
Calon pengantin Alvian dan Zafira baru saja selesai melakukan fitting di salah satu bridal boutique ternama yang ada di kota itu. Dengan wajah sumringah, mereka segera masuk ke dalam mobil lalu segera meninggalkan bridal boutique itu menuju ke salah satu kedai ayam goreng kenamaan dunia. Tentu saja Alvian takkan melupakan pesanan calon putri sambungnya itu. Setelah mendapatkan apa yang dicari, mereka pun bergegas pulang.
Alvian sebenarnya ingin sekali berlama-lama dengan Zafira, tapi ia tak bisa bersikap egois. Ada calon buah hatinya yang sedang menantikan kepulangan sang ibu, terkhusus sang bayi mungil itu. Meskipun Zafira telah meninggalkan asi nya di dalam freezer, tapi tetap saja, Alvian tahu, naluri seorang ibu begitu enggan berjauhan dengan putra-putrinya. Meskipun ada yang menjaga, tetap ada rasa khawatir dan juga rindu yang menelusup dalam kalbu.
"Yeay, makasih Om papa ayam cikennya." Seru Regina girang saat menerima buket besar berisi ayam goreng kesukaannya. Bukan hanya itu, Alvian pun membelikan es krim, burger, dan cream soup untuk mereka.
"Apa itu dek?" tanya Regina yang baru keluar dari dalam kamar.
"Ayam ciken, Kak. Kakak mau? Lefi beli banyaaaak," ujarnya girang sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya dengan senyum merekah.
"Wah, kak Regi mau!"
"Kakak mau yang mana? Ayam ciken Upin Ipin untuk Lefi ya, nggak boleh diambil," ucapnya membuat Alvian yang masih memperhatikan interaksi adik dan kakak itu mengernyit bingung.
"Ayam goreng Upin Ipin itu maksudnya bagian paha. Kan setiap Upin Ipin makan ayam goreng pasti bagian paha," bisik Zafira yang sedang duduk di sisinya sambil memangku Zafran.
"Mereka benar-benar menggemaskan. Aku nggak sabar bisa tinggal satu atap dengan mereka. Kamu mau kan ikut aku tinggal di rumah sama bunda? Ajak anak-anak sama ibu juga. Rumah bunda kan besar, kamarnya banyak, aku juga nggak mungkin ninggalin bunda, kamu juga nggak mungkin tinggalin ibu sendiri, jadi mau kan tinggal bareng di rumah bunda?"
"Emangnya bunda bolehin?"
__ADS_1
"Ya iyalah, sayang," gemas Alvian sambil mencubit pipi Zafira. "Malah bunda yang kasi saran. Selama ini bunda suka kesepian di rumah. Kalau ibu di sana juga kan asik tuh, bisa temenin bunda. Rumah juga pasti rame banget. Bisa berkumpul bersama dalam satu atap itu rasanya bahagia banget," ucap Alvian yang memang sudah tak sabar ingin satu atap dengan calon istri, anak-anak, dan mertuanya.
"Nanti aku coba bicara sama ibu dulu ya, Al." Ucap Zafira yang belum bisa mengambil keputusan.
Keesokan harinya, seperti biasa, pagi-pagi sekali, Alvian telah datang menjemput Regina untuk mengantarkannya ke sekolah. Kegiatan rutin yang sudah dijalaninya selama beberapa bulan ini. Sebelum berangkat, Alvian memberikan beberapa undangan untuk bagian Zafira. Sesuai perkataannya, Afrizal ternyata mampu menghandle berbagai persiapan pernikahan Alvian dan Zafira. Bahkan dalam tempo satu Minggu pun, Afrizal sudah mampu mendapatkan ballroom hotel untuk pelaksanaan pesta, menghubungi event organizer dan wedding organizer. Untuk konsumsi, Afrizal meminta pihak restoran hotel meng-handlenya, dan tepat malam tadi juga Afrizal datang untuk menyerahkan undangan yang telah jadi kepada Alvian.
Setelah mengantarkan Regina, Alvian segera menuju kantornya. Kemudian ia memanggil Luthfi untuk memberinya sebuah tugas.
"Antarkan undangan ini ke YG Group. Satu untuk Presdirnya dan satu untuk putranya," tukas Alvian memberikan perintah. Alvian memang sengaja mengundang mereka, alih-alih mengundang semua pengusaha kenalannya. Tentunya Alvian sudah memikirkan hal ini matang-matang. Entah bagaimana reaksi mereka nanti setelah mendapatkan kejutan darinya. Mereka akan tetap kukuh dengan sikap sombongnya atau akan shock dengan kenyataan yang ada.
"Baik bos," seru Luthfi dengan smirk di bibirnya. Tentu ia tahu alasan bosnya itu. Ia pun sebenarnya tak menyangka kalau Zafira merupakan mantan istri dari putra pemilik YG Group. Awalnya ia khawatir bosnya itu hanya memanfaatkan Zafira untuk memuluskan balas dendamnya, tetapi melihat bagaimana bosnya itu memperlakukan Zafira, Luthfi menyadari kalau Alvian memang benar-benar jatuh hati pada rekan kerjanya itu. Yah, siapa sih laki-laki bodoh yang takkan tertarik dengan sosok seperti Zafira. Dia yang jauh lebih muda dari Zafira saja jatuh hati, melihat parasnya yang cantik, tutur katanya yang lembut dan santun, dan kecerdasannya, serta attitude yang baik, sungguh bodoh kalau ada yang menyia-nyiakan perempuan seperti Zafira. Tetapi nyatanya hal itu memang ada. Ada lelaki bodoh yang dengan mudahnya melepaskan bidadari seperti Zafira dan orang itu adalah mantan suaminya sendiri.
...***...
Tok ... tok ... tok ...
Kaca mobil Refano diketuk oleh seseorang. Refano pun segera membukanya kemudian menyunggingkan senyum tipis.
"Sampai kapan loe cuma mau ngawasin dari jauh, bro?" tegur laki-laki berpakaian sekuriti. Dia adalah putra bik Minah yang bekerja sebagai sekuriti di sekolah Regina. Karena sejak kecil laki-laki bernama Rahman itu sering diajak ke rumahnya jadi mereka pun berteman. Meskipun Liliana sering menegur Refano, tapi diam-diam mereka masih berteman. Namun semenjak remaja hingga dewasa, Rahman tidak pernah lagi ke rumahnya. Sesekali mereka bertemu di luar untuk sekadar mengobrol.
__ADS_1
Seperti saat ini, Rahman yang lagi-lagi melihat keberadaan Refano yang hanya mengawasi Regina dari jauh tanpa mencoba menghampiri pun mencoba mendekatinya dan mengajaknya bicara.
"Gue takut, Man. Sepanjang hidupnya, gue nggak pernah sekalipun perhatiin dia apalagi menunjukkan kasih sayang gue sebagai seorang ayah ke dia. Dia juga kayaknya benci banget sama gue semenjak gue mengabaikan dia dan membuat kepalanya terluka tempo hari." Adu Refano setelah menghela nafas panjang.
"Tapi kalau loe terus-terusan gini, loe bener-bener bakal dia lupain. Emang loe nggak sedih?"
"Gue takut, Man. Gue takut dia malah makin benci ke gue dan ... gue takut nyokap ... "
"Loe takut nyokap loe ngelakuin hal yang samanke mereka kayak yang dilakuinnya ke Refani?" terka Rahman yang sedikit banyak tahu rahasia Refano dan penyebabnya terpaksa bersikap abai dan acuh dengan Zafira dan anak-anaknya.
Tanpa berpikir panjang, Refano mengangguk dengan mata berkaca-kaca.
"Gue tahu, kata sabar nggak akan cukup untuk menguatkan loe. Tapi gue akan terus berdoa, semoga adik loe segera ketemu supaya loe bisa melepaskan diri dari kekangan ini dan menjemput bahagia loe." Ucap Rahman sambil menepuk pundak Refano.
"Tapi ... apakah mungkin gue bisa merasakan bahagia? Sebab sumber kebahagiaan gue justru sangat membenci gue. Gue sadar, gue udah jahat banget sama mereka selama ini. Gue nggak pantes mendapatkan maaf dari mereka. Tapi ... tetap aja rasanya sakit," ucap Refano sambil mencengkram dada kirinya.
Rahman hanya bisa terdiam mendengarkan curahan hati Refano. Hidupnya sebenarnya tak mudah, Rahman tahu itu. Memiliki seorang ibu berwajah malaikat, tapi berhati iblis, sungguh menakutkan. Bahkan putrinya sendiri, bisa ia singkirkan hanya karena terlahir dari rahim perempuan lain yang kini telah tiada. Perempuan yang dinikahi suaminya secara diam-diam hanya karena memiliki kemiripan wajah dengan mantan kekasihnya, Ayu. Putri yang dikira ayahnya telah mati itu, ternyata masih hidup dan nyawanya berhasil diselamatkan meskipun dalam keadaan koma. Namun, tak ada yang tahu, selain Liliana. Refano sangat menyayangi adiknya itu. Karena itulah, Liliana memanfaatkan keberadaan Refani untuk mengancam dan mengendalikan Refano agar selalu tunduk pada perintahnya.
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...