Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan

Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan
Baju dinas


__ADS_3

Zafira tampak sedang menyusui baby Zafran di atas ranjang hotel tempat mereka menginap, sedangkan Alvian tampak memeriksa pekerjaannya di salah satu sofa dengan laptop yang berada di atas pangkuannya. Setelah memastikan baby Zafran telah tertidur lelap, dengan perlahan Zafira menarik ujung pu tingnya dari mulut mungil bayinya itu. Kemudian Zafira pun segera beranjak dan memindahkan baby Zafran ke dalam box bayi yang sengaja mereka siapkan. Tentunya dengan tujuan agar bayi lucu itu tak terganggu saat kedua orang tuanya sedang sibuk melakukan ritual menggairahkan.


Setelah selesai, ia pun bergegas menuju ke kamar mandi untuk melakukan misi rahasia.


"Astaga, masa' aku harus pakai baju ini sih? Ini mah bukan baju tapi ... tapi ... ah pokoknya menggelikan," gumam Zafira saat sambil menempelkan baju dinas pemberian Nova tempo hari.


Ya, beberapa hari sebelum menikah, Zafira dan Nova pergi berbelanja bersama. Saat mau pulang, tiba-tiba saja Nova menarik tangannya untuk masuk ke dalam salah satu store pakaian dalam ternama dunia.


Di dalam sana, mata Zafira sampai terbelalak saat melihat jejeran manekin yang memamerkan aneka lingerie yang sungguh seksi.


"Nov, ngapain kita ke sini sih?" Wajah Zafira sudah merah padam melihat jejeran manekin dan aneka poster artis dunia yang memamerkan tubuh indah mereka menggunakan lingerie merk tersebut.


"Mau apa? Ya mau beli lah. Kamu itu butuh baju dinas kayak gini tau, Ra. Biar lebih hot jeletot. Biar Al melotot ogah merem terus panas dingin liat tubuh loe yang seksoy gitu lho," cerocos Nova membuat wajah Zafira kian memerah hingga ke telinga. Sepintas ia membayangkan tubuhnya mengenakan pakaian dinas khusus suami istri itu membuat bulu kuduknya seketika berdiri. "Dih, malah melamun!"


Lalu Nova pun mulai memilihkan beberapa lingerie yang menurutnya pas dan cocok untuk Zafira kenakan di malam pengantinnya. Awalnya Zafira hendak menolak karena ia pasti merasa malu mengenakannya di depan Alvian, tapi Nova terus meyakinkan kalau hal itu penting. Zafira pikir-pikir benar juga, bila ia tidak bisa mempersembahkan keperawanannya, maka ia bisa memberikan pelayanan terbaik agar suaminya tidak menyesal telah memilih dirinya menjadi istri.


...***...


Zafira telah mengenakan baju dinasnya khusus malam ini. Sebuah lingerie berwarna hitam dengan tali spaghetti di pundak kanan dan kirinya. Zafira sebenarnya merasa malu sendiri melihat tubuhnya yang terbalut lingerie itu. Bagaimana tidak, hanya dada dan organ intimnya saja yang tertutup sempurna, sedangkan area perut menerawang dan bagian lainnya terbuka lebar. Jantung Zafira sampai berdetak dengan begitu cepat. Entah bagaimana reaksi suaminya nanti.


Sebelum keluar, Zafira mengenakan kimono satin miliknya agar ia tidak terlalu malu memamerkan keindahan tubuhnya.


Ceklek ...


"Bang," Zafira tersentak sendiri saat melihat Alvian yang ternyata telah berdiri di depan pintu kamar mandi dengan tangan yang menggantung di udara.


"Kenapa lama banget?" tanya Alvian lembut. Sejak tadi ia sudah menyelesaikan pekerjaannya dan sejak tadi juga ia sudah menunggu Zafira keluar dari dalam kamar mandi. Namun, sudah bermenit-menit berlalu, tapi Zafira tak kunjung keluar dari dalam kamar mandi. Baru saja ia hendak mengetahuk pintu kamar mandi, khawatir terjadi sesuatu pada Zafira, di saat bersamaan pintu pun terbuka. Alvian sampai menghela nafas lega saat melihat sang istri dalam keadaan baik-baik saja.


"Ah, itu ... anu ... " Zafira mendadak gugup. Jantungnya sudah bertalu-talu, memompa begitu kencang, membuat dirinya gelagapan sendiri.


"Kamu nggak papa kan, sayang? Kok kamu mendadak gugup gitu?" tanya Alvian sedikit merasa cemas.


"Ah, eng-enggak kok. Aku ... nggak papa," sahut Zafira seraya tersenyum lebar hingga menampakkan deretan giginya yang putih.

__ADS_1


"Baguslah. Aku tadi cemas lho. Takut kamu kenapa-napa di dalam sana," ujar Alvian seraya menarik Zafira ke dalam pelukannya.


"Bang ... "


"Hmmm ... "


"Sebenarnya ... "


"Sebenarnya apa?" Alvian lantas merenggangkan pelukannya untuk menatap lekat Zafira.


"Sebenarnya tadi aku kesulitan membuka simpul kimono ini. Abang ... bisa bantu lepasin ikatannya nggak?" tanya Zafira sambil berusaha membuka simpul ikatan tali kimono satin yang ia kenakan. Alvian melihatnya lalu mencoba melepaskan ikatannya yang memang sedikit sulit dilepaskan. Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya simpul ikatan pun terbuka hingga memperlihatkan bagian dalamnya yang benar-benar menggoda iman seorang Alvian.


Alvian yang melihat tubuh bagian depan Zafira yang tersingkap pun menelan ludahnya kasar. Lalu Zafira melepaskan kimono satin itu dengan perlahan hingga jatuh ke atas lantai. Jakun Alvian sampai naik turun melihat keindahan tubuh sang istri yang terpampang jelas di hadapannya. Jantungnya berdegup kencang. Darahnya berdesir. Tubuhnya meremang. Bola matanya melebar tanpa mampu teralihkan.


"Ra ... ka-mu-," Alvian kesulitan melanjutkan kata-katanya. Apalagi saat Zafira telah melangkah maju, mengikis jarak antara mereka dengan melingkarkan tangannya di leher Alvian.


"Apa? Ka-mu tak suka?" tanya Zafira penasaran. Sebenarnya ia was-was. Khawatir Alvian tidak menyukai apa yang ia lakukan kini.


Alvian menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat, "bukan. Bukan begitu. Sebaliknya, aku ... sangat suka. Kamu ... sangat seksi dan menggoda. Jadi ... bisakah kita mulai ritual malam pertamanya?"


Lagi, Alvian menggelengkan kepalanya dengan cepat, "malam ini ... biarkan aku yang memimpin. Mari kita terbang ke nirwana bersama," ujarnya sebelum makin mengikis jarak antar wajah dengan menyatukan kedua bibir mereka. Mereka lantas berpagutan. Awalnya lembut, pelan-pelan, penuh kehati-hatian. Namun, semakin lama pagutan itu kian liar. Kian ganas. Kian panas. Bergelora. Menyalakan hasrat. Membakar gairah hingga terjadilah sesuatu yang memang seharusnya terjadi di malam itu.


...***...


"Fan, besok ikut mama ke rumah Zafira. Kita akan ambil bayi itu. Mama sudah mendapatkan alamat tempat tinggalnya. Mama tidak mau cucu laki-laki mama memanggil orang lain sebagai papanya." Ucap Liliana acuh tak acuh dari atas brankar.


Refano yang masih menyantap makan malamnya di meja yang ada di ruangan perawatan Liliana pun segera menghempaskan sendok yang ada di tangannya dengan kasar. Matanya melotot dengan rahang mengeras.


"Apa mama udah gila?" sentak Refano. Seumur-umur ia tak pernah bersikap kasar dengan orang tuanya, tapi apa yang diucapkan Liliana ternyata mampu menyulut emosinya.


"Kau berani meninggikan suaramu dengan mama?" Mata Liliana melotot tajam. Ia tak menyangka, Refano yang biasanya patuh pada perintahnya dapat meninggikan suaranya seperti itu.


"Iya. Aku berani karena mama sudah sangat keterlaluan."

__ADS_1


"Apanya yang keterlaluan? Bayi itu milik kita. Kita sudah lama mengharapkan bayi laki-laki. Ya, Saskia memang berhasil melahirkan bayi laki-laki, tapi penyakit. Mama nggak mau punya cucu penyakit seperti dia. Mama maunya bayi yang ada pada Zafira," seru Liliana dengan suara tak kalah tinggi.


"Ma, apa mama lupa, kita sudah memutuskan hubungan kita dengan Zafira dan anak-anaknya, jadi mama sudah tak punya hak lagi atas mereka."


"Siapa yang tak punya hak? Kita membuat perjanjian itu bukankah karena kita menganggap bayi itu perempuan, bukan laki-laki. Karena bayi yang lahir laki-laki, jadi kita berhak atas dirinya." Liliana tetap kekeh dengan kekeraskepalaannya.


"Nggak, mama nggak boleh mengusik Fira lagi. Aku tidak mengizinkan mama mengusiknya dan anak-anak, pokoknya nggak boleh."


"Kau pikir mama peduli akan pendapatmu? Pokoknya mama tidak mau tahu menahu, kamu harus mengambil bayi itu dari tangan Zafira."


"Sekali aku katakan tidak, tetap tidak. Ma, sudah. Jangan egois dan serakah lagi. Sudah cukup kita memperlakukan Fira dengan tak adil. Biarkan mereka hidup dengan tenang dan bahagia. Fano mohon ma, tolong, tolong jangan usik mereka. Fano mohon!" Refano menghempaskan tubuhnya bersujud di lantai. Ia memohon dan mengiba agar Liliana tidak mengusik kehidupan Zafira dan anak-anaknya lagi.


"REFANO! APA YANG KAU LAKUKAN!" Sentak Liliana dengan suara meninggi. "Mengapa kau membela perempuan itu, hah? Jangan-jangan kau mencintainya? Bukankah mama sudah bilang, jangan menggunakan hatimu pada wanita sialan itu. Dia tak pantas untukmu."


"Memangnya kenapa kalau aku mencintainya? Mengapa mama begitu tega dan jahat sama Fano? Fano ini anak mama, darah daging mama, tapi kenapa mama seperti tak rela Fano berbahagia dengan perempuan yang Fano cintai, ma? Tapi sekali lagi, Fano melepaskan kebahagiaan Fano demi mama. Karena mama. Tapi apa balasannya? Mama tetap saja egois dan keras kepala. Fano mohon ma, mohon dengan sangat, jangan ambil bayi itu dari Zafira. Cukup ma, cukup. Jangan sakiti dia, ma! Apa salah Fira sama kita? Tidak ada. Jadi sekali lagi Fano mohon ma, jangan usik mereka lagi."


"Mama tetap pada keputusan mama akan mengambil bayi itu dari tangan Zafira. Mama tak sudi cucu mama diasuh oleh perempuan-perempuan sialan itu," ucapnya menggebu-gebu. Tetap kekeh dengan keputusannya. Rahangnya mengeras saat mengingat sosok Ayu. Hal itulah yang membuatnya kian tak rela cucu laki-lakinya justru menjadi cucu Ayu. Kebenciannya ternyata tak pernah pudar untuk Ayu. Apalagi saat ia menyadari ternyata suaminya masih memiliki rasa pada Ayu membuat bara kebenciannya kian membara.


"MAMA!!! POKOKNYA MAMA NGGAK BOLEH USIK MEREKA LAGI. TITIK."


"KAU TIDAK BERHAK MENENTANG MAMA, REFANO! Oke, kalau kau tak mau ikut kesana, tak masalah. Mama bisa melakukannya sendiri."


Brakkkk ...


Refano menendang meja di kamar perawatan itu hingga terbalik.


"REFANO, KAU APA-APAAN, HAH! KAU BERANI MELAWAN MAMA? APA KAU MAU ALAT PENOPANG KEHIDUPAN ADIK KESAYANGANMU ITU MAMA CABUT SEKARANG JUGA, HAH!"


"Ada apa ini?" Tiba-tiba beberapa perawat dan dokter yang biasa menangani Liliana masuk ke dalam ruangan itu. Karena mendengar keributan dari dalam ruangan VIP itu, membuat beberapa perawat khawatir. Mereka khawatir terjadi sesuatu yang tak diinginkan di dalam ruangan itu. Bahkan sudah ada 2 petugas keamanan yang siap sedia bilamana memang ada orang yang hendak membuat onar di dalam ruangan itu.


Melihat itu, Liliana segera merubah ekspresinya kembali. Bersikap tenang seolah tidak terjadi apa-apa. Tentu ia harus menjaga citranya di muka umum. Ia tak mau dirinya dijadikan bahan pergunjingan oleh khalayak ramai.


Dengan sorot mata jengah, Refano mendekat ke arah Liliana.

__ADS_1


"Kalau mama sampai lakukan itu, maka dengan tanganku sendiri akan membalas perbuatan mama," desisnya tajam kemudian segera keluar dari ruangan itu tanpa mempedulikan dokter dan perawat serta keamanan yang telah berdiri di sana.


......HAPPY READING 🥰🥰🥰......


__ADS_2