
Setelah menempuh perjalanan selama satu jam dengan kecepatan yang cukup tinggi, akhirnya mobil yang membawa Refano, Luthfi, dan Refani ounntiba di sebuah rumah sakit. Memang bukan rumah sakit besar sebab rumah sakit ini terletak di daerah kabupaten, bukan perkotaan. Mereka tidak memiliki waktu banyak sebab keadaan Refani sudah sangat mengkhawatirkan.
Refano tampak menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dirinya benar-benar tegang saat ini. Perasaan cemas, was-was, kalut, panik, khawatir, semua bercampur aduk menjadi satu membuat jiwa raga Refano benar-benar terguncang. Bagaimana kalau keadaan Refani makin gawat? Bahkan pikiran buruk kini telah memenuhi isi kepalanya, bagaimana kalau Refani tidak dapat diselamatkan?
'Tidak ... tidak ... itu tidak boleh terjadi. Tolong selamatkan adikku, Tuhan. Aku ... aku tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini selain dia. Aku memang masih memiliki orang tua, tapi aku seakan tak berarti bagi mereka. Anak istri pun telah pergi meninggalkanku. Lantas untuk apa aku hidup bila tak ada yang bisa tulus mengharapkan hadirku? Aku seperti seorang sebatang kara di dunia ini. Tidakkah ada kebahagiaan untuk diriku? Apakah aku harus mati dahulu agar aku bisa mendapatkan cinta? Apakah aku harus mati dahulu agar aku bisa merasa bahagia? Terlepas dari segala beban derita. Dek, kakak mohon, sembuhlah. Bertahanlah. Jangan tinggalkan kakak dek. Kalau kamu pergi, mending kakak ikut kamu saja. Tak ada gunanya lagi hidup kakak di dunia. Semuanya juga terasa gelap dan menyakitkan.' Batin Refano dengan wajah yang telah basah karena air mata.
'Fira, seandainya kau masih di sisi, mungkin aku masih merasa kuat karena ada kau. Karena kamu, aku sanggup bertahan. Bisa melihatmu saja aku sudah bahagia. Tapi semua telah terlambat dan berlalu. Aku kini benar-benar sendiri. Benar-benar sendirian. Dalam kesendirian. Dalam kesepian. Dalam kehampaan.'
Tak lama kemudian, pintu ruangan UGD terbuka. Terdengar helaan nafas kasar dari bibir sang dokter yang baru saja memeriksa keadaan Refani membuat perasaan Refano makin terasa kacau. Jantungnya pun sudah berdegup dengan begitu kencang.
"Dok, bagaimana keadaan adik saya? Dia tidak apa-apa kan?" tanya Refano tak sabaran.
"Anda keluarga pasien?" tanya dokter itu.
"Iya, saya kakaknya. Jadi bagaimana keadaan adik saya dok?" tanyanya lagi.
"Mari ikut ke ruangan saya! Ada yang harus kita bicarakan," ujar dokter tersebut.
Dan disinilah mereka kini, Refano dan Luthfi sedang duduk bersisian menghadap sang dokter.
"Keadaan adik Anda sedang tidak baik-baik saja. Kedua ginjalnya rusak akibat pemberian obat tidur dalam dosis tinggi dan dalam jangka waktu yang lama," tukas dokter tersebut membuat mata Refano dan Luthfi terbelalak.
"Apa?" seru Refano dan Luthfi benar-benar terkejut. Bukankah keadaan Refani selama ini koma, lantas untuk apa pemberian obat tidur itu?
Lantas Refano pun menceritakan segala hal mengenai Refani yang selama ini dinyatakan koma. Hal itu berbanding terbalik dengan hasil pemeriksaan dokter. Refani ternyata tidak koma.
Refano benar-benar shock. Bagaimana bisa ibunya begitu tega dengan Refani. Ia pikir selama ini Refani memang mengalami koma sehingga harus dirawat intensif. Tapi ternyata, ia sudah sadarkan diri sejak lama. Dan setelah sadar, bukannya Refani dilepaskan, Refani justru diberi obat tidur di dalam selang infusnya membuat gadis itu terus tertidur dalam jangka waktu yang lama.
Kini Refano sedang berada di kamar rawat Refani. Dipandanginya wajah sang adik yang telah sekian tahun terpisah. Wajah Refani sangat-sangat tirus. Bahkan tubuhnya terlihat sangat kurus bagai tukang berbalut kulit saja. Matanya sangat cekung, kulit pucat, bibir pecah-pecah, sangat mengenaskan. Tak terbayangkan bagaimana penderitaan Refani selama ini.
'Mama sungguh sangat keterlaluan. Maafkan aku bila aku terpaksa menjadi anak yang durhaka pada kalian karena sikap kalian selama ini sungguh sangat keterlaluan.' batin Refano.
__ADS_1
Luthfi memandang iba pada Refani. Bisa bertahan selama ini sungguh sangat menakjubkan bagi Luthfi. Daya tahan Refani ternyata cukup mengagumkan. Bila tubuhnya tidak kuat, mungkin sudah sejak lama Refani meninggal. Apalagi nutrisi yang didapatkan Refani hanya berasal dari cairan infus selama bertahun-tahun. Luthfi tak menyangka, ada orang sekejam itu yang menyiksa seorang gadis dengan cara tak terduga.
"Tuan Luthfi, apa dokter gadungan itu masih bersama orang-orangmu?" tanya Refano.
"Iya. Kau tenang saja, dia aman bersama orang-orangku."
"Baguslah."
"Lalu apa yang akan Anda lakukan setelah ini?" tanya Luthfi.
"Aku akan mengumpulkan bukti-bukti kejahatan mamaku dan juga mencari pendonor ginjal untuk Refani," ucap Refano sambil menggenggam erat tangan Refani yang belum sadarkan diri. Menurut dokter, tidak lama lagi Refani akan segera sadar. Oleh karena itu, ia tak mau beranjak sedikit pun dari sana agar ia bisa jadi orang pertama yang Refani lihat saat membuka matanya.
"Saya akan turut membantu Anda. Tenang saja. Pak Bos memiliki hati yang sangat baik. Dia pun pasti akan ikut turun tangan membantu mencari pendonor," tutur Luthfi.
Tak lama kemudian, sesuai prediksi dokter, tampak Refani mulai menggerakkan jemarinya. Kepalanya sedikit bergerak, begitu pula kelopak mata gadis itu. Refano yang melihatnya sontak saja terharu. Lalu Luthfi pun menawarkan memanggilkan dokter.
"Kak Refan," lirih Refani lemah dengan mata berkaca-kaca. "Fani nggak mimpi kan? Ini benar-benar kak Refan kan?" Tangan Refani terulur ingin menyentuh pipi kakaknya. Refano segera menyambut tangan itu dan menempelkannya di pipi. Merasa yakin itu semua bukanlah mimpi, keduanya lantas menangis. Refano bersyukur dipertemukan kembali dengan adiknya, begitu pula Refani bersyukur masih bisa bertemu kakaknya lagi. Ia pikir, ia akan terus terkurung hingga ajal menjemputnya. Luthfi yang masih berada di sana tersenyum sambil mengusap ekor matanya yang basah karena ikut terharu melihat pertemuan antara dua bersaudara itu.
"Ck ... kok aku jadi cengeng sih? Tapi emang pertemuan mereka bikin aku terharu. Huhuhu ... "
...***...
Tak butuh waktu lama, sekitar 30 menit kemudian, mobil yang membawa Zafira pun telah tiba di depan lobi perusahaan Alta Corp. Semua karyawan Alta Corp telah mengenal siapa itu Zafira. Selain karena ia pernah bekerja di sana sebagai sekertaris Alvian, mereka juga sudah mengetahui kalau mantan sekretaris CEO mereka telah menjadi istri dari bos mereka. Jadi sepanjang perjalanan menuju ruangan Alvian, hampir semua orang menyapa dengan ramah. Namun tak sedikit juga yang menatap sinis. Bagi mereka, Zafira tak pantas bersanding dengan Alvian. Hal ini karena Zafira adalah janda beranak dua, sedangkan Alvian merupakan seorang bujang tulen. Selain itu rasa itu karena Zafira belum lama bekerja di sana tapi sudah bisa menggaet Alvian dan menjadi istrinya. Padahal mereka telah sejak awal dan bertahun-tahun bekerja di perusahaan itu, tapi Alvian tak pernah sedikitpun menaruh menaruh perhatian pada mereka. Membalas sapaan saja hanya sekedar senyum tipis, tanpa basa-basi. Oleh karena itu, mereka begitu iri dan menduga Zafira telah mengguna-gunai bos mereka sehingga bisa terpikat padanya.
"Selamat siang, Bu," sapa karyawan Alta Corp.
"Siang juga," jawab Zafira ramah.
'Heh, lihat tuh, sok kecantikan banget tuh orang. Gue yakin, dia pasti udah pelet pak bos biar terpikat padanya. Mikir aja, kita yang masih gadis dan seksi aja bos cuek, masa' tiba-tiba bisa kepincut janda anak dua sih, benar kan?' Eh,alah anak 3, ada yang bayi kan," bisik-bisik dua orang yang berada satu lift dengan Zafira. Meskipun bisik-bisik, tapi Zafira masih bisa mendengarnya dengan jelas.
'*Bener banget. Kira-kira dia pakai dukun mana ya? Boleh juga tuh kalau kita datangi. Aku juga mau buat pak bos jatuh cinta sama gue. Nggak papa jadi istri kedua, yang penting cakep, tajir, dan hot pake banget.'
__ADS_1
'Wah, ide bagus tuh! Aku masih sama pak Luthfi aja, imut-imut gimana gitu. Rasanya pengin aku kekepin terus. Uch baru bayangin aja udah bikin bawahku becek*,' bisiknya sambil cekikikan membuat Zafira jengah.
Tak lama kemudian, pintu lift pun berbunyi. Zafira pun segera melangkahkan kakinya keluar, sedangkan kedua orang tadi masih berada di dalam lift sebab mereka akan makan siang di rooftop. Sebelum benar-benar berlalu, Zafira pun membalikkan badannya dan menatap kedua perempuan yang tadi membicarakan dirinya.
"Kalian? Apakah kalian di gaji di perusahaan ini untuk bergosip? Apa pantas kalian menggunjingkan istri atasan kalian sendiri? Kalian masih muda, tapi seperti tidak ada etika. Oke, kalian bilang tadi saya main dukun kan? Baiklah, aku tantang kalian untuk membuktikan apa yang kalian ucapkan tadi. Dan bila sampai 1 minggu kalian tidak dapat membuktikan ucapan kalian, segera persiapkan surat pengunduran diri kalian. Perusahaan ini tidak membutuhkan karyawan yang hanya bisa mengghibah," ucap Zafira tegas membuat kedua perempuan itu membelalakkan matanya.
"Bu, Anda tidak bisa berbuat semaunya seperti itu. Anda itu hanya istri pak Alvian, bukan bos kami. Jadi Anda tidak berhak untuk membuat keputusan sepihak seperti itu." Jawab salah satu karyawan yang tidak terima dengan keputusan sepihak Zafira.
"Ayi benar, mentang-mentang udah jadi istri bos jadi mau berbuat seenaknya. Ngaca sana, ngaca, kamu itu nggak pantes jadi istrinya pak Al. Kamu pasti takut kan kebusukan kamu ketahuan kalo udah pake jasa dukun buat gaet pak Al," sahut temannya.
"Iya, nggak tahu diri banget."
Zafira tersenyum smirk, "tadinya saya mengatakan itu hanya sekedar untuk memberi kalian peringatan, tapi nyatanya kalian justru makin menjadi," ucap Zafira. Kemudian ia menoleh ke samping, "bagaimana sayang?" tanyanya pada seseorang yang tiba-tiba sudah ada di sampingnya membuat kedua karyawan wanita itu terbelalak.
"Semua keputusan ada di tanganmu. Aku mengikut saja." Ucapnya sambil menatap Zafira dengan tatapan penuh cinta, setelahnya pandangannya beralih pada kedua karyawannya. Sorot matanya tajam, sangat berbeda dengan tatapannya pada Zafira.
"Saya mempekerjakan kalian untuk bekerja, bukan untuk menggunjing. Apalagi yang kalian bicarakan itu istri saya sendiri, apa kalian tidak punya otak?" ucap Alvian tajam membuat kedua karyawan wanita itu menunduk. "Jadi apa keputusanmu, sayang? Aku nggak akan ikut campur. Terserah kau saja. Kalau aku sih, maunya mereka langsung dipecat."
"Bu Zafira, saya mohon, jangan pecat saya. Saya mohon maafkan saya."
"Iya, Bu, maafkan atas kelancangan mulut kami. Kami mohon, jangan pecat kami. Kami janji, kami nggak akan bicara macam-macam seperti itu lagi, kami mohon, Bu." Mohon mereka berdua dengan wajah yang sudah pucat pasi. Mereka juga menangkupkan kedua tangan di depan dada dengan memasang wajah memelas.
"Baiklah, untuk kali ini kalian saya maafkan. Tapi tidak untuk kedua kalinya." Ucapnya tegas.
"Tapi sayang?" Alvian hendak menyela, tapi Zafira justru menggelengkan kepalanya.
"Biarlah, bang. Jadikan ini peringatan untuk yang lain. Semoga setelah ini, tidak ada lagi yang berani berbicara sembarangan di belakang kita." Ucap Zafira membuat Alvian tersenyum dengan kebesaran hati Zafira.
"Kalian lihat, inilah salah satu hal yang membuat saya jatuh cinta pada istri saya. Jadi mulai hari, saya minta kalian jaga ucapan kalian. Bila ini terjadi lagi di kemudian hari, jangan salahkan saya bertindak tegas. Saya bukan hanya akan memecat kalian, tapi juga membuat kalian tidak bisa diterima di perusahaan manapun. Kalian dengar?"
"Baik, pak. Terima kasih, pak. Terima kasih, Bu. Kami berjanji tidak akan bicara sembarangan lagi ke depannya," ucap mereka kompak membuat Zafira tersenyum. Kemudian Zafira segera mengajak Alvian menuju ke ruangannya untuk makan siang.
__ADS_1
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...