Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan

Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan
Suami siaga?


__ADS_3

Tepat pukul 1 dini hari, Zafira terbangun dari tidurnya. Zafira mendadak gelisah dalam tidurnya, akibatnya setelah matanya terbuka, ia tidak bisa kembali memejamkan matanya. Perutnya sejak tadi terasa tak nyaman. Seperti ada sebuah pergolakan. Benar-benar membuatnya gelisah. Berbaring ke kiri dan ke kanan namun ia tak jua mendapatkan kenyamanan. Yang ada justru perutnya kian terasa kencang dan mencengkram.


Zafira lantas bangun dan mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang. Diliriknya kedua putrinya yang berbaring di kasur lantai tampak begitu pulas. Ranjangnya yang berukuran single size membuat kedua putrinya harus tidur di bawah dengan kasur bisa lipat agar kalau mereka tidak tidur lagi, kasur pun bisa segera dilipat rapi. Diusapnya perutnya yang terasa kencang mencengkram, lalu ia pun beranjak perlahan menuju dapur untuk mengambil air hangat berharap dengan meminum air hangat rasa tak nyaman itu segera sirna. Ia tidak kepikiran ia akan segera melahirkan sebab kandungannya masih berusia 7 bulan, masih ada 2 bulan lagi yang harus ia lewati untuk menghadapi masa kelahiran. Jadi ia menganggap ini hanya rasa nyaman yang biasa. Apalagi ini merupakan kehamilan ketiga, seharusnya hal ini tidak asing lagi kan!


"Eugh ... mungkin ini efek kelelahan," gumamnya sambil mendudukkan bokongnya di kursi yang ada di dapur lalu dengan perlahan meminum air hangat yang baru saja ia tuang dari termos dan dicampur air galon yang memang selalu tersedia di dapur.


Hampir satu bulan ini memang Zafira teramat sangat sibuk. Kesibukannya meningkat dua kali lipat sebab ia sedang mengajar target proyek yang ia janjikan akan diajukan ke Mr. Jay. Investasi bernilai luar biasa itu membuat Zafira mengerahkan segenap kemampuannya untuk membuat terobosan baru dan siang tadi memang puncak dari usahanya. Zafira telah menunjukkan contoh proposal dari ide-ide brilian yang bergumul di otaknya dan Alvian pun menyambut antusias ide tersebut dan mendukung penuh untuk segera direalisasikan. Bahkan Alvian pun mengatakan, bilamana Mr. Jay menolak proposal tersebut, maka dia akan tetap merealisasikannya menjadi produk terbaru perusahaan mereka. Tentu saja Zafira senang bukan main. Karena usahanya ternyata tidak berakhir sia-sia. Alvian juga mengapresiasi proposal tersebut bukan karena untuk menarik simpati Zafira, tetapi memang apa yang Zafira tawarkan dan tuangkan dalam file tersebut sangat bagus untuk dikembangkan.


Saat merasa perutnya mulai nyaman, Zafira pun mencoba berdiri dengan perlahan, tetapi sesuatu tak terduga terjadi, perlahan cairan bening namun sedikit keruh dan hangat mengalir di antara kedua pahanya membuat Zafira sontak panik. Bibirnya tak henti-hentinya menggumamkan istighfar dan berdoa agar diberikan kekuatan dan mampu bertahan sampai bayinya berhasil lahir ke dunia.


Zafira ingin berteriak memanggil sang ibu, namun ia mengkhawatirkan kedua putrinya. Ia takut kedua putrinya terbangun dengan raut wajah panik, jadi sambil meringis Zafira berjalan menuju kamar sang ibu dan mencoba membangunkannya. Kini, hanya ibunya lah satu-satunya yang bisa ia mintai pertolongan selain yang Maha Kuasa.


"Bu, ibu," panggil Zafira lirih seraya menahan sakit.


Mata Bu Mayang mengerjap dan sontak terkejut melihat putrinya sedang berdiri dengan wajah yang tampak tidak baik-baik saja.


"Ada apa, nak? Kamu butuh sesuatu?" tanya Bu Mayang cemas. Ia pun tidak terpikirkan kalau putrinya akan melahirkan sebab pengalaman kehamilan pertama dan kedua, Zafira melahirkan tepat di usia kehamilan 9 bulan, 10 hari lebih cepat dari waktu seharusnya. Mungkin ini efek kelelahan luar biasa Zafira yang bukan hanya menguras tenaga tapi juga pikirannya sehingga hal tak terduga pun terjadi.


"Bu, sepertinya aku sudah akan melahirkan. Perutku ... perutku sakit banget. Air ketuban ku pun sudah mulai merembes," cicit Zafira membuat Bu Mayang membulatkan matanya dan segera melongo ke bawah kaki Zafira dan benar saja terlihat kaki Zafira yang basah karena aliran air ketuban yang mengalir dari sela-sela pahanya.

__ADS_1


Mulai panik, Bu Mayang lantas mencoba memesankan taksi, tapi hingga 5 kali pemesanan, ia tak kunjung mendapatkan taksi. Bu Mayang kian panik, lantas ia pun terpikirkan satu nama. Sambil mengucapkan bismillah, ia pun memencet nama seseorang yang ia ketahui memiliki ketertarikan dengan putrinya, siapa lagi kalau bukan Alvian. Dan tak butuh waktu lama, hanya dalam dering kelima, suara dari seberang sana pun terdengar. Terdengar suara serak basah dari Alvian, Bu Mayang yakin Alvian baru saja terbangun dari tidurnya.


"Halo, assalamu'alaikum," ucap Alvian. Ia benar-benar penasaran, tumben ibu dari wanita pujaan hatinya itu menghubunginya di jam selarut ini.


"Halo nak, wa'alaikum salam. Nak, ini ibu, ibu bisa minta tolong, nak. Fira ... Fira ... "


"Iya Bu, Fira kenapa? Ibu yang tenang dulu, katakan pelan-pelan biar Al mengerti." Ujar Alvian yang sudah mendudukkan bokongnya di tengah-tengah ranjang. Ia pun menyingkap selimut yang menutupi sebagian tubuhnya kemudian segera turun dari atas sana.


"Fira nak, dia mau melahirkan. Ketubannya kayaknya udah pecah. Ibu sudah coba hubungi taksi tapi nggak ada satupun yang bisa dihubungi. Ibu ... ibu ... "


"Ibu tenang ya, Al akan segera kesana. Ibu siapin aja keperluan Zafira," ucapnya sambil menjepit ponselnya menggunakan pundaknya. Kemudian ia segera meraih jaket dan kunci mobil serta tak lupa dompet. Setelah diiyakan Bu Mayang, Alvian segera menutup panggilan dan berlari menuju pintu keluar. Ia sengaja tidak memberi tahu ibunya sebab tak ingin mengganggu waktu istirahat sang ibu.


Jalanan yang lengang membuat Alvian dapat memacu mobilnya secepat mungkin. Bahkan perjalanan kali ini hanya memakan waktu separuh lebih cepat dari biasanya.


"Aku ... aaargh ... "


"Sudah, nggak usah jawab. Simpan energi kamu untuk melahirkan nanti."


"Mama," isak Regina yang ternyata terbangun mendengar kegaduhan di rumahnya.

__ADS_1


"Om Al antar mama ke rumah sakit dulu ya, sayang. Kamu doain mama dan adek biar semuanya sehat," ucap Alvian mencoba menenangkan Regina. Untung saja Refina masih terlelap, bila tidak ia akan ikut menangis tak kalah histeris dari Regina. Regina pun mengangguk sambil menyeka air matanya.


"Tas berisi perlengkapan persalinan Zafira udah ibu masukkan ke dalam mobil, nak," ujar Bu Mayang yang juga dihantui kepanikan.


"Bu ... tolong jaga anak-anak ya! Doain Fira juga biar ... "


"Udah, kamu tenang aja, anak-anak aman sama ibu. Sekarang fokus saja dengan kandunganmu. Doa ibu selalu menyertaimu, nak," potong Bu Mayang yang sudah berkaca-kaca. "Nak Al, ibu titip putri ibu ya!" pesannya pada Alvian.


"Baik, Bu, kalau begitu kami permisi," ucapnya setelah lebih dahulu membantu Zafira masuk ke dalam mobil. Setelahnya, Alvian bergegas masuk dan melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.


Butuh waktu sekitar 25 menit untuk tiba di rumah sakit terdekat. Alvian pun bergegas membantu Zafira turun lalu tanpa ragu ia meneriaki perawat yang lewat untuk membantunya. Zafira jadi makin meringis melihat kepanikan di wajah Alvian. Ada rasa haru menyeruak memenuhi rongga dadanya. Alvian memperlakukannya seperti istrinya sendiri. Ia teringat kala ia ingin melahirkan kedua putrinya, saat kelahiran Regina sopir dan bik Minah lah yang mengantarkannya ke rumah sakit. Lalu saat kelahiran Refina, ia benar-benar sendirian. Di antara rasa sakit yang mencengkram, ia pergi ke rumah sakit dengan menaiki taksi. Bik Minah tidak bisa menemani sebab ia meminta tolong wanita paruh baya itu untuk menjaga Regina di rumah. Sungguh miris, bukan.


Lalu kini, laki-laki yang bukan siapa-siapanya, hanya seorang atasan sekaligus teman dekatnya mau berepot ria dan mengorbankan waktu istirahatnya untuk mengantarkan dirinya ke rumah sakit. Bahkan kini ia ikut berlarian mendorong brankar yang membawa dirinya. Setitik air mata mengalir dari ujung netra Zafira yang fokusnya kini tertuju pada laki-laki yang dahinya telah dibanjiri peluh itu.


"Ra, kamu kenapa? Mana yang sakit? Bertahan ya, sayang. Aku yakin kamu bisa. Kamu kuat. Kamu ibu yang hebat," ucapnya sambil menggenggam tangan Zafira dan menciuminya persis seperti seorang suami yang mencemaskan keadaan istrinya yang akan segera melahirkan.


Jantung Zafira sontak berdesir saat kata-kata penguat itu Alvian lontarkan dan yang lebih membuat jantungnya kian berpacu kencang adalah kata sayang yang ia sematkan pun kecupan lembut di punggung tangannya. Para perawat yang melihat pun sampai mengira Alvian adalah suami dari Zafira, dilihat dari sikap dan tutur katanya siapapun pasti akan mengira hal yang sama.


Mata Zafira kian berkaca-kaca. Alvian mengira itu karena rasa sakit yang Zafira rasakan, tanpa ia sadari netra perempuan itu basah karena sikap Alvian yang bak seorang suami siaga. Sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan dari suaminya sebelumnya.

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2