Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan

Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan
Kedatangan Refano menemui Alvian


__ADS_3

Sebuah mobil sport berwarna hitam tampak memasuki gerbang masuk perusahaan Alta Corp. Setelahnya, ia pun memarkirkan mobilnya di basement khusus para tamu perusahaan. Tak lama kemudian, turunlah sesosok pria cukup tampan dan gagah dari dalam mobil sport itu. Ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung perusahaan. Wajahnya yang asing tapi cukup tampan meskipun masih kalah dari sang atasan, membuat beberapa orang mengalihkan atensi mereka pada sosok tersebut dengan hati penuh tanda tanya, siapakah gerangan pria itu.


"Permisi, bisa saya bertemu dengan tuan Alvian Altakendra?" tanya laki-laki berparas cukup rupawan tersebut.


"Maaf, dengan bapak siapa ya? Apa sudah membuat janji sebelumnya?" tanya sang resepsionis.


"Oh, saya Refano Prayoga. Saya belum membuat janji dengan beliau. Katakan saja, Refano Prayoga ingin bertemu." Jawab laki-laki yang ternyata adalah Refano tersebut.


"Baiklah, Pak Refano mohon menunggu sebentar. Biar saya tanyakan dulu pada pak Luthfi, asisten pribadi pak Alvian." Ujar resepsionis itu ramah.


Refano lantas mengangguk sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling sembari menunggu resepsionis tersebut menelepon. Suasana kantor yang cukup hectic. Semua pekerjanya tampak begitu sibuk dengan urusan masing-masing. Terpampang sebuah layar besar di dinding yang cukup lapang. Layar tersebut menayangkan berbagai macam iklan produk hasil produksi perusahaan tersebut. Di beberapa sudut terdapat pot berisi tanaman untuk menambah nuansa asri di dalam gedung tersebut.


"Pak Refano," panggil resepsionis itu.


"Ya," Refano segera mengalihkan pandangannya pada sang resepsionis.


"Pak Luthfi bertanya, ada urusan apa ya Anda ingin menemui CEO kami?" tanyanya sopan.

__ADS_1


"Katakan saja, ada yang harus segera kami bahas. Urgent." Tukasnya tak mau mengatakan tujuan sebenarnya. Sebenarnya Refano sedikit gusar, tapi ia tetap berusaha bersikap tenang.


"Baik, sebentar."


Lalu resepsionis itu kembali menyampaikan apa yang barusan Refano sampaikan. Setelah mendapatkan izin, resepsionis itu pun mengantarkan Refano menuju ruangan khusus CEO mereka yang ada di lantai teratas gedung.


Pintu ruangan CEO Alta Corp terbuka, tampak sosok gagah nan tampan duduk dengan penuh wibawa di kursi kebesarannya. Siapa lagi kalau bukan Alvian. Di sisi kanannya berdiri asisten pribadi Alvian, Luthfi.


Refano merapikan jasnya sebelum melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Alvian. Aura berkuasa mendominasi di ruangan tersebut. Alvian menatap Refano dengan tajam, tapi sebaliknya, Refano menatap Alvian dengan sorot mata tak terbaca. Refano sudah terlalu mahir menyembunyikan segala kecamuk batinnya jadi tidak sulit untuk menyembunyikan perasaannya di depan sosok yang telah menggantikan posisinya dalam hidup Zafira.


Refano menghela nafas, batinnya sungguh tak karuan. Lagi-lagi ia mengingat senyum dan tawa lepas Zafira saat di pesta pernikahan. Alangkah bahagianya bila ia yang berada di posisi pengantin laki-laki. Bisa menikmati senyum dan tawa lepas sang pujaan hati. Tapi sayang seribu kali sayang, semua kini tinggallah angan. Dirinya kini sudah tidak memiliki kesempatan itu. Semuanya bagaikan fatamorgana yang bisa kapan saja lenyap tanpa sisa.


"Terima kasih sudah mau menerima kunjungan saya. Suatu kehormatan bisa bertandang ke perusahaan sebesar ini dan langsung bertemu dengan pemimpinnya yang sudah jadi buah bibir atas keberhasilannya mendirikan perusahaan dengan kedua tangannya sendiri," puji Refano yang sebenarnya jujur, tapi terdengar seperti basa-basi busuk di telinga Alvian.


"Anda terlalu memuji saya tuan," sahut Alvian. "Oke, kita langsung ke topik utama. Jadi, sebenarnya apa tujuan kedatangan Anda kemari? Apa sama seperti kedatangan ibu Anda kemarin?" tanya Alvian to the point.


Reaksi tak terduga Alvian dapatkan di wajah Refano. Ia seperti begitu terkejut. Bahkan ia sampai menegakkan punggungnya dengan wajah sedikit tegang. Entah karena tujuannya telah terbaca atau karena alasan lain. Alvian belum bisa menebak. Sebenarnya Alvian tidak memiliki masalah dengan Refano sebab urusan sebenarnya adalah dengan kedua orang tua Refano. Akan tetapi, karena status Refano adalah mantan suami Zafira dan keluarga itu tampaknya sedang berusaha ingin mengambil baby Zafran dari tangan mereka, tentu saja ia harus turut mewaspadai Refano. Bila ia pun berbuat hal yang sama, bukan tak mungkin ia akan ikut menghancurkannya.

__ADS_1


"Apa katamu tadi? Jadi ... mamaku sudah menemui kalian atau bagaimana?" tanya Refano yang memang tidak mengetahui apapun mengenai apa yang barusan Alvian sampaikan.


"Jadi kau tidak tahu kalau ibumu kemarin menemui Zafira untuk mengambil baby Zafran? Atau ... kau hanya sekedar pura-pura tak tahu?"


"Saya benar-benar tidak tahu. Sungguh." Ucap Refano penuh kesungguhan.


"Jadi apa tujuanmu sebenarnya? Apa kau ingin melakukan hal yang sama? Kau ingin mengambil baby Zafran sama seperti yang ibumu lakukan?" cecar Alvian.


"Tidak. Saya tidak ingin melakukan itu. Saya sadar, meskipun saya ayah kandung mereka, tapi saya tidak pantas untuk memiliki mereka. Bahkan ... untuk mendekat pun aku tak pantas," ucap Refano yang tiba-tiba saja berkaca-kaca membuat Alvian terhenyak tak percaya dengan apa yang ia lihat. Laki-laki yang dikenal orang angkuh, dingin, dan tak tersentuh itu ternyata bisa menunjukkan ekspresi menyedihkan seperti itu. Sorot matanya terlihat penuh kesedihan. Entah mengapa, ia tiba-tiba tidak bisa mengontrol perasaannya. Bila biasanya ia menyembunyikan kesedihannya, kali ini entah mengapa ia tak kuasa. "Dan ... justru sebaliknya, saya memohon dengan sangat kepada Anda untuk melindungi Zafira dan anak-anaknya. Jangan sampai mama saya mengambil bayi laki-laki kami. Jangan sampai dia berhasil memisahkan Zafira dan buah hatinya. Mungkin Anda akan merasa aneh bahkan tak percaya dengan apa yang akan saya sampaikan, tapi ini harus saya lakukan demi keamanan dan keselamatan Zafira dan anak-anaknya. Mama saya, dia bukanlah wanita yang baik. Dia orang yang berbahaya. Dia wanita yang kejam dan tidak berperasaan. Bahkan ia bisa melakukan apa saja demi kepentingannya dan mencapai tujuannya. Oleh sebab itu saya datang secara khusus kemari, untuk memohon kepada Anda agar melindungi Zafira dan anak-anaknya. Apalagi mama saya berencana merebut bayi laki-laki kami. Saya sudah tidak bisa lagi melindungi mereka dan kau kini bukan hanya telah menjadi suami Zafira, tapi juga ayah anak-anak, jadi sekali lagi aku mohon lindungi mereka," mohon Refano.


Alvian sampai terhenyak melihat dan mendengar apa yang baru saja Refano ucapkan. Dia memohon. Memohon padanya agar melindungi mantan istri dan anak-anaknya. Alvian merasa ini aneh. Namun nyatanya, inilah yang terjadi. Bagaimana mungkin sosok yang telah membuang istri dan anak-anaknya justru memohon padanya agar ia melindungi mereka yang telah ia buang. Sebenarnya ada apa? Apa yang sebenarnya terjadi? Ia pikir kedatangan Refano untuk meminta anaknya, tapi yang terjadi justru sebaliknya.


'Saya sudah tidak bisa lagi melindungi mereka ... '


'Apa jangan-jangan perlakuannya selama ini hanya untuk melindungi Zafira dan anak-anaknya?' batin Alvian bertanya-tanya.


...***...

__ADS_1


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2