
"Pagi," ucap Luthfi yang tiba-tiba telah masuk ke dalam ruangan perawatan Refani.
"Pagi juga. Eh, kak Luthfi, kok pagi-pagi bener udah di sini? Emang nggak kerja?" tanya Refani serta menurunkan kakinya pelan-pelan dari atas tempat tidur. Ia hendak turun dan duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Meskipun sudah satu Minggu berlalu semenjak operasi besar yang ia jalani, ia masih belum diizinkan pulang ke rumah sebab masih harus menjalani serangkaian observasi terutama untuk mencegah terjadinya infeksi dan kejadian yang tidak diinginkan lainnya paska operasi.
"Kerja kok. Tapi mampir ke sini dulu. Nih, kakak bawa donat buat cemilan, kamu mau?" tawar Luthfi sambil mengangkat kantong yang berisi sekotak donat aneka rasa.
Mendengar kata donat, mata Refina berbinar cerah. Ia memang sangat menyukai makanan berbahan dasar roti yang dibentuk bulat dengan bolong tengah dan diberi aneka toping tersebut, terutama toping keju.
"Fani mau, kak. Fani mau. Makasih kak. Tau aja Fani suka donat," seru Refani girang membuat Luthfi tak mampu menahan senyumnya. Ia pun tanpa sungkan mengusap puncak kepala Refani membuat gadis itu tertegun dan tersipu malu.
Melihat wajah Refani yang tersipu membuat senyum Luthfi makin lebar. Ia lantas mengeluarkan kotak berisi donat tersebut dan mengulurkan agar Refani memilih varian yang ia suka.
"Makasih kak," cicit Refani sambil tersenyum malu-malu.
"Kakak kok rajin bener ke sini? Emang nggak sibuk?" tanya Refani sambil mengunyah donatnya.
"Sibuk sih, tapi buat kamu, nggak masalah."
"Idih, jawaban apa itu. Pasti kakak gini ke semua cewek kan?"
"Kata siapa?"
"Kata aku lah."
"Dih, sembarangan. Nggak ya. Kalau nggak percaya, tanya kakak Al mu itu."
"Iya kah?"
"Masih belum percaya?" Refani mengangguk cepat dengan mulut penuh berisi donat. Luthfi gemas sendiri lalu mencubit pipinya.
Refani mengerucutkan bibirnya, "kok kakak demen banget cubit pipi Fani sih?"
__ADS_1
"Habisnya kamu itu gemesin." Ucapnya sungguh-sungguh. "Fan ... " panggil Luthfi tiba-tiba sambil menatap lekat netra Refani.
Refani membalas tatapan Luthfi masih dengan mengunyah donatnya.
"Apa?" jawab Refano sedikit tak jelas karena mulutnya yang penuh.
"Setelah keluar dari rumah sakit, kita nikah yuk?"
Mata Refani sontak saja membulat mendengar ajakan tiba-tiba itu. Bagaimana tidak, mereka saja belum lama saling mengenali, lalu kini tiba-tiba saja laki-laki itu mengajaknya menikah.
"Kakak jangan bercanda. Kalau aku baper gimana?" protes Refani setelah berhasil menelan donatnya susah payah karena terkejut.
"Kakak serius, Fan. Izinkan kakak membahagiakan kamu. Kakak ingin selalu menjaga dan melindungi kamu, kamu mau kan?"
Deg deg deg ...
...***...
Proses persidangan berjalan lancar sebab keduanya sudah sepakat ingin berpisah dengan dalil ketidakcocokan dan perbedaan prinsip. Namun hakim belum memberi keputusan. Mereka masih diberikan satu kesempatan untuk menjalani sidang mediasi 2 Minggu lagi. Mereka pun hanya mengikuti alur yang ada tanpa terlalu menuntut untuk dituntaskan dengan segera.
"Habis ini mas mau kemana?" tanya Saskia sekeluarnya dari dalam gedung pengadilan agama.
"Mau liat Reza. Kata dokter, keadaannya sudah lebih baik. Bila tidak ada kendala, besok sudah bisa diajak pulang. Tapi ... "
"Tapi apa?" tanya Saskia was-was.
"Tapi dia anak istimewa. Dia berbeda dengan anak-anak yang lain. Dia ... "
Refano tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Semua orang pasti tahu kan apa yang dimaksud anak istimewa. Mereka adalah anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus atau lebih sering disebut autis. Namun Refano tak mempermasalahkan itu. Ia yakin, anaknya pasti tetap akan tumbuh dengan baik meskipun tumbuh kembangnya mungkin tidak normal seperti anak-anak pada umumnya.
Mendengar penuturan Refano tersebut, kaki Saskia sontak lemas. Ia luruh dan berjongkok tepat di area parkir. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Tangisnya pecah. Kata-kata yang ia lontarkan pada anak-anak Zafira kini kembali terngiang di kepalanya. Kini ... semua ucapannya seolah berbalik pada dirinya sendiri. Padahal Zafira saat itu sudah memperingatkannya agar tidak sembarang bicara sebab ia sedang hamil, tapi dengan lancangnya ia menghina bukan hanya Zafira, tapi anak-anak tak berdosa itu.
__ADS_1
"Semua salahku, mas. Semua yang terjadi pada Reza adakah salahku. Andai aku bisa menjaga lisan dan tidak menghina mereka, mungkin ini takkan pernah terjadi. Semua salahku. Semua karena kebodohan dan kesombonganku. Akibat kata-kataku, anak kita yang harus menanggungnya. Maafkan aku, mas. Maafkan mama, nak. Maaf," raung Saskia yang benar-benar menyesali perbuatannya di masa lalu.
Refano tak menampik apa yang dikatakan Saskia itu tak sepenuhnya salah. Namun tak mungkin pula ia ikut menyalahkan. Biarlah, mungkin ini sudah menjadi takdir mereka. Ia akan menerima keadaan putranya itu dengan hati ikhlas.
...***...
Setelah memastikan Alvian pergi ke kantor, Zafira pun bersiap pergi ke klinik ibu dan anak untuk memastikan dugaannya.
"Iya, Bu, ada keluhan apa?" tanya dokter spesialis kandungan itu.
"Begini dok, sebenarnya saya tidak merasakan tanda-tanda kehamilan umumnya. Hanya saja, justru suami saya yang merasakannya. Dari mual, pusing-pusing, mudah lapar, dan setelah saya memeriksa jadwal bulanan saya, setelah 3 bulan pernikahan kami, saya baru mendapatkan tamu bulanan saya 2 Minggu yang lalu, itupun hanya sedikit dan sebentar. Lebih ke seperti flek. Karena itu saya ingin memastikan dugaan saya saja. Lagipula perut saya memang sedikit kencang di bagian bawah sama seperti kehamilan saya yang sebelumnya," ungkap Zafira pada sang dokter.
Dokter itu tersenyum lalu meminta asistennya membantu Zafira mengecek urinnya yang ternyata benar menghasilkan garis 2. Setelah itu, sang dokter pun mempersilahkan Zafira untuk berbaring di atas brankar untuk melakukan pemeriksaan menggunakan mesin USG.
Wajah Zafira berbinar cerah melihat hasil cetak mesin USG tersebut. Ia tak menyangka, ia akhirnya dipercayai lagi untuk mengandung, tapi dari benih yang berbeda dari sebelumnya. Kini, ia sedang mengandung buah hatinya dengan Alvian.
Sebenarnya diantara rasa bahagianya, ada rasa bersalah pada siapa lagi kalau bukan baby Zafran. Beberapa hari lagi baby Zafran baru akan menginjak usia 6 bulan, lalu kini ia sudah mengandung lagi. Padahal Baby Zafran masih membutuhkan perhatian ekstra darinya, pun ASI ekslusifnya belum sempurna. Namun ia tak mau menghentikan pemberian ASI. Mungkin sampai ASI eksklusifnya sudah lengkap, baru ia akan mencoba menggunakan susu formula. Apalagi di usia 6 bulan, bayi sudah diperbolehkan diberi MPASI.
Setelah menerima cetak foto USG, Zafira pun meminta sang sopir mengantarnya ke kantor Alvian. Tak sabar rasanya ia ingin memberikan kejutan untuk suaminya itu.
Setibanya di kantor Alvian, ia pun segera masuk ke dalam lift yang akan mengantarkannya ke lantai yang ia tuju. Sesampainya di sana, dahinya mengernyit sebab tak melihat keberadaan Luthfi dan sekretaris barunya. Zafira mengedikkan bahunya acuh, kemudian tanpa permisi lagi, ia pun segera membuka pintu yang tidak tertutup rapat tersebut.
Matanya terbelalak. Semangatnya seketika runtuh. Penglihatannya pun mulai mengabur setelah melihat apa yang ada di dalam sana.
"Sayang," pekik Alvian terkejut melihat kedatangan sang istri.
...***...
Hayooo, tebak babang Al ngapain? 😁
Akhir bulan end ya! Dan seperti biasa, setiap akhir cerita, othor akan bagi-bagi pulsa untuk 3 top fans. Jadi ditunggu dukungannya! 🥰🥰🥰
__ADS_1
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...