
Tak dapat Zafira ingkari, Alvian benar-benar mampu membuatnya melayang. Mulai dari sikap, tutur kata, bahkan perbuatannya selalu saja mampu menyentuh relung hati yang terdalam. Bagaimana ia bisa mendustai hatinya bila sebenarnya hatinya pun mulai berlabuh pada pria rupawan itu.
Entah pantas atau tidak dirinya belum lama dicerai tapi sudah memikirkan pria lain. Kadang kala hatinya merasa malu pada sikapnya yang begitu mudah dibuat jatuh hati. Tapi ini perkara hati. Ia tak bisa mencegah saat hati mulai terpaut pada satu pria yang mampu menggetarkan hati dan jiwanya. Mampu membuat senyumnya merekah dengan semburat merah di pipi. Sesuatu yang tak pernah ia rasakan selama ini. Dirinya memang telah berpengalaman dalam berumah tangga, tapi perkara cinta, mungkin inilah yang benar-benar dinamakan cinta sebab selama ini ia tidak pernah mengalami hal demikian.
Zafira memang mengakui ia pernah jatuh cinta pada mantan suaminya. Meskipun Refano sering bersikap acuh, ketus, bahkan terkadang kasar, tapi setiap menggaulinya, Refano selalu bersikap lembut. Karena itu ia tak pernah menolak saat Refano ingin menjamah tubuhnya. Ia harap dengan begitu, Refano pun akan jatuh hati padanya. Namun sayang, cintanya ternyata bertepuk sebelah tangan. Ia yang jatuh hati karena perlakuan lembutnya di atas ranjang, tapi sebaliknya Refano tak merasakan sedikit pun perasaan seperti yang ia rasakan.
Kecewa? Pasti Zafira rasakan. Tapi biarlah ini ia jadikan kenangan masa lalu. Tak perlu diungkit lagi. Toh mereka juga sudah berpisah dan ia harap, ia tak akan pernah lagi berhubungan dengan laki-laki itu. Tak perlu juga ia pikirkan lagi. Semua telah berlalu. Meskipun rasa sakit masih merajah di hati, namun tak ada sedikitpun keinginan dirinya untuk membalas. Biarkan yang kuasa beserta semesta bersama isinya yang membalaskan segala sakit hatinya. Ia yakin, setiap perbuatan kita, besar ataupun kecil, baik ataupun buruk, semua pasti akan mendapatkan ganjarannya. Yang penting, kini fokusnya hanya pada anak-anaknya juga calon suaminya.
Tapi ... pantaskah ia menyebut Alvian calon suaminya sekarang, sedangkan ia belum resmi dikhitbah? Entahlah, Zafira pun bingung memikirkannya.
Zafira tampak mematut dirinya yang sudah mengenakan gaun yang tadi sempat diantarkan Alvian di depan cermin. Sebuah gaun sepanjang mata kaki dengan lengan sebatas siku dan pundak tidak begitu terbuka berwarna navy. Terkesan tertutup namun elegan dan tetap saja terlihat seksi di tubuhnya yang masih sedikit bohay akibat belum lama melahirkan. Padahal gaun itu tidak begitu ketat maupun seksi apalagi terbuka, tapi anehnya Zafira kelihatan seksi.
Zafira menggigit ujung kukunya, bagaimana bisa Alvian mengetahui ukuran tubuhnya? Apakah Alvian seteliti itu sampai bukan hanya ukuran baju, tapi juga ukuran sepatu pun ia tahu. Tak lupa Alvian meletakkan kotak perhiasan di dalam kotak gaun yang diberikannya tadi. Tak tanggung-tanggung, isinya pun satu set perhiasan yang terlihat sederhana namun sangat indah.
"Pantas saja aku nggak dibolehin buka kotak ini saat dia masih berada di sini. Ternyata ini toh penyebabnya," gumam Zafira dengan mengukir senyum cerah dan indah.
Saat bercermin, Zafira melihat wajahnya yang sedikit kusam. Tak ingin mempermalukan Alvian, Zafira pun meminta izin ibunya untuk ke salon sebentar agar malam itu ia bisa tampil memesona. Bukan berniat menggoda seseorang, ia hanya ingin menjaga nama baik Alvian. Ia tak ingin mempermalukan Alvian dengan tampilan wajahnya yang kusam. Belum lagi lingkar mata yang nampak jelas karena kurang tidur dan faktor kurangnya merawat diri. Bisa-bisa dirinya dikira pembantu Alvian, bukannya kekasih apalagi calon istri. Zafira tidak ingin hal itu terjadi. Apalagi ini kali pertama ia datang ke sebuah acara bergengsi. Ia yakin yang datang bukanlah orang-orang biasa, melainkan pengusaha-pengusaha muda berbakat Namun tak pernah terpikirkan olehnya kalau mantan suaminya pun akan datang ke sana.
__ADS_1
Setelah mendapatkan izin, Zafira pun pergi ke salon yang ada di sebuah mall yang tak begitu jauh dari rumahnya. Sebelumnya ia telah meninggalkan ASI-nya agar sewaktu-waktu baby Zafran merasa haus, sang ibu tinggal menghangatkan ASI-nya dan memberikan pada baby Zafran.
Sebelum masuk ke sebuah salon, tiba-tiba Zafira merasakan denyutan yang cukup menyakitkan di kepalanya sebab ada sebuah tangan yang telah mencengkram rambutnya dan menariknya kasar kemudian menghempaskannya secara kasar sehingga Zafira hampir saja terjerembab ke lantai.
"Aaargh ... " pekik Zafira saat rambutnya tiba-tiba saja di cengkram kemudian dihempaskan begitu saja.
"Dasar perempuan kurang ajar. Pasti kau datang kemari sengaja ingin berdandan cantik agar suamiku bisa kembali ke pelukanmu, iya kan!* sentak perempuan yang ternyata itu adalah Saskia.
Zafira berusaha berdiri dengan kokoh dan menatap balik Saskia tanpa perasaan gentar sedikit pun..
"Tak usah berkilah kau perempuan sundal. Kau pikir aku tak tahu. Bahkan kau menggunakan anak-anakmu untuk menjerat suamiku, iya kan?" Pekik Saskia tanpa rasa malu dan peduli kalau ia tengah menjadi bahan tontonan. Awalnya orang-orang terpengaruh dengan kata-kata Saskia dan mencemooh Zafira sebagai bibit pelakor, namun Zafira dengan cepat membalikkan keadaan membuat semua orang menyadari kalau Saskia lah pelakor sesungguhnya.
"Apa katamu? Perempuan sundal? Apa kau tidak berkaca hai nona Saskia? Atau aku perlu membelikan kaca sebanyak-banyaknya agar kau bisa berkaca setiap hari? Sebenarnya yang sundal di sini siapa? Wanita yang hamil anak laki-laki beristri tanpa ikatan sah atau aku ... mantan istri terdzolimi? Kau lupa siapa yang merebut suami orang di sini, hah? Yang dengan tanpa rasa malu mengakui kalau dia telah hamil oleh suami orang itu sebenarnya siapa? Yang dengan tega-teganya ikut andil mengusir seorang istri yang tengah hamil berikut anaknya itu juga siapa? Aku atau kau?" desis Zafira dengan sedikit penekanan. "Yang perlu kau garis bawahi, sampai kapanpun aku takkan sudi kembali dengan laki-laki pengkhianat. Tak peduli bila semua laki-laki di dunia musnah dan hanya menyisakan suamimu seorang, aku tetap takkan pernah kembali padanya." Tekan Zafira lagi dengan sorot mata tajam dan rahang mengeras.
"Kau masih ingin membela diri jalaang? Kau pikir aku akan mudah percaya dengan kata-katamu? Terima ini ... " Saskia pun mengayunkan tangannya hendak menampar Zafira, tapi dengan secepat mungkin Zafira menepis tangan itu dan balik mencengkram pergelangan tangannya hingga Saskia menjerit kesakitan.
"Jangan pernah mencoba menyentuhkan tangan kotormu di pipiku karena aku takkan membiarkannya! Kali ini aku akan membebaskanmu, tapi lain kali ... aku akan membalas bahkan lebih menyakitkan. Jadi berhati-hatilah!" desis Zafira sebelum menghempas pelan tangan Saskia dan segera beranjak dari sana.
__ADS_1
Ia tak jadi masuk ke dalam salon yang akan dimasukinya. Lebih baik ia pindah ke salon lain pikirnya daripada moodnya benar-benar ambyar karena mengingat sikap Saskia barusan. Bagaimana mungkin ada perempuan yang benar-benar tidak tahu malu, maling teriak maling. Dia yang merebut suaminya, malah dia yang diteriaki mau merebut suaminya. Begitulah bila mendapat seseorang dengan cara yang salah, maka hidupnya takkan tenang dan selalu dihantui bayang-bayang maupun ketakutan miliknya akan direbut kembali.
"Huuu ... ternyata maling teriak maling toh."
"Huh, dasar pelakor nggak tahu malu."
"Playing victim banget sih, dasar pelakor."
Umpat orang-orang yang ditujukan untuk Saskia.
"Kenapa kalian? Nggak usah sok ngomongin orang lain pelakor. Mau gue jadi pelakor, mau nggak itu bukan urusan kalian. Pergi sana!" Usir Saskia membuat semua orang di sana segera berlalu sambil meneriaki Saskia.
...***...
Kalo ada typo, maaf ya kak! Othor ngetiknya dalam keadaan ngantuk berat soalnya. Met malam semuanya. 🥰🥰🥰
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...
__ADS_1