
Kembali ke beberapa bulan sebelumnya, tepatnya saat Refano mengalami kecelakaan sesaat setelah keluar dari sebuah cafe. Karena pikirannya yang terlalu kacau membuat Refano kehilangan kendali mobilnya sehingga tanpa sengaja menabrak pembatas jalan.
Banyak orang yang mengerumuni, tapi tak ada satupun yang mencoba membantu hingga akhirnya datanglah sosok yang tak terduga yang tanpa banyak bicara segera memecahkan kaca mobil Refano agar dapat membuka pintu mobilnya dan menyelamatkan Refano dengan segera. Sejak itulah pandangan Refano sedikit berubah pada sosok itu. Namun, bukan berarti Refano membuka hati begitu saja untuk sosok yang tak lain adalah Merlyn itu.
Merlyn pun makin gencar melakukan pendekatan. Tak jarang, Merlyn menyambangi dirinya untuk mengantarkan makan siang. Namun Refano tetap bersikap dingin hingga suatu hari Refano menyadari, sudah lebih dari satu Minggu sosok yang biasanya hampir setiap hari datang mengunjunginya itu tiba-tiba menghilang bagai ditelan bumi. Tak ada kabar berita. Benar-benar menghilang membuat Refano tanpa sadar merasa kehilangan.
Hidupnya yang hambar kian terasa hampa. Tak ada gai rah. Apalagi setelah satu persatu orang-orang terdekatnya pergi meninggalkannya. Termasuk sang ibu yang meregang nyawa setelah bekas operasinya mengalami infeksi hingga pembusukan. Ia juga telah resmi bercerai dengan Saskia. Zafira, Refani, dan anak-anaknya pun telah menemukan kebahagiaan masing-masing. Tinggallah dirinya dalam kehampaan.
Dan kini ... Merlyn pun ikut menghilang melengkapi hidupnya yang hampa.
Kembali ke masa sekarang,
"Kau kenapa? Kenapa kau tiba-tiba berubah? Sebelum-sebelumnya kau selalu menggodaku? Menggangguku meskipun aku tak suka. Mengatakan kalau aku adalah jodohmu. Tapi kau ... justru ingin bertunangan dengan orang lain. Dan kini kau melampiaskan kekesalan mu pada semua orang karena kegagalan pertunanganmu. Sebenarnya apa maumu, hah? Kenapa kau bersikap semaumu seperti ini? Apa karena menurutmu aku layak untuk kau permainkan? Setelah aku telah belajar ingin membuka hati, kau justru hendak membuang ku begitu saja? Brengsekkk!" sentak Refano kesal.
Bahkan tanpa sadar ia telah menghantamkan tinjunya ke di dinding tepat di samping kepala Merlyn membuat wajah gadis itu pucat pasi dan perlahan, air matanya pun jatuh berderai membuat Refano tak tega kemudian menariknya ke dalam pelukannya.
"Kau sebenarnya kenapa? Mengapa kau tiba-tiba menghilang? Jelaskan padaku!" pinta Refano yang kini sudah merenggangkan pelukannya. Ditatapnya netra Merlyn yang masih berkabut. Entah apa yang membuat gadis ceria itu seketika berubah seperti ini. Entah apa yang sebenarnya Refano rasakan saat ini pada gadis itu. Namun tak dapat ia tampik, hatinya perih melihat gadis itu yang tampak begitu rapuh.
"A-aku ... " Merlyn tergugu. Ia tak tahu harus mulai bicara dari mana sebab ia pun baru tahu kenyataan ini. Kenyataan yang ternyata sengaja dihapuskan orang tuanya dari ingatannya demi menjaga kewarasannya agar tidak kembali terpuruk.
"Aku apa? Jangan bertele-tele!" tegas Refano mulai kesal berharap Merlyn mau bicara padanya.
__ADS_1
Tiba-tiba Merlyn mendorong dada Refano agar menjauh. Posisi yang tidak siap membuat tangan Refano yang mencengkram pundaknya terlepas.
"Jangan sentuh aku! Aku kotor. Aku ... aku menjijikkan. Aku ... aku perempuan kotor. Jangan sentuh aku. Jangan ... "
Merlyn mencoba berlari menjauh, tapi dengan sigap Refano kembali menarik pergelangan tangannya kemudian membawanya ke tempat lain yang lebih sepi.
"Lepas, mas! Jangan sentuh aku. Aku kotor. Aku menjijikkan. Menjauhlah dariku!" sentak Merlyn mencoba memberontak dari cengkeraman Refano. Namun Refano justru makin mengeratkan cengkramannya. Merlyn meronta-ronta agar Refano melepaskan dirinya, tapi Refano justru mendekap tubuh gadis itu yang ternyata bergetar hebat.
"Mas, kau dengar tidak aku ini kotor. Jangan sentuh aku, aku ... hmmpppph ... "
Tak ingin mendengarkan racauan Merlyn yang makin tak terkendali, Refano lantas meraup bibirnya dan memagutnya. Awalnya sedikit kasar, tapi lambat laun ciuman itu berganti lembut hingga membuat Merlyn terlena meskipun ia tak mampu membalas sama sekali karena memang ini merupakan ciuman pertamanya.
"Sudah tenang?" tanya Refano setelah melepaskan ciumannya. Nafas keduanya masih tersengal. Wajah Merlyn sudah memerah bak kepiting saos Padang, merah, tapi terlihat cantik.
"Ayo, kota duduk di sana dan ceritakan padaku sebenarnya apa yang sudah terjadi sampai kau bersikap seperti ini?" ajak Refano sambil menarik pelan lengan Merlyn agar mengikutinya dan duduk di rerumputan. Bintang-bintang tampak bertaburan di langit menambah keindahan malam itu.
"Ayo, ceritakan lah! Jangan ada yang ditutupi. Aku akan mendengarkannya."
"Tapi ... " Belum sempat Merlyn menyelesaikan kalimatnya, Refano sudah menajamkan sorot matanya membuat Merlyn menelan ludahnya sendiri.
Merlyn menghela nafasnya. Kemudian ingatannya kembali ke masa satu bulan yang lalu. Hari dimana harusnya ia melangsungkan pertunangannya. Pertunangan yang sebenarnya bukan keinginannya, tapi ia tak punya jalan untuk menolak. Ia hanya boleh menolak bila ia bisa mengenalkan seorang kekasih pada kedua orang tuanya. Namun apalah daya, ia tidak memiliki seorang kekasih. Ingin rasanya ia meminta Refano, tapi melihat sikap Refano yang selalu dingin padanya setelah segala daya upayanya selama ini mencoba meluluhkannya membuatnya pesimis. Akhirnya, ia pun terpaksa menerima perjodohannya dengan James, seorang produser yang mana juga merupakan atasannya di Star TV.
__ADS_1
Flashback on
"Mama dan papa mu dimana?" tanya James malam itu 1 jam sebelum acara pertunangan dimulai.
"Di ruang kerja papa mungkin," jawab Merlyn acuh tak acuh. Ia merasa kesal. Mengapa pula James begitu ngotot ingin bertunangan dengannya. Padahal ia tahu, dirinya tidak memiliki perasaan apapun pada laki-laki itu. James sendiri merupakan anak juragan sapi di kampung mereka. Ayah James dan ayah Merlyn berteman baik karena itulah orang tua Merlyn begitu mendukung perjodohan mereka.
James tak merasa masalah dengan sikap acuh tak acuh Merlyn. Karena ada yang ingin ia bicarakan dengan kedua orang tua Merlyn, James pun segera menuju ke ruang kerja orang tua Merlyn. James sudah sering bertamu ke rumah itu jadi ia sudah hafal tata letak semua ruangan di rumah itu termasuk ruang kerja ayah Merlyn.
Baru saja James ingin mengetuk ruang kerja ayah Merlyn, tapi percakapan mereka di dalam ruangan itu menyita perhatiannya sehingga mematung di tempat.
"Tapi pa, menurut mama sebaiknya kita cerita sejak awal mengenai Merlyn. Mama nggak mau mereka menganggap kita menipu mereka karena tidak mengatakan kalau Merlyn ternyata sudah tak suci lagi."
"Ma, papa mengerti kekhawatiran mama, tapi jangan sekarang. Bagaimana kalau James tiba-tiba membatalkan pertunangan ini. Biarkan saja dulu. Kalau perlu sampai Merlyn telah sah menjadi istri James. Papa yakin, James pasti mau menerima Merlyn apa adanya. Apalagi James sudah mencintai Merlyn sejak remaja," tutur ayah Merlyn mencoba menenangkan sang istri.
Prang ...
Mendengar suara gelas yang jatuh sontak membuat pasangan suami istri itu terkejut. Mereka pun segera membuka pintu untuk melihat apa yang sudah terjadi dan mata mereka seketika terbeliak saat melihat keberadaan James yang sudah mematung di depan pintu. Begitu pula Merlyn yang telah membeku dengan tatapan kosongnya hingga tanpa sadar menjatuhkan gelas yang sebelumnya ia pegang.
"KALIAN SEMUA PENIPU." Bentak James murka. Lalu ia mengarahkan pandangannya pada Merlyn yang masih mematung dengan pikiran kosongnya. Ia benar-benar kesulitan mencerna apa yang dimaksud oleh kedua orang tuanya. "Dan kau ... aku tak menyangka bertahun-tahun telah mencintai gadis murahan seperti dirimu. Sok suci. Munafik. Sok selalu menolakku, tapi mengumbar tubuhmu dengan lelaki lain. Cih, menjijikkan!" Sentak James dengan ekspresi jijik. Lalu tanpa kata, James pun pergi dari rumah Merlyn dengan mengajak semua anggota keluarganya. Meninggalkan kebingungan di benak anggota keluarga yang lain.
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...