Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan

Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan
Di bawah atap yang sama


__ADS_3

Hari sudah beranjak sore, Refina dan Regina tampak begitu bahagia dan puas sekali karena bisa berjalan-jalan di taman safari. Zafira pun tiada henti mengulas senyum, turut berbahagia melihat anak-anaknya merasa bahagia. Hanya saja, ada perasaan sedih di dalam hati Zafira. Ia sedih, bukankah seharusnya ayahnya yang membahagiakan putri-putrinya dengan mengajak mereka jalan-jalan, tapi sebaliknya, justru laki-laki yang tidak memiliki hubungan apapun dengan mereka lah yang memberikan apa yang tak pernah putri-putrinya terima dari sosok bernama ayah. Perhatian, kasih sayang, waktu, kebahagiaan, semua yang seharusnya mereka dapatkan dari Refano justru Alvian lah yang memberikannya.


"Kamu kenapa, Ra?" tanya Alvian yang saat ini sedang duduk bersisian di kursi depan mobil. Sedangkan Regina dan Refina duduk di kursi belakang bersama Bu Mayang.


"Emmm ... makasih ya, Al. Berkat kamu, Regina dan Refina bahagia banget. Sekali lagi makasih," ucap Zafira tulus.


Alvian mengulas senyum tipis, "kalau kau ... apakah kau merasa bahagia?" tanya Alvian sambil melirik sekilas ke arah Zafira yang seketika menoleh ke arahnya. Kemudian tatapan Alvian kembali fokus ke arah depan.


"Aku bahagia saat melihat anak-anakku bahagia," jawab Zafira dengan tatapan menerawang. Sekelebat memori kehidupannya selama 7 tahun ini melintas. Tak pernah anak-anaknya merasa begitu bahagia seperti ini apalagi saat bersama dengan orang lain. Hari-hari kedua anaknya hanya seputar rumah, sekolah, dan mall kadang-kadang. Itupun tidak bisa lama dan hanya dengan dirinya saja, tanpa ada orang lain karena sekali pun baik Refano maupun kedua orang tuanya tak pernah menyempatkan sedikit saja waktunya untuk menemani kedua putrinya.


"Ra, kalau boleh aku beri saran, kebahagiaan anak-anakmu memang penting, tapi kau pun harus memikirkan kebahagiaanmu. Yakinlah, kalau kau bahagia, anak-anakmu pun akan bahagia dan akan lebih mudah pula bagimu untuk membahagiakan mereka sebab hatimu merasa tenang, damai, dan tidak tertekan."


"Saranmu boleh juga. Padahal kau masih cukup muda, tapi kau ternyata cukup bijak juga ya!" seloroh Zafira membuat Alvian mendengkus.


"Ya, tentu saja, aku kan calon suami dan ayah idaman," balas Alvian membuat Zafira terkekeh.


"Calon suami? Calon istrinya aja belum ada, gimana bisa jadi calon suami, apalagi calon ayah," ledek Zafira yang tak bisa menutupi rasa gelinya.


"Kata siapa belum ada, ada kok," jawab Alvian santai membuat raut wajah Zafira berubah menjadi penasaran.


"Hah! Iya kah? Tapi aku selama ini nggak pernah liat kamu jalan sama cewek atau dihubungi cewek."


"Cie, ternyata diam-diam kamu perhatiin aku ya!" goda Alvian membuat Zafira memutar bola matanya.


"GR."


"Udah, ngaku aja. Aku seneng kok diperhatiin kamu."


"Siapa? Mana ada," kilah Zafira.

__ADS_1


"Itu tadi apa, kamu sampai tahu kalau aku nggak pernah jalan sama cewek sama dihubungi cewek."


"Ya gimana nggak tahu, hampir seharian kita di bawah atap yang sama, terus kalau libur kayak gini juga, kamu justru menghabiskan harimu sama aku dan anak-anakku, jadi wajar kan kalau aku tahu kamu nggak pernah jalan sama cewek."


"Di bawah atap yang sama?" Alvian mengulum senyum saat mengulang kalimat itu. Entah mengapa ia merasa bahagia mendengarnya.


"Iya, kita berada di satu gedung yang sama, artinya kan di bawah atap yang sama."


"Berada di bawah atap yang sama selamanya 24 jam juga aku nggak masalah."


"Maksudnya?" beo Zafira bingung dengan kalimat ambigu Alvian.


"Ya di bawah atap yang sama selamanya 24 jam, di kantor dan di rumah, jadi keluarga, aku bersedia. Malah dengan senang hati." Ucapnya sungguh-sungguh tapi Zafira justru masih kebingungan mencerna kalimat tersebut.


"Maksudnya?"


"Kamu tadi tanya kan, memangnya aku punya calon istri, aku serius, ada kok. Calon istriku itu ada tepat di samping kiri ku. Dan kalau dia bersedia, aku mau selamanya berada di bawah atap yang sama, jadi sebuah sebuah keluarga, yang saling melengkapi dan menjaga hingga hanya maut yang dapat memisahkan kita." Jelas Alvian membuat Zafira terbelalak dengan mulut membungkam. Otak pintarnya seketika membeku, tak mampu mencerna untaian kata yang barusan Alvian sampaikan. Untaian kata itu terdengar menggiurkan, tapi sekaligus meragukan. Meskipun netra Alvian menunjukkan kesungguhan, tapi ... apakah yang Alvian katakan itu sungguhan atau hanya sekedar candaan?


"Jangan terlalu dipikirkan! Aku tidak mau karena kata-kataku, kandunganmu jadi bermasalah. Tapi yang harus kamu tahu, aku serius dengan apa yang aku katakan. Aku ingin sekali menjadi suamimu dan ayah dari anak-anakmu. Mungkin untuk saat ini kau masih ragu, tapi kau tak perlu meragukan keseriusanku karena aku tidak pernah main-main dengan kata-kataku." Tegas Alvian.


"Kau jangan bercanda, Al. Kau pikir aku akan semudah itu percaya dengan kata-katamu itu. Kalaupun kau serius, itu tidak mungkin terjadi. Kita bagai bumi dan langit. Kau pantas mendapatkan yang lebih baik dan sempurna dari pada diriku yang hanya seorang janda miskin dengan 2 anak dan sebentar lagi bertambah menjadi 3. Sedangkan kau seorang pria single, pemimpin perusahaan yang memiliki segalanya. Aku mohon jangan melambungkan anganku bila akhirnya kau hempaskan ke dasar bumi. Kau tahu, itu sangatlah menyakitkan," lirih Zafira yang merasa sangsi dengan apa yang Alvian sampaikan. Sudah cukup ia merasa sakit hati dan terluka karena cinta dan ia tak ingin mengulanginya kembali meskipun dengan orang yang berbeda.


"Ra ... "


"Eugh ... " terdengar suara lenguhan dari kursi belakang membuat Alvian yang ingin kembali membuka mulutnya lantas mengatupkannya kembali.


"Mama, Lefi haus, ma," cicit Refina dari kursi belakang membuat Zafira bergegas mengambil botol minum sang putri kemudian membukakannya dan memberikannya pada Refina.


Alvian menghela nafasnya, ia sadar, mungkin ini bukan saat yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya. Tak apalah, lain kali ia akan berusaha meyakinkan Zafira kembali. Semoga pada saat itu, Zafira sudah mau membuka pintu hatinya untuk dirinya.

__ADS_1


...***...


Beberapa hari ini Refano tampak kurang fokus dalam bekerja. Pikirannya selalu tak tenang. Bayang-bayang Zafira dan kedua putrinya selalu berkelebat di dalam benaknya. Membuat hari-harinya menjadi tak tenang.


Diliriknya, jarum jam sudah menunjukkan pukul 9 lewat 15 menit. Refano lantas mengambil kunci mobilnya dan bergegas pergi dari kantornya.


"Tuan Refano, Anda mau kemana?" tanya Afrizal, pria paruh baya yang merupakan asisten pribadi Marwan, ayah Refano.


"Aku mau pergi sebentar. Kalau papa menanyakan ku, katakan saja aku ada keperluan sebentar," jawab Refano yang bergegas pergi dari kantornya.


35 menit kemudian, tibalah Refano di suatu tempat. Tempat dimana ia pikir bisa menemukan seseorang yang kerap membuatnya kepikiran. Kemudian Refano pun bergegas keluar dari mobilnya berharap bisa melihat sesosok yang tanpa sadar ia rindukan kehadirannya. Sosok gadis kecil yang dahulu sering menyambut kepulangannya.


Ya, Refano sekarang sedang berada di sekolah Regina. Entah bagaimana, Refano ingin sekali menemui gadis kecil itu. Tak berselang lama, tampak anak-anak keluar dari kelas masing-masing berhamburan keluar. Ada yang menghampiri orang tuanya yang menjemput, ada juga yang bergegas pergi menuju mobil jemputan yang memang disediakan pihak sekolah hingga akhirnya Refano menangkap keberadaan gadis kecil yang dinantikannya itu.


"Regina," pekik Refano memanggil gadis kecil itu. Regina yang merasa namanya dipanggil pun segera menoleh ke sumber suara. Dahinya berkerut, merasa tak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Regina," panggil Refano lagi saat telah berdiri tepat di hadapan Regina yang mematung. "Hei, kok diam? Ini papa," imbuhnya tapi Regina tetap mematung. Bahkan sorot matanya pun terlihat datar dan dingin, membuat Refano tertegun. Tak ada lagi senyum penuh keceriaan di wajah gadis kecil itu.


Baru saja Refano ingin menyentuh pundak Regina, Regina justru memundurkan langkahnya. Refano lagi-lagi tertegun karena Regina menghindarinya.


"Hei, ini papa? Kenapa kamu menghindar, hm?" tanya Refano yang masih belum sadar diri.


"Papa?" beo Regina.


"Iya, ini papa. Masa' Regina sudah lupa sama papa."


"Apa Regi punya papa? Perasaan Regi nggak punya papa deh. Om salah orang kali. Orang-orang tahunya Regi itu nggak punya papa. Kata mereka Regi itu anak yatim. Regi pulang dulu ya, Om. Udah ditunggu pak sopir," jawab Regina datar membuat lidah Refano mendadak kelu. Ada rasa yang tak dapat ia definisikan di dalam dadanya, terasa perih, amat sangat perih. Putrinya ... tidak mengakuinya.


...***...

__ADS_1


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2