sebenarnya memiliki hati yang baik, hanya saja ia kehidupan yang terlalu dikekang membuatnya membatasi diri dari dunia luar sehingga orang-orang menilainya angkuh.
"Bukan. Aku tidak sejahat itu untuk membumihanguskan perusahaan itu. Tapi aku berniat mengakuisisinya dan mengambil alihnya untuk anak-anakku," ujar Alvian membuat Refano terperangah tak percaya. Padahal Regina, Refina, dan baby Zafran merupakan anak sambungnya, tapi ia begitu menyayangi ketiga anak-anaknya sampai rela melakukan hal tak terduga seperti ini.
"Kenapa? Sebenarnya apa yang memotivasimu ingin melakukan ini? Karena perbuatan orang tuaku pada Zafira dan anak-anak kami atau ... ada alasan lain?" Refano mencoba memperhatikan raut wajah Alvian dengan lelaki. Setiap ia menyebut nama kedua orang tuanya, Refano bisa melihat kilat kebencian di netra Alvian membuatnya kian penasaran.
"Kalau dibilang ada hubungannya dengan Zafira dan anak-anak, ya bisa jadi. Namun, ada suatu hal yang jauh lebih besar dan tak terduga yang melatarbelakanginya." Ucap Alvian ambigu.
"Apa? Apa itu kalau aku boleh tahu? Mungkin dengan mengetahuinya bisa membuatku mempertimbangkan permintaanmu tadi."
__ADS_1
Tepat. Inilah yang Alvian tunggu-tunggu. Sebuah pertanyaan yang jawabannya kemungkinan akan membuat Refano benar-benar shock.
"Kau yakin ingin mengetahuinya? Aku khawatir, kau akan langsung pingsan seperti ayahmu saat mengetahuinya," cibir Alvian membuat dahi Refano mengernyit.
"Jangan bertele-tele! Cepat katakan saja. Saya tidak memiliki waktu yang banyak," ucap Refano datar.
"Okay. Mungkin setelah ini kau akan terkejut. Namun cepat atau lambat kau pasti akan segera tahu dan lebih baik lagi kalau kau mengetahuinya dari mulutku sendiri." Tukas Alvian membuat Refano segera menegakkan punggungnya menantikan apa yang akan Alvian sampaikan.
Waktu terus bergulir, tanpa terasa sudah hampir 2 jam Refano berada di ruangan Alvian. Kini ia sedang duduk dengan tatapan kosong. Pikirannya berkelana kesana kemari. Mencoba mencerna dan mencari kebohongan di netra Alvian, tapi yang ia temukan hanyalah kebenaran karena memang yang barusan Alvian sampaikan itu merupakan kebenaran.
Ya, baru saja Alvian menceritakan siapa dirinya sebenarnya pada Refano. Jelas saja Refano terhenyak saat mengetahui fakta kalau Alvian adalah saudara satu ayah beda ibu dengan dirinya. Sama seperti hubungannya dengan Refani.
Yang lebih tak ia sangka, ternyata ibunya telah merebut ayahnya yang notabene kekasih ibu dari Alvian. Bahkan mereka berselingkuh sampai hamil dirinya. Lalu setelah menikah, seperti belum puas untuk menyakiti ibu Alvian, ayahnya pun memperkosa ibu Alvian. Sungguh, selama ini ia pikir ayahnya memiliki sisi baik sebagai seorang laki-laki, tapi ternyata dugaannya salah. Baik ayahnya maupun ibunya, mereka sama-sama manusia tak berperasaan. Mungkin inilah yang dikatakan jodoh itu cerminan dirimu sendiri. Seperti sang ayah yang merupakan cerminan sang ibu yang kejam dan tidak berperasaan.
"Baiklah, aku bersedia. Tapi aku tidak berniat menjualnya, melainkan akan membalik nama kepemilikan saham-sahamku atas nama ketiga anak-anakku dan juga Zafira. Apa yang aku miliki adalah hak mereka jadi kau tak perlu membelinya. Secepatnya aku akan mengajak pengacaraku menemuimu untuk menyerahkan dan mengesahkan berkas-berkas kepemilikan saham-sahamku tersebut." Ucap Refano tanpa keraguan sedikitpun pun membuat Alvian tersenyum. Alvian dapat melihat binar kasih sayang Refano untuk ketiga anak-anaknya.
"Mengapa Zafira termasuk? Bukankah yang menjadi tanggung jawabmu hanya sebatas anak-anakmu saja?" tanya Alvian dengan dahi berkerut. Terlihat jelas sorot mata tak setuju di netra Alvian.
Refano tersenyum untuk pertama kalinya di hadapan Alvian, "aku hanya ingin menyerahkan haknya. Selama menjadi istriku, terlalu banyak luka yang Fira rasakan. Anggap saja itu kompensasi karena telah mengabdikan dirinya selama ini untuk mantan suami tak tahu diri ini." Papar Refano sendu. Refano tersenyum, tapi sorot matanya menyiratkan luka.
"Apa kau mencintainya?" Tanya Alvian akhirnya. Ia benar-benar penasaran dengan perasaan Refano sebenarnya. Tanpa menyebutkan namanya, Refano pasti paham siapa yang ia maksud.
"Kalaupun cinta, apakah hal itu masih berguna? Tak perlu memikirkan perasaanku, cukup pikirkan saja mereka orang-orang yang kamu cintai ... adikku." Ucapnya sambil tersenyum getir. Setelahnya, Refano segera beranjak keluar dari ruangan itu meninggalkan Alvian yang masih tak bergeming di tempatnya. Dirinya ... dipanggil adik oleh Refano. Entah mengapa ia merasa sedikit tersentuh dengan panggilan itu.
__ADS_1
'Cintamu ternyata sungguh luar biasa, kak. Bahkan kau rela melepaskan orang-orang yang kau cintai demi kebahagiaan, keamanan, dan keselamatan mereka,' batin Alvian bermonolog.
Sementara itu, di ruangan Marwan tampak CEO dari perusahaan YG Group itu sedang memijit pelipisnya yang benar-benar pusing. Terlalu banyak hal mengejutkan yang ia hadapi akhir-akhir ini. Belum sempat ia menyelesaikan permasalahannya dengan Ayu dan menanyakannya kenapa menyembunyikan putranya selama ini, kini perusahaannya lagi-lagi ditimpa permasalahan. Ia pikir masalahnya akan segera teratasi dengan kemunculan seseorang yang membeli sahamnya dengan harga yang cukup fantastis. Namun hal itu hanya berlaku sementara sebab setelahnya masalah justru datang beruntun.
"Papa kenapa? Sakit kepala lagi? Papa sih, padahal baru dibawa ke rumah sakit kemarin, eh hari ini udah maksa ngantor lagi," ceria Liliana yang baru saja datang ke kantornya.
Marwan mendongak, lalu kembali mengalihkan fokusnya pada berkas-berkas di hadapannya.
"Satu persatu pemegang saham mengundurkan diri dan memilih menjual saham mereka dengan seseorang yang entah siapa papa tidak tahu," ucapnya setelah menghela nafas. "Kau tahu, persentase saham kita bertiga bola digabungkan 50:50 dengan orang tersebut. Sedikit lagi saja maka perusahaan kita akan jatuh ke tangan orang. Apalagi kita sedang kekurangan modal, bila kita tidak segera menanganinya bisa jadi dewan direksi akan segera menurunkan ku dari CEO perusahaan ini," ucapnya disertai helaan nafas panjang. "Ma, papa bisa minta tolong?" ucapnya dengan sorot mata memohon.
"Apa?" tanya Liliana belum paham kemana arah pembicaraan suaminya.
"Papa tahu, mama memiliki beberapa properti, bisakah mama menjualnya untuk membantu kekurangan modal perusahaan kita?"
Sontak saja, apa yang barusan Marwan sampaikan membuat Liliana terlonjak dengan kedua netra yang sudah terbelalak sempurna.
...***...
Kalau ada yang typo, Othor mohon maaf soalnya mata othor udah merem melek nahan kantuk . 😄
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...
.
__ADS_1