
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Alvian telah mengendarai mobilnya menuju rumah Zafira. Sambil bersiul, ia membelah jalanan pagi yang masih cukup lengang karena memang saat itu jarum jam masih menunjukkan pukul 6 lewat 10 menit. Terlalu dini sebenarnya untuk berkunjung ke rumah wanita pujaan hatinya sekaligus calon anak-anak sambungnya, tapi kala hati telah merindu, pada siapa ia bisa mengadu, selain langsung saja bertandang dan menemui penyebab kerinduan kian menggebu.
"Zafira ... Zafira ... Oh Zafira ... Padahal kemarin kita seharian bersama dan baru berpisah pada malam harinya, tapi kok bisa serindu ini. Astaga ... apa aku telah terkena virus-virus bucin?" gumamnya sambil terkekeh.
Saat lampu merah, matanya menyorot ke arah erat vision mirror di atas kepalanya. Ia melirik ke rahang kanan dan kirinya memastikan rahangnya bersih dari bulu-bulu yang membuat ketampanannya sedikit menipis. Tak lupa ia menyorot ke lubang hidungnya, takut ada bulu yang memanjang atau ada sesuatu yang hinggap seperti yang pangkal hurufnya u dan diakhiri huruf l. Terakhir, ia tersenyum lebar ke arah kaca dan memfokuskan pandangannya ke deretan giginya takut ada sesuatu yang terselip, bisa malu dirinya kalau saat tersenyum ternyata ada sesuatu yang menempel..
"Aman dan ganteng maksimal," gumamnya seraya tersenyum geli sendiri karena tingkah absurdnya.
Alvian tidak menyangka ia bisa bertingkah seperti ini. Seperti bocah tengil, mengingatkannya pada sosok Luthfi yang berapa hari ini ia titahkan mengurus perusahaan karena ia yang tengah sibuk bolak-balik mengurus segala keperluan Zafira dan bayi mungilnya. Ia tak menyangka, ia bisa jatuh cinta pada seorang janda beranak 3 seperti Zafira. Namun inilah cinta, cinta terkadang bisa membutakan. Tapi ia tak menyesal dibutakan karena cinta bila endingnya akan mendapatkan janda berkelas sekaligus berkualitas seperti Zafira. Sungguh bodoh mantan suami dan mertuanya membuang menantu seperti Zafira yang bukan hanya cantik, tapi juga baik dan cerdas.
Mengingat mantan suami dan mertua Zafira, lagi-lagi rahang Alvian mengeras. Ia tak sabar lagi melihat kehancuran dan penyesalan orang-orang itu. Ya, entah dapat keyakinan dari mana, ia yakin, keluarga itu akan segera merasakan kehancuran sekaligus penyesalan yang mendalam.
Setelah mengendarai mobil kurang lebih 20 menit, akhirnya mobil yang dikendarai Alvian telah tiba di depan kontrakan Zafira. Pintu rumah itu masih tertutup sebab jarum jam masih menunjukkan pukul 6.25. Tapi rasa rindu yang kian menggebu membuatnya langsung saja turun dari dalam mobil dan mengetuk pintu rumah Zafira.
Tok tok tok ...
"Assalamu'alaikum," ucap Alvian sedikit memekik agar orang-orang yang berada di dalam rumah itu segera keluar.
"Wa'alaikum salam," jawab suara anak-anak dari dalam, tak lama kemudian, pintu pun dibuka.
"Wa'alaikum salam. Al, kok pagi bener jemputnya? Ayu, silahkan masuk!" ajak Zafira yang ternyata tadi sedang mengikat rambut Regina.
"Biar nggak kesiangan, Ra." Jawabnya seraya mengulas senyum. "Sekalian biar bisa numpang sarapan bareng," imbuhnya seraya terkekeh membuat Zafira tak mampu menyembunyikan senyumnya.
"Mama, Lefi mau lambutnya diikat kayak mbak Legi juga ma?" pekik Refina sambil menunjuk rambut Regina yang diikat dua meninggi membuat rambutnya melambai-lambai setiap Regina menggerakkan kepalanya.
"Sebentar ya sayang. Nanti mama ikatin kok rambutnya. Mama mau mandiin adeknya dulu. Mana sebentar lagi kak Regi mau sekolah, belum sarapan juga," ucapnya lembut. Ya, begitulah repotnya memiliki anak lebih dari 1. Anak satu aja repot, apalagi 3. Yang satu sekolah, satu balita, satu lagi bayi. Tapi Zafira tetap mengurus semuanya dengan senyuman.
__ADS_1
Refina mengerucutkan bibirnya, lalu pandangannya beralih ke Alvian.
"Om papa, Om papa bisa ikatin rambut Lefi nggak?" tanya Refina membuat Alvian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Bagaimana ia bisa, ia tidak memiliki saudara perempuan, ia juga belum memiliki anak, ataupun keponakan perempuan, jadi ia benar-benar tidak tahu cara mengikat rambut.
"Maafin Om papa ya, Om papa nggak bisa sayang. Refi sabar aja dulu ya! Mama lagi mandiin dedek Zafran. Oh iya, Om tadi dibawain Oma kue, Refi mau?" Alvian lantas mengeluarkan beberapa wadah yang berisi kue yang dibawakan oleh ibunya dan menawarkannya pada Refina untuk mengalihkan perhatiannya.
Setelah memandikan dan memakaikan pakaiannya, Zafira pun menggendong Zafran ke luar dari kamarnya.
"Nak Alvian, ayo kita sarapan bersama," ajak Bu Mayang yang baru saja keluar dari dapur.
"Iya Bu." Sahut Alvian yang saat itu juga berpapasan dengan Zafira. "Ra, itu ada kue dibawain bunda tadi. Sini, Zafran biar aku yang gendong." Alvian mengulurkan tangannya ke arah Zafira.
"Tapi kamu kan mau sarapan juga, Al?"
"Nggak papa, bawa itu ke belakang dulu. Nanti aku nyusul. Aku jga udah kangen sama putraku yang ganteng ini," ujarnya sambil tersenyum manis membuat Zafira pun membalas senyuman itu.
"Ke-kenapa dibatalkan? Apa kamu ... "
"Soalnya aku mau langsung bawa kamu ke KUA aja. Udah nggak sabar pingin jadiin istri," bisik Alvian yang sontak saja membuat pipi Zafira bersemu merah. Zafira tak mampu mengontrol debaran jantungnya, lantas segera beranjak dari sana meninggalkan Alvian yang tertawa lebar.
...***...
Nasi goreng, telur dadar, dan beberapa macam kue telah terhidang di meja. Setelah mengambilkan sarapan untuk Regina dan Refina, Zafira pun mengambilkan nasi goreng untuk Alvian. Tak lupa segelas kopi ia hidangkan untuk laki-laki yang masih menggendong baby Zafran tersebut.
"Sini Al, biar aku yang gendong. Kamu makan aja," ucap Zafira. Alvian pun langsung menyerahkan baby Zafran ke Zafira.
Alvian lantas mulai menyuap nasi goreng ke mulutnya. Melihat Zafira kepayahan ingin makan sendiri karena masih menggendong bayi Zafran, Alvian pun berinisiatif menyuapi Zafira. Awalnya wanita itu menolak, tapi atas bujukan anak-anaknya, ia pun mau membuka mulutnya. Sebenarnya ia merasa malu, tapi ternyata disuapi seperti itu menyenangkan juga.
__ADS_1
"Makasih sarapannya, Bu." Ucap Alvian tulus pada Bu Mayang setelah menghabiskan sepiring penuh nasi goreng.
...***...
Selepas mengantarkan Regina ke sekolah, Alvian lantas segera melajukan mobilnya menuju ke kantornya. Setibanya di kantor, Luthfi pun langsung menghadap dan menyerahkan berkas-berkas yang harus ia tandatangani.
"Pak bos, apa Anda sudah tahu kalau pabrik baru YG Group mengalami kebakaran?" tanya Luthfi. Si tengil Luthfi sebenarnya bukan asisten pribadi biasa, tetapi sudah seperti tangan kanannya. Dia ditugaskan secara khusus oleh Alvian untuk mengurus hal-hal yang cenderung rahasia. Dengan senang hati Luthfi melakukan apa saja yang Alvian perintahkan sebab ia merasa berhutang budi dengan atasannya itu. Karena itu, meski kerap diomeli bahkan dimarahi Alvian, tetapi ia tetap setia bekerja menjadi tangan kanan Alvian.
"Hmmm ... apa benar itu terjadi karena hubungan arus pendek seperti yang diberitakan?" tanya Alvian penasaran.
"Hal itu memang benar, pak. Sepertinya kejadian kali ini benar-benar memberikan dampak yang luar biasa pada YG Group. Kerugiannya tidak main-main, bahkan hampir menginjak angka 1 triliun. Akibatnya, pak Marwan berniat melepaskan beberapa persen sahamnya."
"Oh ya?" mata Alvian tiba-tiba berbinar mendengar kabar tersebut. "Lekas sebarkan rumor kalau YG Group sedang diambang kebangkrutan supaya tidak ada yang berminat membeli sahamnya. Dan gencarkan lagi penawaran kerja sama dengan para pemegang saham mereka dengan menawarkan keuntungan yang lebih besar!" titahnya yang diangguki Luthfi.
Siang menjelang, tanpa pemberitahuan Bu Ayu datang ke kantor Alvian untuk memperkenalkannya dengan seseorang yang bersedia membantunya melancarkan rencananya menghancurkan kesombongan keluarga yang telah menghancurkan hidup ibunya dan Zafira.
"Bun, bukankah dia ... "
"Ya, dia adalah ... "
...***...
Tebak-tebakan yes! 😁
Ah, tebak-tebakan ini gampang kok, pasti yang baca langsung bisa nebak siapa yang datang. 😄😄😄
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...
__ADS_1