Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan

Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan
Kerja sama


__ADS_3

Alvian tampak duduk dengan angkuh di salah satu sofa single yang menghadap langsung dengan seorang laki-laki yang baru saja datang bersama sang ibu. Sorot matanya tampak menyelidik, merasa curiga dengan sosok yang ia ketahui adalah orang kepercayaan alias tangan kanan dari pemilik YG Group. Dia adalah Afrizal, asisten pribadi Marwan yang sudah mengabdikan dirinya puluhan tahun dengan atasannya itu.


"Sebenarnya apa tujuan bunda mempertemukan aku dengan laki-laki ini? Dan bagaimana bisa kalian saling mengenal?" cecar Alvian dengan sorot mata terhunus tajam pada netra Afrizal. Afrizal yang usianya jauh lebih tua, pun telah terbiasa menghadapi tatapan serupa membuatnya bisa tetap bersikap tenang. Namun Afrizal akui, tatapan intimidasi itu sangat tajam, bahkan lebih tajam dari tatapan laki-laki penyumbang benih itu. Bahkan, ia dapat melihat aura Alvian jauh lebih besar dibandingkan Refano.


Tangan Alvian tampak terlipat di atas lutut yang saling disilangkan. Tak ada senyum, hanya ada aura mencekam yang menguar di sekelilingnya.


"Bunda takkan berbasa-basi denganmu, Al. Singkatnya, Om Afrizal akan membantu kita menghancurkan kesombongan Marwan dan Liliana. Ternyata mereka tidak hanya kejam dengan orang lain, tetapi anaknya sendiri. Mereka mendidik anaknya untuk selalu patuh pada mereka. Karena itu, putranya bersifat apatis sebab ia tidak diberikan kesempatan untuk mengekspresikan diri maupun mengemukakan keinginannya. Sebab baginya percuma sebab kuasa ada di tangan orang tuanya," ucap Bu Ayu membuat Alvian terperangah. Ia tak menyangka orang tuanya bisa bersikap otoriter terhadap anaknya sendiri. "Bukan hanya itu, ada satu lagi fakta yang mengejutkan," ucap Bu Ayu menjeda kalimatnya. "Ternyata mereka memiliki seorang anak perempuan. Orang-orang tahunya putrinya ini menempuh pendidikan di luar negeri dan enggan pulang ke sini. Tapi kenyataannya, ia bunuh diri karena tak tahan dengan sikap otoriter orang tuanya yang menentang laki-laki pilihannya. Sama seperti anak-anak Zafira, ia pun dianggap anak tak berguna dan dipaksa menikah dengan laki-laki pilihan mereka, tapi anak perempuannya menolak dan memilih bunuh diri daripada mengikuti kemauan mereka," ungkap Bu Ayu lagi.


Lagi-lagi, Alvian terperangah tak percaya ada keluarga toxic seperti mereka. Hal ini makin mengukuhkan dirinya untuk menghancurkan Marwan dan Liliana.


"Apa kalian tahu, salah satu alasan aku bersedia membantu kalian menghancurkan mereka?" Tiba-tiba Afrizal yang sejak tadi diam, ikut bersuara.


Alvian dan Bu Ayu menatap penasaran padanya. Dan apa yang barusan disampaikan Afrizal cukup membuat kedua orang itu tercengang. Wajar saja bila Afrizal pun ikut menaruh dendam pada Marwan dan Liliana.


"Laki-laki yang dicintai Refani adalah adikku sendiri. Mengetahui Refani memilih bunuh diri dibandingkan menikah dengan laki-laki yang tidak dicintainya membuat adikku, Ammar mengalami gangguan mental dan tepat satu tahun kematian Refani, adikku pun ikut mengakhiri hidupnya," tutur Afrizal dengan mata berkaca-kaca. Ia tak dapat membendung kesedihan yang lama terpendam. Ammar adalah adik satu-satunya, satu-satunya saudara dan keluarganya, dan ia harus mengakhiri hidupnya dengan cara yang tragis. Sudah lama Afrizal menyimpan bara dendam di dadanya, tapi ia tidak tahu cara membalasnya. Mengetahui ada orang lain yang menjadi korban akibat keegoisan dan kesombongan Marwan dan Liliana, apalagi orang itu adalah wanita yang telah berhasil membuatnya jatuh hati sejak pertama berjumpa, membuatnya ingin mendukung mereka untuk menghancurkan kesombongan keluarga itu. Bila terus dibiarkan, maka mereka akan terus bersikap semaunya. Mereka harus diberikan pelajaran agar jera sejera-jeranya.


Setelah berhasil meyakinkan kalau dirinya sungguh-sungguh ingin membantu Alvian menghancurkan kesombongan Marwan dan Liliana, mereka pun mulai membicarakan hal-hal apa saja yang perlu mereka lakukan untuk memulai rencana mereka. Setelah berbincang beberapa saat, Afrizal menawarkan Bu Ayu untuk mengantarkannya pulang, tapi Bu Ayu menolaknya karena ingin mampir ke suatu tempat dahulu.


Beberapa hari kemudian, tampak Marwan dan Afrizal bertemu dengan klien penting untuk meminta dukungan sekaligus bantuan keuangan. Kerugian yang cukup besar membuat baik Refano maupun Marwan harus mencari calon investor baru dan juga menawarkan beberapa saham mereka guna menambah modal. Namun ternyata, semua tak semudah yang mereka kira. Orang-orang yang dulu dengan senang hati membantu bahkan menyuntikkan dana, kini justru memberikan respon yang sama, yaitu keuangan mereka pun dalam keadaan kurang baik. Alhasil, lagi-lagi Marwan harus menelan kekecewaan.

__ADS_1


Saat sedang bertemu dengan klien yang lainnya, tiba-tiba mata Marwan menangkap siluet sosok yang sudah sangat lama menghilang. Bahkan terakhir ayahnya menceritakan sosok itu telah diculik seseorang yang dibawa ke hutan dan kemudian menghilang entah kemana. Ayahnya menduga, sosok itu telah mati di makan hewan buas atau dibuang ke jurang yang ada di sana. Saat itu Marwan cukup frustasi, apalagi saat tahu perempuan itu sedang hamil anaknya. Beruntung saat itu ada Liliana yang selalu mendukungnya sehingga ia bisa bangkit kembali. Namun tak dapat dipungkiri, setelah sekian tahun tak melihatnya, jantungnya masih saja berdebar kencang saat melihat sosok yang pernah sangat dicintainya itu. Apalagi sosok itu masih terlihat sangat cantik meskipun tubuhnya ditutupi gamis dan kepala berbalut hijab.


Tapi ... bukankah kata ayahnya kemungkinan sosok itu telah meninggal? Jadi ... siapa dia sebab wajahnya sangat-sangat mirip?


"A-Ayu ... " gumam Marwan dengan mata membulat saat melihat sosok itu hilang di balik pintu keluar restoran itu.


Di waktu dan tempat berbeda, tampak Liliana sedang asik dengan teman-teman sosialitanya memasuki salah satu store tas branded ternama. Saat sedang memilah-milah, mata Liliana membulat saat melihat sosok yang tempo hari dilihatnya di rumah sakit tengah berdiri di depan kasir sambil menerima bukti pembayarannya. Kemudian sosok itu melenggang dengan santai sambil menenteng paper bag yang berisi tas dari toko yang juga Liliana sambangi.


"A-Ayu?" gumam Liliana shock. Melihat Ayu yang melenggang begitu saja keluar dari store itu, membuat Liliana ikut beranjak dan mengejarnya. Ia benar-benar penasaran dengan sosok itu, benarkah itu Ayu atau ... sekadar mirip saja. Namun sayang, saat mengejar sosok tersebut, Liliana tiba-tiba kehilangan jejak. Sama seperti saat di rumah sakit, ia lagi-lagi kehilangan jejak.


"Sial! Sebenarnya siapa dia? Kenapa wajahnya sangat mirip dengan Ayu? Itu benar Ayu atau bukan?" gumamnya sambil menggeram kesal.


Sedangkan di tempat kerjanya, Refano benar-benar kehilangan konsentrasinya. Semenjak mengucapkan talak, Refano belum sama sekali melihat Zafira maupun anak-anaknya. Ingin ia tepis rasa yang kian menyiksa jiwanya, namun semakin ia tepis, semakin menggebu juga rasa ingin di hati untuk melihat Zafira dan anak-anaknya.


Brakkkk ...


Pintu ruangan Refano tertutup dengan kasar membuat Refano tersentak dari lamunannya. Rahang Refano mengeras, ditatapnya tajam orang itu yang justru malah kini berdiri di hadapannya sambil berkacak pinggang.


"Apa?" sentaknya dengan mata melotot.

__ADS_1


"Kau itu yang apa-apaan? Masuk ke ruanganku seenaknya. Memangnya kau pikir kau berada di mana, hah? Aku tak menyangka, ternyata inilah sifat aslimu, pembangkang, pemberontak, kasar," hardik Refano geram.


"Kau itu yang apa-apaan. Ternyata kau masih saja memikirkan perempuan tak tahu diri itu. Ingat, dia itu sudah jadi mantanmu. Tak pantas kau memikirkannya lagi," pekik Saskia dengan wajah memerah.


"Mau aku memikirkannya atau tidak, itu urusanku, bukan urusanmu."


"Tentu saja itu urusanku, mas. Aku istrimu, bukan dia. Apa kau mau aku melaporkan kelakuanmu ini dengan mama, hah?" ancam Saskia.


"Lapor! Lapor saja. Tidak di rumah, tidak di kantor, kau tak pernah bisa memberikanku ketenangan. Sangat berbeda jauh dengan Zafira. Sangat-sangat berbeda jauh, kau tahu!" bentak Refano sambil membanting cangkir kopi yang ada di mejanya ke lantai sampai pecah berkeping-keping. Malas berdebat, Refano pun mengambil kunci mobil dan ponselnya kemudian segera pergi dari kantornya meninggalkan Saskia yang tak henti-hentinya berteriak kesal.


"Mas, kau mau ke mana? Mas Refano ... kau mau pergi ke mana? Kau pasti mau menemui pelacur itu kan!" teriak Saskia tanpa peduli dimana ia kini sedang berada.


Mendengar Saskia menghina Zafira, Refano kembali memutar tubuhnya dan plakkkk ...


"Mas ... " Mata Saskia berkaca-kaca sambil memegang pipinya yang terasa sakit karena tamparan Refano yang cukup keras.


"Jaga ucapanmu! Zafira bukanlah dirimu yang rela menggadaikan tubuhnya demi tujuannya?" desis Refano yang kemudian kembali membalikkan badannya, pergi dari hadapan Saskia yang kini sudah menangis sesenggukan.


"Perempuan sialan! Tunggulah pembalasanku!"

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2