
Mendengar apa yang barusan Refano sampaikan membuat Alvian terkekeh. Entah merasa lucu, aneh, atau janggal, ia belum paham sampai sejauh itu. Apalagi saat mendengar permohonan Refano untuk melindungi istri dan anak-anaknya. Tanpa perlu diminta pun, ia akan melakukannya.
"Sungguh menggelikan. Seorang mantan suami meminta suami baru mantan istrinya untuk melindungi mantan istri dan anak-anaknya. Bahkan tanpa kau suruh pun, aku pasti akan melakukannya." Ucap Alvian sambil tersenyum remeh.
Refano menghela nafas, ia paham, ini terasa aneh. Namun Refano memiliki rasa ketakutan tersendiri tentang apa yang bisa dilakukan sang ibu. Ia hanya takut ibunya nekat melukai bahkan melenyapkan nyawa Zafira dan anak-anaknya karena menolak menyerahkan baby Zafran padanya.
"Saya tahu. Saya tahu Anda lebih berkuasa dan lebih mampu untuk melindungi Zafira dan anak-anak, tapi ini bukan sekedar perkara Anda mampu atau pasti akan melindungi mereka tanpa saya minta. Anda belum tahu seberapa mengerikannya mama saya. Dia ... ibarat seorang monster yang bisa menghancurkan apa saja demi mendapatkan tujuannya," ucap Refano. Refano memang tahu, tanpa diminta pun Alvian pasti akan melindungi istri dan anak-anaknya. Namun Refano berpikir, Alvian pasti tidak tahu bagaimana sifat Liliana yang nekat dan mengerikan. Tanpa ia tahu, Alvian sedikit banyak mengetahui keburukan Liliana, terutama yang berhubungan dengan ibunya.
"Ceritakan. Ceritakan semuanya. Bagaimana bisa ada seorang anak yang mengatakan ibunya sendiri seperti seorang monster. Sangat aneh. Atau kau ingin mencari simpati agar bisa mendekati istri dan anak-anakku lagi, hah?" Pancing Alvian agar Refano mau menceritakan rahasia Liliana yang diketahuinya.
"Tidak. Saya berbicara yang sesungguhnya. Kalau mau, sudah sejak dulu aku menceritakan segalanya dengan Fira. Saya yakin, saat ia tahu apa yang membuatku terpaksa bersikap demikian, ia pasti akan memilih bertahan, tapi tidak. Saya tidak melakukannya. Saya tidak ingin membuat posisinya makin berbahaya. Saya tidak ingin Fira hidup dalam ketakutan karena sifat buruk mama yang baru ia ketahui,"sanggah Refano yang menolak dianggap ingin mencari simpati. "Baiklah bila kau ingin tahu. Jujur, saya tidak pernah menceritakan hal ini pada siapapun." Setelah mengucapkan itu, Refano menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Setelahnya, ia pun mulai bercerita.
Kejadian ini berawal sejak berpuluh tahun yang lalu. Saat itu Refano masih berusia 6 tahun. Karena kesibukan Liliana yang sering bepergian ke 6kota, membuat Refano lebih sering ikut sang ayah kemanapun termasuk ke rumah istri mudanya yang letaknya tak jauh dari sekolah Refano.
Istri muda Marwan dulu merupakan karyawan di perusahaannya. Karena wajahnya yang mirip dengan Ayu, pun sifat dan tutur kata yang lembut membuat Marwan nekat menjadikannya istri mudanya tanpa sepengetahuan Liliana. Wanita bernama Risma itu pun sangat baik dengan Refano. Ia memperlakukan Refano seperti putra kandungnya sendiri.
__ADS_1
Hingga suatu hari, rahasia Marwan pun terbongkar oleh Liliana. Tanpa sepengetahuan Marwan, Liliana mendatangi Risma dan mencaci-maki dan menghina Risma karena telah menjadi pelakor dalam rumah tangganya. Risma yang dasarnya lemah, hanya bisa menunduk. Liliana yang terlanjur emosi lantas menjambak rambut Risma dan menghempaskannya hingga tersungkur di lantai. Risma yang sedang hamil tua sontak saja mengerang kesakitan. Melihat hal tersebut, bukannya hendak menolong, Liliana justru tersenyum lebar. Kemudian tanpa rasa bersalah, ia pergi meninggalkan Risma yang sudah terkapar dengan darah yang sudah menggenang akibat pendarahan hebat yang dialaminya.
Tak lama kemudian, beruntung Marwan datang ke rumah minimalis tersebut. Marwan benar-benar shock melihat keadaan Risma yang sudah tak berdaya. Ia pun segera membawa Risma ke rumah sakit. Tanpa sepengetahuan mereka, ada seorang anak yang sudah meringkuk dengan tubuh bergetar dari balik sofa. Tadinya sepulang sekolah, ia ingin sekali menemui ibu tirinya yang sangat baik itu. Namun apa yang ia lihat cukup membuatnya benar-benar ketakutan. Dengan mata kepalanya sendiri, ia melihat kekejaman Liliana pada Risma hingga membuatnya tak berdaya dengan darah yang menggenang.
Sejak saat itu, anak laki-laki yang biasanya ceria itu berubah menjadi pemurung. Ia juga jadi pendiam dan enggan berinteraksi dengan orang-orang. Ia takut. Ia trauma. Apalagi setelah mendapat kabar dari sang ayah kalau ibu tirinya yang baik itu telah merenggang nyawa tepat setelah melahirkan seorang bayi perempuan. Marwan menduga apa yang Risma alami karena terpeleset. Tanpa ia ketahui, apa yang menimpa Risma merupakan perbuatan Liliana. Ingin anak laki-laki itu menceritakannya pada ayahnya, tapi rasa takut terlalu mendominasi. Ingatan tentang darah yang membanjiri lantai selalu berkelebat di memorinya memicu rasa ketakutan terhadap sosok sang ibu.
Sepeninggalnya Risma, dengan terpaksa Marwan membawa bayi perempuannya pulang ke rumah. Ia menjelaskan pada Liliana kalau bayi yang diberi nama Refani itu merupakan putrinya dari perempuan lain. Awalnya Liliana marah. Namun, setelahnya ia menjelma bak malaikat penyayang dan berpura-pura mau menerima Refani. Tanpa Marwan ketahui, Liliana memperlakukan Refani dengan begitu buruk.
Lambat laun, Refani tumbuh menjadi gadis manis dan ceria. Refano pun sangat menyayangi adik berbeda ibunya itu. Yang Refani tahu Liliana adalah ibu kandungnya. Oleh karena itulah, meskipun diperlakukan buruk, Refani tetap menyayangi Liliana. Hingga suatu hari, setamatnya SMA, Liliana memaksa menjodohkan Refani dengan seorang pengusaha yang Refani ketahui merupakan seorang cassanova. Terang saja Refani menolak, apalagi ia sudah memiliki kekasih yang merupakan adik dari asisten pribadi ayahnya sendiri.
Tanpa sepengetahuan Marwan, orang suruhan Liliana ternyata telah lebih dahulu menemukan tubuh Refani. Kepalanya yang membentur bebatuan saat terseret arus membuatnya terluka parah hingga mengalami koma hingga bertahun-tahun. Hal inilah yang dimanfaatkan Liliana untuk makin menekan Refano yang makin berani menentang dirinya. Bila Refano sedikit saja berani menentang perintahnya, maka ia tidak akan segan-segan menyakiti tubuh Refani maupun mencabut alat penopang kehidupannya.
Refano sudah mencoba mencari di rumah sakit mana Refani disembunyikan, tapi hingga sekarang Refano tak kunjung menemukannya. Entah dimana Liliana menyembunyikannya, Refano benar-benar tak tahu.
"Oleh sebab itulah, saya terpaksa bersikap dingin pada Zafira maupun anak-anak. Sebab bila saya sedikit saja menunjukkan rasa kasih saya pada mereka, bukan tidak mungkin mama akan menyakiti mereka," lanjut Refano menceritakan apa alasannya bersikap dingin pada Zafira dan anak-anak. Padahal dalam hati, ia ingin sekali merengkuh mereka, mendekap mereka dalam pelukan, mengajak mereka bersenda gurau, berlibur kemana saja, membahagiakan mereka dengan sepenuh jiwa dan raga. Tapi apalah daya, ia akui, dirinya terlalu lemah hingga bisa disetir ibunya sendiri. Entah terbuat dari apa hati ibunya sehingga bisa berbuat kejam seperti itu.
__ADS_1
Alvian yang mendengar cerita Refano diam tak bergeming. Ia tak menyangka, nasib saudara seayahnya itu tak lebih baik dari dirinya. Refano memang memiliki orang tua lengkap, tetapi hidupnya justru terkekang.
"Aku akan membantumu mencari adikmu itu, asal ... "
"Asal apa?" tanya Refano penasaran.
"Jual semua sahammu padaku, maka aku akan membantumu mencari adikmu itu." Ucap Alvian membuat Refano terhenyak.
"Apa yang akan kau lakukan dengan saham-saham itu?"
Alvian lantas mencondongkan tubuhnya ke arah Refano lalu mengucapkan sesuatu yang membuat Refano makin terhenyak dengan mata terbelalak.
"Aku akan menggunakannya untuk menghancurkan kesombongan kedua orang tuamu." Ucap Alvian sambil menyeringai.
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...