Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan

Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan
Masa lalu Ayu (II)


__ADS_3

Selesai membersihkan diri, Ayu pun bergegas turun untuk segera pergi dari rumah berjuta kenangan itu. Rumah dimana ia melalui masa kecilnya hingga tumbuh dewasa. Rumah dimana ia dibesarkan dengan kasih sayang oleh kedua orang tuanya. Rumah dimana ia menghabiskan waktunya dengan ditemani sang bunda. Tapi kini, semua keindahan itu hanya akan tinggal kenangan. Semua perlahan hancur setelah kedatangan ibu tiri dan putrinya. Bahkan kini ia terancam terusir dari rumahnya sendiri akibat mantan kekasih dan anak sambung ayahnya itu. Rasa sakit yang sempat meredam kini kian bergejolak. Api kebencian kian menyala-nyala. Takkan ia lupakan kesakitan ini. Takkan ia lupakan segala pengkhianatan ini. Kebencian kini telah menjadi dendam. Dan ia berjanji, dendam ini akan ia balaskan di kemudian hari.


"Pa, aku mohon, jangan usir Ayu, kasihan dia. Aku bersedia bertanggung jawab atas Ayu, pa. Biarkan aku menikahinya," mohon Marwan. Ia tak menyangka perbuatannya justru membuat Ayu harus terusir dari rumahnya. Ini bukan niatnya. Ini bukan rencananya. Rencananya sebenarnya justru agar ia memiliki alasan untuk menjadikan Ayu miliknya. Sebab sebenarnya hingga kini memang Marwan masih mencintai Ayu. Kebersamaannya dengan Liliana tak lebih dari sekedar tempat pelampiasan. Ia tahu, Ayu sangat menjaga dirinya, sedangkan dirinya lelaki dengan hasrat dan penasaran tinggi. Melihat gelagat Liliana yang sepertinya menyukainya membuatnya memanfaatkannya untuk menjadi partner di ranjang. Liliana kerap menemuinya dengan berpakaian seksi. Ia juga sering menggodanya. Marwan yang memiliki iman yang tipis pun akhirnya tergoda hingga hampir di setiap pertemuan mereka pun melakukan hubungan terlarang. Yang ia tidak menyangka, Liliana tiba-tiba mengatakan dirinya hamil. Padahal ia telah meminta Liliana meminum pil kontrasepsi. Akhirnya mau tidak mau ia pun harus bertanggung jawab. Awalnya sang ayah, Prambudi, kecewa sebab ia sudah sangat menyukai Ayu. Tapi mau bagaimana lagi, Marwan tetap harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.


Oleh sebab itulah, mengetahui kepulangan Ayu, Marwan pun membuat rencana licik ini, berharap ia bisa memiliki Ayu. Tapi ternyata, Ayu menolak mentah-mentah dirinya yang ingin bertanggung jawab. Ayahnya pun memilih mengusir Ayu daripada membujuk Ayu agar mau menikah dengannya. Sungguh ini di luar ekspektasi Marwan. Karena itu ia pun berusaha membujuk agar ayah mertuanya mau membujuk Ayu agar bersedia menikah dengannya. Tapi Ayu yang keras kepala kekeh menolak dirinya.


"Mas, jangan coba-coba kamu menikahi Ayu, pokoknya aku nggak setuju!" sentak Liliana dengan rahang mengeras.


"Tapi Li, bagaimanapun aku telah merusak kehormatan Ayu, meskipun ini bukan inginku, tapi aku ... "


"Pokoknya aku nggak setuju. Kalau kau sampai melakukannya, aku akan pergi meninggalkanmu."


"Liliana benar nak, kamu nggak bisa menikahi keduanya. Kalau kamu tetap ingin menikahi Ayu, maka mau tak mau kamu harus melepaskan Liliana," sergah Lastri membela putrinya.


Perdebatan demi perdebatan terus terjadi tanpa menemukan jalan keluar. Hingga Ayu telah berdiri di hadapan mereka pun, mereka tetap masih dengan pendirian masing-masing hingga akhirnya membuat ayah Ayu membuat keputusan mengusir Ayu dari rumahnya sendiri.


Mata Ayu memerah dengan bara dendam berkobar-kobar.

__ADS_1


"Aku bersumpah, suatu hari nanti aku akan kembali lagi dan menghancurkan kalian yang telah menghancurkan hidupku!!!" teriak Ayu dengan suara lantang. Kemudian dengan dagu terangkat, ia pun pergi dari rumah itu.


Beberapa bulan berlalu, ternyata kabar kehamilan Ayu terdengar di telinga pak Prambudi, ayah dari Marwan. Ia yang belum lama mengetahui perbuatan Marwan pada Ayu pun merasa kecewa dan segera mencari tahu keberadaan Ayu. Bagaimana pun ia merasa bertanggung atas apa yang Ayu alami. Namun sayang, apa yang dilakukan oleh pak Prambudi ternyata sampai ke telinga Liliana yang kebetulan mendengar pembicaraannya dengan orang suruhannya. Khawatir Ayu kembali lagi untuk dinikahkan dengan suaminya, ia pun menyuruh orang untuk melenyapkan Ayu.


Hingga di suatu malam saat hujan turun deras, orang-orang suruhan Liliana pun beraksi. Mereka menculik Ayu dan hendak membunuhnya. Mereka membawa Ayu ke sebuah hutan yang sepi dan jauh dari pemukiman penduduk. Saat orang-orang itu hendak mengikat Ayu, tiba-tiba Ayu memberontak lalu sekuat tenaga ia berlari dari ketiga orang yang menculiknya tersebut. Ia berlari ke tengah hutan untuk bersembunyi. Para penculik yang kehilangan jejak Ayu pun segera pergi dari sana. Mereka pikir, meskipun Ayu tidak mati di tangan mereka, pasti ia akan mati sendiri karena hutan itu cukup jauh dari area pemukiman penduduk.


Keesokan harinya, dengan perut membuncit karena sudah memasuki bulan ke lima, Ayu berusaha menyusuri jalan setapak mencari pertolongan. Hingga berhari-hari, ia tak kunjung menemukannya. Di sisa-sisa tenaganya, akhirnya ia tiba di sebuah tepi jalanan yang sepi. Sepertinya itu jalan lintas yang menghubungkan antar daerah. Sudah 3 hari Ayu luntang-lantung tak tahu arah tanpa makan dan minum, alhasil ia pun kehilangan kesadarannya di pinggir jalan itu.


Hampi setengah hari Ayu pingsan di pinggir jalan itu, hingga akhirnya ada sebuah pengangkut barang lewat dan melihat Ayu yang tergeletak di jalan. Dia adalah Altakendra, seorang pengusaha kecil yang memproduksi makanan ringan untuk anak-anak. Ia pun segera menolong Ayu dan membawanya pulang.


Altakendra dan Nasisti yang memang tidak memiliki keturunan pun merasa senang menemukan Ayu. Mereka lantas mengangkat Ayu menjadi putri mereka dan mewariskan semua hartanya untuk Ayu dan juga putranya, Alvian Altakendra.


...***...


Afrizal benar-benar terkejut mendengar penuturan Ayu. Ia tidak menyangka, atasannya yang ia ikuti selama puluhan tahun telah berbuat sekeji itu pada Ayu. Afrizal memang cukup dekat dengan Ayu karena sangat sering diutus Marwan untuk mengantar jemputnya. Dulu ia hanya tahu, Ayu pergi dari rumah karena kecewa Marwan menikahi Liliana, tapi ia tidak tahu Ayu sempat kembali dan berakhir pengusiran akibat perbuatan bejat Marwan. Bahkan yang lebih parah, ia tak menyangka, Liliana memerintahkan seseorang untuk membunuh Ayu yang sedang hamil. Seandainya Ayu tidak mendengar perbincangan orang-orang suruhan Liliana itu, mungkin sampai sekarang ia takkan tahu siapa dalang dibalik penculikan dan percobaan pembunuhan dirinya.


Tangan Afrizal mengepal, ia benar-benar marah dan kecewa dengan perbuatan atasannya yang membuat hidup wanita yang hingga kini masih menggetarkan hatinya itu hancur.

__ADS_1


"Kakak benar-benar nggak nyangka dia bisa berbuat setega itu sama kamu, Yu."


"Jangankan kakak, aku pun tak menyangka, tapi inilah yang terjadi. Bajingan itu menodaiku, membuatku harus terbuang oleh orang tuaku sendiri, lalu membuatku harus menjalani kehamilan tanpa seorang suami, pun membesarkan anakku seorang diri. Aku bersumpah, suatu hari nanti aku akan menghancurkannya." Ucap Ayu dengan penuh kesungguhan.


"Yu, aku tahu mungkin kamu takkan percaya ini karena aku telah bekerja dengan pak Marwan selama bertahun-tahun, tapi ... bila kau butuh bantuanku, aku akan dengan senang hati membantumu. Mereka memang harus diberikan pelajaran. Perbuatan mereka sudah benar-benar keterlaluan." Ucap Afrizal penuh kesungguhan.


"Benarkah? Kakak yakin mau membantuku?"


"Aku yakin dan aku benar-benar serius."


"Baiklah. Bila tiba saatnya nanti, aku sepertinya memang membutuhkan bantuan kakak. Semoga kakak dapat dipercaya," jawab Ayu sumringah.


Afrizal pun tersenyum lebar, "kau dapat mempercayaiku. Oh ya, satu hal lagi yang membuatku penasaran, perempuan tadi, bukankah dia istri dari Refano, mengapa dia bisa ikut denganmu?" tanya Afrizal yang juga penasaran.


Ayu pun tersenyum, kemudian menceritakan apa yang telah Alvian ceritakan. Mulut Afrizal sampai menganga tak percaya dengan apa yang baru saja Ayu tuturkan. Ia tak menyangka keluarga itu bisa begitu kejam. Ia hanya tahu, Marwan memerintahkannya untuk mempersiapkan pesta pernikahan Saskia dan Refano, tapi ia tidak tahu keberadaan Zafira saat itu sama sekali. Ia pikir, Zafira tidak boleh keluar sama seperti selama ini. Ia diperlakukan bak istri rahasia, yang tak boleh menampakkan diri di muka umum. Tapi yang terjadi ternyata benar-benar tak terduga, mereka mengusir Zafira beserta anak-anaknya.


"Kejam!" desis Afrizal dengan rahang mengeras. Ia tak menyangka ada orang sekejam itu. Ia yang divonis tidak bisa memiliki keturunan saja rasanya sesak sekali sehingga tidak bermain kembali menikah setelah perceraiannya, lalu kini ada sebuah keluarga yang memiliki anugerah bisa memiliki keturunan justru membuang menantu dan cucu-cucunya sendiri dengan alasan yang menurutnya tak masuk akal.

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2