Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan

Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan
Dorrr 2


__ADS_3

Dorrr ...


Ciiittt ...


Suara letupan senjata api kemudian disusul suara decitan ban mobil yang beradu dengan jalanan terdengar begitu memekakkan telinga. Salah satu mobil yang tadi saling berkejar-kejaran tampak kehilangan keseimbangan karena bannya yang pecah akibat letupan timah panas membuat sang sopir terpaksa membanting stir. Namun, karena ada sebagian jalanan yang lumpurnya belum memadat dan mengering, membuat ban mobil kian tergelincir dan sulit dikendalikan. Alhasil, mobil menabrak puing-puing bangunan kemudian terbalik hingga beberapa kali dan menimbulkan bunyi dentuman yang cukup keras.


Dagh dugh bruakkk brakkk ...


Melihat mobil incaran mereka telah terbalik membuat orang-orang di dalam mobil yang ada di belakangnya tersenyum menyeringai. Setelahnya, ia memberikan instruksi mobil yang berada paling depan untuk segera berhenti. Begitu pula 2 buah mobil yang mengekori kedua mobil di depannya turut berhenti. Kemudian, Alvian, Luthfi, Refano, dan Zen yang merupakan sopir pribadi sekaligus bodyguard Alvian turun dari dalam mobilnya. Lalu beberapa orang-orang Alvian dari mobil satu lagi di belakangnya pun ikut turun untuk mengamankan orang-orang suruhan Liliana. Alvian turun sambil menghela nafas lega karena berhasil mengecoh dan menghentikan aksi orang-orang yang hendak mencelakakan ibu, istri, dan anak-anaknya serta dua orang pengasuh anaknya. Alvian belum tahu orang-orang itu suruhan siapa, tapi ia yakin, tak lama lagi semuanya akan segera terungkap.


Flashback on


Sesuai instruksi Alvian, Baron mengendarai mobilnya masuk ke sebuah jalan yang cukup padat. Seharusnya Baron tidak melewati jalan itu untuk segera tiba ke lokasi tujuan, tapi karena saat ini mereka dalam keadaan bahaya, Baron pun harus menjalankan perintah sesuai instruksi. Tentu saja ia menurut sebab yang menjadi taruhan bukan hanya nyawa dirinya, tapi juga keluarga majikannya.


Setelah memasuki jalanan yang cukup padat, sebisa mungkin ia mencari celah untuk menyalip mobil lain agar posisi mobilnya terhalang mobil lain khususnya saat berada di pertigaan jalan yang disebutkan Alvian.


Tibalah di pertigaan jalan yang disebutkan Alvian muncul beberapa mobil berwarna hitam membuat mobil yang dikendarai Baron tertutup sempurna. Lalu setelahnya, sebuah mobil SUV keluaran terbaru berwarna putih, persis mobil yang dikendarai Baron telah bergabung ke jalanan dan sengaja membuat posisinya terbaca oleh orang-orang yang mengejar mobil yang membawa bu Ayu dan yang lainnya. Beruntung tempo hari Alvian membeli 2 mobil SUV berwarna putih itu. Satu untuk ibunya dan satu lagi untuk keluarga kecilnya. Jadi mobil itu bisa ia manfaatkan untuk mengecoh musuh.


Dan sesuai rencana, mobil hitam tanpa plat itu pun mengekori mobil SUV putih itu tanpa ragu. Padahal bila mereka teliti, plat yang tertera berbeda satu angka dengan mobil sebelumnya. Dengan dibantu orang-orangnya, Alvian berhasil mengalihkan perhatian pengendara mobil hitam tanpa plat itu ke sebuah daerah yang memang sepi dan jauh dari pemukiman penduduk. Hal tersebut memungkinkan mereka untuk memuluskan rencana mereka. Sedangkan mobil yang dikendarai Baron akhirnya bisa melenggang bebas menuju ke lokasi tujuan tanpa ada hambatan.

__ADS_1


Flashback off


Setelah turun dari dalam mobilnya, Alvian pun menitahkan anak buahnya untuk membantu orang-orang suruhan itu untuk keluar dari dalam mobil.


"Bantu mereka keluar dari dalam sana! Kita tidak boleh membiarkannya mati begitu saja sebelum menguak kebenaran siapa yang memerintahkan mereka mencelakakan keluargaku," titah Alvian.


Zen pun segera meminta orang-orangnya untuk membuka pintu mobil hitam dan membantu kedua orang itu keluar dari dalam mobil. Ternyata keadaan kedua orang itu tidaklah baik-baik saja. Mereka banyak mengalami luka hingga mereka tak sadarkan diri. Beruntung saat hendak menjalankan aksinya, Alvian telah menelpon temannya di kepolisian dan menceritakan apa yang sedang dialami ibu dan keluarga kecilnya. Alvian juga menelpon mobil ambulance untuk berjaga-jaga bila hal tak diinginkan terjadi. Dan seperti dugaannya, orang-orang itu terluka dan membutuhkan perawatan segera. Andai saja ia tak membutuhkan mereka sebagai saksi, ingin rasanya Alvian membiarkan mereka mati begitu saja. Tak berselang lama setelah mereka berhasil mengeluarkan kedua orang itu dari dalam mobil, teman Alvian di kepolisian dan rekannya pun tiba diikuti mobil ambulance di belakangnya.


...***...


"Jadi bagaimana? Apa kalian sudah berhasil mengetahui siapa dalang dari kejadian ini?" tanya Alvian pada William.


"Kami tadi berhasil membobol ponsel salah seorang dari mereka. Dan kami menemukan ada sebuah nomor yang kerap mereka hubungi. Nama kontaknya hanya tertera Nyonya. Tak ada tambahan lain. Namun saat dihubungi, nomor itu selalu nonaktif."


"Tidak ada. Hanya ada gambar riwayat transfer saja senilai 100 juta. Mungkin itu biaya yang harus ia keluarkan untuk menjalankan misi ini. Namun anehnya, saat kami lacak, posisi terakhir nomor itu saat aktif ada di sebuah rumah sakit jiwa." Tutur William membuat Refano dan Alvian membeliakkan mata mereka. Mereka bahkan kini saling pandang. Alvian mencoba menyelami sorot mata Refano, tapi yang ia temukan sama seperti dirinya, yaitu keterkejutan. Sepertinya Refano pun menduga itu perbuatan ibunya. Namun, mungkinkah? Bukankah ibunya sedang mengalami gangguan kejiwaan?


"Bisa dipastikan lagi?" tanya Refano yang jantungnya sudah berdegup tak normal. Bila benar ini perbuatan ibunya, artinya tiada harapan lagi untuk menyelamatkan ibunya. Ibunya sudah sungguh sangat keterlaluan. Hidupnya sudah hancur, mengalami kecacatan, tapi masih saja berbuat sesuatu yang sungguh tak masuk di akal. Ia harap, ini hanya dugaan saja. Namun bila itu benar, bagaimana? Ia pun resah. Namun, setiap perbuatan buruk ada konsekuensinya bukan? Jadi ia hanya bisa berpasrah dan menyerahkan segalanya pada pihak yang berwajib.


"Kami akan terus memantau nomor ini siapa tahu segera kembali aktif untuk memastikan kembali posisinya," pungkas William.

__ADS_1


Sementara itu, seorang gadis berpakaian serba putih masuk ke dalam ruangan Liliana sambil mengantarkan makan malam. Ya, hari sudah menjelang malam. Bahkan Bu Ayu, Zafira, Regina, Refina dan yang lainnya telah pulang ke rumah mereka. Mereka tidak tahu sama sekali apa yang telah terjadi hari ini. Alvian sengaja merahasiakannya untuk mencegah anggota keluarganya merasa khawatir.


Dengan mata sambil celingukan, perawat itu menyodorkan benda pipih berlayar segi empat dengan logo apel dikunyah itu pada pasiennya. Sang pasien menerima ponselnya dengan santai lalu mengaktifkannya. Setelah aktif, Liliana menunggu panggilan dari orang suruhannya. Namun setelah 15 menit berlalu, tak ada satupun panggilan yang masuk. Padahal ia telah meminta mereka menghubunginya di jam berikut. Terang saja, Liliana mengumpat kesal. Ia ingin memastikan orang-orang tersebut berhasil mencelakakan Ayu dan keluarga kecilnya. Ia telah menghabiskan sisa tabungannya demi misi balas dendamnya ini. Ia tak apa mendekam selamanya di rumah sakit jiwa ini, berpura-pura menjadi orang yang mengalami gangguan mental asalkan dendamnya terbalaskan hingga tuntas.


"Sial. Mereka kemana sih? Harusnya jam seperti ini sudah menghubungiku," geram Liliana mengumpat kesal. Baru saja ia menekan panggilan ke nomor yang tertera di layar ponselnya, tiba-tiba ia mendengar suara dering ponsel yang entah berasal dari mana dan milik siapa. Suara dering panggilan itu terus berbunyi nyaring dan baru berhenti bersamaan dengan nada panggilan terputus dari ponsel yang ia pegang. Liliana lantas kembali menekan nomor tersebut dan lagi-lagi ia mendengar suara dering ponsel dari luar ruangannya. Bahkan sampai panggilan kelima pun, sudah dering ponsel itu masih kembali terdengar bersamaan dengan panggilan yang ia lakukan.


"Coba lihat, siapa di luar?" titahnya pada perawat tersebut. Perawat itu maju perlahan dengan degup jantung yang tak beraturan. Entah mengapa, perasaannya mendadak tak tenang. Hingga hanya dengan satu dorongan saja, akhirnya pintu ruangan Liliana terbuka dan mata kedua orang di dalamnya terbelalak saat melihat Refano telah berdiri menjulang dengan sebuah ponsel di tangannya.


Baru saja Liliana hendak berakting gila, tapi sebuah seruan langsung menghentikan perbuatannya.


"Berhenti berpura-pura gila, ma? Karena semua kejahatanmu telah terbongkar," seru Refano dengan tatapan penuh kekecewaan.


Belum sempat Liliana menyanggah, beberapa orang polisi meringsek masuk dan menahan Liliana dan perawat yang membantunya memuluskan aksinya. Sontak saja, Liliana menjerit histeris karena tak ingin dimasukkan ke dalam penjara.


"Lepas! Lepaskan aku! Kalian jangan macam-macam ya! Cepat lepaskan aku. Kenapa kalian membawaku? Lepas!" teriak Liliana sambil memberontak.


"Fan, Fan, anakku, tolong mama, nak. Tolong lepaskan mama. Mama nggak mau dipenjara, nak. Mama mohon, nak!" melas Liliana tapi Refano bungkam. Hati Refano sudah terlanjur sakit dan kecewa. Apa yang barusan hendak Liliana lakukan sungguh tak termaafkan. Ia ingin mencelakakan bukan hanya Bu Ayu, tapi juga mantan istri dan anak-anaknya. Sungguh kesalahan yang tak termaafkan, pikirnya. Tak dapat ia bayangkan, bila ibunya berhasil mencelakakan Bu Ayu, Zafira, dan anak-anaknya. Bisa jadi ia akan menjadi gila karena dihantui rasa bersalah dan penyesalan.


"Refano, kenapa kau diam saja, hah? Dasar anak durhaka. Refanooo ... Jangan diam aja, brengsekkk! " Teriak Liliana sebelum menghilang masuk ke dalam mobil polisi rekan William.

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2