
"Kalian," seru Bu Mayang dengan mata membulat yang dibalas Liliana dan Saskia dengan tatapan jengah.
Berbanding terbalik dengan tatapan Refano yang tampak sayu. Bu Mayang dan Zafira saling menoleh, ingin melihat apa yang akan mereka lakukan. Sedangkan kedua anaknya tampak berdiri acuh tak acuh seolah tidak mengenali ketiga orang itu membuat tatapan Refano kian nanar
"Kenapa? Terkejut?" cibir Liliana angkuh dengan kedua tangan bersedekap di depan dada.
"Mau apa kalian kemari? Kalau kalian hanya berniat membuat keributan, sebaiknya segera pergi dari sini." Ketus Bu Mayang. Bu Mayang sebenarnya sosok yang lemah lembut. Tapi ia sudah tak tahan dengan kedzaliman keluarga Refano pada putrinya. Akhirnya ia pun memilih bersikap ketus. Sebagai seorang ibu, ia sadar dirinya lah garda terdepan untuk melindungi putrinya saat ini. Mereka tidak memiliki siapa-siapa lagi. Mereka harus saling menguatkan satu sama lain, karena itu ia tak mau menunjukkan sisi lemahnya pada orang-orang yang sudah menyakiti putri dan cucu-cucunya itu.
"Kau pikir kami senang berada di sini? Cih, nggak ya. Kami ke sini hanya untuk melakukan apa yang seharusnya sejak lama putraku lakukan. Ayo Refano selesaikan urusanmu sekarang juga. Segera talak perempuan itu! Mama tak sudi memiliki menantu seperti wanita itu." Tegas Liliana sambil tersenyum sinis. Zafira bungkam. Ia tak mau menyela apalagi mencegah. Hanya saja hatinya miris, tidak kah ada sedikit saja rasa di hati mereka untuk melihat bayi mungil tak berdosa ini? Bagaimana pun di dalam tubuhnya mengalir darah mereka.
Refano yang sejak tadi menunduk, mengangkat wajahnya. Ia menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya.
"Hari ini, saya Refano Prayoga menalak kamu Zafira Febriantika. Sejak hari ini, kamu bukan lagi istriku," ucap Refano dengan tenggorokan yang bergetar. Matanya memerah. Entah mengapa, rasa hatinya begitu perih setelah mengucapkan kata-kata itu. Ditatapnya mata Zafira yang tampak berkaca-kaca. Namun ekspresinya tampak tenang. Hanya saja, ia bisa melihat luka di mata Zafira dan itu membuatnya merasa ... sakit.
"Bagus!" seru Liliana bangga. Saskia pun tersenyum sumringah dan langsung memeluk lengan Refano untuk memamerkan kemesraannya. Namun Refano hanya bergeming, tidak merespon tapi Saskia masa bodoh. Ia telah puas sekarang. Sekarang, tidak ada yang bisa menghalanginya menjadi satu-satunya menantu keluarga Prayoga dan hanya anaknya sajalah yang akan menjadi satu-satunya pewaris keluarga itu kelak. Bagaimana ia tak senang?
"Ayo Refano, kita segera pergi dari sini! Lama-lama di sini membuat mama muak," cetus Liliana sambil membalikkan badannya.
"Tunggu!" seru Zafira sebelum mereka benar-benar pergi. Ketiga orang itupun segera membalikkan badannya.
__ADS_1
"Kenapa lagi, hah? Kau mau menuntut harta gono gini?" hardik Liliana sinis.
"Mas, apakah kau tidak ingin melihat anakmu sekali saja? Menyentuhnya sekali saja? Bagaimana pun, dia anakmu," lirih Zafira mengabaikan hardikan Liliana.
Bukan maksud Zafira mencari simpati ataupun berharap Refano membatalkan talaknya. Tidak. Tapi ia hanya ingin memberikan hak anaknya, satu kali saja, satu saja, yaitu sentuhan dari ayah kandungnya. Ia tak salahkan berharap ayah kandungnya melihat sebentar saja anaknya. Ini hak anaknya. Ia tak bisa egois begitu saja. Hanya melihat, tak lebih. Ia juga tak ingin mengatakan jenis kelamin anaknya. Biar dia tahu sendiri. Bukan bermaksud menutupi, tapi ia memberikan kesempatan untuk mengetahui dengan sendirinya.
"Apa maksudmu sialan? Kau mau mempengaruhi mas Refano menggunakan anak sialanmu itu, hah?" sentak Saskia tidak terima saat Zafira menawarkan Refano melihat anaknya. Saskia tentu saja khawatir, bagaimana bila Refano tiba-tiba berubah pikiran dan membatalkan talaknya. Ia tak mungkin membiarkan hal tersebut terjadi. Refano hanya miliknya.
"Siapa yang kau sebut anak sialan itu, hah? Siapa? Anakku bukan anak sialan. Dia adalah anugerah. Dia memiliki ayah dan ibu. Dan dia pun berhak melihat ayahnya meskipun hanya satu kali saja," sentak Zafira dengan nafas memburu. Ia tak masalah dihina, tapi jangan anaknya. Anaknya tidak bersalah sama sekali. Anaknya merupakan anugerah dari Yang Kuasa jadi siapapun tak pantas menghinanya dengan kata-kata tak pantas seperti apa yang Saskia ucapkan itu.
"Ma," rengek Saskia agar Liliana membelanya dan tidak membiarkan Refano mendekati bayi Zafira.
"Refano, kau sudah tidak ada urusan lagi dengannya, jadi ayo segera pulang. Ingat, kau harus menjaga kandungan Saskia baik-baik. Mama tidak mau Saskia kembali sakit karena ulahmu," sentak Liliana yang sudah mencekal lengan Refano.
Pikiran Refano berkecamuk, ia tak bisa membantah ucapan mamanya, tapi ia juga rasanya sangat ingin menghampiri bayi mungil yang tampak sedang terlelap itu. Meskipun hanya wajahnya saja yang nampak, tapi kulitnya terlihat begitu putih, hidungnya mancung, bibirnya merah, sungguh bayi yang menawan. Ia juga ingin sekali mendekati Zafira dan kedua putrinya, tapi langkahnya kini seolah terpaku ke bumi.
Lalu Liliana dan Saskia pun berusaha menarik lengan Refano agar segera pergi dari sana.
"Mas, aku sudah memberikanmu kesempatan lalu kau siakan. Aku harap kelak kalian tidak menyesalinya. Kesempatan itu ... kesempatan ini hanya datang satu kali dan takkan terulang lagi. Ingat, sejak hari ini perjanjian kita mulai berlaku. Mulai hari ini, kalian tak berhak sedikit pun atas anak-anakku. Jadi jangan pernah mendekati anak-anakku lagi karena hak itu telah kalian buang," ucap Zafira tenang tapi menusuk. "Regina, Refina," panggil Zafira. "Ayo nak, cium punggung tangan ayah kalian untuk pertama dan terakhir kali sebab mulai hari ini hubungan kita akan benar-benar putus. Setelah ini, mereka bukan siapa-siapa kita lagi." Ucap Zafira lagi yang langsung dituruti Regina dan Refina.
__ADS_1
Dengan wajah penuh keengganan, kedua bocah itu mendekati Refano dan menarik telapak tangan Refano dan menciumnya secara bergantian setelah itu mereka pun segera kembali ke posisi semula.
Ada rasa yang tak biasa menjalar di setiap sendi-sendi Refano hingga ke pusat syaraf dan hatinya. Jantungnya terasa dicengkeram begitu erat. Terasa sakit dan menyesakkan. Setelah itu, Liliana dan Saskia pun memaksa Refano segera pergi dari sana.
Sepanjang perjalanan, mulut Liliana tak henti-hentinya mengomel. Ia merutuki sikap putranya yang menurutnya plin-plan. Tapi Refano tak acuh saja sebab hati dan jiwanya kini seakan sedang terperangkap dalam rasa bersalah yang luar biasa. Dilihatnya punggung tangan yang tadi dicium Regina dan Refina, ada rasa hangat yang menyeruak yang tak terdefinisikan. Sentuhan ini merupakan sentuhan pertama kedua putrinya, rasanya benar-benar memporak-porandakan jiwa dan sanubarinya.
"Refano, kau dengar kata mama!" sentak Liliana kesal. Baru saja mulutnya hendak terbuka ingin menghardik putranya itu, tiba-tiba ia melihat sesuatu yang membuat jantungnya seketika terpompa kencang. Matanya mengerjap dengan degupan jantung yang tak menentu. Ia pun berjalan cepat mengejar sosok yang dilihatnya itu, tapi sayang, sosok yang dilihatnya itu tiba-tiba menghilang dari pandangannya. Liliana mencoba mencari kesana kemari, tapi tak kunjung menemukannya.
'Bukankah itu ... Tidak ... Itu tidak mungkin. Bukankah dia sudah mati. Pasti aku salah lihat atau mungkin mereka hanya mirip saja.' Gumamnya mencoba menenangkan diri, tapi bukannya tenang, batinnya justru kian berkecamuk. Ada rasa khawatir yang membuat batinnya kian tak tenang.
"Ma, mama kenapa di sini? Kenapa pergi buru-buru? Mama lihat seseorang yang mama kenal?" tanya Saskia yang sudah berhasil mengejar Liliana. Sedangkan Refano memilih langsung menuju basement rumah sakit untuk mencari mobilnya.
"Mama nggak kenapa-kenapa. Iya, tadi mama kayak lihat kenalan mama, tapi kayaknya mirip aja deh soalnya dia tiba-tiba aja menghilang," ucap Liliana yang langsung menarik tangan Saskia untuk segera pergi dari sana.
Setelah Liliana menghilang, sosok yang dikejar Liliana tadi pun keluar dari tempat persembunyiannya. Ia menyeringai. Bara kebencian itu masih begitu menyala.
"Sungguh enak sekali hidup kalian, di saat aku terlunta-lunta dan harus berjuang seorang diri untuk anakku, kalian justru hidup berbahagia dengan keluarga kalian. Aku pastikan, kebahagiaan kalian takkan bertahan lebih lama lagi," ucap seseorang itu dengan smirk di bibir merahnya.
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...