
Tampak seorang wanita paruh baya bersandar di headboard ranjang rumah sakit. Entah sudah untuk ke berapa kalinya ia menghela nafas, tapi memang hanya itu yang ia lakukan sejak tadi. Ia tak menyangka, masalah menghantamnya bertubi-tubi seperti ini. Dari kenyataan ternyata anak dari putra dan mantan istrinya adalah seorang bayi berjenis kelamin laki-laki hingga kembalinya wanita yang ia kira telah mati. Saat orang suruhannya mengatakan kemungkinan besar Ayu telah mati, ia benar-benar mempercayainya. Apalagi setelah sekian tahun Ayu tidak muncul kembali, ia pikir wanita yang pernah menjadi kekasih suaminya itu memang telah mati masuk ke dalam jurang. Namun ia tak menyangka, setelah puluhan tahun menghilang, ia justru kembali lagi dengan kenyataan tak terduga.
'Tunggu, CEO Alta Corp memanggil Ayu bunda, apakah dia telah menikah karena itu ia bisa menjadi perempuan kaya seperti sekarang ini? Apa anak yang ia kandung dulu telah mati? Semoga saja beg6. Aku tak mau bila anaknya tiba-tiba datang dan menuntut warisan. Tidak, tidak, semua yang mas Marwan miliki adalah hakku dan Refano, bukan anak wanita sialan itu. Tapi ... bagaimana kalau CEO Alta Corp itu benar-benar putra mas Marwan? Ah, jangan sampai! Kenapa wanita brengsekkk itu kembali lagi sih? Apa dia mau balas dendam? Jangan-jangan pesan teror itupun berasal dari dirinya? Kiranya ajar. Bila itu benar, takkan aku biarkan dia menerorku lagi. Sebaiknya aku segera bertindak, sebelum semuanya jadi makin kacau." Batin Liliana bermonolog.
Mendengar langkah kaki mendekat, Liliana pun menoleh. Seketika ia merasa cemas saat melihat Marwan lah yang mendekatinya.
"Cepat jelaskan padaku, apa benar yang Ayu katakan tadi?" tanya Marwan dingin menuntut penjelasan. Ia pun bimbang, antara ragu dan percaya dengan apa yang Ayu ucapan. Bagaimana mungkin wanita yang berpuluh tahun menemaninya ini bisa melakukan perbuatan kriminal seperti itu. Namun ia juga tak bisa meragukan kata-kata Ayu sebab ia sangat tahu, wanita yang masih menempati sudut hatinya itu tak pernah berbohong.
"Itu tidak benar, mas. Ayu hanya ingin mengadu domba kita saja. Dia pasti merasa dendam melihat kebahagiaan kita. Aku tahu, mas mungkin sulit meragukan kata-kata Ayu, tapi mas ... segalanya bisa berubah, termasuk Ayu. Dulu memang ia gadis yang jujur, tapi mungkin tidak lagi sekarang. Mas percayalah padaku, aku tak mungkin melakukan perbuatan buruk. Aku memang pernah melakukan kesalahan di masa lalu dengan merayumu. Aku juga menyesal membiarkan papa mengusir Ayu dan membiarkannya menanggung sendiri penderitaan. Namun untuk menyakiti ... aku tak sejahat itu, mas. Aku masih punya perasaan dan hati nurani. Jadi aku tak mungkin melakukan tindakan kriminal seperti itu," sangkal Liliana dengan memasang wajah sendu berharap suaminya percaya padanya.
Marwan mengangguk, belum sempat ia mengeluarkan suara, tampak Refano masuk ke dalam ruangan itu. Tadi setelah mengantarkan Liliana ke rumah sakit, ia bertolak pulang ke rumah mengantarkan Saskia pulang. Bagaimana pun, ada anaknya di rumah yang hanya ia titipkan pada bik Minah. Sedangkan Marwan, ia hanya mengalami serangan jantung ringan. Setelah memakan obat yang memang selalu ia bawa ke mana-mana, kondisinya berangsur membaik.
"Untuk masalah yang tadi, bila terbukti kau melakukannya, aku pastikan akan membuat perhitungan padamu," tegas Marwan dingin membuat Refano yang telah berdiri di ambang pintu tertegun penasaran dengan apa yang dibahas kedua orang tuanya. Sebaliknya, Liliana tercekat, khawatir perbuatannya terkuak di hadapan suaminya. Bagaimana pun, ia tahu, meskipun ia telah menjadi istri Marwan selama bertahun-tahun, tapi sang pemilik hati sang suami, tetaplah mantan kekasihnya. Hal itulah yang membuat kadar kebencian Liliana pada Ayu tak pernah memudar sedikit pun.
"Terserah mas mau apa, aku pastikan kau takkan bisa membuktikan apapun." Ya, setidaknya itulah keyakinannya. Masalah ini sudah terjadi berpuluh tahun yang lalu. Orang-orang suruhannya dulu pun sudah entah kemana. Setelah urusan mereka usai, mereka segera memutus komunikasi agar perbuatan mereka tidak tercium siapapun.
"Mama sudah baikan?" tanya Refano mengabaikan suasana mencekam di ruangan itu.
__ADS_1
"Hmmm ... " Liliana hanya menjawab dengan menggumam.
"Sekarang kita bahas bayi Zafira tadi, bagaimana bisa kalian tidak tahu kalau bayi itu berjenis kelamin laki-laki? Mengapa kalian tidak memastikannya terlebih dahulu?" sentak Marwan kesal.
Hari ini benar-benar hari yang mengejutkan baginya, bukan hanya karena fakta cucu yang ia kira berjenis kelamin perempuan, tetapi juga karena kembalinya sosok wanita yang masih menguasai hatinya. Ditambah rasa penasaran dengan sosok Alvian Altakendra. Sama seperti Liliana, ia penasaran putra siapa Alvian itu? Putra Ayu dengan laki-laki lain atau ... dia adalah putra yang dulu sempat dikandungnya. Ayahnya, Prambudi pernah menceritakan kalau Ayu hamil dan ia berniat menjaga Ayu dan calon anaknya, tapi karena kasus penculikan itu, ia tidak tahu bagaimana keadaan Ayu dan calon anaknya. Benar-benar telah mati atau berhasil selamat. Oleh sebab itu, Marwan pun berniat untuk mencari tahu kebenarannya. Wajah Alvian yang terlalu menjiplak wajah Ayu, tak ada sedikitpun sisi dirinya melekat pada Alvian membuatnya tidak bisa menebak siapa ayah dari Alvian sebenarnya. Apalagi tak ada informasi apapun mengenai keluarga Alvian selama ini.
"Itu karena perempuan itu berniat menyembunyikannya. Ia pasti sengaja agar kita tidak bisa mengambil bayi itu. Padahal dia tahu, kita menginginkan bayi laki-laki, tapi apa? Dia justru menyembunyikannya." Jawab Liliana cepat. Meskipun masih terbaring lemah di rumah sakit, ia tetaplah Liliana yang pantang mengalah apalagi disalahkan.
"Mama jangan menuding Fira sembarangan. Mama tidak lupa bukan, Fira sudah memberikanku kesempatan untuk melihat bayi itu, tapi siapa yang melarang? Mama ... mama melarangku barang mendekat sesenti pun. Bahkan Fira memperingatkan kita agar kita tidak menyesal di kemudian hari sebab kesempatan itu hanya datang sekali saja, tapi dengan angkuhnya mama dan Saskia justru menghardiknya dan mencegahku mendekat. Padahal saat itu aku ingin sekali melihat bayiku, ma. Padahal saat itu ... aku ingin sekali merengkuhnya, tapi mama ... mama terlalu egois tak pernah memikirkan perasaanku." Raung Refano dengan mata memerah. "Lalu kalaupun Fira memberitahukan kalau anaknya berjenis kelamin laki-laki, kita bisa apa? Apa mama lupa dengan perjanjian itu? Apa mama lupa, aku baru saja menalakknya setibanya di sana? Apa mama lupa, aku pun telah menikah lagi dengan wanita pilihan mama? Apa mama lupa, mama dan papa telah mengusirnya? Kalaupun ia memberitahukan kalau anak itu laki-laki, apa mama akan memintanya kembali kepadaku? Tidak bukan. Fira tidak bodoh ma, dia pasti tahu apa akibatnya bila ia memberitahukan bayinya berjenis kelamin laki-laki, pasti dengan tanpa perasaan kalian akan langsung mengambilnya tanpa memikirkan perasaannya. Jadi jangan salahkan Fira, ma. Aku pun tidak menyalakannya melakukan hal itu. Apa yang ia lakukan memang benar, tidak salah sama sekali. Dia hanya ingin melindungi anak-anaknya dari manusia egois seperti kalian," imbuh Refano meluapkan emosinya dengan menggebu-gebu. Sudah cukup mereka menyalahkan Zafira. Zafira tidak bersalah. Apa yang ia lakukan sudah benar. Tidak salah sama sekali.
Marwan dan Liliana seketika terdiam mendengar kata-kata Refano. Namun bukan berarti mereka menyerah. Sebaliknya, mereka tengah berpikir bagaimana caranya mengambil bayi lucu itu. Apalagi baby Zafran terlihat begitu menggemaskan. Sangat berbeda dengan bayi Saskia yang justru hanya seperti patung. Hanya bola matanya saja yang tampak bergerak, tapi tidak dengan anggota tubuh lainnya. Bahkan hingga hari ini mereka tak pernah melihat senyum bayi yang sudah seperti patung bernafas itu. Kalaupun bergerak, itu karena kejang-kejang yang seringkali ia alami tiba-tiba.
Refano merasa ini merupakan hukumannya karena telah menelantarkan anak-anaknya. Belum lagi sikap Saskia yang selama ini selalu saja merendahkan Zafira, sampai saat baru melahirkan pun, dengan tanpa perasaan Saskia menghina anaknya. Refano sedih, mengapa harus bayi tak bersalah ini yang menanggung dosa orang tuanya. Refano harap bayi mungil itu bisa segera sembuh dan tumbuh sehat seperti anak-anak lainnya.
Malas berdebat dengan Refano, Marwan segera kembali ke kantor. Kemudian ia memanggil Afrizal untuk memberinya tugas.
"Cari tahu segala hal tentang CEO Alta Corp, termasuk siapa ayahnya!" titah Marwan pada Afrizal. Afrizal tersenyum dalam hati, ia tahu hari ini akan terjadi.
__ADS_1
"Mengapa Anda ingin tahu perihal tentang CEO Alta Corp, tuan? Apakah karena dia telah menikahi nona Zafira?" tanyanya pura-pura tak tahu apa-apa dan menyangkut-pautkan dengan undangan dari Alvian tempo hari.
"Dia ... CEO Alta Corp itu ternyata putra dari Ayu. Kau ingatkan dengan Ayu? Mantan kekasihku dulu. Dulu, sebelum dia menghilang dan dikira meninggal karena penculikan, ia sedang mengandung anakku , jadi aku ingin memastikan, dia anakku atau anak Ayu dengan laki-laki lain," ucap Marwan. Afrizal pura-pura membelalakkan matanya terkejut mendengar hal itu.
"Hamil anak tuan?" beonya seolah tak percaya.
"Ya, aku telah memperkosanya saat itu agar ia bersedia menjadi istriku, tapi ternyata ia memilih pergi dari rumah orang tuanya dan menghilang. Beberapa bulan kemudian, ayah mengetahui kalau ia tengah hamil anakku. Tapi sayang, tiba-tiba Ayu diculik dan terdengar kabar Ayu telah meninggal masuk ke dalam jurang. Namun di pesta tadi, kami kembali bertemu dan ternyata CEO Alta Corp itu adalah putranya. Oleh karena itu, aku ingin kau mencari tahu semua tentang CEO Alta Corp tersebut," paparnya agar Afrizal segera melaksanakan perintahnya. Tanpa ia tahu, Afrizal mengepalkan tangannya saat kembali mendengar cerita itu langsung dari mulut Marwan. Ia bercerita seperti tak ada rasa bersalah sama sekali membuat Afrizal muak. Andai ia tak ada misi khusus, ia pasti sudah resign menjadi asisten pribadi pria terkutuk itu.
...***...
**Yang nunggu sore pertama siapa hayo??? 😄
Nanti ya! Semoga entar malam bisa double up kayak biasa.
Ditunggu sawerannya! 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING 🥰🥰🥰**...